The Riot

The Riot
He's Back



Agatha berusaha untuk tidak peduli sama sekali. Dengan kata


lain ia bersikap seolah-olah tidak melihat gadis itu. Acuh, seperti tidak ada


siapa pun di sana. Langkah Agatha tiba-tiba saja terhenti. Bukan tanpa alasan. Sekarang


ia baru ssaja sampai di depan pintu masauk menuju kamar apartmentnya. Untuk mendapatkan


akses masuk ke sana, ia perlu memasukkan kata sandinya terlebih dahulu. IItu


sebabnya kenapa Agatha mendadak berhenti.


‘SHUT!!!’


Secara mengejutkan sebuah pisau dengan ujung yang berkilau


muncul di hadapannya. Tepat berada di kulit lehernya. Rasa dingin dari lapisan


terluar logam tersebut berhasil menusuk permukaan kulitnya lebih dulu. Agatha


menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Untuk beberapa detik ia


tercengang. Tidak bisa berkata-kata sama sekali. Gadis itu nyaris tidak bisa


bergerak sedikit pun. Bahkan bernapas pun harus hati-hati. Sebab, kalau salah


bergerak sedikit saja ia pasti akan terluka. Tidak, dia tidak bisa terluka.


Tidak perlu waktu lama untuk menerka siapa yang melakukan


semua ini. Sudah pasti jika gadis misterius itu tadi pelakunya. Tidak ada orang


lain di lorong ini selain mereka berdua. Agatha lantas mengepal kedua telapak


tangannya kuat-kuat. Berusaha untuk menahan emosi yang kian memuncak semakin ke


sini. Jika ingin selamat, Agatha tidak bisa bertindak dengan gegabah.


Ini bukan yang pertam kalinya Agatha diserang. Jadi, ia


sudah tahu betul bagaimana caranya menghadapi situasi seperti ini. Tentu saja


hal pertama yang harus dilakukan adalah tenang. Kau tidak akan bisa berpikir


dengan jernih kalau masih panik.


“Berbalik!” perintah gadis misterius tersebut.


Dengan begitu hati-hati Agatha mulai berputar balik. Tepat setelah


gadis itu menjauhkan pisau tersebut darinya. Sehingga Agatha bisa bergerak. Tapi,


tetap saja pergerakannya tidak bisa bebas. Ia masih terancam. Selama pisau


tersebut masih berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, maka itu


sama saja dengan nyawanya yang terancam.


Setelah berbalik pun, Agatha masih belum bisa melihat wajah


gadis itu dengan jelas. Padahal jarak mereka sudah sangat dekat. Kurang dari


satu meter. Kedua netra mereka saling beradu pandang. Ada makna tersembunyi di


balik kilau matanya. Tapi, ia tidak bisa mengetahui apa itu. Tidak peduli


seberapa besar rasa ingin tahunya.


Sepertinya gadis itu memang sengaja menggenakan papaian


serba tertutup seperti ini. Terutama pada bagian bajahnya. Agatha tahu betul


kalau ia sudah berusaha keras untuk menutupi bagian wajahnya agar tidak


terdeteksi kamera pengawas. Mulai dari menggunakan hoodie, hingga masker. Tidak


hanya ampai di situ saja. ia bahkan sengaja membiarkan anak-anak rambutnya  menghalangi pandangannya. Membuat kesan


berantakan. Gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan rambut-rambut


itu. Selama keamanannya terjamin karena mereka, kenapa harus mengeluh bahkan


sampai protes.


Setelah selama beberapa saat saling bertukar pandangan,


gadis misterius itu mendekatkan wajahnya ke arah Agatha dan mulai menjauhkan


pisau yang dipegangnya. Jangan salah sangka dulu. Agatha tidak akan melepaskan


pandangannya begitu saja dari senjata tersebut. Hidupnya berada di ujung pisau.


Agatha melihat ada kesempatan besar di sini. Tampaknya gadis itu mulai merasa


aman dan telrihat lengah.


“Senang bertemu denganmu lagi,” bisiknya di telinga Agatha.


Kedua bola mata Agatha lantas membulat dengan sempurna.


Tunggu dulu! Apa-apaan ini. Kenapa semua hal terasa begitu membiingungkan


baginya.


