The Riot

The Riot
The Poison's Girl



“Tapi pak, mana mungkin


ada racun di makanan kami,” bela pria itu.


Wajar saja dia


melakukan hal seperti itu untuk melindungi nama baik bisnisnya. Kalau sampai


orang lain tahu, terutama pelanggan, bisa-bisa ia bangkrut.


“Kami hanya menyajikan


hidangan terbaik yang di buat dari dapur kami sendiri. Selain itu semua bahan


yang digunakan juga segar-segar. Semuanya berkualitas. Lantas bagaimana bisa


jadi keracunan?” jelas si pemilik dengan panjang lebar.


Memang benar jika ia


adalah pemiliknya. Tapi, bukan berarti itu menjamin kalau kau aka tahu


segalanya. Ia bahkan tidak berada langsung di dapur pada saat itu. Bagaimana


bisa ia menjamin hal tersebut.


“Apakah anda berada di


tempat kejadian saat peristiwa itu terjadi?” tanya Jeff.


Lihat sekarang. Pria itu


tidak bisa menjab pertanyaan yang diberikan oleh Jeff tadi. Padahal pilihannya


hanya ada dua. Yaitu, iya dan tidak. Apakah pertanyaan itu terlalu sulit. Sepertinya


tidak sama sekali. Orang sedewasa dirinya pasti bisa mencerna semua itu dan


menangkap dengan jelas apa maknanya.


“Untuk mempersingkat


waktu bagaimana kalau tunjukkan saja kepada kami rekaman kamera pengawasnya?”


ungkap Arjuna.


Pria itu mencoba untuk


memberikan opsi lain yang tentu saja jauh lebih jelas dan akurat.


“Tempat ini tentu punya


kamera pengawas, bukan?” timpal Jeff.


“Ya, ada!” tukas si


pemilik restoran.


“Kalau begitu mari ikut


saya ke ruangan kontrol!” ajaknya.


Mereka berdua kemudian


segera beranjak dari sana. Mengikuti langkah pria itu dari belakang. Langkah ketiganya


berakhir di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup. Tempat ini telah


diawasi oleh beberapa orang.


“Silahkan masuk!”


persilahkan pria itu.


Arjuna dan Jeff masuk


lebih dulu ke dalam sana, kemudian disusul oleh sang pemilik.


“Hei! Coba tunjukkan


kepadaku rekaman dari seluruh kamera pengawas siang tadi!” perintah pria itu


kepada salah satu karyawannya.


“Rekaman jam berapa


yang harus kubuka, pak?” tanya si karyawan.


“Jam satu sampai dengan


jam tiga!” balas Jeff dengan cepat yang kemudian segera diangguki oleh pria


itu.


Tanpa banyak basa-basi


lagi, ia segera melakukan perintah Jeff. Rekaman pukul satu samapai tiga tadi


siang telah muncul. Ini ditangkap dari berbagai sudut. Sehingga tidak ada satu


tempat pun yang tidak tersorot kamera.


Arjuna mencondongkan


tubuhnya ke arah layar. Semua orang memperhatikan hasil rekaman kamera pengawas


dengan begitu seksama. Sampai secara tiba-tiba Arjuna buka suara dan memecah


keheningan suasana.


“Ini adalah aku dan


korban yang baru saja sampai!” celetuk Arjuna sambil mengarahkan jari


telunjuknya ke monitor agar semua orang bisa melihat bagaimana alur


kejadiannya.


Pada detik ini,


konsentrasi semua orang semakin meningkat. Sorot mata mereka mengikuti pergerakan


salah satu pelayan yang membawa daftar pesanan mereka dari meja menuju dapur. Untuk


kali ini semua orang berubah jadi teliti.


Lalu tiba-tiba saja


perhatian Jeff teralihkan. Seorang wanita yang duduk di sudut ruangan itu


berhasil mencuri perhatiannya. Pada awalnya gadis itu tampak baik-baik saja.


Tidak ada yang terlihat mencurigakan darinya. Ia sama saja dengan pelanggan


lainnya. Namun, setelah menikmati pesanannya, ia pergi untuk mengobrol dengan


salah satu pelayan di dapur.


