
Gadis itu melepaskan helmnya, kemudian menghela napas dengan
kasar. Kedua bola matanya jauh memandang ke ujung cakrawala. Tidak ada hal lain
yang bisa ia jumpai di sana. Hanya ada kilauan lampu yang tampak begitu
mencolok di tengah malam.
Agatha pergi ke bawah kolong jembatan. Tidak ada siapa pun
di sana. Hanya dirinya sendiri. Kolong jembatan yang satu ini memang berbeda. Entah
kenapa para tunawisma tidak mau berteduh di sini. Itu sebabnya kenapa dari dulu
sampai sekarang, tempat ini selalu kosong. Hal itu pula yang menjadi alasan
kenapa Agatha suka datang kemari. Sebab tidak ada siapa-siapa. Jika ditaanya
apa hal favoritnya, gadis itu pasti menjawab jika kesunyian adalah salah
satunya. Meski yang terpenting sebenarnya adalah damai.
Sekarang sudah hampir tengah malam. Namun, mobilitas di
perkotaan tidak pernah benar-benar berhenti. Atau mereka akan mati. Jalanan
hanya terlihat jauh lebih lengang dari pada biasanya. Kendaraan masih tetap ada
yang melintas. Setiap harinya pasti selalu ada saja manusia-manusia yang tetap
terjaga di tengah malam dengan berbagai alasan, sementara manusia yang lainnya
terlelap. Tenggelam dalam alam bawah sadarnya.
Alarm peringatan untuk pergi tidur sama sekali tidak ia
hiraukan. Agatha mengabaikan suara berisik itu dengan begitu saja. Bersikap
acuh, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Sejak dirinya keluar dari rumah
sakit beberapa waktu yang lalu, ia harus menjaga pola hidupnya agar tetap
sehat. Salah satunya adalah dengan mengatur jam tidur. Dengan begitu, proses
pemulihannya akan berlangsung lebih cepat. Tapi, semua kebiasaan baik itu sudah
berlalu. Sekarang ia kembali seperti dulu.
Gadis itu mengeratkan jaket kulit yang selalu ia gunakan
saat berkendara, agar angin malam tidak menyelinap masuk dan membuatnya jatuh
Sudah lebih dari dua jam ia berada di sini. Menghabiskan
waktu dengan melamun. Sesekali menghela napas karena kesal. Benar-benar tidak
ada hal lain yang ia lakukan di sini selain diam. Kalau hal tersebut bisa
membuatnya merasa jauh lebih baik, kenapa tidak. Lagi pula Agatha sedang tidak
merugikan siapa pun karena perbuatannya itu.
23.54
Ini sudah yang kesekian kalinya bagi gadis itu untuk
mengecek jam tangannya. Kali ini benar-benar hampir mendenkati tengah malam.
Jarak jarum jam dengan angkat dua belas tinggal sedikit lagi. Hanya perlu enam
menit lagi untuk benar-benar sampai di tengah malam.
Secara mengejutkan gadis itu beranjak dari tempat duduknya.
Kemudian ia pergi menghampiri sepeda motornya. Sepertinya sudah cukup
berlama-lama di sini. Sekarang waktunya untuk kembali ke apartment dan mulai
menjalani hidup lagi seperti kebanyakan manusia pada umumnya.
Agatha menyugar rambutnya ke belakang sebelum memakai helm.
Dari beberapa sisi mungkin hal tersebut terlihat keren. Namun, di sisi lain itu
adalah hal biasa yang selalu ia lakukan ketika akan memakai helm. Memangnya
siapa yang betah jika ada helai rambut yang menutupi pandangannya.
‘VROM!’
Sepertinya udara malam ini cukup untuk membuat suhu mesin
dan knalpot sepeda motornya turun. Jadi, mau tak mau ia terpaksa harus
menunggunya hingga sedikit lebih hangat. Lalu setelahnya baru bisa pergi. Sebenarnya
Agatha sama sekali tidak masalah dengan hal tersebut. Satu-satunya masalah di
sini adalah suhu udara yang kian dingin. Mungkin itu karena ia berdiri persis
di tepi sungai.