Betapa terkejutnya gadis itu saat mendengar orang tersebut


buka suara untuk pertama kalinya. Ini sama sekali tidak terlihat seperti suara


seorang wanita. Melainkan seorang pria. Jangan-jangan Agatha yang salah. Tapi memang


tidak bisa dipungkiri kalau sulit untuk mengenali orang lain yang memakai


hoodie oversize seperti ini. Ditambah dengan masker yang menutupi hampir


Selagi Agatha sibuk memikirkan kejanggalan ini, orang


tersebut menjauhkan wajahnya dari Agatha. Mereka kembali berada dalam posisi


normal. Ia bahkan tidak berusaha untuk mengancam Agatha dengan menodongkan


pisau lagi.


“Apa kau masih belum mengenaliku?” tanya pria itu.


Baiklah, mulai kali ini jangan panggil dia sebagai seorang


gadis. Karena pada kenyataannya dia memang bukan gadis. Melainkan pria. Sial!


Lagi-lagi Agatha bisa tertipu dengan mudah hanya dari penampilannya saja. Beruntung


si pria misterius itu belum tahu sama sekali kalau Agatha mengira jika dirinya


adalah seorang gadis.


“Apa kau tidak mengenaliku Agatha?” tanya pria itu sekali


lagi. Karena sebelumnya sama sekali tidak ada jawaban dari Agatha.


Pertanyaan yang kedua sedikit berbeda. Hal ini semakin


meyakinkan Agatha kalau mereka pernah saling bertemu sebelumnya. Atau bahkan


sampai salaing mengenal. Buktinya, ia tahu Agatha tanpa perlu menyebutkan


namanya lebih dulu. Tapi, bagaimana bisa pria itu tahu. Sedangkan ia tidak tahu


siapa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Agatha benar-benar payah.


Satu detik, dua detik, tiga detik, sama saja dengan


sebelumnya. Tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Si pria misterius


lantas berdecak sebal sambil memukul sisi dinding yang berada tepat di hadapannya.


Yang tak lain dan tak bukan adalah dinding tempat Agatha bersandar.


“Aku kecewa karena kau begitu cepat melupakanku. Padahal


kita baru berpisah sekitar beberapa minggu,” jelasnya sambil menyingkirkan


masker tersebut dari wajahnya. Sehingga Agatha bisa melihat dengan jelas siapa


dia.


“Sial!” umpat gadis itu di dalam hati.


Itu Aaron. Bagaimana bisa ia sampai ke sini. Lebih tepatnya


darimana pria itu mengetahui keberadaan terbaru Agatha. Padahal ia sudah


berusaha untuk bergerak tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Mustahil kalau Aaorn


masih mengawasinya.


“Untuk apa kau datang kemari lagi?!” seru Agatha.


Adrenalinnya mendadak meningkat. Bahkan jumlahnya sudah


mengalahkan rasa takutnya. Nyalinya yang sempat menciut, kini kembali naik.


“Bagaimana kalau kukatakan jika aku datang kemari untuk


balas dendam?” tanya Aaron balik.


Agatha lantas mengerjap pelan. Ia sama sekalitidak tahu apa


maksud pria itu. Balas dendam untuk apa.


“Harus kuakui kalau aksimu pada waktu itu sangat hebat.


Lihatlah bagaimana seorang gadis kecil sepertimu bisa mengacaukan seluruh


rencana yang sudah kami buat,” beber pria itu.


“Oh, bukan hanya itu!” celetuknya tiba-tiba.


“Kabarnya kau dan timmu mendapatkan appresiasi besar-besaran


bukan? Karena telah berhasil melumpuhkan pergerakan sekelompok mafia yang


terkenal sulit untuk disentuh,” pungkasnya di akhir.


Lagi-lagi Agatha menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya


mulai terasa kering.


“Benar juga! Bagaimana bisa kau lupa soal yang satu itu,”


batin Agatha di dalam hati.


Ia hampir melupakan satu fakta penting yang menyatakan kalau


Aaron memiliki posisi yang sama dengan Hiraeth. Bahkan posisinya lebih istimewa


lagi dari pada pria itu.


“Sepertinya aku harus berhati-hati denganmu mulai sekarang,”


ledek Aaron.


“Kau monster kecil yang menyeramkan,” tambahnya.


“Sebaiknya kau memang perlu


berhati-hati mulai sekarang!” tegas Agatha dengan penuh penekanan.