
Bukannya
langsung menjawab pertanyaan dari gadis itu barusan, Arjuna malah melamun.
Lebih tepatnya ia masih tercengang. Seolah tidak bisa mempercayai isi kepalanya
sendiri.
“Hei!”
sahut Agatha sembari menyenggol tubuh pria itu dengan sengaja.
Satu
detik setelahnya kesadaran Arjuna kembali. Ia terkesiap begitu Agatha berusaha
untuk membuka obrolan dengannya.
“Ada
apa?” tanya Arjuna balik.
Sepertinya
sejak tadi ia tidak pernah benar-benar ada dalam keadaan fokus. Entah apa yang
dipikirkannya. Sepertinya nyawanya tidak pernah hadis secara utuh.
“Kenapa
mengerem mendadak?” tanya Agatha tanpa banyak basa-basi lagi.
“Apa
ada sesuatu?” lanjutnya kemudian.
“Ah,
tidak!” tepis Arjuna dengan cepat.
“Tadi
hanya ada kucing hitam yang menyebrang secara mendadak,” jelasnya secara
singkat.
“Hampir
saja tertabrak olehku!” tukasnya di akhir kalimat.
Mendengar
penjelasan dari pria itu, Agatha lantas segera mengerutkan dahinya. Otaknya
menolak untuk percaya. Bukannya paham, ia malah dibuat jadi semakin kebingungan
dengan penjelasan dari pria itu barusan.
“Kucing?”
“Di
tengah jalan seperti ini?”
Rasanya
penjelasan Arjuna barusan sama sekali tidak masuk akal baginya. Bagaimana bisa
ada seekor kucing liar di tempat seperti ini. Mereka tengah berada di tengah
hiruk-pikuk perkotaan. Sangat padat. Jarang ada kucing tanpa tuan yang
berkeliaran di daerah sekitar sini. Pasalnya, selalul ada pasukan khusus yang
bertugas untuk menertibkan mereka. Kucing-kucing liar itu nantinya akan dibawa
ke tempat penampungan hewan.
benar saja. Mana ada kucing yang berkeliaran di sekitar sini. Kalau pun ada,
dia pasti berhasil lolos dari kejaran para petugas kemarin. Beruntung sekali.
Bukan hanya itu saja. Memangnya kucing mana yang berani menyebrang dengan kondisi
jalanan yang terbilang cukup ramai. Selain itu jalanannya juga tergolong lebar.
Butuh waktu yang tidak sebentar baginya untuk sampai ke ujung jalan.
Tapi,
kembali lagi kepada konsep awalnya. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk
terjadi di dunia ini. Hal tersebut mungkin saja terjadi jika sang kucing memang
memiliki nyali yang berlebih.
“Mari
kita lanjutkan perjalanannya,” ujar Agatha.
Gadis
itu berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka. Yang kemudian ikut
diangguki oleh Arjuna. Pada akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalannnya.
Kali ini Arjuna mengemudi dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah. Ia memang
sengaja menurunkan kecepatannya. Untuk berjaga-jaga, jika ada sesuatu di luar
perkiraan yang terjadi beberapa waktu kemudian.
Meski
kejadian itu sudah berlalu, tetap saja Arjuna masih risau. Rasa itu tergambar
dengan jelasa di wajahnya. Sampai-sampai ia tidak fokus dalam menyetir.
“Kau
sungguh tak apa?” tanya Agatha untuk memastikan.
“Aku
baik-baik saja,” jawab Arjuna dengan yakin.
Tapi, di sisi lain ia tidak pernah
benar-benar yakin dengan jawaban dari pria itu. Agatha tahu jelas jika kondisi
Arjuna saat ini sama sekali tidak sesuai dengan perkataannya barusan. Secara
tidak langsung, hal tersebut berhasil membuat Agatha ikut cemas.
“Mau bertukar tempat?” tanya Agatha
sekali lagi.
“Biar aku saja yang menyetir,”
tawarnya kemudian.
“Tidak perlu, aku bisa melakukannya
sendiri,” tolak pria itu dengan mentah-mentah.
Sebenarnya Agatha sama sekali tidak
mempermasalahkan soal jawabannya barusan. Hanya saja ia khawatir tentang
keselamatan mereka. Kecil kemungkinan perjalanan ini akan aman sampai ke
tujuan, jika Arjuna masih tidak bisa fokus. Padahal Arjuna tahu persis betapa pentingnya konsentrasi pada saat mengemudi seperti ini.