
Begitu sampai di unit
apartmentnya, Zura langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah. Kemudian
segera merobohkan dirinya di atas sofa ruang tengah, tanpa menukar pakaiannya
terlebih dahulu. Tidak ada yang lebih penting dari isi pikirannya saat ini.
Agatha sungguh mengacaukan makan malamnya dengan Arjuna.
“Arghh!!!” teriak gadis
itu sebal.
Ia bahkan ikut
menendang meja yang ada di depannya. Membuat beberapa toples kaca yang berada
di atasnya sampai pecah karena jatuh menghantam lantai.
Tadinya pria itu sempat
melarangnya untuk pulang karena hujan deras. Namun, Zura sama sekali tidak
menghiraukannya. Ia tetap menerobos hujan badai sekalipun. Karena tidak membawa
mobil, Zura terpaksa harus kembali dengan menggunakan taksi. Beruntung masih
ada kendaraan yang beroperasi di tengah hujan lebat seperti ini. Sebenarnya
jauh lebih baik jika ia pulang basah kuyup karena kehujanan daripada harus
menetap di rumah Arjuna sampai hujannya reda. Zura tidak akan pernah sudi
melakukan hal itu.
“Kenapa harus Agatha?”
lirihnya.
Perlahan namun pasti,
air matanya muulai mengalir. Lagi-lagi tubuh gadis itu roboh begitu saja.
Sebab, kedua kakinya tidak bisa menopang berat tubuhnya dengan sempurna lagi.
Ia sudah terlalu lemah. Baik secara fisik maupun mental.
Gadis itu terduduk
lemah di sudut ruangan yang kacau itu sambil memeluk kedua kakinya. Zura menenggelamkan
wajahnya di antara kakinya. Sesekali membungkam mulutnya, karena tak ingin
menciptakan suara terisak yang terlalu keras. Lebih tepatnya ia tidak mau
sampai kelepasan kendali.
Sebenarnya, ia sangat
ingin melepaskan semuanya begitu saja. Mengekspresikan perasaannya dengan
dengan normal.
“Kenapa harus Agatha?
Apa tidak ada wanita lain?” ucapnya sambil terisak.
Bagaimana bisa dadanya
tidak merasa sesak. Kini, sahabat yang sudah ia kenal sejak dulu malah
berpotensi untuk menjadi seorang perebut kebahagiaannya. Sebenarnya Agatha juga
tidak bisa disalahkan begitu saja. Gadis itu bahkan tidak tahu apa-apa soal
hubungan mereka.
Setiap manusia berhak
untuk mencintai siapa pun. Dan di sisi lain mereka juga berhak untuk membenci
orang lain. Meski Zura tidak tahu harus membenci gadis itu dari sudut pandang
yang mana. Agatha adalah seorang malaikat di matanya. Tidak ada alasan sama
sekali untuk membencinya.
Satu-satunya yang
bersalah di sini adalah Arjuna. Kalau sampai pria itu benar-benar menyukai
Agatha, maka sepertinya kisah mereka harus segera diselesaikan. Meski bukan
sekarang waktu yang tepat untuk menamatkan kisah tersebut. Tapi, tetap saja
tidak ada pilihan lain. Berpisah jauh lebih baik daripada bertahan di tempat
yang sama sekali tidak memungkinkan. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Dadanya sungguh terasa
sesak. Seperti ada yang tengah berusaha untuk menghimpit tubuhnya dari berbagai
arah. Tidak membiarkan gadis ini merasa lega, meski hanya satu detik.
“Aku takut jika
kekhawatiranku selama ini benar,” gumam gadis itu. Masih dengan posisi yang
sama.
Salah satu hal paling
menakutkan di dunia ini selain hantu, adalah jika asumsinya selama ini benar
terjadi. Zura sudah mulai sampai pada fase pasrah. Menyerahkan semua prosesnya
kepada semesta. Namun, di sisi lain dia tidak ingin lepas tangan begitu saja.
Paling tidak harus ada satu pembelaan dari dirinya, untuk dirinya sendiri. Sungguh membingungkan, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, tapi Zura merasa jika orang lain pasti mengerti apa maksudnya.