
Setelah panggilan
mereka berakhir, Agatha langsung memblokir nomer ponsel pria itu. Sehingga ia
tidak akan bisa menelepon Agatha lagi. Menurutnya pertemuan mereka selama ini
sudah cukup. Agatha sama sekali tidak menyalahkan Aaron. Pertemuan yang waktu
itu tidak disengaja kan? Lagi pula ia tidak bisa menolak takdir. Tapi,
sepertinya akan jauh lebih baik lagi jika mereka tidak pernah bertemu.
Agatha memiliki firasat
yang tidak baik. Hal buruk sepertinya akan terjadi jika ia masih tetap
berhubungan dengan pria itu. Ia tidak tahu pasti hal buruk macam apa yang akan
terjadi di masa depan. Entah itu benar terjadi atau tidak, tidak ada salahnya
untuk mulai waspada sejak sekarang.
‘TOK! TOK! TOK!’
Tidak lama setelah
Agatha mematikan ponselnya, tiba-tiba ada seseorang di balik pintu yang tampaknya
ada urusan dengannya. Orang tersebut terdengar beberapa kali mengetuk pintu
ruangan gadis itu. Tanpa pikir panjang, Agatha langsung menyuruhnya masuk dan
mengambil tempat duduk. Ternyata itu adalah Jeff. Tidak biasanya ia kemari.
“Ada apa?” interupsi
Agatha begitu pria itu duduk.
“Hari ini jadwal tim
tidak terlalu padat. Masih ada waktu sampai pukul dua siang nanti, selesai
makan siang,” ungkap Jeff.
“Lalu, memangnya kenapa
kalau jadwal tim kosong?” tanya Agatha sambil mengerutkan dahinya karena tak
paham.
“Memangnya kenapa?”
tanya Jeff balik.
Dia tidak benar-benar
bertanya. Lebih tepatnya meledek. Dan kemudian diakhiri dengan tertawa singkat
pada kata terakhirnya.
“Jadi kau akan pergi ke
rumah sakit untuk mengamankan pelaku atau tidak?” tanya Jeff.
“Jangan buang-buang
waktuku!” tegasnya sekali lagi.
Mendengar perkataan
tersebut, Agatha lantas menepuk dahinya pelan secara spontan. Sama sekali tidak
disengaja. Itu adalah gerakan refleks. Bagaimana bisa ia melupakan hal
tersebut. Seharusnya kemarin ia pergi bersama Jeff untuk mengamankan Liora
sebagai pelaku dari kasus percobaan pembunuhan. Statusnya sudah bukan lagi
sebagai tersangka. Melainkan sudah dikonfirmasi menjadi pelaku. Liora tidak
bisa mengelak, buktinya sudah cukup jelas.
“Apa kau lupa dengan
yang satu itu?” tanya Jeff lagi.
“Ya, hampir saja,”
jawab gadis itu dengan apa adanya.
“Bukankah kau memang
pelupa?” tanya pria itu balik sambil meledek.
Agatha ingin marah,
tapi hal tersebut memang benar. Dia tidak bisa menepis kenyataan yang satu itu.
Tidak ada pilihan lain. Kali ini Jeff menang. Ia berhasil membuat Agatha tak
bisa berkutik lagi.
“Kalau begitu
bersiaplah, aku akan menunggu di luar,” ucap Jeff kemudian beranjak dari tempat
duduknya.
Ternyata yang tadi itu
adalah bentuk salam berpamitan. Jeff memintanya untuk cepat. Mereka akan
bertemu lagi beberapa menit ke depan.
“Mau kemana?!” cegah
Arjuna yang lagi-lagi mendadak muncul entah dari mana.
“Ada urusan sebentar,”
kata Agatha secara gamblang.
“Urusan apa?” tanya
pria itu lagi.
Agatha lantas melirik
sekilas ke arah jam tangannya, kemudian berkata, “Aku harus pergi sekarang!
Nanti kita bicarakan lagi.”
