The Riot

The Riot
New World



THE RIOT SEPTEMBER


Beberapa hal yang ada di masa lalu terkadang tidak harus


selalu ada di masa depan juga. Ada yang akan terasa ajuh lebih baik jika


ditinggalkan dan dilupakan. Sebab, beberapa memori memang sudah seharusnya


hilang pada waktu tertentu.


Ini sudah tahun ke tiga sejak Agatha menjadi pimpinan


perusahaan, untuk menggantikan ayahnya. Bahkan Liora tidak bisa mengganggu


gugat keputusan tersebut. Lagi pula sejak awal Narendra sudah berencana untuk


memberikan perusahaan tersebut kepada Agatha, bukan anak lelakinya atau pun


istrinya yang ketiga itu.


Dengan mantap Agatha melepaskan pekerjaannya sebagai polisi.


Namun, bakat-bakatnya tidak pernah ikut hilang begitu saja. Gadis itu masih


paham betul bagaimana caranya bertarung hingga menembak. Semua hal itu masih


menempel di dalam ingatannya dengan jelas. Bagaimana tidak. Itu bahkan


pekerjaan yang sudah ia lakukan bertahun-tahun. Jauh lebih lama dari pada posisi


yang sedang ia duduki sekarang.


“Selamat pagi bu!” sapa salah satu pegawai begitu ia masuk.


Kemudian yang lainnya juga ikut berdiri sambil menyapanya.


Ini adalah hal yang biasa terjaid setiap harinya. Walaupun Agatha tidak pernah


meminta untuk disapa. Itu tidak akan menjadi masalah baginya. Namun, sejak ia


secara resmi diperkenalkan sebagai pimpinan perusahaan ini, sikap semua orang


langsung berubah.


Agatha bukan lagi orang biasa di kantor ini. Setiap


keputusan besar ada di tangannya. Ia juga lah yang dipercaya semua orang untuk


menentukan nasib perusahaan ini.


Sejak Narendra menyerahkan posisi yang cukup penting


tersebut kepada Agatha, pria itu sudah tidak pernah lagi menampakkan batang


campur terlalu banyak soal urusan perusahaan. Agatha juga perlu tahu bagaimana


cara menyelesaikan masalahnya sendiri. Pria itu percaya kalau Agatha tidak akan


bisa menjadi pemimpin yang baik kalau tidak diberi ruang khusus. Dia juga perlu


belajar dari pengalaman.


Meski kehidupannya yang sekarang sudah jauh lebih baik dari


pada sebelumnya, terutama soal keuangan, Agatha sama sekali tidak pernah merasa


benar-benar bahagia. Sebenarnya bukan ini kehidupan yang ia inginkan sejak


awal. Tidak sama sekali. Finansial yang stabil bukan tujuan utamanya di dalam


hidup ini. Percuma saja kalau keuangan mencukupi apa pun di dalam hidupmu, tapi


tidak dengan kondisi emosional. Padahal keduanya harus sama-sama stabil.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara sol sepatu yang menghantam permukaan lantai, menggema


dengan nyaring di seluruh penjuru ruangan. Agatha lebih suka menggunakan sepatu


dengan hak 3 cm dari pada lima atau bahkan sepuluh cm seperti kebanyakan


bos-bos besar atau wanita karir pada umumnya.


Kehidupannya sudah berubah dari berbagai hal. Termasuk


caranya dalam menghabiskan hari. Sungguh sebuah perbedaan yang dapat dirasakan


saat kau bertugas menjadi aparat penegak keamanan dan keadilan negara, kini


malah menjadi salah seorang yang mengawal pergerakan aliran uang dan barang.


Secara tidak langsung ia sudah berada di sektor ekonomi untuk sekarang ini.


Agatha pergi menuju jendela


besar yang langsung mengarahkannya ke pusat kota. Bukan pemandangan pepohonan


lagi. Ia langsung disuguhkan oleh ribuan gedung pencakar langit yang berjejer


abstrak di depannya. Sudah bukan hal yang mengejutkan lagi. Ini adalah salah satu


hal paling normal yang akan kalian temui jika tinggal di perkotan. Agatha


sendiri sudah cukup terbiasa dengan semua itu.