The Riot

The Riot
Rencana Hari Ini



Hari ini tidak terlalu buruk. Agatha bisa


beradaptasi dengan mudah. Baik dengan orang-orang serta lingkungannya. Mereka


juga cepat membaur terhadap gadis itu. Agatha masih tidak habis pikir. Kenapa


ditim mana pun itu, ia selalu menjadi satu-satunya perempuan. Bahkan saat ia


telah menjadi mafia sekali pun, Agatha tetap menjadi satu-satunya perempuan


yang ada di sana.


“Rienna!” sahut Immanuel.


Sang pemilik nama lantas segera menoleh. Meski sebenarnya


bukan itu nama aslinya, tapi otak Agatha sudah otomatis bekerja jika nama


Rienna disebutkan. Seolah-olah itu benar adalah dirinya. Padahal bisa saja ada


orang lain yang memiliki nama serupa. Tapi, rupanya itu lah yang menjadikan Agatha


masih tetap berada di posisi yang aman sampai saat ini.


“Pukul tiga sore nanti kita akan pergi ke markas utama


untuk mengambil beberapa pasokan senjata yang baru saja tiba. Kau akan ikut


bersama kami kan?” tanya pria itu di akhir kalimat.


Tanpa pikir panjang lagi, pria itu lantas segera


mengangguk untuk mengiyakan perkataannya. Pergi ke markas utama, itu artinya ia


akan mendapatkan informasi baru. Bahkan Agatha tidak pernah tahu sebelumnya


jika ada markas utama. Meski kedatangan mereka ke sana hanya sebatas untuk


mengambil persediaan senjata.


“Akan dikemanakan senjata yang sudah kita ambil


nanti?” tanya Agatha secara gamblang.


“Kita akan menjualnya kepada beberapa pimpinan


perusahaan,” jawab Mike dengan apa adanya.


“Sepertinya kita perlu menjelaskan lebih banyak lagi


kepada gadis ini. Dia baru resmi bergabung kemarin dan belum tahu apa-apa,”


timpal Fadli dengan cepat kemudian ikut diangguki oleh yang lainnya.


“Tenang saja, kami akan menunjukkan bagaimana cara


kami  bekerja di sini,” sambung Immanuel.


Ternyata biasanya mereka akan kedatangan pasokan


senjata illegal dari luar negeri. Salah satunya dari Hongkong. Tentu saja


kegiatan itu dilakukan secara illegal. Transaksinya akan dilakukan secara


diam-diam pada salah satu sudut kecil di pelabuhan. Para mafia ini sebelumnya


juga sudah bekerja sama dengan beberapa orang pelabuhan agar rencananya lancar


dan tidak ada yang terkesan mencurigakan.


Setelah diambil dari pelabuhan, senjata-senjata itu


akan ditempatkan di markas utama untuk sementara. Pada jadwal yang sudah


ditetapkan, barulah tim yang sudah ditugaskan akan mengambil senjata-senjata


itu untuk disebar luaskan kepada orang yang sudah memesan. Kebanyakan dari


mereka yang memesan senjata ini adalah para pemimpin kawanan perampok. Bahkan


juga geng motor hingga para mafia. Beberapa pimpinan perusahaan juga ternyata


tidak sedikit yang tergabung dalam jaringan mafia.


Agatha tidak tahu siapa salah satunya. Tapi, yang


jelas sebentar lagi ia akan tahu. Cepat atau lambat, semua informasi yang


bersifat rahasia mengenai para mafia ini akan segera terbongkar. Gadis itu


tidak akan menjamin kalau nyawanya akan baik-baik saja. Jika pada akhirnya akan


mati setelah melaksanakan misi pun tidak apa-apa. Yang penting ia telah


melakukan setidaknya satu kebaikan sebelum jiwanya pergi menemui Tuhan.


***


Sambil menunggu waktu yang telah ditentuka, Agatha


dan keempat teman barunya yang lain sedang bersantai di markas. Sesekali sambil


berdiskusi ringan, atau malah hanya bercanda.


“Apa ada perempuan lain yang juga menjadi mafia


selain diriku?” tanya Agatha secara tiba-tiba.


