The Riot

The Riot
Black Cat



Bukannya


langsung menjawab pertanyaan dari gadis itu barusan, Arjuna malah melamun.


Lebih tepatnya ia masih tercengang. Seolah tidak bisa mempercayai isi kepalanya


sendiri.


“Hei!”


sahut Agatha sembari menyenggol tubuh pria itu dengan sengaja.


Satu


detik setelahnya kesadaran Arjuna kembali. Ia terkesiap begitu Agatha berusaha


untuk membuka obrolan dengannya.


“Ada


apa?” tanya Arjuna balik.


Sepertinya


sejak tadi ia tidak pernah benar-benar ada dalam keadaan fokus. Entah apa yang


dipikirkannya. Sepertinya nyawanya tidak pernah hadis secara utuh.


“Kenapa


mengerem mendadak?” tanya Agatha tanpa banyak basa-basi lagi.


“Apa


ada sesuatu?” lanjutnya kemudian.


“Ah,


tidak!” tepis Arjuna dengan cepat.


“Tadi


hanya ada kucing hitam yang menyebrang secara mendadak,” jelasnya secara


singkat.


“Hampir


saja tertabrak olehku!” tukasnya di akhir kalimat.


Mendengar


penjelasan dari pria itu, Agatha lantas segera mengerutkan dahinya. Otaknya


menolak untuk percaya. Bukannya paham, ia malah dibuat jadi semakin kebingungan


dengan penjelasan dari pria itu barusan.


“Kucing?”


“Di


tengah jalan seperti ini?”


Rasanya


penjelasan Arjuna barusan sama sekali tidak masuk akal baginya. Bagaimana bisa


ada seekor kucing liar di tempat seperti ini. Mereka tengah berada di tengah


hiruk-pikuk perkotaan. Sangat padat. Jarang ada kucing tanpa tuan yang


berkeliaran di daerah sekitar sini. Pasalnya, selalul ada pasukan khusus yang


bertugas untuk menertibkan mereka. Kucing-kucing liar itu nantinya akan dibawa


ke tempat penampungan hewan.


benar saja. Mana ada kucing yang berkeliaran di sekitar sini. Kalau pun ada,


dia pasti berhasil lolos dari kejaran para petugas kemarin. Beruntung sekali.


Bukan hanya itu saja. Memangnya kucing mana yang berani menyebrang dengan kondisi


jalanan yang terbilang cukup ramai. Selain itu jalanannya juga tergolong lebar.


Butuh waktu yang tidak sebentar baginya untuk sampai ke ujung jalan.


Tapi,


kembali lagi kepada konsep awalnya. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk


terjadi di dunia ini. Hal tersebut mungkin saja terjadi jika sang kucing memang


memiliki nyali yang berlebih.


“Mari


kita lanjutkan perjalanannya,” ujar Agatha.


Gadis


itu berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka. Yang kemudian ikut


diangguki oleh Arjuna. Pada akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalannnya.


Kali ini Arjuna mengemudi dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah. Ia memang


sengaja menurunkan kecepatannya. Untuk berjaga-jaga, jika ada sesuatu di luar


perkiraan yang terjadi beberapa waktu kemudian.


Meski


kejadian itu sudah berlalu, tetap saja Arjuna masih risau. Rasa itu tergambar


dengan jelasa di wajahnya. Sampai-sampai ia tidak fokus dalam menyetir.


“Kau


sungguh tak apa?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Aku


baik-baik saja,” jawab Arjuna dengan yakin.


Tapi, di sisi lain ia tidak pernah


benar-benar yakin dengan jawaban dari pria itu. Agatha tahu jelas jika kondisi


Arjuna saat ini sama sekali tidak sesuai dengan perkataannya barusan. Secara


tidak langsung, hal tersebut berhasil membuat Agatha ikut cemas.


“Mau bertukar tempat?” tanya Agatha


sekali lagi.


“Biar aku saja yang menyetir,”


tawarnya kemudian.


“Tidak perlu, aku bisa melakukannya


sendiri,” tolak pria itu dengan mentah-mentah.


Sebenarnya Agatha sama sekali tidak


mempermasalahkan soal jawabannya barusan. Hanya saja ia khawatir tentang


keselamatan mereka. Kecil kemungkinan perjalanan ini akan aman sampai ke


tujuan, jika Arjuna masih tidak bisa fokus. Padahal Arjuna tahu persis betapa pentingnya konsentrasi pada saat mengemudi seperti ini.