The Riot

The Riot
PlanB



Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan gadis itu.


Banyak berkat yang datang ke dirinya sejak pagi tadi. Walau pun tidak selalu


berjalan dengan mulus, setidaknya ia bisa melewati hari ini dengan sedikit


lebih mudah dari pada sebelumnya. Tantangannya jauh lebih sedikit jika dipikir-pikir


lagi. Agatha juga tidak merasa jika energinya terkuras habis seperti biasanya.


Tidak hanya sampai di situ saja berkat yang didapatkan


Agatha. Pihak kepolisian yang kemarin memeriksanya dan menuduh gadis itu


sebagai pencuri menyatakan jika Agatha bukan pelakunya. Berdasarkan hasil tes


keakuratan sidik jari, ia tidak bersalah. Sidik jari yang tertinggal di etalase


toko bukan miliknya. Seperti kepercayaannya sebelumnya, Agatha sama sekali


tidak bersalah. Jadi tidak perlu takut. Sebab kebenaran akan selalu terungkap.


“Bahkan orang kembar pun memiliki sidik jari yang berbeda,”


ucap gadis itu sambil tersenyum tipis.


Hari ini ia patut untuk bersenang-senang. Sebab Dewi Fortuna


sedang berada di pihaknya. Entah sampai kapan dan entah kapan lagi hal seperti


ini akan terjadi.


“Setelah ini kita diminta untuk pergi ke ruangan rapat!”


seru Thomas dari kejauhan.


Tidak perlu diperjelas, karena sudah cukup jelas. Jika yang


dimaksud pria itu untuk segera pergi ke ruangan rapat adalah rekan-rekan kerja


satu timnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Itu sebabnya kenapa Arjuna


mendadak memerintahkan Thomas untuk mengajak rekan-rekannya yang lain berkumpul


di ruangan itu.


“Huh! Ada apa lagi?!” tanya Agatha setengah memprotes.


“Sudah, ayo!” ajak Jeff.


Pria itu langsung menarik tangan kanannya untuk ikut


bersamanya. Bahkan Jeff melakukan hal tersebut tanpa permisi sama sekali.


Namun, tidak masalah. Hanya ada satu masalahnya. Langkah kaki pria yang sedang


menuntunnya saat ini terlalu lebar. Wajar saja jika langkah yang tercipta lebar-lebar,


itu past karena kakinya yang jenjang. Semua orang juga tahu akan hal tersebut.


Mau tak mau Agatha harus menyesuaikan kecepatannya. Sesekali


ia juga menyusul langkah kaki Jeff jika sudah tertinggal terlalu jauh di


belakang sana. Sebagai seorang wanita yang memiliki panjang kaki sedang, tidak


terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek, itu bisa jadi masalah ketika dirinya


berjalan beriringan dengan orang seperti Jeff. Bukan hanya Jeff saja. Lebih


tepatnya, semua pria di sini memiliki kaki yang jauh lebih panjang ketimbang


Agatha jika dibandingkan.


***


Semua orang sudah berkumpul di dalam rungan, termasuk Arjuna


ketika mereka sampai. Ternyata mereka semua datang lebih cepat dari pada apa


yang diduga Agatha sebelumnya. Meski datang dengan urutan paling akhir,


sepertinya mereka tidak terlambat sama sekali.


“Apa kami terlambat?” tanya Jeff untuk memastikan.


“Kami bahkan belum memulai rapatnya sama sekali. Jadi


duduklah!” jawab Arjuna dengan apa adanya, kemudian diakhiri dengan sebuah


perintah.


Tidak mau berlama-lama, Jeff dan Agatha langsung mengambil


tempat duduknya masing-masing. Sekarang formasinya sudah utuh. Arjuna bisa


segera memulai rapatnya. Pasti ada hal darurat yang memaksa mereka untuk


menggelar rapat secara tiba-tiba seperti ini. Dari pengalaman Agatha memang


selalu begitu. Biasanya rapat pasti akan selalu direncanakan. Jika kau


mendapatkan rapat mendadak, itu berarti ada satu hal penting yang cukup genting


dan perlu diselesaikan dengan segera.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Arjuna segera mengambil alih


rapat. Seperti biasanya, pria itu yang akan memimpin jalannya rapat kali ini.