Sontak semua mata tertuju ke arahnya. Gadis itu sama


sekali tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya ingin memastikan apakah dugaannya


benar atau tidak.


“Kenapa memangnya?” tanya Immanuel balik.


Agatha sambil menggidikkan bahunya.


“Seingatku ada. Satu,” ungkap Immanuel setelahnya.


“Dia sudah bergabung sejak lama, dan sebelum kau


datang kemari dia masih tetap menjadi satu-satunya wanita pada kelompok mafia


ini,” jelasnya.


Mendengar permaparan tersebut, Agatha lantas


mengangguk paham. Ternyata kali ini dia tidak sendirian. Ada satu wanita lagi


yang ternyata juga menjadi bagian dari mereka. Posisinya pasti sudah jauh lebih


senior. Tapi, senior tidak melulu harus lebih tua.


“Kalian harus saling berkenalan saat bertemu nanti.


Dia pasti akan senang bertemu denganmu!” celetuk Zean yang menimbrun secara


tiba-tiba.


“Aku juga berharap begitu, semoga saja,” gumam


Agatha.


Dia tidak benar-benar yakin kalau wanita itu akan


merasa nyaman dengan kehadirannya. Lebih tepatnya, Agatha tak yakin kalau nanti


mereka sungguh akan berteman baik. Insting alami gadis ini mengatakan kalau


mereka malah akan menjadi saingan satu sama lain.


Semua orang juga tahu betapa kerasnya dunia mafia. Hidup


di sini sama saja dengan hidup di hutam rimba. Siapa yang kuat, maka ia akan


bertahan sampai akhir. Sementara yang lemah, tentu akan tersingkir dengan


mudah. Hukum rimba dengan konsep seleksi alam berlaku di sini. Padahal mereka


adalah manusia seutuhnya, bukan hewan.


“Bukan hanya itu, kau juga akan bertemu dengan


begitu banyak orang di markas utama nanti,” ujar Zean.


“Kami akan mengenalkanmu ke semua orang. Kau tidak


perlu merasa takut, mulai hari ini kami adalah keluargamu,” sambug pria itu


kemudian.


Solidaritas mereka memang tidak diragukan lagi.


Semua orang saling menjaga satu sama lain. Meski di satu sisi akan ada saatnya


bagi mereka untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Yang namanya manusia,


pasti memiliki sisi egois. Kalau itu demi kepentingan bersama, maka kekompakan


mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Berbeda halnya jika itu menyangkut


kepentingan diri sendiri.


“Hei! Aku baru mendapat kabar jika Hiraeth akan kembali


kemari besok!” celetuk Fadli secara tiba-tiba.


Kali ini seluruh mata tetuju ke arahnya. Pria itu


sedang menjadi pusat perhatian sekarang. Semua orang sedang menunggu penjelasan


lebih lanjut darinya.


“Kau sungguhan?” tanya Zean untuk memastikan sekali


lagi.


“Tentu saja! Aku baru mendapatkan kabar dari Hiraeth


langsung. Ini buktinya kalau tidak percaya,” jawab pria itu dengan begitu yakin


kemudian menyodorkan ponselnya.


Semua orang tampak memperhatikan layar ponsel Fadli


secara seksama. Termasuk Agatha juga. Ternyata apa yang dia katakan tadi benar.


Fadli tidak sedang berbohong. Besok pria itu akan sampai ke sini sekitar pukup


delapan malam. Jadi, ia meminta salah satu dari mereka untuk menjemputnya ke


bandara besok. Mengingat jika ia tidak mungkin membawa mobil atau kendaraan


lainnya saat sedang bepergian jauh.


Di sisi lain, Agatha


sama sekali tidak sabar untuk bertemu dengan Hiraeth. Gadis itu tidak bisa


menunggu lebih lama lagi. Semoga besok adalah hari keberuntungannya. Karena tidak


semua orang bisa melihat wajah pria itu. Tapi, seharusnya Agatha sudah memiliki


akses untuk ke situ. Sebab sekarang dia sudah menjadi salah satu bagian dari kelompok


mafia ini. Lagipula bukankah semua anggota seharusnya sudah tahu seperti apa


wajah pemimpinnya? Mustahil jika mereka bahkan tidak mengenali bos mereka.