
Kebetulan sekali hari
ini belum ada kasus baru yang masuk. Jadi, mereka bisa fokus dulu untuk
menyelesaikan kasus yang sebelumnya. Agatha mengusulkan agar kasus pembunuhan
berantai ini segera ditindaklanjuti. Mereka tidak bisa menunggu atau bahkan menundanya
lagi.
“Kalau begitu beri tahu
yang lainnya untuk segera berkumpul di ruangan rapat!” perintah Arjuna.
“Kita akan segera
mendiskusikan hal ini sebentar lagi,” imbuhnya yang kemudian langsung diangguki
oleh Agatha.
Kalau bukan karena
urusan pekerjaan, gadis itu tidak mungkin sudi untuk menghampiri Arjuna kemari.
Jangankan bicara dengannya, melihat wajahnya saja sudah membuat Agatha muak. Tapi
mau bagaimana lagi memangnya. Bukankah peraturannya mereka harus tetap bersikap
professional selama bekerja.
Baiklah kalau begitu,
untuk sementara waktu Agatha akan mengesampingkan masalah pribadi mereka. Untuk
kali ini saja. Setidaknya, semakin cepat urusan mereka selesai, maka akan
semakin cepat pula Agatha menyelesaikan urusannya dengan pria itu. Tidak akan
ada alasan lagi bagi mereka untuk tetap saling bertemu jika urusan pekerjaan
sudah selesai.
Begitu keluar dari
ruanga pria itu, Agatha buru-buru meraih telepon selulernya yang ia selipkan di
saku celana. Agatha terlalu malas untuk menghampiri rekan-rekan satu timnya
yang lain ke tempat mereka bekerja masing-masing. Walaupun sebenarnya tidak terlalu
jauh. Karena pada faktanya mereka masih bekerja pada kantor yang sama. Lebih
spesifiknya pada lamtai yang sama pula.
Agatha menjadi orang
pertama yang sampai di ruangan rapat. Kemudian di susul oleh Thomas dan yang
lainnya. Tidak perlu menunggu terlalu lama sampai semua orang berada di sini.
Bahkan dalam waktu kurang dari lima menit saja, mereka semua sudah datang.
Sebelum rapat dimulai,
tadi Agatha menyempatkan diri lebih dulu untuk membuat salinan berkasnya. Sehingga
semua orang di sini bisa tahu dengan jelas masalah apa lagi yang akan mereka
diskusikan kali ini.
“Baiklah, tanpa
buang-buang waktu mari langsung kita mulai saja rapatnya!” celetuk Arjuna di
awal.
Seperti biasanya, pria
yang bernama Arjuna itu akan memimpin jalannya rapat kali ini. Orang-orang
selalu mempercayakan dirinya sebagai seorang pemimpin dalam hal apa pun.
Termasuk Agatha. Karena memang Arjuna terlahir untuk menjadi seorang pemimpin.
“Agatha, selaku orang
yang menangani kasus ini, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?” tanya
Arjuna.
“Baiklah, terima kasih
atas waktu dan kesempatannya!” balas gadis itu.
“Pertama-tama aku ingin
menyimpulkan bahwa korban penembakan di apartment kemarin adalah salah satu
korban dari di pelaku. Dan bisa kusimpulkan jika dia adalah korban terakhir,”
ungkap Agatha secara gamblang.
Semua orang tampak
kebingungan sekaligus terkejut. Kedua bola mata mereka membulat dengan
sempurna. Kecuali Agatha dan Jeff. Sebab, mereka sudah mengetahui perihal yang
satu ini lebih awal.
“Yang benar saja?”
tanya Robi kemudian membungkam mulutnya sendiri.
“Silahkan kalian
perhatikan foto peluru yang digunakan oleh pelaku. Lebih tepatnya ada pada foto
kedua yang terlampir di halaman keempat,” jelas Agatha.
Semua orang pun
langsung membuka halaman yang dimaksud oleh gadis itu. Memperhatikan foto
tersebut dengan begitu seksama.
“Di sana ada tulisan
bukan?” tanya Agatha.
“Ya, benar!” kata Thomas.
Yang lain pun tampak
mengangguk setuju.
“Itu adalah titik
koordinat sebuah lokasI,” bebera Agatha secara terang-terangan.
