The Riot

The Riot
Tersingkap



Terserah mau bagaimana ke depannya nanti. Pekerjaan


bisa datang kapan saja. Agatha tidak bisa mengandalkan hanya satu pekerjaan


lagi. Dunia ini terlalu keras untuk orang-orang seperti mereka. Siapa yang kuat


akan semakin kuat. Dan yang lemah akan semakin tertindas. Hukum rimba jelas


nyaris berlakudi kehidupan manusia. Proses seleksi alam. Mengejamkan.


Agatha pikir, hari ini tidak terlu buruk-buruk amat.


Tapi ternyata, ia malah berlari melewati batas. Jauh dari kata waras. Sekarang


Agatha mulai mempertimbangkan keputusannya sendiri. Apakah ia harus tetap


bertahan untuk bekerja di kantor itu atau malah sebaliknya.


Sialnya, lagi-lagi gadis itu tidak bisa memilih.


Padahal pilihan kali ini tidak dibuat oleh siapa pun. Malah Agatha yang


menciptakannya sendiri. Secara tidak langsung ia sudah membuat dirinya sendiri


terjebak di tengah-tengah masalah. Tak lain dan tak bukan, Agatha adalah pelaku


dalam kasus yang ia ciptakan sendiri.


‘TING!!!’


Gadis itu lantas segera memalingkan pandangannya.


Tepat ketika bel dari pintu depan berbunyi. Sepertinya ada seseorang yang


sedang menunggu di balik pintu.


“Siapa itu?” gumam Agatha sambil melihat ke arah


pintu.


Tanpa pikir panjang lagi, ia memutuskan untuk segera


bangkit dari tempat duduknya. Pergi ke arah sumber suara untuk mencari tahu


sesuatu. Agatha tidak langsung membuka pintunya. Pertama-tama, ia akan melihat


siapa yang datang melalui interkom lebih dulu. Agatha perlu tahu siapa yang


datang. Karena pada dasarnya, tidak semua orang diperkenankan untuk masuk


kemari.


Waspada akan membuatmu tetap aman. Tidak ada yang


tidak mungkin di dunia ini. Bahkan hal paling tidak penting sekali pun bisa


menjadi ancaman. Manusia mungkin tidak pernah bisa menduga rencana semesta. Ada


banyak takdir yang belum diketahui manusia.


“Siapa di sana?” tanya Agatha.


Gadis itu mendekatkan mulutnya ke arah interkom agar


suaranya terdengar jauh lebih jelas.


“Buka pintunya! Kita perlu berbicara empat mata,”


balas seseorang dari luar sana.


Dia memang menjawab. Tapi, bukan itu jawaban yang


diinginkan Agatha. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan gadis


ini yang sebelumnya.


“Apa itu kau?” tanya Agatha untuk memastikan.


Ternyata dugaannya benar. Dari awal orang tersebut


mulai buka suara saja ia sudah bisa menebak, siapa yang sebenarnya tengah


menunggunya di balik pintu. Memangnya siapa lagi jika bukan Arjuna. Setelah


saling terlibat dalam sebuah perselisihan tadi siang, pria itu memutuskan untuk


datang kemari. Masalahnya tidak akan selesai jika mereka hanya saling diam,


tanpa ada yang bicara.


“Ada perlu apa kemari?” tanya Agatha dengan nada


datar.


“Kan sudah kukatakan sebelumnya, jika kita perlu


bicara empat mata,” jawab pria itu.


“Cepatlah!” perintahnya kemudian.


Mendengar perkataan tersebut, Agatha lantas berdecak


sebal. Memangnya siapa dia. Arjuna bukan lagi atasannya sekarang. Dia bahkan


tidak berhak untuk memerintah Agatha di luar kantor. Sepertinya pria itu lupa


dengan kebijakan tersebut. Posisi mereka seharusnya sama saja, tidak ada


bedanya jika di luar kantor.


“Bicara soal apa?” tanya Agatha lagi.


“Jika tidak penting sebaiknya silahkan kembali


saja!” tukas gadis itu.


Sungguh, kali ini dia tidak sedang main-main.


Memangnya kapan Agatha pernah bercanda dengan ucapannya sendiri. Semua orang


juga tahu jika ia bukan seseorang yang suka berbasa-basi dengan orang lain,


seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Lebih tepatnya, iia tak suka buang-buang


waktu dengan hal yang tidak penting sama sekali.


