The Riot

The Riot
Lies?



Sebenarnya Narendra tidak


sepenuhnya percaya dengan perkataan wanita itu tadi. Mengingat tidak ada bukti


apa-apa. Bisa saja dia sedang berbohong. Tapi, tidak ada salahnya juga untuk


mempertimbangkan asumsi tersebut. Seperti kebanyakan orang pada umumnya, anak


dan ibu tiri tidak pernah akur. Meski statusnya di dalam keluarga sebagai ibu


dan anak, tapi pada dasarnya tetap saja mereka tidak memiliki hubungan darah


sama sekali. Tidak semua orang seperti itu, hanya pada umumnya saja.


“Apa aku harus mencari


tahu soal yang satu itu?” gumam Narendra.


Liora baru saja


tertidur setelah selesai makan siang tadi. Tampaknya obat yang diresepkan


kepadanya memiliki efek samping berupa rasa kantuk. Sehingga ia kerap merasa masih


mengantuk meski telah tidur selama berhari-hari. Pasti hal tersebut dimaksudkan


agar Liora tidak terlalu banyak bergerak dan menghabiskan waktunya untuk


beristirahat.


Sekarang pria itu baru


bisa pergi. Lagi pula tampaknya Liora sudah tertidur pulas. Sulit baginya untuk


terbangun hanya karena kebisingan kecil yang tidak terlalu mengusik. Pria itu


memutuskan untuk pergi menemui Agatha ke ruangan lain. Sejak awal dia memang


sudah berniat untuk mengunjungi mereka berdua secara bergantian.


Dengan begitu hari-hati


Narendra meninggalkan ruangan tersebut. Dia tidak ingin membuat keributan dalam


bentuk apa pun. Lebih tepatnya ia tak mau kalau sampai Liora harus terbangun


kembali. Pasalnya sekarang bukan waktu yang tepat.


Karena jarak antara


ruangan Lioran dengan Agatha terpisah dua lantai, jadi mau tak mau pria itu


terpaksa harus pergi ke atas dengan menggunakan lift. Untuk memudahkan akses


dan mobilitas setiap orang, pihak rumah sakit telah menyediakan baik itu tangga


maupun lift.


“Permisi!” sahut


Narendra yang berdiri di ambang pintu.


Pria itu tampak sedang


kebingungan saat tidak mendapati anaknya di dalam ruangan tersebut. Hanya ada seorang


perawat yang sedang membereskan segala peralatan medis di sana. Tidak ada


Agatha di dalam. Padahal Narendra yakin jika ia tidak salah ruangan. Ini bukan


pertama kalinya pria itu berkunjung kemari. Narendra sangat yakin kalau anak


itu sungguh dirawat di sini sebelumnya. Meski sudah tidak muda lagi, tapi


jangan salah dulu. Ingatannya masih cukup segar. Ia bisa mengandalkan ingatan


jangka panjang maupun jangka pendeknya.


“Pasien yang sebelumnya


dirawat di sini kemana ya?” tanya Narendra dengan ramah.


“Kalau boleh tahu anda ada


hubungan apa dengan pasien?” tanya wanita itu balik.


“Saya ayahnya,” jawab


Narendra dengan cepat.


“Ayah kandungnya!”


tegas pria itu sekali lagi.


“Oh, kebetulan pasien


yang bernama Agaht baru saja pulang tadi siang,” jawab si perawat dengan apa


adanya.


“Ah, jadi begitu ya?


Terima kasih banyak!” balas Narendra kemudian berpamitan.


Tadinya ia berniat


untuk mencari tahu dengan siapa gadis itu pulang. Tapi, sepertinya percuma saja


jika bertanya dengan perawat itu. Belum tentu ia mengetahui semuanya.


Tanpa pikir panjang,


Narendra berniat untuk langsung menyusul gadis itu ke tempat tinggalnya. Yang setahunya


jika Agatha tinggal di gedung yang sama dengannya. Entah berapa nomer unitnya


dan berada di lantai berapa. Tapi, yang jelas mereka tinggal pada gedung yang


sama. Narendra sama sekali belum tahu kalau gadis itu sudah pindah ke tempat


tinggal yang baru. Begitu pula dengan Aaron. Kabarnya pria itu sedang berada di


dengan hari kepindahan Agatha dari apartmentnya. Jadi bisa disimpulkan jika


sekarang ini tidak ada yang tahu pasti kemana ia pergi, kecuali Jeff. Sebab,


pria itu telah terlibat langsung.


