The Riot

The Riot
Fearless



Keberuntungan adalah


milik orang-orang pemberani. Tapi, pada kenyataannya tidak semua orang yang


berani akan beruntung juga. Sama seperti Agatha. Keberaniannya kali ini sama


sekali tidak membawanya menuju keberuntungan. Alih-alih beruntung, ia malah


bernasib sebaliknya. Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya


untuk sekarang ini.


Setelah usahanya untuk


melawan Immanuel tadi sia-sia, gadis itu harus berakhir di sebuah ruangan bawah


tanah. Benar, mau tak mau ia terpaksa harus menjadi tahanan. Sebenarnya Immanuel


dan teman-temannya yang kemarin sama sekali tidak mempermasalahkan soal yang


kemarin. Mungkin Agatha memang sedang ada urusan penting yang tidak bisa


diganggu gugat. Namun, berbeda halnya dengan Hiraeth. Pria itu tidak akan


menerima alasan dalam bentuk apa pun. Sebuah kehormatan jika kau diundang


langsung oleh Hiraeth. Itu artinya kau penting. Tapi, mengacuhkan undangannya


dengan tidak datang merupakan salah satu hal yang bisa memancing amarahnya. Hiraeth


bukan tipikal orang yang suka dianggap sebelah mata seperti itu. Memangnya


siapa yang suka diacuhkan.


“Aku tidak akan


menolongmu kali ini, meski aku mau,” gumam Immanuel.


kedua bola matanya


memandangi gadis itu dengan tatapan nanar. Dia tidak tega. Apalagi harus


menghadapi kenyataan kalau Agatha akan segera berhadapan dengan Hiraeth.


Berhadapan dengan pria itu dalam keadaan penuh masalah bukan suatu pertanda


yang baik.


Immanuel diminta untuk


menjaga gadis itu agar tidak pergi kemana-mana. Sebentar lagi Hiraeth akan


segera tiba. Namun, di sisi lain gadis itu masih tertidur pulas. Sepertinya


efek samping dari obat bius yang ia berikan tadi cukup kuat. Padahal Immanuel


memberikannya sesuai dengan dosis yang dianjurkan.


Sembari menunggu gadis


itu sadarkan diri, Immanuel sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Duduk termangu


di depan kacak jendela. Pandangannya mengarah lurus ke luar tanpa tujuan yang


jelas. Ia terlalu sibuk untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja


terjadi kepada gadis itu. Hiraet tidak akan segan-segan menghabisinya. Bahkan


jika itu seorang wanita sekali pun. Semua orang tampak sama di matanya. Tidak ada


yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.


“Lihatlah bagaimana


cerobohnya dirimu!” cecar Immanuel.


13.20


Seharusnya kurang dari


lima bela menit lagi, Hiraeth akan segera datang. Pria itu selalu tepat waktu.


Sebagai seorang pemimpin atas para mafia, ia harus bisa diteladani dalam hal


apa pun itu. Bahkan sepertinya semua pemimpin memang harus seperti itu. Mereka


harus memiliki setidaknya satu atau dua kelebihan yang membuat dirinya tampajk


jauh lebih unggul dari pada yang lain.


Kabarnya Hiraeth akan


datang kemari sendirian. Tapi, Immanuel yakin betul kalau ia tidak benar-benar


sendirian kemari. Pria itu selalu membawa satu pengawal pribadi bersamanya.


Tangan kanannya lebih tepatnya. Ia selalu berada di sisi Hiraeth. Kapan pun dan


dimana pun itu.


Yang dimaksud dengan


datang sendirian olehnya adalah pergi ke ruangan ini sendirian. Padahal


Immanuel yakin kalau pengawal pribadinya pasti masih berada di mobil untuk


berjaga-jaga. Orang penting sepertinya tidak mungkin dibiarkan berkeliaran di


luar sendirian tanpa penjagaan. Ada banyak musuh yang mengincar dirinya.


“Kini kau tengah


mempertaruhkan nasibmu sendiri,” ucap Immanuel sambil menggeleng-geleng tak


habis pikir.


Tepat beberapa detik


setelah Immanuel membereskan kalimatnya barusan, Agatha langsung bergerak


pelan. Sepertinya gadis itu sudah mulai sadarkan diri. Perlahan namun pasti,


efek samping dari obatnya sudah mulai berkurang. Tidak sekuat yang tadi lagi.


