The Riot

The Riot
50th



“Hei!” sahut seseoran


dari arah berlawanan.


Mendengar suara


tersebut, Agatha lantas berpaling karena merasa terpanggil. Untuk pertama


kalinya ia berhasil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Ternyata itu


Robi. Pria itu sepertinya benar baru pulang dari kantor dan langsung menuju


kemari. Agatha yakin betul kalau ia masih menggunakan baju kantor. Meski seragam


tersebut sudah tertutup sepenuhnya oleh jaket.


“Maaf, aku terlambat,”


ucap Robi begitu sampai di meja.


Pria itu langsung


mengambil tempat duduk tepat di depan Agatha. Kemudian mletakkan tasnya di atas


meja.


“Mau kupesankan


sesuatu?” tawar Agatha.


“Tidak perlu


repot-repot, aku bisa memesannya sendiri nanti,” kata pria itu.


“Baiklah, kalau begitu,”


balas lawan bicaranya.


Kebetulan sekali Agatha


baru saja selesai makan.


“Kau baru pulang dari


kantor?” tanya Agatha hanya untuk sekdar basa-basi. Meski sebenarnya tanpa


perlu ditanya pun, ia sudah tahu apa jawabannya.


“Benar, baru saja,”


jawab pri itu dengan apa adanya,


“Eh, omong-omong kamar


Arjuna tadi sudah di pindahkan,” kata Robi.


“Di pindahkan kemana?”


tanya gadis itu penasaran.


“Entahlah, aku juga


tidak tahu pasti. Yang jelas setelah kami pulang ia langsung dipindahkan,”


beber pria itu secara gamblang.


Agatha tidak langsung


merespon kalimat lawan bicaranya. Melainkan termenung sebentar untuk beberapa


saat. Gadis itu sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa


itu.


Kemarin Zura bilang


kalau kondisi Arjuna tidak terlalu parah. Itu sebabnya ia langsung dipindahkan


ke ruangan perawatan setelah selesai ditangani. Bahkan tanpa menunggu pria itu


sadar lebih dulu. Seharusnya sekarang pria itu tetap berada di ruang perawatan


kalau kondisinya tidak memburuk. Apa jangan-jangan kondisi Arjuna tadi mendadak


memburuk. Sehingga langsung di pindahkan ke ruangan lain.


“Apa kondisinya


baik-baik saja?” tanya Agatha yang kemudian diangguki oleh pria itu.


“Dia terlihat sehat


tadi. Bahkan sampai kami berpamitan pulang, tidak terjadi apa-apa,” imbuhnya.


“Kami tidak sengaja


berpapasan dengannya saat perjalanan pulang tadi di koridor. Aku yakin betul


jika itu Arjuna. Kami tidak salah lihat. Kau bisa bertanya ke yang lain kalau


tidak percaya. Dia tampak dipindahkan bersama ranjangnya ke lantai atas. Lantai


lima puluh kalau tidak salah. Itu yang tertera di bagian luar lift setelah


mereka masuk,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Ia berusaha untuk


menjelaskan sampai ke bagian terkecil dan paling tidak penting sekali pun. Robi


tampaknya bicara jujur kali ini. Ia bicara dengan apa adanya. Tidak ada yang


sedang berusaha untuk disembunyikan oleh pria itu. Lagi pula untuk apa.


“Lantai lima puluh?”


gumam Agatha sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Jika dilihat kembali


dari komposisi lantai dan tinggi bangunannya, sepertinya rumah sakit itu tidak


lebih dari lima puluh lantai. Mungkin lima puluh sudah angka paling tinggi di


sana.


Kalau lantai lima puluh


adalah lantai tertinggi, itu berarti Arjuna di bawa ke rooftop. Bukan, hampir


menyentuh Rofftop lebih tepatnya sedikit lagi. Apa yang akan mereka lakukan di


sana. Kenapa membawa pria itu sampai ke lantai lima puluh.


Agatha tidak mau


setelah ini Agatha akan langsung menelepon Zura. Sedikit banyaknya gadis itu


pasti tahu. Zura pasti akan membantu. Bukankah selama ini mereka memang akan


saling membantu ketika salah satunya terjebak dalam masalah.


