
Agatha berusaha untuk tidak peduli sama sekali. Dengan kata
lain ia bersikap seolah-olah tidak melihat gadis itu. Acuh, seperti tidak ada
siapa pun di sana. Langkah Agatha tiba-tiba saja terhenti. Bukan tanpa alasan. Sekarang
ia baru ssaja sampai di depan pintu masauk menuju kamar apartmentnya. Untuk mendapatkan
akses masuk ke sana, ia perlu memasukkan kata sandinya terlebih dahulu. IItu
sebabnya kenapa Agatha mendadak berhenti.
‘SHUT!!!’
Secara mengejutkan sebuah pisau dengan ujung yang berkilau
muncul di hadapannya. Tepat berada di kulit lehernya. Rasa dingin dari lapisan
terluar logam tersebut berhasil menusuk permukaan kulitnya lebih dulu. Agatha
menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Untuk beberapa detik ia
tercengang. Tidak bisa berkata-kata sama sekali. Gadis itu nyaris tidak bisa
bergerak sedikit pun. Bahkan bernapas pun harus hati-hati. Sebab, kalau salah
bergerak sedikit saja ia pasti akan terluka. Tidak, dia tidak bisa terluka.
Tidak perlu waktu lama untuk menerka siapa yang melakukan
semua ini. Sudah pasti jika gadis misterius itu tadi pelakunya. Tidak ada orang
lain di lorong ini selain mereka berdua. Agatha lantas mengepal kedua telapak
tangannya kuat-kuat. Berusaha untuk menahan emosi yang kian memuncak semakin ke
sini. Jika ingin selamat, Agatha tidak bisa bertindak dengan gegabah.
Ini bukan yang pertam kalinya Agatha diserang. Jadi, ia
sudah tahu betul bagaimana caranya menghadapi situasi seperti ini. Tentu saja
hal pertama yang harus dilakukan adalah tenang. Kau tidak akan bisa berpikir
dengan jernih kalau masih panik.
“Berbalik!” perintah gadis misterius tersebut.
Dengan begitu hati-hati Agatha mulai berputar balik. Tepat setelah
gadis itu menjauhkan pisau tersebut darinya. Sehingga Agatha bisa bergerak. Tapi,
tetap saja pergerakannya tidak bisa bebas. Ia masih terancam. Selama pisau
tersebut masih berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, maka itu
sama saja dengan nyawanya yang terancam.
Setelah berbalik pun, Agatha masih belum bisa melihat wajah
gadis itu dengan jelas. Padahal jarak mereka sudah sangat dekat. Kurang dari
satu meter. Kedua netra mereka saling beradu pandang. Ada makna tersembunyi di
balik kilau matanya. Tapi, ia tidak bisa mengetahui apa itu. Tidak peduli
seberapa besar rasa ingin tahunya.
Sepertinya gadis itu memang sengaja menggenakan papaian
serba tertutup seperti ini. Terutama pada bagian bajahnya. Agatha tahu betul
kalau ia sudah berusaha keras untuk menutupi bagian wajahnya agar tidak
terdeteksi kamera pengawas. Mulai dari menggunakan hoodie, hingga masker. Tidak
hanya ampai di situ saja. ia bahkan sengaja membiarkan anak-anak rambutnya menghalangi pandangannya. Membuat kesan
berantakan. Gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan rambut-rambut
itu. Selama keamanannya terjamin karena mereka, kenapa harus mengeluh bahkan
sampai protes.
Setelah selama beberapa saat saling bertukar pandangan,
gadis misterius itu mendekatkan wajahnya ke arah Agatha dan mulai menjauhkan
pisau yang dipegangnya. Jangan salah sangka dulu. Agatha tidak akan melepaskan
pandangannya begitu saja dari senjata tersebut. Hidupnya berada di ujung pisau.
Agatha melihat ada kesempatan besar di sini. Tampaknya gadis itu mulai merasa
aman dan telrihat lengah.
“Senang bertemu denganmu lagi,” bisiknya di telinga Agatha.
Kedua bola mata Agatha lantas membulat dengan sempurna.
Tunggu dulu! Apa-apaan ini. Kenapa semua hal terasa begitu membiingungkan
baginya.
