The Riot

The Riot
Playing Victim



Begitu sampai di markas


utama, seluruh mata langsung tertuju kepada gadis ini. Tidak, bukan tatapan normal


seperti biasanya. Jauh dari kata normal. Sorot mata yang sulit untuk dijelaskan


apa maknanya, namun memiliki kesan mengintimidasi yang cukup kuat.


“Kenapa kalian


menatapku seperti itu?” tanya Agatha dengan hati-hati sambil menutup pintu.


“Jadi, ini orang yang


berani berkhianat  kepada kita?” ujar


salah satu dari merek.


Tunggu dulu. Berkhianat?


Berkhianat bagaimana maksudnya. Agatha sama sekali tidak bisa mengerti apa pun


sejak tadi. Entah memang mereka yang terlalu berlebihan, atau malah Agatha yang


berjalan sedikit lebih lambat dari orang-orang di sekitarnya.


Siapa pun itu, tolong


berikan Agatha penjelasan tentang apa yang sedang terjadi sekarang ini. Tampaknya


hanya gadis itu saja satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa di sini. Apakah


adil begitu.


“Tidak usah


berpura-pura bodoh. Kami tahu kalau kau memiliki niat buruk untuk datang


kemari,” ujar Immanuel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Agatha mengerutkan


dahinya. Kedua alisnya tampak bersatu karena hal tersebut. Ia tidak tahu harus


bereaksi bagaimana lagi sekarang.


“Langsung ke intinya saja!”


ucap Agatha.


Immanuel tampak


menghela napas dengan kasar. Kemudian membenarkan posisi duduknya sebelum mulai


bicara lagi.


“Sebaiknya kau jujur


saja. Kau ini mata-mata, bukan?” tanya pria itu langsung kepada intinya.


Agatha terkesiap


mendengar pertanyaan tersebut. Namun, ia akan tetap berusaha untuk bersikap


tenang. Kau tidak akan bisa memikirkan jalan keluarnya jika tidak tenang.


“Hahaha! Mata-mata apa


maksud kalian?” tanya gadis itu sambil tertawa konyol.


“Tidak usah mengelak


lagi,” kata Zean.


“Mana ada pencuri yang


mau mengaku secara sukarela,” timpal Fadli.


Memang benar kalau


Agatha datang kemari sebagai mata-mata kepolisian. Tapi, jika tertangkap


seperti ini jangan harap kalau ia akan langsung mengaku. Mereka tidak pernah


diajarkan untuk berbuat sepeti itu. Selama masih bisa dipertahankan, kenapa


tidak berusaha saja. Bukankah berusaha jauh lebih baik daripada menyerah.


“Baiklah, kalau kalian


memang beranggapan seperti itu,” ujar Agatha sambil mengangguk pelan.


“Memangnya kalian punya


bukti apa? Sampai-sampai berani menuduhku yang tidak-tidak,” imbuhnya.


Semua orang yang


sebelumnya menyerang gadis ini habis-habisan, mendadak langsung bungkam. Mereka


mati kutu. Bahkan termasuk Immanuel sekali pun. Agatha yakin kalau pria itu


adalah sumber dari semua masalah ini. Pasti ia yang mengkompor-kompori semua


anggota sehingga berbalik menyerangnya.


“Bukankah kau sering


mengorek-ngorek informasi dariku soal geng kita ini?” tanya Zean. Pria itu pada


akhirnya memutuskan untuk buka suara.


“Apa kalian sungguh


berpikiran seperti itu?” tanya Agatha balik.


Sungguh dangkal sekali


pola pikir mereka jika memang benar orang-orang seperti itu berpikiran


demikian. Tidak bisakah mereka memilih alasan yang jauh lebih realistis dan


masuk akal lagi.


“Apa salah jika aku


bertanya? Padahal aku salah satu dari kalian juga. Posisi kita sama, tapi


bahkan hak yang kita dapatkan tidak sama,” jelas gadis itu di awal.


Baiklah kalau mereka


memang ingin cari gara-gara dengannya. Agatha akan melayani mereka. Walaupun sebenarnya


tidak terlalu penting dan hanya membuang sisa tenanganya saja. Atau


jangan-jangan mereka memang sengaja ingin menguji sampai mana batas kesabaran


“Sekarang coba pikirkan


saja. Kalian membatasi informasi kepadaku. Padahal aku sama berhaknya dengan


kalian untuk menerima informasis tersebut. Kalian membuatku seperti orang asing


di sini. Jadi, sebenarnya kita ini satu tim atau tidak?” jelas Agatha, kemudian


diiringi dengan satu pertanyaan di akhir kalimat.