Di sinilah letak


kejanggalannya. Entah apa yang membuat pelayan tersebut mau memberikan


celemeknya kepada gadis itu. Mungkinkah sebelumnya mereka sudah saling mengenal


atau saling bekerja sama.


gadis itu pergi ke dapur. Tentu saja tidak ada yang curiga. Orang-orang di


dapur pasti mengira kalau gadis itu adalah pekerja baru di sini. Selama ia


masih menggunakan celemek, maka keberadaannya tidak akan mengambil atensi


banyak orang.


Lagi-lagi ia berhenti


di salah satu meja dapur. Kemudian kembali mengobrol dengan salah satu juru


masak di sana. Setelah berbincang kurang lebih lima belas detik, si juru masak


menyerahkan nampan berisi pesanan pelanggan kepadanya. Ia mempercayai gadis itu


untuk mengantarkan hidangan ini.


Dan yang benar saja,


semua itu sungguh terjadi sesuai dengan dugaan Jeff. Tidak jauh berbeda dengan


asumsinya selama ini. Ia bahkan sudah bisa memikirkan akan seperti apa skenario


berikutnya sejak pertama kali menaruh rasa curiga kepada sang gadis.


‘DUG!!!’


Pria itu memukul


permukaan meja pelan karena kesal. Sontak perhatian semua orang langsung


tertuju kepadanya.


“Ada apa?” tanya Arjuna


kebingungan.


“Apa kalian sungguh


tidak menyadarinya?” tanya pria itu balik.


Kini Arjuna semakin


kebingungan karena pertanyaannya malah dibalas dengan pertanyaan lain.


“Mundurkan waktunya ke


lima belas menit yang lalu!” perintah Jeff.


“Sekarang kalian


perhatikan wanita yang satu ini dengan baik-baik. Apa yang sedang ia lakukan,”


jelasnya tepat sebelum video itu diputar kembali untuk yang kedua kalinya.


Karena merasa penasaran


dengan apa yang sebenarnya terjadi, semua orang lantas menuruti permintaan pria


itu secara tidak langsung. Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui awal


mula kejadian. Ternyata gadis itu adalah akar dari semua permasalahannya. Dia tampak


mencampurkan sesuatu ke dalam makanan milik Agatha. Tapi, anehnya kenapa ia


hanya melakukan hal tersebut kepada gadis itu saja. Dan bagaimana bisa ia tahu


kalau piring itu adalah milik Agatha. Sungguh aneh.


“Sial!” umpat si


pemilik tempat.


“Panggil mereka berdua


sekarang!” perintahnya kepada salah satu karyawan.


Tampaknya pria itu juga


ikut merasa kesal setelah mengetahui perbuatan salah satu karyawannya. Bagaimana


bisa mereka memberikan kepercayaan begitu saja kepada orang asing. Sedikit lagi.


Hampir saja mereka kelihangan pekerjaan karena restoran ini akan tutup akibat


kasus tersebut. Apakah mereka sadar dengan perbuatannya selama ini.


“Aku sungguh-sungguh


minta maaf atas semua kekacauan ini,” ungkap si pemilik restoran dengan suara


parau.


Ia sama sekali tidak


menyangka jika akan terjadi hal di luar dugaan seperti ini. Mungkin ia pun


tidak pernah membayangkan hal serupa sebelumnya. Tapi, bukankah semesta selalu


penuh dengan kejutan. Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita


dapatkan. Dan hal yang paling tidak kita inginkan kadang juga datang dengan


sukarela. Memang benar. Manusia tidak bisa memastikan apa pun di dunia ini, di


dalam hidupnya.


“Aku benar-benar minta


maaf!” ucapnya sambil berlutut di depan mereka berdua.


Sontak Arjuna dan Jeff


merasa terkejut. Mereka membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Saling melempar


pandangan satu sama lain untuk beberapa saat.


“Bangkitlah!” perintah


Arjuna.


“Kau tidak perlu


melakukan itu,” jelasnya.


“Lagi pula ini bukan


sepenuhnya salahmu,” timpal Jeff.


Tidak


sepenuhnya bukan berarti tidak sepenuhnya. Pria itu tetap salah karena telah


gagal dalam mengawasi karyawannya. Seharusnya ia memperingati mereka semua


untuk berhati-hati kepada orang asing dan tetap menjujung tinggi kejujuran. Kalau


sudah seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab. Tapi, sudahlah. Semuanya sudah


terjadi.