“Apa dia sudah sadar?”


gumam pria itu sambil tetap menyorotinya dengan lekat.


baru saja tersadar. Tapi, belum sepenuhnya. Ia masih perlu mengumpulkan segenap


jiwanya lagi. Bahkan matanya masih tampak segaris. Dengan susah payah, ia


berusaha untuk membuka kelopak matanya lebar-lebar. Sejak awal Agatha tahu


kalau ada sesuatu yang salah di sini.


Sesekali ia meringis


kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa sakit saat akan digerakkan. Mungkinkah ini


salah satu efek samping dari obat bius yang diberikan kepadanya. Beberapa kali


ia sempat memegangi tengkuknya karena terasa kaku. Bukan hanya itu. Bahkan


kepalanya terasa sangat pusing.


Ternyata lebih baik


tetap terlelap saja. Dengan begitu ia tidak akan merasakan semua


ketidaknyamanan ini. Agatha mungkin tidak perlu merasakan semua rasa sakit itu


jika tetap tidur. Sepertinya tidur memang pilihan yang paling tepat untuk


sebuah masalah. Bukan menghadapi masalah, tapi menghindari masalah untuk


sesaat. Terkadang kau juga perlu sedikit waktu untuk mempersiapkan diri.


“Aishh!!! Sakit sekali!”


gerutu Agatha pelan.


Dia berusaha untuk


bangkit dan membenarkan posisi duduknya. Namun, tidak bisa. Pada saat yang


bersamaan pula gadis itu sadar kalau ternyata kedua tangannya telah diikat pada


kursi yang tengah ia duduki sekarang. Bukan hanya tangannya. Kaki bahkan


tubuhnya juga terikat.


Menyadari hal tersebut,


kedua bola mata Agatha langsung membulat dengan sempurna. Tidak peduli separah


apa sakit yang sedang ia rasakan sekarang. Gadis itu memilih untuk tidak protes


sama sekali. Sebab ia tahu dengan jelas kalau sekarang dirinya tengah terjebak


dalam masalah besar. Setelah diingat-ingat kembali, sepertinya kecil


kemungkinan kalau ia akan selamat.


“Jadi, tuan putri sudah


sadar?” tanya pria itu sambil membungkukkan tubuhnya. Hanya agar posisi


wajahnya jadi sejajar dengan Agatha.


Gadis itu menggeram


pelan. Tidak suka dengan perlakuan seperti ini. Tapi mau bagimana lagi


memangnya. Agatha yang telah memancing semuanya secara tidak langsung.


“Kenapa kau mengikatku


seperti ini?” tanya Agatha dengan nada keras.


“Bukan aku yang melakukannya.


Aku hanya sedang melaksanakan perintah dari Hiraeth,” ungkap pria itu dengan


apa adanya.


“Sebentar lagi dia akan


datang kemari. Jadi, bersiap lah,” timpalnya sekaligus memperingati.


Setelah diingatkan


kembali, amarahnya mulai mereda. Alih-alih marah dan memaki pria itu


habis-habisan, ia malah pusing memikirkan nasibnya untuk beberapa menit ke


depan. Untuk saat ini tidak ada yang bisa ia andalkan. Memangnya mau meminta tolong


ke siapa. Dia terlalu tidak berdaya sekarang.


Arjuna rekan satu


timnya pada misi ini tidak mungkin bisa membantunya. Ia bahkan sedang berbaring


di ranjang rumah sakit dan tidak bisa pergi kemana-mana sekarang. Tidak ada


cara lain selain mengandalkan dirinya sendiri. Padahal Agatha tahu kalau


sebenarnya ia juga tidak ingin terjebak dalam bahaya seperti ini.


Dengan susah payah ia


meneguk salivanya. Membayangkan apa-apa saja yang mungkin akan jadi takdirnya


selama satu jam ke depan. Mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Kurang dari


sepuluh menit lagi, seharusnya pria yang bernama Hiraeth itu sudah sampai di


sini.


Tidak


ada waktu lebih. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Sepertinya ini


memang sudah jadi akhir dari segalanya. Perjalanan Agatha terpaksa usai di


sini. Padahal ia belum sempat menyelesaikan misinya. Dia bukan tipikal yang


suka membiarkan pekerjaannya terbengkalai. Selagi masih mampu dibereskan kenapa


tidak.