The Riot

The Riot
Flat Day



Kenapa akhir-akhir ini Agatha jadi disuguhkan dengan


begitu banyak pilihan. Bukannya mudah. Ia bahkan sampai harus memikirkannya


selama berhari-hari. Hal tidak penting seperti itu berhasil menyita


perhatiannya sepajang hari.


Gadis itu kini beralih ke ruang tengah. Ia


meluruskan punggungnya di sofa sambil menonton televisi. Kebetulan sedang ada


acara music. Setidaknya dengan yang satu ini ia bisa jadi lebih tenang.


Terkadang dirinya juga perlu menepi dari hiruk pikuk dunia. Menenangkan dirinya


di suatu tempat yang hanya ia dan Tuhan tahu. Tidak perlu orang lain untuk


menemaninya.


Agatha bukan tipikal orang yang memiliki selera


bermusik bagus. Dia bahkan tidak terlalu gemar dengan yang namanya music. Tapi,


tidak salahkan untuk mendengarkan music. Siapa saja berhak untuk itu. Bahkan


termasuk orang yang tidak terlalu menyukai music sekali pun. Sama seperti


Agatha.


Kehidupan di usia dewasa tidak pernah baik-baik saja


bagi semua orang. Mereka menyebutnya sebagai quarter live crisis atau mudahnya, krisis pertengahan hidup. Agatha


masih belum bisa menerima kenyataan jika sekarang ini usianya sudah menginjak


lebih dari dua puluh tiga tahun. Sebentar lagi akan menuju dua puluh empat


tahun. Lalu dua puluh lima tahun.


Kenapa belakangan ini waktu terasa berjalan begitu


cepat. Bahkan tiga ratus enam puluh lima hari dalam satu tahun saja terasa


singkat. Kemarin sepertinya Agatha barusaja pergi keluar di tengah malam


bersama teman-temannya untuk merayakan tahun baru. Menyaksikan pertunjukan


kembang api di pusat kota, hingga berburu makanan di berbagai sudut kota. Namun,


lihat saja sudah tanggal berapa di kalender sekarang. Ini sudah hampir menuju


pertengahan tahun. Bhakan kurang dari satu minggu lagi, bulan Mei akan segera


habis.


“Kenapa aku belum bisa menjadi versi terbaik dari


diriku sendiri?” gumam gadis itu.


Ini bukan yang pertama kalinya Agatha mengajukan


pertanyaan serupa kepada dirinya sendiri. Sebelumnya sudah terbilang cukup


sering. Bahkan jauh lebih sering dari yang pernah ia bayangkan.


“Kukira hidupku akan jauh lebih baik ketika


memutuskan untuk keluar dari rumah. Tapi, ternyata sama saja,” keluhnya.


“Aku bahkan semakin memburuk dari pada yang kemarin


rasanya,” ungkap gadis itu dengan apa adanya.


Sekarang ia tengah berusaha untuk mengutarakan isi


hatinya. Meskipun tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Agatha dan suara tv


yang menyala. Mereka berdua berhasil memecah keheningan suasana dengan berbagai


cara.


“Sepertinya, aku memang sudah dikutuk oleh pria


itu,” katanya dengan pasrah.


Satu hari sebelum gadis itu angkat kaki dari rumah,


memang sempat terjadi sebuah keributan besar antara dirinya dan juga pria itu.


Memangnya siapa lagi jika bukan dengan ayahnya sendiri. Hanya mereka berdua saja


yang menjadi penghuni rumah megah tersebut setelah ibunya meninggal. Sampai


sekarang belum ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisinya.


Omong-omong, akibat keributan tersebut semuanya jadi


kacau. Jauh lebih buruk dari pada apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Pria


itu bahkan tak segan-segan untuk memaki anaknya sendiri. Jelas Agatha sakit


hati. Tidak peduli dengan sekeras apa pun dia selama ini di didik, tetap saja


hatinya sama dengan manusia lainnya.


“Ku harap hukum karma juga berlaku baginya,” umpat


Agatha geram.


“Aku bahkan sudah tidak peduli lagi dengannya!”


sarkas gadis itu.


