
Para sniper akan
mendapatkan fasilitas khusus. Anggota lain mungkin akan merasa iri. Itu sebabnya
mereka diminta pergi lebih dulu dengan menggunakan sepeda motor. Titik
kumpulnya juga sudah di beri tahu sejak awal. Pastikan tidak ada yang
tertinggal atau pun salah arah selama perjalanan. Itu sebabnya mereka harus
terus bersama-sama.
Sementara yang lainnya
sudah pergi, di sini hanya tersisa Agatha, Hiraeth dan juga Immanuel tentu
saja. Ketiganya tidak lagi berada di ruangan rapat. Mereka semua naik ke atas. Ke
rooftop lebih tepatnya.
“Sebentar lagi helicopternya
akan segera datang. Kita pergi ke sana menggunakan itu,” ungkap Hiraeth secara
gamblang.
Pada akhirnya mereka
berdua tahu apa alasan pria itu mengajak mereka kemari. Bukankah itu cukup berlebihan.
Di saat yang lain pergi ke sana dengan menggunakan sepeda motor, tapi hanya
mereka sendiri yang menggunakan helicopter. Tidak masalah kalau tadinya itu
hanya Hiraeth saja. Dia memang pantas untuk mendapatkan apa pun dalam versi
terbaik.
Tapi, setelah
dipikir-pikir sepertinya ini tidak berlebihan. Wajar saja. Agatha dan Immanuel malam
ini ditugaskan untuk menjadi sniper sekaligus mata-mata di gedung seberang.
Tentu keduanya akan ditempatkan pada bagian rooftop juga. Hiraeth pasti
menggunakan helicopter demi menciptakan akses yang jauh lebih mudah.
Sekarang ia tidak ingin
protes. Dari pada berceloteh, lebih baik Agatha menyimpan sisa energinya saja.
Nanti situasinya akan cukup menegangkan. Mereka harus tetap fokus jika tidak
ingin memberikan kesempatan kepada lawan. Tanpa asupan kafein yang cukup dan dibangunkan
secara paksa. Entah ia akan bertahan malam ini atau tidak. Terlebih seorang
sniper pasti akan dituntut untuk memiliki fokus dan konsentrasi lebih tinggi
dari pada siapa pun.
“Itu dia!” seru Hiraeth
sambil menunjuk ke arah langit malam.
Sesuatu yang mereka
tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya sudah datang. Tanpa pikir panjang, mereka
segera naik tepat setelah benda raksasa itu mendarat di landasan yang sudah di
siapkan. Ini adalah pertama kalinya bagi Agatha untuk naik helicopter. Mungkin tidak
dengan Hiraeth dan juga Immanuel. Pasti sudah beberapa kali mereka menumpangi
kendaraan yang satu ini.
“Geng mereka
benar-benar keren,” batin Agatha di dalam hati.
Ia merasa kagum
sekaligus takjub pada saat yang bersamaan. Geng mafia terbesar di kota ini
memiliki segalanya. Fasilitas mereka bahkan jauh lebih lengkap daripada
fasilitas yang bisa disediakan kantor gadis itu untuknya.
Wajar saja. Tidak perlu
merasa heran. Mereka bisa mendapatkan semua itu dengan hanya mengandalkan
Hiraeth seorang diri. Pria itu bisa melakukan segalanya. Dengan kekuatan dan
kekuasan dia bisa mendapatkan apa pun yang ia mau.
“Rumahnya pasti sangat
mewah, sampai-sampai ia bisa menyiapkan fasilitas yang terbilang lebih dari cukup
untuk anggotanya,” batinnya dalam hati.
Agatha masih tidak
habis pikir bagaimana ia bisa mendapatkan helicopter ini. Tapi, semuanya pasti
akan terasa lebih mudah selama kau memiliki koneksi. Dunia hanya akan tunduk
kepada mereka yang berkuasa. Kalau kau tidak ada apa-apanya seperti Agatha,
jangan pernah berharap untuk didengarkan. Pantas saja Agatha sering merasa
diperlakukan tidak adil oleh semesta. Ternyata itu alasannya.
***
Sesaat setelah sampai
di tempat tujuan, mereka langsung berpencar. Immanuel dan Agatha bergabung
bersama Alexa. Sementara itu di sisi lain Hiraeth langsung pergi ke bawah
dengan menggunakan lift. Tenang saja, dia sudah lama bekerja sama dengan pemilik
gedung ini. Mereka akan memberikan akses tanpa batas untuk tempat yang satu ini
selama misi berlangsung. Jadi tidak perlu merasa cemas. Sebab semua pihak sudah
mendukungnya.