“Keluarlah lebih dulu,” ujar Arjuna.


Agatha menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya ia


tak mau bertemu dengan pria itu lagi. Tapi, di sisi lain ia juga penasaran.


Jika bukan sekarang, maka Agatha mungkin tidak akan pernah menemukan jawabannya.


Terkadang ia merasa kesal. Gadis itu sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana


bisa rasa penasarannya muncul di saat yang tidak tepat seperti ini.


‘CEKLEK!’


Setelah memutuskan, pada akhirnya pandangan mereka


saling bertemu. Namun, dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya. Menatap


ke arah lain. Kemana saja, asal bukan menghadap pria itu.


“Ada perlu apa?” tanya Agatha.


“Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu,”


sambungnya kemudian.


“Jangan bicara di sini,” kata Arjuna setengah


berbisik.


“Kenapa memangnya? Di sini juga tidak ada


siapa-siapa yang mau menguping pembicaraan kita!” balas gadis itu sambil


mengomel.


“Terserah saja!” serah Arjuna.


Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar lagi. Ini


sudah yang kesekian kalinya. Entah kenapa setiap kali mereka bertemu, pasti


yang namanya perselisihan tidak bisa dihindari.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bicara di


depan pintu masuk saja. Bagi Agatha, itu bukan masalah serius sama sekali. Walaupun


terkesan tidak sopan karena tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk dan bicara


di dalam. Tapi, Agatha rasa itu tak perlu. Berdiri di sini saja juga tak apa.


Lagi pula sebelumnya pria itu sudah mengatakan jika ia tak akan berlama-lama di


tempat seperti ini.


“Baiklah,  jadi begini,” ucap Arjuna yang tampaknya sengaja menggantung kalimatnya.


“Sebenarnya ada masalah apa selama ini kau dengan


Lili?” tanya Arjuna langsung ke inti permasalahannya.


“Lili? Apa maksudmu?” tanya gadis itu balik.


“Tidak usah berbohong,” katanya.


“Aku sudah tahu semuanya, jadi tak berguna jika kau


msaih menutup-nutupinya,” jelasnya kemudian.


Agatha tertegun mendengar kalimat yang terkesan


berani tersebut. Tidak heran lagi memang. Memangnya sejak kapan Arjuna berubah


jadi seorang pengecut. Dia memang sudah berani sejak awal. Atau bahkan mungkin


ia memang terlahir untuk menjadi seorang pemberani.


“Lili yang memintamu untuk menjauh dariku bukan?”


tanya Arjuna sekali lagi untuk memastikan.


“Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama. Itu sebabnya


aku selalu memintamu untuk selalu bersamaku, kapan pun itu,” jelasnya kemudian.


Lili adalah seorang sipir wanita yang juga bertugas


di kantor yang sama dengan Arjuna dan Agatha. Jangan tanya lagi apa intin


permasalahannya. Sudah jelas jika ini karena konflik cinta segitiga. Sungguh


konyol. Agatha sama sekali tidak pernah menduga jika hal tersebut sungguh akan


terjadi di tempatnya bekerja. Selama ini ia menganggap mereka sudah cukup


dewasa. Ternyata tidak semuanya juga.


Lili menyukai Arjuna secara diam-diam. Namun, di


sisi lain ia juga selalu berusaha untuk menunjukkannya secara terang-terangan.


Gadis itu tidak suka jika Arjuna berada di dekat Agatha. Mereka berdua terlalu


dekat menurutnya, dan itu sangat mengganggu. Lili tak menyukai pemandangan


seperti itu saat bekerja di kantor. Sungguh memuakkan.


“Baguslah kalau sudah tahu, lantas kenapa masih


bertanya?” ucap Agatha sambil memutar bola matanya malas.


“Kau tahu jika aku tidak akan mendengarkan hanya


dari satu sudut pandang saja,” balas Arjuna yang tengah berusaha untuk membela


dirinya sendiri.


“Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, apa kau akan


percaya?” tanya gadis itu.


“Hahaha! Kurasa tidak


sama sekali. Lili pasti sudah menceritakan keburukanku seluruhnya,” sambungnya


kemudian.