
Hari ini Agatha sungguh
tidak diizinkan sama sekali untuk beranjak kemana-mana. Selama seharian penuh
ia berada di bawah pengawasan Immanuel dan teman-temannya. Jelas Hiraeth yang
menyuruh mereka. Kalau tidak, mungkin tak akan jadi separah ini.
Mereka menghabiskan
waktu selama kurang lebih tiga jam untuk berlatih. Semua orang berlatih
sendiri. Mereka tidak perlu bimbingan pelatih lagi karena sudah cukup mahir.
Yang jelas, bukan pemula lagi.
Immanuel bilang, ini
adalah salah satu persiapan dasar sebelum melakukan aksi penyerangan markas.
Sudah lama sekali Hiraeth ingin menghancurkan markas rivalnya itu. Tapi tidak
pernah bisa. Pertahanan mereka terlalu sulit untuk ditembus. Tapi, setelah
beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya Hiraeth dan timnya mulai tahu dimana
letak titik kelemahan itu.
Bukan sekali atau dua
kali lagi mereka menyerang markas Hato. Lebih dari sepuluh kali mungkin. Namun,
mereka sama sekali tidak memperbaharui sistem keamanannya. Sehingga Hiraeth
bisa membaca dengan mudah seperti apa sistem keamanan mereka. Jadi, jangan
salahkan pria itu kalau posisi kini mereka lebih unggul. Kemungkinan besar,
pihak Hiraeth yang akan menang. Tapi, kita lihat saja nanti.
Sejauh ini belum ada
tanda-tanda jika mereka akan mendiskusikan rencana atau taktik menyerang.
Agatha bahkan tidak tahu kapan mereka akan bergerak. Mungkin pembahasannya
sudah dilakukan kemarin saat makan malam. Tapi, gadis itu yakin jika rencana
tersebut masih belum rampung. Mereka perlu pematangan lagi. Setidaknya, Agatha
juga harus tahu apa-apa saja bagian yang ada di dalam rencana tersebut. Karena
bagaimanapun juga, gadis itu ikut terlibat langsung dalam aksi nanti. Hiraeth
bilang, jika mereka semua akan terlibat. Tidak peduli sepenting apa posisinya
di sana, yang jelas mereka semua pasti akan mendapatkan bagiannya
masing-masing. Bahkan termasuk Hiraeth sendiri. Semua orang akan bekerja sama.
Tidak ada yang bertindak sebagai pengawas aksi di sini.
Hasilnya adalah urusan
kedua. Sementara aksi penyerangan adalah tanggung jawab mereka bersama. Semua
orang harus saling bekerja sama di sini. Tidak ada yang boleh tertinggal.
Apalagi sampai meninggal. Di sinilah rasa solidaritas dan kesetiakawanan mereka
diuji.
Sejauh ini Agatha masih
belum menerima informasi apa pun soal aksi penyerangan. Dimana dan apa
tugasnya. Mungkin nanti akan diberi tahu. Untuk saat ini tidak perlu terlalu
terburu-buru. Beberapa orang sudah mulai mencurigai pergerakannya, jadi ia
harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Jangan sampai rasa kecurigaan
mereka malah bertambah.
Pergerakannya akan
terbatas mulai sekarang. Sebab, bahkan ia masih diawasi. Mungkin tidak hanya
GPS di sepeda motor miliknya saja. Agatha masih belum tahu siapa orang yang
meletakakan kamera pengawas di meja rias kamarnya. Entah kenapa orang-orang
jadi begitu terobsesi dengannya. Sampai-sampai semua pergerakannya dipantau
seperti itu. Mau sampai kapan. Sepertinya akan sulit bagi Agatha untuk bergerak
dengan bebas sekarang ini. Salah bergerak sedikit saja, nyawanya bisa terancam.
Sebab sekarang ia bukan sedang berurusan dengan orang biasa. Melainkan
sekumpulan mafia yang paling terkenal dan sudah menjadi buronan polisi sejak
lama.
Kalau dipikir-pikir
lagi, rasanya sampai sekarang Agatha masih belum bisa percaya. Bagaimana bisa
seorang gadis sepertinya hidup di tengah-tengah bahaya. Hampir setiap hari
keselamatannya selalu terancam. Tapi, ia bahkan tidak merasa masalah sama
sekali.
“Masuklah!” perintah
Immanuel.
Ya, kalian tidak salah.
Pria itu kembali mengantarnya sampai apartment. Tidak tanggung-tanggung,
Immanuel bahkan sekarang berdiri bersama gadis itu di depan pintu masuk.