“Sudah sampai?” interupsi
Alexa begitu mereka tiba.
sekarang,” balas Immanuel dengan apa adanya.
Namun, sepertinya
tujuan utama Alexa sama sekali bukan untuk menanyakan soal Immanuel. Lagi-lagi
Agatha yana harus menjadi pusat perhatian. Ia bahkan ikut mengalihkan perhatian
Alexa di saat seperti ini. Bukabkah sebaiknya sekarang mereka fokus kepada
tugasnya saja dan tidak perlu terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Mereka
bisa berkenalan nanti.
“Siapa dia? Kenapa
sampai ikut kemari?” tanya gadis itu dengan nada bicara yang tidak terlalu
menyenangkan.
Tampaknya Alexa tidak
nyaman dengan kehadiran Agatha di sini. Atau mungkin tidak suka lebih tepatnya.
Ekspresinya menggambarkan hal tersebut secara jelas. Mungkin Alexa mencoba
untuk menyembunyikannya. Tapi, semua itu sia-sia saja. Dia tidak cukup baik
dalam hal menutupi isi hatinya. Berbeda dengan Agatha, yang terkadang hati dan
pikirannya kerap tak sinkron.
“Ah, aku lupa!” kata
Immanuel sambil menepuk kepalanya pelan.
“Kalian pasti belum
pernah berkenalan kan sebelumnya? Kalau begitu lakukanlah sekarang!” perintah
pria itu di akhir kalimat.
“Sebagai rekan satu tim
bukankah kita harus saling mengenal lebih dulu agar tercipta kerja sama tim
yang baik?” tanya pria itu lagi.
Tanpa pikir panjang
lagi, Agatha buru-buru mengulurkan tangannya kepada Alexa. Walaupun ini hanya
bentuk formalitas saja, tapi tetap kesan pertamamu saat bertemu dengan orang
lain akan di tentukan pada saat ini juga. Kita tidak tahu kapan manusia akan
menilai. Mereka pada umumnya lebih mudah mengingat satu salam dari pada seribu
kebaikan yang pernah datang sebelumnya. Memang seperti itulah manusia. Makanya
jangan sampai berbuat salah dengan kesengajaan.
“Namaku Rienna Zova.
Kau bisa memanggilku dengan sebutan Rienna saja,” ujar Agatha sambil tersenyum
tipis.
Ia berusaha untuk
bersikap seramah mungkin. Meski pada akhirnya ia tahu kalau mereka tetap tidak
akan pernah memperlakukan pendatang dengan baik.
“Alexa!” balas gadis itu
dengan ketus.
Ia bahkan sama sekali
tidak berminat untuk membalas uluran tangan Agatha. Tidak apa-apa. Sama sekali
bukan masalah. Gadis itu sudah memakluminya. Ia sudah bisa menebak sejak awal
jika memang akan seperti ini pada akhirnya.
“Dasar! Apa dia tidak
pernah diajarkan sopan satun oleh seseorang?!” cecarnya di dalam hati.
Sebenarnya kalau boleh
jujur, ia akan merasa jauh lebih baik jika bisa berteriak di depan wajah gadis
itu. Alexa benar-benar membuatnya naik pitam. Padahal ini pertemua pertama
mereka. Tunggu. Tidak begitu. Ini yang kedua kalinya. Mereka sudah pernah
bertemu sebelumnya di café pada waktu itu. Ketika Agatha tidak sengaja
menabraknya dan membuat barang-barang di dalam tasnya jadi berserakan di
lantai.
Kesan pertama mereka
saat bertemu saja sudah tidak bagus. Harusnya ia sadar kalau sekarang pun tidak
akan baik-baik saja. Lagi pula untuk apa berharap lebih kepada orang sepertinya
yang tidak akan pernah bisa berubah.
“Tunggu dulu!” seru
Alexa.
“Bukankah kita pernah
bertemu sebelumnya?” tanya gadis itu untuk memastikan apakah dugaannya benar
atau tidak.
“Sial!” umpat Agatha di
dalam hati.
“Ah?
Tidak, aku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya,” jawab Agatha dengan
tenang.