Narendra terpaksa


menghentikan laju kendaraannya karena jalanan tiba-tiba berubah jadi macet. Sepertinya


ia akan sampai sedikit terlambat dari yang sudah ia perkirakan sebelumnya.


Daripada membuang masa dengan termenung sambil menunggu laju lalu lintas


kembali normal, pria itu memutuskan untuk menghubungi Agatha. Tadinya ia


berniat untuk menanyakan nomer unit apartment gadis itu. Tapi, tidak ada


tanda-tanda jika Agatha akan menjawab panggilan darinya.


“Kemana anak itu?”


tanya Narendra sambil memandangi layar ponselnya dengan dahi berkerut.


Tidak bisa dipungkiri


jika ia merasa sedikit kesal karena Agatha tidak menjawab panggilan darinya.


Narendra paling tidak suka diabaikan seperti itu. Sikap temperamental yang ada


di dalam dirinya memang tidak bisa hilang sejak dulu. Sepertinya yang satu itu


sudah menjadi salah satu ciri khasnya.


“Mungkin dia sedang


istirahat,” kata Narendra.


Ia mencoba untuk


berpikir positif. Bisa saja jika Agatha tidak mendengar suara panggilan masuk


karena sedang tertidur. Bagaimanapun juga ia memang baru saja keluar dari rumah


sakit dan tetap butuh banyak istirahat. Narendra paham. Dia memaklumi hal yang


satu itu. Tapi, itupun kalau memang Agatha sedang istirahat. Padahal bisa saja


ia hanya mengelak. Sedang tidak ingin bicara dengan Narendra.


Pria itu sama sekali


tidak memusingkan hal tersebut. Daripada membebani pikirannya sendiri, ia jauh


lebih memilih untuk tetap pergi ke apartment. Tapi, ia tidak akan naik ke atas


dulu sampai Agatha menjawab teleponnya. Mungkin pria itu akan menghabiskan


waktunya untuk bersantai di basement sambil menikmati santapan makan siang.


***


Kalau boleh jujur,


sebenarnya Narendra masih tidak percaya jika gadis itu sungguh melakukan semua


hal tersebut kepada Liora. Memang dulunya ia sempat mengikuti les taekwondo


untuk beberapa tahun awal di sekolah dasar. Setelah itu tidak pernah lagi.


Tapi, meski sudah tidak menjadi salah satu anggota klub olahraga tersebut,


bukan berarti jika ia benar-benar berhenti dari taekwondo.


“Agatha bukan tipikal


orang yang akan menyerang orang lain jika ia tidak diserang lebih dulu,” ucap


Narendra kepada dirinya sendiri.


Meski ia terbilang


cukup dalam bela diri, Agatha tidak pernah menyalahgunakan kemampuannya yang


satu itu. Dia bukan anak yang berandalan. Gadis itu memang memiliki sedikit


sikap tempramen. Emosinya mudah terpancing. Tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Pasti


sikap tersebut diturunkan dari Narendra.


Walaupun sekarang


hubungan antara ayah dan anak ini dapat dikatakan sedang tidak baik-baik saja,


tapi dulunya mereka sempat dekat. Narendra tahu betul seperti apa anaknya yang


satu itu. Begitu pula dengan Agatha.


Kalaupun memang benar


Agatha yang menyerang Liora, ia masih tidak bisa percaya sepenuhnya. Otaknya akan


otomatis menolak untuk percaya. Agatha pasti memiliki alasan tersendiri kenapa


dia sampai menyerang wanita itu. Mustahil jika Agatha melakukannya tanpa


alasan.


“Sebenarnya siapa yang


salah di sini?!” celetuk Narendra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sejauh


ini Narendra masih bersikap netral. Dia tidak akan memihak kepada siapa pun


sampai buktinya jelas.