Tampaknya pria itu memang sudah mengetahui apa intik dari permasalahan yang


akan mereka bahas. Mungkin Arjuna adalah satu-satunya orang yang tahu soal hal


“Hari ini aku mendapatkan laporan jika terjadi transaksi


narkoba di sekitar pelabuhan tengah malam nanti,” beber Arjuna dengan gamblang.


“Jadi, aku ingin agar kalian tetap berada di kantor dan


bersiap untuk misi ini nanti malam,” jelasnya singkat.


Gadis itu menghella napasnya dengan kasar. Ia ingin mengeluh


sebenarnya, tapi tidak bisa. Forum kali ini bukan untuk menerima keluhan. Lagi


pula itu sudah again dari pekerjaannya. Selama masih ingin melanjutkan hidup,


mau tak mau ia harus tetap melakukannya.


“Jadi, bagaimana rencananya?” tanya Thomas.


“Hanya ada sekitar sepuluh orang di yang akan terlibat di


sana. Tidak terlalu banyak untuk ukuran sekelompok pemasok narkoba illegal,”


ungkap Arjuna.


“Aku sudah menghubungi pihak pengelola pelabuhan untuk


mengawasi pergerakan kapal tersebut. Seharusnya mereka bisa bersikap kooperatif


karena ini juga demi kebaikan bersama,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


“Kalau mereka tidak memihak kita, maka berarti orang-orang


itu harus menanggung akibatnya,” timpal Robi.


Sejauh ini Agatha jauh lebih memilih untuk menyimak saja,


dari pada ikut berkomentar. Dia tidak mau berkata apa-apa. Rasanya belum ada


satu hal pun yang terlintas di dalam kepalanya sampai saat ini. Jadi tidak ada


yang perlu di sampaikan.


“Apa tidak sebaiknya kita membawa tim lebih untuk membantu?”


tawar Jeff untuk memastikan.


“Kita juga perlu berjaga-jaga,” sambungnya.


Jeff tidak yakin jika mereka bisa menangani semua pelakunya


nanti yang berjumlah kurang lebih sekitar sepuluh orang. Sementara dalam tim


ini hanya ada lima orang saja. Kalau dari segi jumlah mereka jelas kalah jauh. Tapi,


sepertinya lima orang seperti mereka cukup untuk menghimpun kekuatan yang lumayan


besar. Mengingat jika Arjuna dan timnya merupakan orang-orang terlatih. Ini juga


bukan yang pertama kalinya mereka berhadapan dengan para perilaku kriminal.


“Bagaimana menurutmu?” tanya Arjuna kepada gadis itu.


“Tidak ada salahnya untuk waspada,” jawab Agatha dengan apa


adanya.


“Baiklah kalau begitu,” balasnya sambil mengangguk.


Hanya perlu waktu kurang dari satu menit bagi pria itu unutk


memutuskan. Wajar saja. Selama ini mereka sudah cukup terlatih untuk mengambil


keputusan secara cepat dan tepat. Lebih tepatnya spontan.


“Kita akan membawa beberapa personil tambahan untuk membantu


misi peringkusan nanti malam,” ucap Arjuna.


“Sekarang waktunya untuk penyusunan rencana dan apa-apa saja


yang perlu kalian lakukan,” sambung pria itu yang kemudian segera diangguki


oleh semua orang.


Sejauh ini semua orang masih sependapat dengan Arjuna. Apa


pun keputusan yang akan diambil pada akhirnya harus tetap mewakili keinginan


semua anggota. Meskipun pria itu adalah pemimpinnya di sini. Hal itu tidak


berarti jika semua orang harus mendengarkan perkataannya saja tanpa bisa


menyampaikan aspirasinya.


“Kabarnya mereka akan sampai di pelabuhan tepat pada jam dua


belas malam nanti,” beber Arjuna secara gamblang.


Sesaat kemudian ia mengeluarkan


sesuatu dari dalam laci. Gulungan kertas besar. Entah apa isinya. Baru akan


ketahuan pada saat ia membentangkan kertas tersebut. Tampaknya itu adalah peta


suatu lokasi. Mungkin pelabuhan. Karena hanya itu satu-satunya hal yang sedang


mereka bahas hari ini. Seharusnya memang benar peta pelabuhan. Tidak salah


lagi.