The Riot

The Riot
Run



“Agatha!” sahut seseorang dari dalam mobil.


Jika diperhatikan secara baik-baik, kelihatannya ia


tidak merasa asing dengan kendaraan yang satu itu. Iya, benar. Dugaannya tidak


salah lagi. Yang terparkir tepat di depan kantornya saat ini adalah mobil


Aaron. Mereka jadi lebih dekat sejak pria itu menumpang tinggal di rumahnya.


Anggap saja jika sekarang Aaron sudah termasuk ke dalam salah satu sahabat


gadis ini.


Mendengar namanya diserukan, Agatha lantas langsung


melambaikan tangannya ke arah sumber suara. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera


bergegas untuk menghampiri Aaron.


“Agatha!”


Gadis itu langsung menghentikan langkah kakinya


ketika mendengar suara lain. Tidak. Kali ini bukan berasal dari Aaron.


Melainkan dari arah yang berlawanan. Sebenarnya, gadis itu sudah memiliki satu


nama yang ia jadikan sebagai terduga. Untuk memastikan hal tersebut, Agatha


lantas berbalik dan menjumpai Arjuna berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka


hanya terpaut sekitar dua meter.


Ternyata dugaannya benar. Itu adalah Arjuna. Dari


awal pria itu buka suara saja, ia sudah tahu. Agatha memutar bola matanya


dengan malas. Mengacuhkan pria itu begitu saja. Tanpa basa-basi sama sekali, ia


langsung melanjutkan perjalanannya kembali. Mempercepat langkah kakinya.


“Kenapa tidak ke sana lebih dulu?” interupsi Aaron


begitu gadis itu sampai di dalam mobil.


“Tidak penting!” balasnya dengan ketus.


Tampaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk


membicarakan soal Arjuna. Belakangan ini suasana hatinya sedang tidak stabil.


Bahkan menyinggung pria itu saja bisa membuatnya jadi lebih sensitif. Perasaan


wanita memang sering berubah-ubah. Tidak bisa diprediksi.


“Ayo, jalan!” ajak Agatha yang kemudian ikut


diangguki oleh pria itu.


Satu detik setelahnya, Aaron langsung menyalakan


mesin mobilnya. Bersiap untuk pergi dari tempat ini. Tampaknya Agatha memang sudah


tidak ingin berada di sekitar sini untuk waktu yang lebih lama lagi. Namun


sebelum Aaron menggiring mobilnya ke jalan raya, gadis itu selalu menyempatkan


untuk mengeratkan sabuk pengamannya lebih dulu.


Sementara itu di sisi lain, Arjuna yang melihat jika


mobil yang ditumpangi oleh gadis itu akan segera pergi, tanpa pikir panjang ia


segera berlari ke mobilnya. Berniat untuk menyusul Agatha. Kali ini  gadis itu sudah kelewatan. Ia bahkan tidak


menghargai Arjuna lagi sebagai seniornya.


Entah kesalahan macam apa yang pernah diperbuat


olehnya kepada gadis itu, sampai-sampai ia terus berusaha untuk menghindari


Arjuna. Bahkan ia bersikap seolah mereka tidak saling mengenal lagi. Sungguh


tidak masuk akal. Perubahan sikapnya terlalu drastis dan sukses untuk membuat


orang-orang di sekitarnya kebingungan.


Berbeda halnya dengan Agatha yang tidak ingin ambil


pusing sama sekali. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi dengan pria itu. Terserah


ia mau melakukan apa. Selama hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan


dirinya sendiri, Agatha tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.


“Apa kau sedang bertengkar dengan rekan kerjamu yang


itu lagi?” tanya pria itu di tengah perjalanan.


“Siapa namanya?” lanjutnya kemudian.


“Arjuna,” jawab Agatha dengan malas.


“Nah, itu dia! Hampir saja aku lupa,” katanya.


Sepertinya Aaron masih tidak putus asa. Ia tidak


akan berhenti untuk mencari tahu sebelum mendapatkan  jawabannya.


“Kau bahkan sudah melupakannya,” gumam gadis itu


sambil berdecak sebal.


Berbanding terbalik dengan Aaron, gadis itu malah


bungkam. Ia tidak ingin bicara sedikit pun jika itu tentang Arjuna. Entah apa


masalahnya. Perselisihan tersebut muncul secara mendadak, tanpa ada yang tahu


apa faktor utamanya,


Untuk menyusul mobil yang ditumpangi oleh Agatha, ia


hanya ingin mengikuti gadis itu saja secara diam-diam.


