
“Pimpinan
salah satu perusahaan property yang cukup terkenal di Indonesia pada akhirnya
memutuskan untuk buka cabang di beberapa negara lain. Di antaranya adalah
Hongkong, Singapore, Paris serta Jerman.”
Aaron membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar.
Matanya membulat dengan sempuurna. Setengah tak percaya dengan apa yang baru
saja ia dengar dan lihat. Tapi, tidak mungkin jika pria itu salah. Ia yakin
jika indera pengelihatan serta pendengarannya masih cukup bagus. Mustahil jika
Aaron yang salah.
“Pihak stasiun televisinya pasti salah menyampaikan
berita,” ucap pria itu.
Jelas-jelas ia menolak kenyataan tersebut secara
mentah-mentah.
Setelah sekian lama tidak bertemu, Aaron pikir
kehidupan pria itu sudah menderita. Mendapatkan hukum karma yang setimpal
dengan apa yang pernah ia perbuat di masa lampau. Orang-orang selalu
mengatakan, apa yang kau tanam makan itu juga yang akan kau tuai nanti. Namun,
ternyata pepatah lama tersebut tidak selamanya benar. Situasi ini mematahkan
asumsinya. Atau jangan-jangan semesta yang salah.
Bagaimana bisa mereka masih memberikan tempat kepada
orang seperti Narendra. Seorang pria yang tidak memiliki rasa kemanusiaan
sedikit pun. Ia tidak pernah bisa diandalkan dalam hal apa pun. Pria itu pernah
menjadi ayahnya beberapa tahun yang lalu. Bahkan mereka pernah menjadi satu
bagian yang tidak terpisahkan. Sampai pada akhirnya kenyataan mengubah seluruh
sisi baik dari Narendra. Ternyata apa yang terlihat baik belum tentu baik.
Begitu pula sebaliknya. Apa yang terlihat buruk juga belum tentu sepenuhnya
buruk.
Aaron tidak akan terima jika begini caranya. Semesta
tidak adil karena telah memberikan takdir paling baik kepadanya di antara
ribuan manusia lainnya. Padahal setelah dipikir-pikir, Narendra sama sekali
tidak berhak atas semua itu. Sebelum mendapatkan semua kenikmatan duniawi
tersebut, ia harus terlebih dahulu membayar
semua dosa-dosa masa lalunya.
“Dasar pria itu!” geram Aaron.
Sangking bencinya, ia bahkan tidak pernah menyebut
pria itu dengan sebutan ayah lagi. Tempatnya tidak semulia itu lagi setelah semua
rahasia busuknya terungkap. Sekarang Narendra bukan lagi sosok ayah yang sama
dengan dulu. Mungkin pria itu sempat memiliki tempat tersendiri di hati
anak-anaknya. Namun, tidak untuk saat ini.
Bahkan Agatha sendiri sudah memilih untuk pergi dari
rumah setelah ibunya meninggal. Ia ada banyak hal buruk soal Narendra yang tak
perlu ia ungkap. Cukup menjadi rahasia keluarganya saja.
‘CEKLEK!’
“Kau sudah kembali?” tanya Aaron dengan tenang.
Ia berusaha untuk menyembunyikan emosinya di hadapan
gadis itu. Bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tetap saja
Aaron tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Raut wajahnya, terlebih sorot
matanya tak pernah berbohong. Orang-orang selalu mengatakan kalau mata adalah
jendela hati.
Agatha juga bukan orang yang gampang untuk ditipu. Jangan
salah sangka dulu. Walaupun sekilas terlihat seperti orang yang cuek dan tidak
peduli dengan sekitarnya, namun pada kenyataannya hal tersebut berbanding
terbalik. Justru Agatha termasuk kepada orang yang paling peka dengan setiap
hal di sekitarnya. Apa pun itu.
“Ada apa denganmu?” tanya Agatha balik.
“Ha? Maksudmu?” tanya Aaron lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan sebelumnya, mereka
malah saling melemparkan pertanyaan antara satu sama lain. Termasuk aneh, tapi
pada kenyataannya inilah yang terjadi.
“Aku tahu jika kau sedang menyembunyikan sesuatu,”
kata gadis itu.