“Aku jadi meragukan


tentang rasa solidaritas dan kesetiakawanan yang katanya kalian miliki,” imbuh


gadis itu setelahnya.


Lagi-lagi semua orang


bungkam dan tidak bisa berkata-kata. Mereka mati kutu dibuat Agatha. Untuk yang


pertama kalinya seorang Immanuel dibuat tidak bisa berkutik sama sekali. Memangnya


siapa lagi jika bukan Agatha yang melakukannya.


“Jadi kalau memang


belum memiliki bukti, aku sarankan untuk mengumpulkannya lebih dulu,” kata


Agatha secara gamblang.


“Baru setelahnya kalian


bisa menuduhku!” tukas Agatha.


Sepertinya sudah tidak


ada hal penting yang perlu ia lakukan lagi di sini. Semua orang tampak duduk


santai di ruang tengah sambil menginterogasinya. Itu berarti jika tugas untuk


hari ini sudah selesai. Tanpa berpamitan sama sekali, gadis itu pergi keluar


dari sana. Suasana hatinya sudah terlalu buruk untuk tetap berada lebih lama


lagi di markas. Tadinya ia sempat ingin meminta maaf kepada Zean atas semua


kesalahan yang membuatnya sampai merasa tak nyaman seperti ini. Tapi, setelah


dipikir-pikir lagi sepertinya tidak perlu sama sekali. Agatha mengurungkan niat


baiknya yang tadi itu dengan begitu saja.


“Bisa-bisanya mereka


menuduhku seperti itu!” gerutu Agatha tak terima.


Tapi beruntunglah


mereka belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk menuduhnya. Sejauh ini


statusnya masih sebagai tersangka, dan belum ditetapkan sebagai pelaku karena


kekurangan bukti. Hari ini ia berhasil selamat.


“Aku harus lebih


berhati-hati lagi untuk ke depannya,” batin gadis itu di dalam hati sambil


tetap melangkah maju.


Tidak, Agatha tidak


boleh ketahuan sebelum misinya selesai. Sekarang nasib misi ini dan nasibnya


berada di tangannya sendiri. Hanya Agatha yang tahu. Berhasil atau tidaknya


sebagian besar berada di bawah kendali gadis itu. Hanya dia yang bisa


memastikan. Sementara semesta mengambil alih sisanya.


***


Setelah dari markas, ia


meminta Arjuna untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Mereka akan


bertemu di sana nanti. Bukan sebagai rekan kerja, melainkan sebagai orang


asing. Agatha akan memberikan flashdisknya kepada pria itu begitu sampai di


sana nanti.


Rasanya terlalu


beresiko untuk saat ini jika ia harus bertemu dengan Arjuna di café atau di


tempat lain dan menjalin komunikasi singkat. Kemungkinan besar akan ada salah


satu anak buah yang mengikutinya sampai kemari untuk memastikan.


“Aku sudah berada di


depan toko kue yang kumaksud tadi,” kata Agatha.


“Baiklah, aku sudah


berada di parkiran. Sebentar lagi aku naik,” balas Arjuna.


Mereka akan saling


berpapasan. Kemudian berpura-pura untuk tidak saling kenal. Di tengah-tengah


keramaian itulah Agatha akan memberikan benda tersebut. Harusnya ini bisa


terjadi dalam satu kali percobaan. Di saat tangan Agatha dan tangan pria itu


bertemu untuk saling bertukar. Tidak aka nada yang menyadarinya. Apalagi dalam


keramaian. Orang-orang di sekitarnya tidak akan terlalu peduli. Mungkin sebagian


besar orang juga akan menganggap mereka sebagai sepasang orang asing yang tidak


sengaja berselisihan seperti yang lainnya.


Meski


belum tentu ada anak buah yang mengikutinya sampai kemari, tapi tetap saja


gadis itu harus berhati-hati. Keamanannya mulai terancam. Beberapa saat lalu


semua orang sudah merasa curiga. Beruntung Agatha pandai dalam membela diri. Berani


juga termasuk ke dalam penilaian tentu saja.