“Seperti yang kita
berupa potongan dari titik koordinat,” jelasnya kemudian.
“Dia akan terus mencari
korban baru untuk menyelesaikan petunjuk tersebut,” final gadis itu.
Semua orang tampak
diam, tapi memperhatikan. Mereka menyimak perkataan gadis itu dari awal sampai
akhir. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Yang tertera di salah satu bagian
peluru tersebut adalah versi lengkapnya dari titik koordinat yang dimaksud oleh
pelaku. Secara tidak langsung, ia sudah menyelesaikan misinya yang satu itu.
Dan yang terpenting, korban penembakan itu adalah korban terakhir.
Mereka terpaksa
kehilangan satu nyawa lagi hanya karena sikap egois si pelaku yang hanya
memikirkan dirinya sendiri saja. Namun, di sisi lain Agatha dan timnya juga bisa
bernapas lega. Setidaknya sekarang terror dari kasus pembunuhan berantai itu
sudah berakhir. Korban terakhirnya sudah meregang nyawa, dan semoga ini
benar-benar yang terakhir. Tidak akan ada korban baru lagi ke depannya. Itu adalah
harapan semua orang untuk saat ini.
“Apa kau bisa
memastikan jika dia adalah korban terakhir dalam kasus ini?” tanya Arjuna
sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Seharusnya memang
begitu jika dilihat dari motif pelaku yang telah kita duga selama ini,” jawab
gadis itu dengan apa adanya.
Beberapa orang tampak
mulai setuju dan sependapat dengan Agatha. Namun, sisanya malah belum
memutuskan sama sekali. Mereka belum benar-benar yakin jika ini adalah korban
terakhir. Bagaimana jika ternyata ada korban lainnya. Bagaimanapun juga, mereka
tetap harus waspada dan berhati-hati. Hal buruk bisa terjadi kapan saja. Terutama
yang tidak pernah diperkirakan sama sekali.
Tapi, untuk sementara
Arjuna memilih untuk berada di pihak Agatha. Bersikap seolah-olah jika
dugaannya itu benar. Maka apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
“Menurut pengamatan
kami, ini adalah titik koordinat Hongkong,” ungkap Jeff.
“Seperti yang sudah
kita ketahui bersama,” sambungnya.
“Memangnya ada apa di
sana sampai-sampai si pelaku bersi keras untuk memberikan petunjuk soal titik
koordinat hongkong kepada kita melalui para korbannya,” celoteh Thomas yang
tiak habis pikir.
“Benar! Padahal kalau
ada perbuatan kriminal di sana, dia bisa melaporkan kasus tersebut ke kantor
polisi terdekat,” timpal Robi yang sependapat dengan pria itu.
“Dan yang terpenting,
dia tidak perlu membunuh orang lain seperti ini,” finalnya.
Sampai sekarang mereka
masih tidak tauh harus bagaimana. Sebenarnya ada apa dengan Hongkong.
“Jadi, haruskah kita
mengirim tim kita untuk pergi ke Hongkong dan menyelidiki kasus ini?” tanya
Thomas.
“Tapi, bagaimana kalau
ternyata si pelaku hanya ingin menjebak kita?” tanya Agatha balik.
“Bagaimana kalau selama
ini ternyata dia hanya sedang mengelabui kita?” sambungnya.
“Apa maksudmu?” tanya
Arjuna kebingungan.
“Bisa saja jika ini
memang tujuannya sejak awal. Dia ingin saah satu dari kita pergi ke sana dan
mencari tahu apa yang terjadi. Setelah berhasil mengalihkan perhatian kita, dia
mungkin akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Sesuatu yang bahkan belum
pernah kita bayangkan sebelumnya,” jelas Agatha dengan panjang lebar.
Tidak masalah jika
Agatha berasumsi seperti itu. Bisa saja jika suatu saat malah ia yang benar,
atau malah sebaliknya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi ke
depannya. Yang jelas mereka harus selalu waspada.
“Jadi, bagaimana sikap
kita terhadap kasus ini?” tanya Arjuna untuk meminta masukan.
“Kenapa
kita tidak mengirimkan satu sampai dua orang untuk pergi ke Hongkong? Sementara
sisanya tetap berada di sini untuk berjaga,” usul Robi.