
Selama mereka masih
belum mau memberi tahu kemana tujuannya, Agatha tidak akan setuju. Bahkan
setelah diberitahu pun belum tentu kalau ia akan mau. Tidak mudah untuk
mempercayai orang lain di era sekarang ini. Terlebih yang tengah berada di
hadapannya sekarang ini bukan kumpulan orang-orang yang dapat dipercaya.
“Ayolah!” bujuk Fadli
sambil mengguncang-guncang tubuh gadis itu.
“Aku tidak akan pergi
bersama kalian!” tegas gadis itu sekali lagi.
“Dasar keras kepala!”
celetuk Immanuel sambil berdecak sebal.
Pria itu kemudian
berdiri dari tempat duduknya. Tanpa aba-aba atau bahkan peringatan sama sekali,
ia segera menarik tangan Agatha. Memaksa gadis itu untuk ikut berdiri juga. Mau
tidak mau Agatha berdiri juga pada akhirnya. Sementara itu, Immanuel masih
mencengkram tangan gadis tersebut dengan erat-erat. Tidak memberikan celah atau
bahkan kesempatan sama sekali baginya untuk memberontak.
“Apa-apaan ini?!” tanya
Agatha tak terima.
Memangnya siapa yang
bisa menerima jika diperlakukan seperti itu.
“Kau tetap harus ikut
bersama kami,” kata Immanuel.
“Tidak ada penolakan
sama sekali. Karena aku tak akan pernah menerima yang satu itu,” tegasnya
kembali di akhir.
Mendengar kalimat tersebut,
Agatha lantas tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan
adalah mengikuti alurnya. Tidak masalah, meski sebenarnya Agatha cukup
keberatan.
“Kita
harus mengikuti alur permainan mereka lebih dulu sebelum mulai menyerangnya. Dengan
begitu kita bisa membaca kebiasaan mereka. Ini adalah bagian dari taktik.”
Perkataan Arjuna pagi
itu masih tersimpan dengan baik di dalam memorinya. Meski terkadang, ia suka
kehilangan beberapa informasi penting pada saat-saat tertentu. Agatha bukan orang
yang terlalu mengandalkan ingatannya, sebab itu tahu seberapa besar kapasitas
otaknya sendiri.
***
Terserah saja kepada
mereka. Agatha tak ingin melawan apa lagi sampai memberontak. Tidak mau. Energinya
sudah terlalu banyak terbuang untuk melawan Hiraeth tadi. Harus ia akui kalan
pria itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. Agatha nyaris kewalahan
menghadapi pria itu dengan seorang diri. Memang seimbang jika dilihat dari segi
jumlah. Namun, tidak jika ditinjau dari kekuatannya. Agatha kalah banyak dari
sisi yang satu itu.
Saat ini ia sedang
berada di tengah perjalanan bersama teman-temannya yang lain. Menuju ke suatu
tempat yang bahkan tidak ingin mereka beri tahu. Semua orang tampak antusias,
tapi tidak dengannya.
Lagi-lagi, untuk yang
kesekian kalinya dalam hari ini Agatha terpaksa menempuh perjalanan bersama
Immanuel. Padahal ia membenci yang satu itu. Apakah tidak bisa satu hari saja
tidak bertemu dengannya. Sungguh memuakkan. Jika bukan karena misi penting,
mungkin Agatha akan langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan apa pun.
Hanya karena misi sialan itu dia harus terjebak di sini selama beberapa waktu.
Sungguh konyol. Tidak adil baginya. Tapi, mau bagaimana lagi. Bukannya selama
ini semesta memang selalu bersikap tidak adil kepada orang sepertinya.
Tidak perlu merasa
terkejut lagi. Hari-hari penuh ketidakadilan selalu saja ada. Sampai bahkan
kejutan dari semesta itu tidak lagi terasa mengejutkan baginya. Entah Agatha
yang sudah mulai terbiasa, atau malah mati rasa.
Hanya ada dua alasan yang
membuat Agatha merasa kalau tidak ada yang benar-benar adil d dunia ini. Yang
pertama, entah memang dunia yang sungguh bersikap tidak adil kepada beberapa
kepada Tuhan.
***
Selama perjalanan,
tidak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Semua orang hanya fokus kepada
jalanan di depan mereka sekarang. Tidak ada yang pergi menggunakan mobil.