“Sial! Apa yang dia lakukan?!” gerutu Agatha pelan.


“Ada apa?” tanya Aaron.


“Naikkan kecepatanmu!” titah gadis itu.


“Kita sedang diikuti oleh seseorang!” jelasnya


kemudian dengan penuh penekanan.


Aaron lantas melihat ke arah kaca spion untuk


memastikan hal tersebut benar atau tidak. Ternyata Agatha tidak sedang


berbohong. Mereka sungguh sedang diikuti. Baik Agatha maupun Aaron sama-sama


tahu. Mereka bukan orang yang bisa dibodohi dengan mudah. Keduanya tahu persis


bagaimana cara membedakan kendaraan yang benar searah dengan mereka dan mana


yang sedang menguntit secara diam-diam.


“Tapi, apa kau mengenal orang itu?” tanya Aaron


untuk memastikan satu hal lagi.


“Dia adalah orang yang sama dengan yang kau lihat


beberapa saat lalu,”jawab gadis itu dengan apa adanya.


Jika diperhatikan baik-baik sejak tadi, sepertinya


Agatha sungguh tidak ingin bertemu dengan pria itu. Mungkin mereka sedang


berselisih. Pasalnya sejak keluar dari kantor tadi, ia terus mengupayakan


segala cara untuk menghindar dari pria itu. Aaron tidak ingin mencari tahu


lebih jauh. Rasanya ia tidak pantas untuk terlalu mencampuri kehidupan orang


lain seperti ini.


Tanpa banyak bicara lagi, pria itu segera memenuhi


permintaan Agatha. Jangan pernah hiraukan pria ini jika soal berkendara. Dia nyaris


menguasai jalanan. Sejak masih muda sekali dirinya sudah terbiasa untuk hidup


liar di jalanan. Bersamaan dengan hiruk-pikuk perkotaan.


“Berpegangan lah yang erat. Aku akan meningkatkan


kecepatannya,” peringati pria itu.


Dan yang benar saja, ia langsung menaikkan


kecepatannya. Berkendara di jalanan yang tidak terlalu padat dengan kecepatan


penuh. Itu sama sekali bukan masalah baginya. Untuk kali ini Agatha bisa


mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada pria itu.


Aaron sengaja membawa kendaraannya ke jalanan yang


jauh lebih sepi. Kali ini mereka tidak kembali ke rumah dari jalan utama. Melainkan


daari beberapa gang kecil yang tersembunyi di balik gedung-gedung besar


pencakar langit. Sepertinya Aaron tahu banyak soal jalanan di kota ini. Yang


bahkan gadis itu saja tidak tahu apa-apa.


“Kita mau kemana?” tanya Agatha di tengah-tengah


perjalanan.


“Kembali ke rumah,” jawab pria itu secara gamblang.


Sepertinya Agatha masih memiliki sedikit kesulitan


untuk mencerna perkataan pria itu barusan. Terlihat dari raut wajahnya yang


kebingungan. Pandangannya mengedar ke segala penjuru. Mengamati sekelilingnya


dengan begitu hati-hati. Hingga pada akhirnya, mereka berhasil sampai di parkiran


apartment.


Agatha sama sekali tidak menyangka jika mereka akan


sampai ke tempat ini pada akhirnya. Barusan merkea telah melewati rute yang


tidak biasanya. Jadi, wajar saja jika gadis itu tidak tahu apa-apa. Tapi,


syukurlah. Berkat Aaron, ia jadi bisa sampai di rumah  jauh lebih cepat juga terhindar dari kejaran


Arjuna. Poin nomer dua adalah hal yang terpenting.


“Naiklah lebih dulu, aku akan memarkirkan mobil ini,”


ujar Aaron.


“Tidak, aku akan menunggumu saja!” tolak gadis itu


secara mentah-mentah.


“Baiklah,” serah Aaron.


Omong-omong, sekarang


mereka sudah tidak tinggal bersama lagi. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya


jika pria itu harus angkat kaki dari apartment Agatha selambat-lambatnya dalam


tujuh hari. Aaron sungguh melakukannya. Pria itu membeli sebuah unit apartment


di lantai yang sama dengan gadis itu. Jadi bisa dikatakan jika saat ini


keduanya sudah saling bertetanggan.