The Riot

The Riot
Zura



Begitu sampai di unit


apartmentnya, Zura langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah. Kemudian


segera merobohkan dirinya di atas sofa ruang tengah, tanpa menukar pakaiannya


terlebih dahulu. Tidak ada yang lebih penting dari isi pikirannya saat ini.


Agatha sungguh mengacaukan makan malamnya dengan Arjuna.


“Arghh!!!” teriak gadis


itu sebal.


Ia bahkan ikut


menendang meja yang ada di depannya. Membuat beberapa toples kaca yang berada


di atasnya sampai pecah karena jatuh menghantam lantai.


Tadinya pria itu sempat


melarangnya untuk pulang karena hujan deras. Namun, Zura sama sekali tidak


menghiraukannya. Ia tetap menerobos hujan badai sekalipun. Karena tidak membawa


mobil, Zura terpaksa harus kembali dengan menggunakan taksi. Beruntung masih


ada kendaraan yang beroperasi di tengah hujan lebat seperti ini. Sebenarnya


jauh lebih baik jika ia pulang basah kuyup karena kehujanan daripada harus


menetap di rumah Arjuna sampai hujannya reda. Zura tidak akan pernah sudi


melakukan hal itu.


“Kenapa harus Agatha?”


lirihnya.


Perlahan namun pasti,


air matanya muulai mengalir. Lagi-lagi tubuh gadis itu roboh begitu saja.


Sebab, kedua kakinya tidak bisa menopang berat tubuhnya dengan sempurna lagi.


Ia sudah terlalu lemah. Baik secara fisik maupun mental.


Gadis itu terduduk


lemah di sudut ruangan yang kacau itu sambil memeluk kedua kakinya. Zura menenggelamkan


wajahnya di antara kakinya. Sesekali membungkam mulutnya, karena tak ingin


menciptakan suara terisak yang terlalu keras. Lebih tepatnya ia tidak mau


sampai kelepasan kendali.


Sebenarnya, ia sangat


ingin melepaskan semuanya begitu saja. Mengekspresikan perasaannya dengan


dengan normal.


“Kenapa harus Agatha?


Apa tidak ada wanita lain?” ucapnya sambil terisak.


Bagaimana bisa dadanya


tidak merasa sesak. Kini, sahabat yang sudah ia kenal sejak dulu malah


berpotensi untuk menjadi seorang perebut kebahagiaannya. Sebenarnya Agatha juga


tidak bisa disalahkan begitu saja. Gadis itu bahkan tidak tahu apa-apa soal


hubungan mereka.


Setiap manusia berhak


untuk mencintai siapa pun. Dan di sisi lain mereka juga berhak untuk membenci


orang lain. Meski Zura tidak tahu harus membenci gadis itu dari sudut pandang


yang mana. Agatha adalah seorang malaikat di matanya. Tidak ada alasan sama


sekali untuk membencinya.


Satu-satunya yang


bersalah di sini adalah Arjuna. Kalau sampai pria itu benar-benar menyukai


Agatha, maka sepertinya kisah mereka harus segera diselesaikan. Meski bukan


sekarang waktu yang tepat untuk menamatkan kisah tersebut. Tapi, tetap saja


tidak ada pilihan lain. Berpisah jauh lebih baik daripada bertahan di tempat


yang sama sekali tidak memungkinkan. Itu sama saja dengan bunuh diri.


Dadanya sungguh terasa


sesak. Seperti ada yang tengah berusaha untuk menghimpit tubuhnya dari berbagai


arah. Tidak membiarkan gadis ini merasa lega, meski hanya satu detik.


“Aku takut jika


kekhawatiranku selama ini benar,” gumam gadis itu. Masih dengan posisi yang


sama.


Salah satu hal paling


menakutkan di dunia ini selain hantu, adalah jika asumsinya selama ini benar


terjadi. Zura sudah mulai sampai pada fase pasrah. Menyerahkan semua prosesnya


kepada semesta. Namun, di sisi lain dia tidak ingin lepas tangan begitu saja.


Paling tidak harus ada satu pembelaan dari dirinya, untuk dirinya sendiri. Sungguh membingungkan, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, tapi Zura merasa jika orang lain pasti mengerti apa maksudnya.