Mereka semua sepakat untuk mengendarai sepeda motor saja ke sana. Selain lebih
kecil, mereka juga bisa sampai dengan waktu tempuh jauh jauh lebih cepat
daripada menggunakan mobil.
Sampai saat ini Agatha
sama sekali belum mendapatkan petunjuk. Entah kemana dirinya akan dibawa. Lebih
tepatnya ia memang tidak peduli sama sekali. Kalau pun harus terjebak dalam
masalah baru lagi, tinggal pergi. Agatha memiliki kemampuan bela diri yang
mumpuni untuk ukuran seorang wanita. Setidaknya ia pernah melawan lima orang
sekaligus dan unggul. Selain itu, dulu dirinya juga hampir menjadi atlet lari.
Sayang sekali tidak ada yang mendukungnya untuk yang satu itu. Tapi, tidak
masalah. Karena Agatha juga tidak terlalu berminat untuk menjadi seorang atlet.
Setidaknya, dengan
bekal kemampuan yang ia miliki sekarang, Agatha tidak perlu merasa takut
berlebihan. Tapi tetap saja ia harus berhati-hati. Tidak semua orang bisa
melakukan hal yang sama dengan dirinya. Tidak semua orang bisa sehebat dirinya.
Dia termasuk beruntung.
Sampai pada akhirnya
secara tiba-tiba, Agatha tersadar dari lamunannya. Isi kepalanya mendadak buyar
seketika. Immanuel menepikan kendaraannya tepat di depan sebuah gedung yang
tidak terlalu besar. Namun, juga tidak bisa dikatakan terlalu kecil. Ukurannya
sedang. Setelah ia membaca pamplet yang tertera tepat di atas pintu masuk.
Ukurannya cukup besar, sehingga orang-orang masih bisa membacanya meski dari
kejauhan sekali pun.
“Bukankah ini tempat
berlatih menembak?” gumam Agatha.
Pertanyaan barusan
tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Hanya untuk dirinya sendiri saja. Namun,
ternyata tidak disangka-sangka. Seseorang yang berada tepat di sampingnya
mendengar semua itu. Tentu saja Immanuel. Memangnya siapa lagi. Pria itu baru
saja turun dari sepeda motornya.
“Kau benar!” sahut
Immanuel sebagai bentuk respon atas perkataan gadis itu barusan.
“Kenapa kalian
membawaku kemari?” tanya Agatha.
“Memangnya kenapa?”
tanya pria itu balik.
“Kami biasanya berlatih
di sini. Hampir semua orang yang tergabung dalam klub mafia itu sudah pernah
kemari. Bukan pernah lagi. Sering malah,” ungkap Immanuel dengan terang-terangan.
Agatha lantas
mengangguk paham. Ternyata ini adalah tempat mereka berlatih. Ia yakin jika
pemiliknya beserta beberapa staff yang sudah bekerja di sini pasti sudah
mengenal pelanggan mereka. Memang sudah seharusnya begitu. Sepertinya Agatha
bisa memanfaatkan mereka juga sebagai salah satu sumber informasi untuk
mendukung data yang ssudah ia kumpulkan sejauh ini.
Agatha bukan orang yang
ahli dalam merancang sesuatu. Terlebih jika itu menyusun suatu rencana. Jangan terlalu
mengharapkan dirinya. Tapi, pada saat seperti ini mau tak mau mau Agatha harus
bergerak sendiri. Kondisi Arjuna sekarang mengharuskan dirinya untuk bekerja
secara mandiri.
Lagi pula dia tidak
bisa terus bergantung kepada orang lain seperti ini. Bagaimana jika ternyata
orang yang selama ini ia anggap sebagai tempat paling aman, malah berbalik
menyerangnya. Orang-orang bilang, kita akan melewati batas kemampuan kita kalau
terlalu memaksakannya. Untuk beberapa kasus, itu akan menjadi kabar baik.
Orang-orang
terus dipaksa untuk bekerja. Sehingga selama berada di kantor, suasana hari
mereka jadi buruk karena tuntutan pekerjaan. Tapi, itulah resiko nyata yang
harus dihadapi. Tidak ada yang bisa menghindar sama sekali.