The Riot

The Riot
Discussion Room



Proses kunjungan ke


rumah sakit untuk Liora terpaksa harus ditunda besok. Tapi tenang saja, tidak


akan dibatalkan. Untuk hari ini mereka hanya perlu fokus kepada kasus yang baru


terjadi. Sebab itu lebih serius. Kalau kasus percobaan pembunuhan Agatha


kemarin dengan racun, si korban tidak sampai meregang nyawa, maka kali ini


korban langsung mati di tempat. Sungguh ajaib. Ini adalah yang kedua kalinya


Agatha taampak seolah-olah bisa meloloskan diri dari maut.


“Jadi, apa saja yang


sudah kalian temukan selama melakukan pemeriksaan di tempat kejadian pekara


tadi?” tanya Arjuna.


Setelah semua orang


berkumpul, pada akhirnya ia memutuskan untuk buka suara, sekaligus sebagai


isyarat kalau diskusi hari ini telah dimulai.


“Klip video dari kamera


pengawas!” celetuk Agatha sambil memamerkan flasdisknya.


“Surat keterangan hasil


autopsy korban,” sambung Thomas.


“Kesaksian beberapa


orang yang kebetulan berada di tempat kejadian,” sambungnya.


Padahal kalau pekara


mencari saksi, Agatha bisa saja menjadi saksi. Tanpa diminta pun ia pasti akan


siap untuk melakukan apa saja demi terungkapnya identitas pelaku. Terlebih pada


saat itu Agatha adalah orang yang paling dekat jaraknya dengan si korban. Ia


pasti bisa melihat setiap detail kejadiannya dengan sangat jelas. Ingatannya


masih cukup segar. Kejadiannya baru kemarin malam. Belum ada dua puluh empat


jam.


“Hanya itu saja?” tanya


Arjuna dengan salah satu alis terangkat.


“Ya, sejauh ini hanya


itu saja,” jawab Thomas dengan apa adanya.


“Jadi, bagaimana hasil


autopsi korban?” tanya Arjuna.


“Menurut dokter, korban


mendapatkan satu luka tembakan tepat di dada sebelah kirinya. Diameter


proyektif pelurunya sekitar 5,7 mm atau 0,224 inchi. Di duga jika itu adalah


peluru jenis SS195LF atau SS197SR,” jelas Thomas dengan panjang lebar.


Sementara itu di sisi


lain Agatha tampak mengerutkan dahinya. Berbeda dengan Arjuna yang masih sibuk


berpikir. Gadis itu sudah lebih dulu memahami maksud dari perkataan rekannya


barusan.


“Tapi, bukankah peluru


jenis itu hanya bisa digunakan oleh aparat penegak hukum dan militer saja?”


tanya Agatha.


Pada akhirnya gadis itu


memutuskan untuk segera mengutarakan pendapatnya. Sejak awal hanya hal itu saja


yang mengganjal di dalam pikirannya.


“Kau benar!” balas


Robi.


“Peluru yang satu itu


seharusnya hanya bisa digunakan dan memang diproduksi khusus untuk aparat


penegak hukum seperti kita dan juga militer,” jelasnya kemudian.


“Lalu bagaimana bisa ia


mendapatkan peluru tersebut beserta dengan senjatanya?” tanya Agatha


kebingungan.


Saat ini bukan hanya


gadis itu saja yang sedang kebingungan. Seisi ruangan juga sedang memikirkan


hal yang sama. Mereka tidak akan berhenti berpikir sebelum mendapatkan


alasannya.


“Bisa jadi ada pemasok


illegal yang menyeludupkan barang tersebut!” celetuk Robi.


Apa yang dikatakan oleh


pria itu sebenarnya cukup masuk akal. Sekarang ini cukup banyak pemasok illegal


yang memperjual belikan barang seperti itu. Salah satunya adalah Hiraeth. Tapi,


sejauh yang Agatha tahu Hiraeth pun bahkan tidak menyediakan jenis senjata dan


peluru yang seperti itu. Konon katanya sulit untuk didapatkan. Karena yang bisa


mengakses senjata jenis tersebut hanyalah mereka yang memiliki posisi tertentu


dalam suatu pemerintahan. Bahkan sekelas Hiraeth saja yang terkenal bisa


melakukan segalanya saja tidak bisa mendapatkan senjata tersebut. Sejauh ini


pria itu masih memegang peringkat tertinggi. Jadi rasanya tidak mungkin jika ada


“Kalau begitu apakah


mungkin pelakunya adalah salah satu anggota dari aparat penegak keadilan dan


militer?” duga Arjuna.