Aaron tidak menyalahkan perkataan gadis itu. Apa
yang dikatakan oleh Agatha barusan ada benarnya juga. Malah nyaris benar
“Sial! Bagaimana bisa dia tahu?” batin Aaron di
dalam hati.
Untuk beberapa saat ia terdiam. Tidak tahu harus
berbuat apa. Saat ini Aaron mulai kehilangan stok kata-kata di dalam otaknya.
Pria itu hanya bisa diam. Tak tahu harus berbuat apa. Lebih tepatnya tidak bisa
berkutik sama sekali.
Sementara itu, lawan bicaranya sama sekali tidak
peduli dengan kebisuan yang mendadak terjadi itu. Agatha langsung menerobos
masuk begitu saja. Berjalan lurus menuju dapur. Ia perlu membereskan
barang-barang belanjaan yang baru saja ia beli di sana. Lagipula ini adalah
rumahnya. Tidak masalah. Terserah Agatha mau melakukan apa saja. Dia memiliki
hal penuh atas tempat tinggalnya sendiri. Tidak ada yang berhak untuk
mengaturnya.
“Hey!” sahut Aaron. Kemudian pria itu menyusul
langkah Agatha ke dapur.
Tidak, kali ini dia tidak berniat untuk membantu
gadis itu sama sekali. Jangan pernah berharap demikian. Karena ia tidak akan
pernah melakukan hal tersebut. Bahkan jika Agatha langsung yang memintanya, ia
tetap tidak peduli. Aaron bukan tipikal orang yang suka di atur. Alih-alih suka
diatur, ia malah jauh lebih suka jika dirinya berhasil mengatur dirinya
sendiri.
Jiwanya penuh dengan kebebasan. Tidak ada satu pun
orang yang bisa menghalanginya. Tidak peduli siapa orang itu. Yang jelas, Aaron
anya akan mengikuti suara hatinya sendiri. Ia tidak akan menghiraukan apalagi
sampai memusingkan perkataan orang lain terhadap dirinya. Orang sepertinya
terlalu sibuk, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal- hal
seperti demikian.
“Agatha!” sahut pria itu sekali lagi begitu ia
sampai di tempat.
“Ada apa?” balas sang pemilik nama tanpa mengalihkan
pandangannya sama sekali.
Saat ini gadis itu sedang disibukkan dengan
kegiatannya untuk mengatur barang-barang di kulkas. Andai saja Aaron
membantunya. Pasti ia akan selesai jauh lebih cepat. Tidak perlu jongkok
terlalu lama di depan kulkas seperti ini.
“Apa kau tidak ada rencana untuk kembali ke rumah
orang tuamu setelah libur panjang nanti?” tanya pria itu secara gamblang.
Tidak ada keraguan sama sekali di dalam hatinya. Menurutnya,
ia harus segera mencari tahu tentang siapa Agatha sebenarnya. Lebih tepatnya
untuk memastikan apakah berita yang dibawa oleh Mico tadi siang benar adanya
atau hanya sekedar mengada-ada saja.
“Memangnya kenapa?” tanya Agatha.
“Tidak apa-apa,” balas pria itu.
“Aku hanya heran saja, kenapa kau tidak pernah pergi
untuk mengunjungi orang tuamu selama ini,” jelasnya kemudian.
“Kau bahkan belum mengenalku lebih dari tiga bulan!”
celetuk gadis itu sambil berdecak sebal.
Bagaimana bisa orang yang terbilang baru saja
memasuki kehidupannya bisa menyimpulkan segalanya tentang gadis itu.
Seolah-olah ia tahu banyak soal Agatha. Padahal tidak ada satu pun yang bisa ia
kuasai tentang Agatha. Berani-beraninya pria itu berlagak sombong di depannya. Jika
saja kesabaran Agatha tidak sedang menipis saat ini, mungkin ia akan langsung
mengkoreksi kalimat yang tadi dengan caranya.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Agatha.
“Aku juga tidka pernah melihatmu mengunjungi
keluargamu sendiri,” ungkap gadis itu.
Kali ini ia akan
membalikkan situasinya kepada Aaron. Kemudian melihat bagaimana tanggapan pria
itu terhadap yang tadi. Dia tidak boleh merasakan hal ini sendirian. Aaron juga
harus ikut merasakannya. Lebih tepatnya, ia perlu mendengar alasan Aaron lebih
dulu sebelum menjawab pertanyaannya.