Mereka tidak pernah saling berkomunikasi lagi


setelah Agatha pergi. Keduanya saling kehilangan kontak satu sama lain. Pria


itu sudah tidak peduli lagi dengan kondisi anaknya. Terlebih begitu pula dengan


terbebani selama ini.


Kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan adalah


dengan percaya kepada ayahnya sendiri. Harusnya sejak awal Agatha tidak perlu


melakukan yang satu itu. Sebab, ibunya sendiri tidak pernah mempercayai pria


itu. Dulu ia sempat terlalu mempercayainya. Sampai ada satu hari. Titik balik


yang membuatnya segera tersadar. Namun, semua sudah terlambat. Itu sudah


terjadi lebih dulu.


Penyesalan memang selali datang di akhir. Sedangkan kalau


datang di awal, itu permulaan namanya. Manusia biasanya akan belajar dari


kesalahan mereka. Namun, tidak sedikit juga yang sama sekali tidak mempedulikan


hal tersebut.


Tinggal dan menjalani kehidupan sendirian adalah


sesuatu yang berhasil membuatnya berubah jadi mandiri. Tidak bisa dibayangkan


jika waktu itu Agatha tidak mengambil keputusan gila seperti itu. Mungkin saat


ini dirinya sudah dimanfaatkan oleh pria itu.


“Jika aku kembali bekerja, maka itu berarti aku


harus ikut tergabung pada salah satu  geng mafia yang sudah ditunjuk oleh Arjuna,” gumamnya.


Agatha terlalu takut. Perasaannya berkata jika ini


tidak akan berjalan sesuai rencana. Tidak ada yang baik-baik saja. Bukannya


ingin berprasangka buruk atay bahkan sampai menuduh yang tidak-tidak. Tetapi,


firasatnya dengan kuat mengatakan kalau selama ini dirinya hanya dimanfaatkan. Rekan-rekan


kerjanya tidak selamanya baik. Manusia selalu memiliki dua sisi berbeda.


Keputusan untuk kembali ke tempat itu sepenuhnya


berada di tangan Agatha. Tidak ada urusan orang lain di sini. Sekarang gadis


itu hanya perlu memikirkan tentang keselamatan dirinya sendiri. Firasatnya bisa


jadi benar atau malah sebaliknya. Seperti prinsip semesta yang semua orang


tahu, tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi.


‘TING!!!’


Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya seketika. Di


saat yang bersamaan pula ia baru ingat jika beberapa menit lalu ia sempat


memesan makanan. Pasti sekarang sudah datang. Tak ingin membuat orang itu


menunggu terlalu lama di depan sana, Agatha lantas buru-buru bangkit. Bergegas menuju


pintu. Ia bahkan tidak memeriksa interkomnya lebih dulu. Gadis itu sudah


terlanjut yakin seratus persen jika yang datang adalah kurir pengantar makanan.


‘CEKLEK!’


“Aaron?” gumam Agatha sambil memiringkan kepalanya.


“Ini!” ucap pria itu sambil menyodorkan sesuatu


kepadanya.


Sebuah bungkusan plastik putih yang sepertinya


isinya adalah makanan.


“Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan kurr


pengantar makanan ketika keluar dari kamar. Dia berada di depan pintumu dan


ingin memastikan apakah alamatnya benar atau tidak. Saat kutanya ternyata


memang benar kalau itu untukmu. Jadi, aku saja yang mengantarnya,” jelas pria


itu dengan panjang lebar.


Alih-alih memberikan jawaban yang panjang lebar


juga, Agatha malah nyaris tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya


mengangguk-anggukkan kepalanya, untuk mengiyakan perkataan pria itu barusan.


“Kalau begitu aku pergi dulu ya!”” pamit Aaron


setelahnya.


“Baiklah!” balas gadis itu.


“Terima kasih untuk makanannya,” sambungnya


kemudian.


“Tidak masalah,” balas Aaron santai.


Siang menjelang sore,


Aaron pasti selalu pergi keluar. Tidak tahu entah kemana. Yang jelas biasanya


pada jam-jam segitu, dia tidak akan berada di apartementnya. Jadi, jangan


pernah datang ke sana pada jam-jam tertentu. Sebab, percuma saja. Kau tidak


akan menemukan siapa-siapa di sana.