Tanpa menunggu jawaban
dari pria itu, Agatha langsung pergi begitu saja. Sepertinya ia memang sengaja
ingin menghindari Arjuna karena satu atau dua alasan. Arjuna menyadari hal
tersebut. Sikap Agatha kepadanya berubah.
akan menghentikan gadis itu. Mungkin Agatha memang sedang ada urusan penting. Tidak
dapat dipungkiri, ia tampak buru-buru. Sekarang bukan waktu yang tepat. Tapi,
Arjuna akan memastikan kalau nanti ia harus memiliki kesempatan bicara dengan
gadis itu. Setidaknya untuk lima menit saja. Arjuna perlu menuntut penjelasan
dari Agatha. Dia tidak bisa terus-menerus membiarkan dirinya kebingungan
seperti ini.
“Ayo!” celetuk Agatha
begitu sampai.
Kali ini mereka hanya
berdua. Jadi tidak perlu menggunakan mobil. Cukup dengan sepeda motor saja.
Jauh lebih mempersingkat waktu perjalanan.
“Ini helmnya,” ujar Jeff
sambil menyodorkan benda tersebut.
***
Kebetulan sekali
kondisi jalanan kali ini sedang tidak terlalu ramai. Sehingga mereka bisa
sampai lebih cepat dari pada apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jeff
memarkirkan sepeda motornya di halaman utama bersama beberapa kendaraan lain
yang juga tampak berjejer di sana. Setelah kendaraan tersebut benar-benar
berhenti, Agatha segera turun dari sepeda motor.
“Ayo!” ajak Jeff yang
kemudian diangguki oleh lawan bicaranya.
Tanpa buang-buang waktu
lagi, mereka segera pergi ke bagian administrasi lebih dulu. Hanya untuk
memastikan apakah Liora sudah pulang atau malah masih dirawat di rumah sakit
tersebut. Dan ternyata ia masih berada di sana. Hanya saja ruangannya sudah
dipindahkan ke ruangan VIP. Dengan alasan keamanan, agar tidak sembarang orang
bisa masuk ke sana. Narendra tidak ingin hal serupa kembali terulang untuk yang
kedua kalinya. Yang ia maksud adalah kejadian dimana Agatha menyerang wanita
itu secara tidak sengaja.
Meski pada awalnya pria
itu berniat untuk bersikap adil dan tidak memihak kepada siapa pun, tapi pada
akhirnya ia tidak bisa menepati kata-katanya sendiri. Sekarang ia sudah berada
pada pihak yang sama dengan Liora. Anggap saja kalau mereka sedang bekerja sama
pada satu tim. Tapi tenang saja. Itu bukan masalah yang serius. Agatha bisa
mengatasinya dengan mudah.
“Apa kami bisa
mengunjunginya?” tanya Agatha kepada bagian administrasi.
“Maaf, tapi untuk
sementara waktu tidak ada yang bisa masuk ke dalam dan bertemu dengan Ibu Liora
kecuali Bapak Narendra,” jelas si petugas dengan ramah.
“Tapi aku adalah anak
kandung Narendra,” ungkap gadis itu.
“Maaf, kami tidak bisa
memberikan anda izin masuk ke sana!” pungkasnya dengan ramah.
Mendengar balasan
seperti itu, Agatha pun lantas menghela napasnya dengan kasar. Kenapa
orang-orang berubah jadi menyebalkan seperti ini. Sementara itu Jeff tidak diam
saja. Ia buru-buru menunjukkan surat perintah mereka dari kantor kepolisian.
“Sekarang apa kami
sudah bisa pergi ke sana?” tanya Jeff dengan nada datar.
“Ini kartu tanda
pengenal kami kalau kau masih kurang percaya!” timpal Agatha sambil menyodorkan
kartu pengenal.
Si petugas tersebut
kehabisan kata-kata. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Mati kutu lebih tepatnya.
“Tolong bersikap
kooperatif,” ujar Agatha.
“Apa kau sedang mencoba
untuk menghalang-halangi kami dalam proses penyelidikan?” sambungnya.
Lagi-lagi ia hanya bisa
terdiam.
“Kalau begitu mari ikut
saya,” ucap si petugas tersebut.
Sepertinya
ia tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga mereka tetap harus membantu
orang lain. Terutama jika itu berkaitan dengan hukum dan keadilan. Ia tidak
tahu apakah ini pilihan yang benar atau tidak. Namun, hanya satu yang ia tahu,
kalau itu adalah pilihan terbaiknya.