
Awalnya
ia memang sempat merasa geram dengan kelakuan juniornya yang satu itu. Namun,
setelah diingat-ingat kembali, itu adalah Agatha. Kali ini dia harus berhadapan
dengannya. Terkadang ia cenderung menyebalkan, namun tetap bisa diajak untuk
bekerja sama pada situasi serius.
‘PRANG!!!’
Secara
mengejutkan suara itu muncul tiba-tiba. Nyaris memekakkan telinga siapa pun
yang mendengarnya. Seluruh kantor pasti bisa mendengarnya dengan jelas, karena
memang suaranya yang lumanyan kuat.
Agatha
memejamkan mata erat-erat untuk sesaat. Itu adalah salah satu gerakan refleks
yang biasa ia lakukan ketika dalam kondisi tertentu. Kemudian ia meremas
tangannya kuat. Lebih dari satu rasa yang ada di dalam hatinya saat ini. Mulai
dari perasaan takut, terkejut, kesal hingga sedih. Semuanya bercampur menjadi
satu, sehingga sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.
“Kau
tak apa-apa?” tanya Arjuna.
Dari
nada bicaranya terdengar jelas jika ia memang sedang khawatir. Kali ini
sungguhan. Tidak ada yang bersandiwara. Semuanya terjadi secara alamiah.
“Aku
tidak apa-apa,” jawab Agatha dengan lemah.
Perlahan
ia berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya dan mendapati pemandangan
mengerikan. Kaca jendela ruangannya sudah pecah. Hancur berantakan. Beruntung teralisnya
masih baik-baik saja. Sementara itu, bagian terburuknya adalah sisa-sisa serpihan
belingnya masih berserakan di bawah sana. Kemungkinan besar akan melukai siapa
saja yang coba-coba untuk menyentuhnya.
Agatha
terlalu sibuk untuk mengamati kekacauan ini. Sampai-sampai ia tidak sadar jika
ternyata pergelangan tangannya sudah terluka. Entah karena apa. Mungkin terkena
pecahan kaca yang tak sengaja terlempar ke arahnya.
Kejadian
ini masih sulit untuk dipercaya baginya. Tidak masuk akal. Mustahil. Otaknya terus
saja menolak untuk percaya. Padahal bukti sudah di depan mata. Seumur hidupnya,
ini adalah yang pertama kalinya ia mendapatkan serangan di tempatnya bekerja.
jika tempat ini sudah aman. Tapi ternyata tidak cukup aman. Bahkan nyawanya
masih bisa terancam di sini. Tidak peduli seketat apa perlindungan serta penjagaan yang diberlakukan.
“Cih!
Apa kita baru saja mendapatkan serangan?” gumamnya sambil berdecih pelan.
“Memangnya
siapa pengecut yang berani bermain-main di kantor polisi seperti ini?”
lanjutnya.
Pada
zaman seperti ini masih ada saja orang-orang yang mencari masalah dengan orang
yang salah. Kamera pengawas yang tersebar di sini seharusnya masih berfungsi
dengan baik. Mereka bisa dengan mudah menemukan pelakunya hanya dengan melihat
rekamannya saja. Tidak perlu bersusah payah. Sekarang zaman sudah canggih.
“Tanganmu
terluka!” seru Arjuna lalu meraih tangah gadis itu.
“Aww!!!”
pekik Agatha.
Ia
meringis kesakitan begitu Arjuna menyentuh lukanya. Padahal sebelumnya ia
nyaris tidak merasakan apa pun. Aneh.
“Tunggu
di sini!” titahnya.
“Aku
akan ambil kotak P3K dulu di belakang,” jelasnya kemudian berlalu begitu saja.
Beberapa
detik setelah Arjuna pergi dari ruangannya, tak lama kemudian rekan-rekan
kerjanya yang lain datang menyusul ke ruangan. Mereka berdiri di ambang pintu
dengan muka tercengang. Kurang lebih ekspresinya sama seperti Agatha waktu
pertama kali disuguhkan oleh pemandangan demikian.
Mereka
semua tampak begitu sibuk mengamati kekacauan yang tercipta. Sampai-sampai
mengabaikan fakta jika ternyata ada seseorang di dalam ruangan ini. Yang tak
lain dan tak bukan adalah Agatha.
“Minggir!”
perintah Arjuna yang baru saja datang membawa kotak P3K.
Di saat yang bersamaan pula mereka
baru menyadari jika ternyata Agatha sudah mengawasi orang-orang itu sejak tadi.