“Tapi, kenapa ia


melakukan kejahatan di hadapan publik seperti itu?” tanya Agatha.


“Kita tidak pernah tahu


apa yang ada di dalam hati manusia,” jelas pria itu kemudian.


Kalau memang benar dia


adalah salah satu anggota dari aparat penegak keadilan, maka itu artinya dia


telah berkhianat. Dengan menyalahgunakan kekuasaan dan hak yang ia miliki untuk


hal buruk yang bertentangan dengan hukum, bukankah itu sama saja berkhianat.


Jika hal tersebut


memang benar terjadi, maka sepertinya ia harus mendapatkan hukuman yang


setimpal. Tidak hanya itu. Mereka harus mengingatkan kembali aparat keamanan


dan penegak keadilan untuk tidak menyalah gunakan kekuasaannya seperti ini.


Untuk sementara ini


mereka akan terus melakukan penyelidikan sampai menemukan bukti lebih banyak


lagi. Hanya dengan bukti-bukti tersebut pelakunya bisa tertangkap. Anggap saja


jika barang bukti sebagai alat bantu penunjuk arah bagi para penegak keadilan


ini. Besok kabarnya mereka akan kembali melakukan penyelidikan. Masih dengan


waktu yang sama.


“Baiklah kalau begitu,


kita akhiri sampai di sini saja untuk hari ini,” ucap Arjuna.


“Sampai bertemu kembali


besok!” finalnya.


Kemudian setelahnya


agenda diskusi mereka kali ini resmi ditutup. Karena tidak ada agenda tambahan


hari ini, seharusnya mereka sudah bisa kembali ke tempat tinggalnya


masing-masing. Tapi, Agatha memutuskan untuk tetap berada di kantor. Bukannya kembali


ke unit apartment barunya, gadis itu malah pergi ke ruangan pribadi yang ada di


dalam kantornya.


Rasanya sudah cukup


lama Agatha tidak mengunjungi tempat ini. Terakhir kali sebelum ia menjalankan


misi menjadi seorang mata-mata di salah satu geng mafia yang terkenal kejam. Bahkan


setelah misinya selesai pun, Agatha tidak pernah menginjakkan kaki lagi di


ruangan ini.


Begitu membuka pintu,


ia tidak langsung masuk. Melainkan berdiri di ambang pintu sambil mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati setiap benda kecil yang ada


di sana. Ia kira pasti setidaknya ada satu atau dua hal yang berubah setelah


dirinya meninggalkan tempat ini. Tapi, ternyata tidak sama sekali.


Petugas kebersihan


pasti sering datang kemari untuk membersihkan ruangan ini setiap harinya. Meski


pada dasarnya tidak ada yang menempati. Pasti karena rutin dibersihkan, jadinya


tidak terlihat berantakan. Benar-benar tetap terawat.


Tanpa disadari, kedua


sudut bibirnya terangkat ke atas. Sehingga membentuk senyuman paling tulus yang


pernah ia tunjukkan. Tidak bisa dipungkiri. Ia merindukan tempat ini lebih dari


apa pun. Semuanya dimulai dari sini. Sebuah titik baru untuk hidupnya.


“Agatha!” sahut


seseorang dari ujung lorong.


Gadis itu lantas


menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah Arjuna. Entah ada urusan apa


pria itu dengannya sekarang. Mau tak mau Agatha terpaksa mengalihkan


perhatiannya selama beberapa saat dari ruangan kerjanya.


“Ada apa?” interupsi


Agatha begitu pria itu sampai di hadapannya.


“Kau tidak pulang?”


tanya pria itu balik.


“Nanti saja. Masih ada


beberapa hal yang ingin kulakukan di sini,” jelas Agatha.


“Baiklah kalau begitu.


Aku akan menunggumu,” balas Arjuna.


“Nanti katakan saja


kepadaku kalau sudah selesai. Aku akan mengantarkanmu pulang,” jelasnya


kemudian.


“Tidak


perlu, aku bisa pulang sendiri!” tepis Agatha dengan cepat.