Menunggu sampai Agatha masuk, baru ia pergi. Hanya untuk sekedar memastikan
kalau Agatha tidak berusaha kabur setelah sampai di rumahnya.
“Ck! Dasar menyebalkan!”
gerutu gadis itu sebal.
Kemudian tanpa berkata
sepatah kata pun, ia memutar balik tubuhnya. Masuk ke dalam apartment. Bahkan
Agatha tidak berpamitan sama sekali. Lagi pula memangnya untuk apa berpamitan
kepada orang seperti dirinya. Tidak perlu.
‘BAM!!!’
Gadis itu menutup pintu
dengan kasar. Sehingga benda-benda di sekitarnya ikut bergetar pelan. Nyaris
saja pintunya rusak. Tapi, untungnya benda yang satu itu termasuk tahan
pintunya masih bertahan sampai sekarang. Tidak ada masalah apa pun.
Begitu sampai di dalam,
gadis itu langsung membuka alas kakinya. Berjalan menuju dapur untuk
mendapatkan segelas air mineral. Meski tak begitu banyak bicara hari ini, tetap
saja ia masih merasa haus. Agatha sama sekali tidak berpikir untuk istirahat
hari ini. Ada satu hal penting yang harus ia lakukan untuk memastikan keamanan
hidupnya. Agatha perlu memeriksa seisi rumahnya. Apakah terdapat alat penyadap
suara atau bahkan kamera tersembunyi lainnya.
“Sepertinya aku tidak
akan pergi ke rumah sakit hari ini,” gumam gadis itu kemudian meneguk air.
Tunggu dulu. Ada satu
hal penting lagi yang harus ia lakukan. Yaitu, memeriksa keamanan ponselnya. Untuk
memastikan apakah semua data yang berada di ponselnya aman atau tidak.
‘DRRTTT!!!’
Baru saja Agatha berniat
untuk mengecek ponselnya, ternyata benda itu sudah lebih dulu menarik
perhatiannya. Tanpa berlama-lama, ia langsung mengangkat telepon masuk itu.
Saat dibaca sekilas ada nama Robi di sana. Itu pasti Robi rekan kerjanya.
Memangnya siapa lagi. Hanya ada satu orang yang memiliki nama Robi di dalam
ponsel ini, dan itu dia.
“Halo! Ada apa?”
interupsi Agatha begitu panggilannya tersambung.
“Halo! Dimana kau
sekarang?” tanya pria itu.
Agatha diam sejenak,
tidak langsung menjawab.
“Di rumah. Memangnya kenapa?”
“Apa kau sudah tahu
kalau Arjuna masuk rumah sakit?”
“Tentu! Aku baru
menjenguknya kemarin. Kalau tidak percaya tanya saja kepada orangnya langsung.”
“Syukurlah kalau
begitu.”
“Ya, tapi ada apa? Kau
hanya ingin mengatakan itu saja?”
“Tidak!”
Kali ini giliran Robi
yang terdiam sebentar. Entahlah, mungkin ia masih menghela napas. Atau malah
berpikir bagaimana caranya untuk menjelaskan hal tersebut.
“Halo! Kau masih di
sana?!” sahut Agatha untuk memastikan kalau teleponnya tidak terputus. Atau
mungkin jaringannya sedang tidak begitu bagus.
“Ya!” jawab pria itu
dengan cepat.
Itu berarti tidak ada
masalah sama sekali dengan telepon atau pun jaringannya. Semua tampak baik-baik
saja.
“Kenapa kau malah diam?”
tanya Agatha.
“Aku tidak punya banyak
waktu untuk bicara tentang hal yang tidak penting,” jelas gadis itu kemudian.
“Tunggu dulu! Ini
sangat penting malah!” celetuk pria itu dari seberang sana.
“Kalau begitu katakan
saja. Jangan berlama-lama!” perintah Agatha.
Dia tidak suka
menghabiskan waktu dengan sesuatu yang bertele-tele seperti itu.
“Tapi, bisakah kita
membicarakannya secara langsung?” tanya Robi.
“Menurutku akan lebih
aman kalau begitu,” katanya.
“Jadi, kau ingin aku
menemuimu dimana?” tanya Agatha.
“Tidak! Tidak perlu!”
tolaknya.
“Aku yang akan ke sana.
Nanti kita bertemu di café yang biasa kau datangi di basement apartment,” jelas
pria itu dengan panjang lebar.
“Baiklah,
kalau begitu,” balas Agatha kemudian segera menutup teleponnya. Lagi-lagi ia
lupa untuk berpamitan atau bahkan hanya sekedar untuk mengucapkan salam
perpisahan.