
“Hei!” sahut seseoran
dari arah berlawanan.
Mendengar suara
tersebut, Agatha lantas berpaling karena merasa terpanggil. Untuk pertama
kalinya ia berhasil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Ternyata itu
Robi. Pria itu sepertinya benar baru pulang dari kantor dan langsung menuju
kemari. Agatha yakin betul kalau ia masih menggunakan baju kantor. Meski seragam
tersebut sudah tertutup sepenuhnya oleh jaket.
“Maaf, aku terlambat,”
ucap Robi begitu sampai di meja.
Pria itu langsung
mengambil tempat duduk tepat di depan Agatha. Kemudian mletakkan tasnya di atas
meja.
“Mau kupesankan
sesuatu?” tawar Agatha.
“Tidak perlu
repot-repot, aku bisa memesannya sendiri nanti,” kata pria itu.
“Baiklah, kalau begitu,”
balas lawan bicaranya.
Kebetulan sekali Agatha
baru saja selesai makan.
“Kau baru pulang dari
kantor?” tanya Agatha hanya untuk sekdar basa-basi. Meski sebenarnya tanpa
perlu ditanya pun, ia sudah tahu apa jawabannya.
“Benar, baru saja,”
jawab pri itu dengan apa adanya,
“Eh, omong-omong kamar
Arjuna tadi sudah di pindahkan,” kata Robi.
“Di pindahkan kemana?”
tanya gadis itu penasaran.
“Entahlah, aku juga
tidak tahu pasti. Yang jelas setelah kami pulang ia langsung dipindahkan,”
beber pria itu secara gamblang.
Agatha tidak langsung
merespon kalimat lawan bicaranya. Melainkan termenung sebentar untuk beberapa
saat. Gadis itu sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa
itu.
Kemarin Zura bilang
kalau kondisi Arjuna tidak terlalu parah. Itu sebabnya ia langsung dipindahkan
ke ruangan perawatan setelah selesai ditangani. Bahkan tanpa menunggu pria itu
sadar lebih dulu. Seharusnya sekarang pria itu tetap berada di ruang perawatan
kalau kondisinya tidak memburuk. Apa jangan-jangan kondisi Arjuna tadi mendadak
memburuk. Sehingga langsung di pindahkan ke ruangan lain.
“Apa kondisinya
baik-baik saja?” tanya Agatha yang kemudian diangguki oleh pria itu.
“Dia terlihat sehat
tadi. Bahkan sampai kami berpamitan pulang, tidak terjadi apa-apa,” imbuhnya.
“Kami tidak sengaja
berpapasan dengannya saat perjalanan pulang tadi di koridor. Aku yakin betul
jika itu Arjuna. Kami tidak salah lihat. Kau bisa bertanya ke yang lain kalau
tidak percaya. Dia tampak dipindahkan bersama ranjangnya ke lantai atas. Lantai
lima puluh kalau tidak salah. Itu yang tertera di bagian luar lift setelah
mereka masuk,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Ia berusaha untuk
menjelaskan sampai ke bagian terkecil dan paling tidak penting sekali pun. Robi
tampaknya bicara jujur kali ini. Ia bicara dengan apa adanya. Tidak ada yang
sedang berusaha untuk disembunyikan oleh pria itu. Lagi pula untuk apa.
“Lantai lima puluh?”
gumam Agatha sambil sedikit memiringkan kepalanya.
Jika dilihat kembali
dari komposisi lantai dan tinggi bangunannya, sepertinya rumah sakit itu tidak
lebih dari lima puluh lantai. Mungkin lima puluh sudah angka paling tinggi di
sana.
Kalau lantai lima puluh
adalah lantai tertinggi, itu berarti Arjuna di bawa ke rooftop. Bukan, hampir
menyentuh Rofftop lebih tepatnya sedikit lagi. Apa yang akan mereka lakukan di
sana. Kenapa membawa pria itu sampai ke lantai lima puluh.
Agatha tidak mau
setelah ini Agatha akan langsung menelepon Zura. Sedikit banyaknya gadis itu
pasti tahu. Zura pasti akan membantu. Bukankah selama ini mereka memang akan
saling membantu ketika salah satunya terjebak dalam masalah.