“Apa kau kemari hanya


untuk membicarakan soal hal tersebut?” tanya Agatha untuk memastikan.


Pasalnya, kalau memang


benar iya, seharusnya tidak perlu bertemu. Robi bisa membicarakannya lewat


telepon saja. Dari pada ia harus kemari dan menembus jalanan yang ramai hanya


untuk bertemu dengan Agatha. Sungguh tidak setimpal.


“Tidak, bukan itu topik


utamanya,” kata Robi.


Jika yang tadi bukan


hal utama, maka berarti ada hal lain yang jauh lebih penting. Tapi apa. Dengan


pembahasan mereka soal Arjuna tadi apakah ada hubungannya atau malah tidak sama


sekali. Agatha tidak tahu. Kali ini ia tidak berusaha untuk menebak sama


sekali. Otaknya sudah lelah untuk berpikir. Tidak bisa dipaksakan lagi.


“Kalau begitu katakan


saja. Aku selalu siap untuk mendengarnya,” ucap Agatha yakin.


Robi beberapa kali


terdengar berdeham pelan untuk menetralisir suasana hatinya. Ia harus


mengatakan hal ini dengan sejelas mungkin kepada Agatha. Tidak boleh sampai ada


yang keliru.


“Korban dari kasus


pembunuhan berantai itu kembali bertambah lagi. Kali ini dua orang sekaligus,” beber


Robi.


Mendengar kalimat


tersebut, Agatha tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Otaknya masih sibuk


memproses informasi yang baru saja ia terima tadi. Masih terlalu cepat baginya.


Fakta mengejutkan macam apa lagi itu. Meski sekarang ia merasa sedikit


terkejut, tapi raut wajah mau pun gestur tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan


apa-apa. Agatha memang begitu. Tidak perlu merasa heran lagi. Terkadang, hati


dan pikirannya memang tidak selalu sinkron.


“Apa kau sudah


mendengar soal sepasan siswa SMA yang terlibat dalam kejadian tabrak lari itu?”


tanya Robi.


Tunggu dulu. Jangan bilang


kalau itu adalah berita yang ia baca tadi di ponsel.


“Kecelakaan yang


terjadi di dekat Mall Simon maksudmu?” tanya gadis itu balik untuk memastikan


apakah dugaannya benar.


Sungguh tidak


disangka-sangka. Robi mengangguk-anggukkan kepalanya, yang berarti jika itu


artinya adalah iya. Pada saat yang bersamaan pula Agatha membungkam mulutnya.


Dia sungguh tidak habis pikir kali ini. Dia tidak bisa bicara untuk beberapa


detik. Lidahnya terasa kelu.


“Bagaimana bisa kalian


bisa menyimpulkan kalau pelakunya adalah orang yang sama?” tanya Agatha serius.


“Apa kalian menemukan


tanda khusus yang biasanya ditinggalkan pelaku pada bagian tubuh tertentu dari


korbannya?” tanyanya lagi.


“Kalian bisa terkena


masalah besar kalau sampai salah menyimpulkan!” tegas gadis itu sekali lagi.


Agatha nyaris gila


karena pelaku pembunuhan berantai tersebut. Dia terus menciptakan kejahatan


baru dimana-mana. Melibatkan orang tak bersalah dalam aksi pembunuhannya. Dan


bahkan yang anehnya sampai sekarang adalah, Agatha sama sekali belum bisa


menentukan siapa pelakunya. Padahal mereka pernah bertemu secara tidak sengaja


sebelumnya. Bukan sampai di situ saja. Agatha bahkan nyaris menjadi salah satu


korban. Dan sampai sejauh ini, Agatha adalah satu-satunya korban yang berhasil


selamat. Sebenarnya apa maunya. Kenapa terus mencari masalah pada orang asing.


Gadis


itu memijat pelipisnya pelan karena dirasa pusing. Sepertinya beban pikiran


gadis ini langsung bertambah drastis ketika memikirkan si pelaku. Sementara


Agatha menjadi mata-mata, Arjuna akan mengalihkan kasus tersebut kepada yang


lain. Atau bahkan mengurusnya sendiri kalau mampu. Tapi, sampai sekarang sama


sekali tidak ada perkembangan atas kasus tesebut. Sama saja. Tidak ada yang


berbeda dengan sebelumnya.