
Beruntung bantuan cepat datang. Sehingga mereka
tidak perlu berlama-lama menunggu. Walaupun Arjuna akan tetap mempermasalahkan
hal tersebut. Lagipula Agatha dan Jeff tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam
insiden kali ini. Mana bisa orang biasa menebak akan seperti apa kondisi
jalanan satu detik ke depan. Sebab, kondisinya akan selalu berubah-ubah setiap
waktu.
“Dari mana saja kalian?” tanya Arjuna.
Keduanya langsung dinterupsi oleh pria itu ketika
sampai. Bahkan mereka belum sempat turun dari sepeda motornya, atau bahkan
hanya untuk sekedar melepas helm saja. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi
sebenarnya. Agatha bahkan sudah menduga jika hal ini akan terjadi sejak
beberapa menit sebelumnya.
“Maafkan kami,” ucap Agatha dengan nada malas.
Gadis itu
kemudian turun dari sepeda motor yang dikendarai oleh Jeff. Kemudian
menyerahkan helmnya kepada pria itu. Tampak dengan jelas jika ia tidak
bersungguh-sungguh dengan permintaan maafnya. Di satu sisi, Agatha sendiri
memang tidak merasa bersalah sama sekali. Sebab, itu tidak murni kesalahannya.
“Apa sudah dimulai?” tanya gadis itu kepada yang
lainnya.
Mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya
dengan pasrah sebagai jawaban.
“Pekerjaan ini tidak akan dimulai tanpa kalian,”
ungkap Arjuna secara gamblang.
“Kenapa?” tanya gadis itu.
Padahal jika dilihat-lihat lagi, kondisi jalanan
sama sekali tidak ramai seperti dugaan mereka sebelumnya. Sungguh berbanding
terbalik. Ini adalah salah satu bukti nyata jika perdiksi manusia tidak
selamanya benar. Ada yang meleset sedikit, atau malah berbeda jauh. Karena pada
dasarnya, tidak ada manusia yang bisa memperkirakan sesuatu dengan tepat.
“Semua orang di sini sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing dan tidak ada yang peduli soal kecelakaan ini,” ungkap Agatha
setelahnya.
Ia yakin jika kali ini tidak akan ada yang berani
untuk membantah hal tersebut. Sebab, yang Agatha katakan barusan adalah fakta.
Tidak bisa dipungkiri sama sekali. Semua orang juga tahu hal tersebut.
Manusia di perkotaan sekarang mulai acuh terhadap
sekitarnya. Bahkan bekas kecelakaan tadi malam saja sama sekali tidak mampu
untuk menarik perhatian mereka. Setiap orang hanya fokus terhadap dirinya
masing-masing. Sebab, setiap orang memiliki kisah yang berbeda. Kehidupan yang
mereka jalani juga sudah tentu berbeda dengan manusia lainnya di muka bumi ini.
“Tanpa perlu kujelaskan pun, kau pasti sudah tahu
dengan apa yang kumaksud,” ucap Arjuna acuh tak acuh.
Meninggalkan permasalahan tersebut, kini mereka
beralih kepada sesuatu yang jauh lebih penting tentunya. Tujuan utama mereka
datang kemari adalah untuk melakukan investigasi. Bukannya malah beradu opini.
Apalagi sampai saling menyerang antara satu sama lain. Sebuah tim tidak boleh
sampai bercerai-berai. Sebab mereka memang sengaja disatukan untuk menghimpun
kekuatan.
Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, mereka
segera memulai proses investigasinya. Beberapa orang ditugaskan untuk
menyelidiki. Ada yang tetap berada di tempat kejadian sambil mengumpulkan
bukti-bukti yang nyaris tidak terlihat sama sekali. Namun, ada pula yang keluar
dari garis yang sudah di tetapkan. Sisanya bertugas untuk mengecek rekaman
kamera pengawas dari beberapa toko yang berada di sekitar daerah kecelakaan. Lalu
kamera lalu lintas dan tentu saja kesaksian orang-orang yang kebetulan berada
di sana pada saat kejadian berlangsung.