“Apa kau kemari hanya
untuk membicarakan soal hal tersebut?” tanya Agatha untuk memastikan.
Pasalnya, kalau memang
benar iya, seharusnya tidak perlu bertemu. Robi bisa membicarakannya lewat
telepon saja. Dari pada ia harus kemari dan menembus jalanan yang ramai hanya
untuk bertemu dengan Agatha. Sungguh tidak setimpal.
“Tidak, bukan itu topik
utamanya,” kata Robi.
Jika yang tadi bukan
hal utama, maka berarti ada hal lain yang jauh lebih penting. Tapi apa. Dengan
pembahasan mereka soal Arjuna tadi apakah ada hubungannya atau malah tidak sama
sekali. Agatha tidak tahu. Kali ini ia tidak berusaha untuk menebak sama
sekali. Otaknya sudah lelah untuk berpikir. Tidak bisa dipaksakan lagi.
“Kalau begitu katakan
saja. Aku selalu siap untuk mendengarnya,” ucap Agatha yakin.
Robi beberapa kali
terdengar berdeham pelan untuk menetralisir suasana hatinya. Ia harus
mengatakan hal ini dengan sejelas mungkin kepada Agatha. Tidak boleh sampai ada
yang keliru.
“Korban dari kasus
pembunuhan berantai itu kembali bertambah lagi. Kali ini dua orang sekaligus,” beber
Robi.
Mendengar kalimat
tersebut, Agatha tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Otaknya masih sibuk
memproses informasi yang baru saja ia terima tadi. Masih terlalu cepat baginya.
Fakta mengejutkan macam apa lagi itu. Meski sekarang ia merasa sedikit
terkejut, tapi raut wajah mau pun gestur tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan
apa-apa. Agatha memang begitu. Tidak perlu merasa heran lagi. Terkadang, hati
dan pikirannya memang tidak selalu sinkron.
“Apa kau sudah
mendengar soal sepasan siswa SMA yang terlibat dalam kejadian tabrak lari itu?”
tanya Robi.
Tunggu dulu. Jangan bilang
kalau itu adalah berita yang ia baca tadi di ponsel.
“Kecelakaan yang
terjadi di dekat Mall Simon maksudmu?” tanya gadis itu balik untuk memastikan
apakah dugaannya benar.
Sungguh tidak
disangka-sangka. Robi mengangguk-anggukkan kepalanya, yang berarti jika itu
artinya adalah iya. Pada saat yang bersamaan pula Agatha membungkam mulutnya.
Dia sungguh tidak habis pikir kali ini. Dia tidak bisa bicara untuk beberapa
detik. Lidahnya terasa kelu.
“Bagaimana bisa kalian
bisa menyimpulkan kalau pelakunya adalah orang yang sama?” tanya Agatha serius.
“Apa kalian menemukan
tanda khusus yang biasanya ditinggalkan pelaku pada bagian tubuh tertentu dari
korbannya?” tanyanya lagi.
“Kalian bisa terkena
masalah besar kalau sampai salah menyimpulkan!” tegas gadis itu sekali lagi.
Agatha nyaris gila
karena pelaku pembunuhan berantai tersebut. Dia terus menciptakan kejahatan
baru dimana-mana. Melibatkan orang tak bersalah dalam aksi pembunuhannya. Dan
bahkan yang anehnya sampai sekarang adalah, Agatha sama sekali belum bisa
menentukan siapa pelakunya. Padahal mereka pernah bertemu secara tidak sengaja
sebelumnya. Bukan sampai di situ saja. Agatha bahkan nyaris menjadi salah satu
korban. Dan sampai sejauh ini, Agatha adalah satu-satunya korban yang berhasil
selamat. Sebenarnya apa maunya. Kenapa terus mencari masalah pada orang asing.
Gadis
itu memijat pelipisnya pelan karena dirasa pusing. Sepertinya beban pikiran
gadis ini langsung bertambah drastis ketika memikirkan si pelaku. Sementara
Agatha menjadi mata-mata, Arjuna akan mengalihkan kasus tersebut kepada yang
lain. Atau bahkan mengurusnya sendiri kalau mampu. Tapi, sampai sekarang sama
sekali tidak ada perkembangan atas kasus tesebut. Sama saja. Tidak ada yang
berbeda dengan sebelumnya.