Betapa terkejutnya gadis itu saat mendengar orang tersebut
buka suara untuk pertama kalinya. Ini sama sekali tidak terlihat seperti suara
seorang wanita. Melainkan seorang pria. Jangan-jangan Agatha yang salah. Tapi memang
tidak bisa dipungkiri kalau sulit untuk mengenali orang lain yang memakai
hoodie oversize seperti ini. Ditambah dengan masker yang menutupi hampir
Selagi Agatha sibuk memikirkan kejanggalan ini, orang
tersebut menjauhkan wajahnya dari Agatha. Mereka kembali berada dalam posisi
normal. Ia bahkan tidak berusaha untuk mengancam Agatha dengan menodongkan
pisau lagi.
“Apa kau masih belum mengenaliku?” tanya pria itu.
Baiklah, mulai kali ini jangan panggil dia sebagai seorang
gadis. Karena pada kenyataannya dia memang bukan gadis. Melainkan pria. Sial!
Lagi-lagi Agatha bisa tertipu dengan mudah hanya dari penampilannya saja. Beruntung
si pria misterius itu belum tahu sama sekali kalau Agatha mengira jika dirinya
adalah seorang gadis.
“Apa kau tidak mengenaliku Agatha?” tanya pria itu sekali
lagi. Karena sebelumnya sama sekali tidak ada jawaban dari Agatha.
Pertanyaan yang kedua sedikit berbeda. Hal ini semakin
meyakinkan Agatha kalau mereka pernah saling bertemu sebelumnya. Atau bahkan
sampai salaing mengenal. Buktinya, ia tahu Agatha tanpa perlu menyebutkan
namanya lebih dulu. Tapi, bagaimana bisa pria itu tahu. Sedangkan ia tidak tahu
siapa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Agatha benar-benar payah.
Satu detik, dua detik, tiga detik, sama saja dengan
sebelumnya. Tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Si pria misterius
lantas berdecak sebal sambil memukul sisi dinding yang berada tepat di hadapannya.
Yang tak lain dan tak bukan adalah dinding tempat Agatha bersandar.
“Aku kecewa karena kau begitu cepat melupakanku. Padahal
kita baru berpisah sekitar beberapa minggu,” jelasnya sambil menyingkirkan
masker tersebut dari wajahnya. Sehingga Agatha bisa melihat dengan jelas siapa
dia.
“Sial!” umpat gadis itu di dalam hati.
Itu Aaron. Bagaimana bisa ia sampai ke sini. Lebih tepatnya
darimana pria itu mengetahui keberadaan terbaru Agatha. Padahal ia sudah
berusaha untuk bergerak tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Mustahil kalau Aaorn
masih mengawasinya.
“Untuk apa kau datang kemari lagi?!” seru Agatha.
Adrenalinnya mendadak meningkat. Bahkan jumlahnya sudah
mengalahkan rasa takutnya. Nyalinya yang sempat menciut, kini kembali naik.
“Bagaimana kalau kukatakan jika aku datang kemari untuk
balas dendam?” tanya Aaron balik.
Agatha lantas mengerjap pelan. Ia sama sekalitidak tahu apa
maksud pria itu. Balas dendam untuk apa.
“Harus kuakui kalau aksimu pada waktu itu sangat hebat.
Lihatlah bagaimana seorang gadis kecil sepertimu bisa mengacaukan seluruh
rencana yang sudah kami buat,” beber pria itu.
“Oh, bukan hanya itu!” celetuknya tiba-tiba.
“Kabarnya kau dan timmu mendapatkan appresiasi besar-besaran
bukan? Karena telah berhasil melumpuhkan pergerakan sekelompok mafia yang
terkenal sulit untuk disentuh,” pungkasnya di akhir.
Lagi-lagi Agatha menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya
mulai terasa kering.
“Benar juga! Bagaimana bisa kau lupa soal yang satu itu,”
batin Agatha di dalam hati.
Ia hampir melupakan satu fakta penting yang menyatakan kalau
Aaron memiliki posisi yang sama dengan Hiraeth. Bahkan posisinya lebih istimewa
lagi dari pada pria itu.
“Sepertinya aku harus berhati-hati denganmu mulai sekarang,”
ledek Aaron.
“Kau monster kecil yang menyeramkan,” tambahnya.
“Sebaiknya kau memang perlu
berhati-hati mulai sekarang!” tegas Agatha dengan penuh penekanan.