Arjuna dan Agatha memutuskan untuk pergi ke beberapa
toko dan memeriksa rekaman dari kamera pengawas mereka. Tunggu. Bukan keputusan
mereka bersama. Lebih tepatnya pria itu saja. Karena mau bagaimana pun juga, Arjuna
adalah satu-satunya orang yang berhak untuk membuat keputusan di sini. Tidak
ada yang bisa mengganggu gugat. Atau bahkan sampai membangkang kepadanya. Semua
“Kita akan pergi ke toko kue itu lebih dulu,” ucap
Arjuna sambil menunjuk ke arah salah satu toko kue di sekitar sana.
Semantara itu, Agatha sedang tak ingin banyak
bicara. Ia hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan pria itu. Kemudian
membuntuti langkahnya dari belakang. Seperti yang biasa ia lakukan selama ini.
Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar empat
sampai lima meter dari tempat kejadian. Seharusnya kamera pengawwas mereka
masih bisa menangkap setiap detail kejadian. Titik lokasi kejadian masih berada
dalam radius jangkauan kamera tersebut. Jadi, mustahil jika rekamannya tidak
ada.
“Permisi!” sahut Arjuna yang mulai buka suara lebih
dulu.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang
yang berada di sana. Sepertinya itu adalah pegawainya.
“Begini, saya berasal dari kepolisian. Bisa bertemu
dengan pemilik toko kue ini?” tanya Arjuna langsung kepada intinya. Ia tidak
mau membuang waktu percuma untuk hal yang tidak penting. Apalagi jika itu hanya
sekedar untuk berbasa-basi.
“Ada perlu apa ya kalau boleh tahu?” tanya pegawai
tersebut.
“Kami ingin
memeriksa rekaman dari kamera pengawas toko ini kemarin malam,” jelas Agatha.
Kali ini gadis itu juga mulai ikut bicara juga. Dia
tidak bisa selamanya diam di dekat pria ini. Apalagi jika itu karena tuntutan
pekerjaan. Tidak akan bisa, meski sebenarnya Agatha juga malas jika harus
berurusan dengan Arjuna.
“Oh, tunggu sebentar kalau begitu. Aku akan
memanggilkannya lebih dulu,” ujar si pegawai tadi.
“Baiklah,” balas Agatha sambil tersenyum tipis.
Semenatara pegawai tersebut pergi ke belakang untuk
memanggil atasannya, mereka masih tetap berdiri di sana. Agatha memperhatikan
tumpukan roti-roti yang tersusun rapih di etalase. Tampaknya barusaja keluar
dari oven. Masih hangat. Bahkan beberapa di antaranya masih mengepul asap.
Pemandangan tersebut sukses membuat gadis ini
tergiur. Lagipula dia juga belum sarapan. Agatha tidak ada memakan apa pun
sejak tadi pagi. Hanya minum susu saja. Jarang sarapan merupakan sebuah kebiasaan
buruk baginya. Tidak ada yang bisa mencegah gadis itu untuk tidak mengikuti
kata hatinya. Dia terlalu keras kepala.
Agatha sudah berencana untuk mampir ke sini lagi
nanti. Tentunya setelah semua tugasnya selesai. Paling tidak ia harus mencicipi
satu potong saja roti dari toko ini. Sehingg rasa penasarannya terbayarkan.
Tapi tidak sekarang juga.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya yang
masih menggunakan celemek tampak keluar dari pintu belakang. Sepertinya ia
sedang sibuk bekerja di belakang. Ternyata pemiliknya juga turun langsung dalam
proses pengerjaan seteiap produk yang dijual di sini.
“Apa kalian mencari saya?” tanya wanita itu begitu
sampai.
“Apa anda pemilik tempat ini?” tanya Agatha balik.
“Ya, saya pemiliknya!” balas wanita itu dengan
yakin.
“Begini, kami dari kepolisian dan sedang berusaha
untuk menyelidiki kasus tersebut. Jadi kami memohon kerja sama anda,” jelas
Arjuna di awal.
“Ah, tentu saja! Aku akan berusaha untuk membantu
kalian sebisaku,” katanya.
Mendengar kalimat
tersebut, Agatha lantas tersenyum tipis. Utunglah mereka bertemu dengan
orang-orang yang bersikap kooperatif. Sehingga ia tidak perlu bersusah payah
untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri.