
Begitu sampai di rumah
sakit, kedatangan Agatha langsung disambut oleh beberapa petugas medis. Ia
dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Mungkin ia terlihat biasa saja, namun
memangnya siapa yang bisa memastikan.
Tak lama kemudian
setelah Agatha dibawa masuk, beberapa mobil ambulans datang. Mereka menepikan
kendaraannya tepat di depan pintu masuk UGD. Ternyaya itu adalah orang yang
sama dengan yang ia jumpai di kantor tadi. Hiraeth dan anak buahnya dibawa
kemari. Itu berarti mereka akan dirawat pada rumah sakit yang sama.
“Jadi mereka dibawa ke
sini juga?” tanya Jeff.
“Hanya ini rumah sakit
yang paling dekat jika ditempuh dari kantor kita,” jelas Arjuna yang kemudian
ikut diangguki oleh lawan bicaranya.
Sambil menunggu Agatha
selesai mendapatkan penanganan pertama, Arjuna dan Jeff memilih untuk tidak
kemana-mana. Mereka sama sekali tidak beranjak dari posisinya sekarang. Kedua
pria itu sedang duduk termanggu di lobi.
Satu-satunya harapan
mereka saat ini adalah agar Agatha baik-baik saja. Semoga tidak terjadi hal
yang serius kepadanya. Dugaan Agatha beberapa hari lalu tentang dirinya sendiri
sepertinya benar. Ia bahkan sudah menduga kalau dirinya akan berakhir di rumah
sakit pada akhirnya. Dan semesta sedang mewujudkan asumsinya sekarang ini.
***
Beruntung tidak ada
sesuatu yang serius terjadi kepadanya. Ia hanya terlalu kelelahan saja.
Sehingga tubuhnya merasa tidak sanggup lagi. Wajar kalau Agatha mendadak
pingsang. Bukankah sejak awal ia sudah mengeluh.
Sekarang gadis yang
bernama Agatha itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia akan mendapatkan
perawatan intensif selama beberapa hari ke depan. Tidak bisa dipastikan sampai
kapan. Yang jelas sampai kondisinya jauh lebih baik dari sekarang dan dokter
yang merawatnya sudah menyatakan kalau ia bisa pulang.
“Mau minum?” tawar
Arjuna.
“Tidak,” balas Agatha
sambil menggeleng lemah.
Untuk pertama kalinya
Jeff dan Arjuna melihat Agatha jadi tak berdaya. Padahal sebelumnya selama ini
ia tampak begitu semangat. Penuh dengan energi. Tapi, Agatha juga manusia
biasa. Dia juga bisa jatuh sakit kapan saja.
Sebenarnya Agatha tidak
sepenuhnya jatuh sakit karena kelelahan saja. Ada faktor lain yang juga
mempengaruhi. Hanya saja Arjuna dan Jeff memang sudah sepakat untuk tidak
memberi tahu gadis itu. Untuk saat ini tidak ada yang jauh lebih penting dari
pada kesehatan Agatha.
***
“Seseorang mencoba
untuk meracuninya,” kata dokter.
“Kemungkinan besar jika
perantaranya adalah makanan,” imbuhnya.
“Dosis racun yang
diberikan cukup untuk membuat orang tersebut tak sadarkan diri seketikan dan
terjebak dalam kondisi kritis. Tapi teman kalian bahkan tidak mendapatkan efek
samping yang terlalu berlebihan. Sepertinya tubuhnya sedikit berbeda. Ia tetap
tampak kuat meski sedang berada dalam kondisi seperti ini,” jelas pria itu
dengan panjang lebar.
“Jadi, bagaimana
kondisinya sekarang?” tanya Arjuna.
“Dia tidak apa-apa,”
ujar sang dokter.
“Entahlah, mungkin
tubuhnya memiliki penawar racun sendiri. Sampai ia bisa tetap baik-baik saja
seperti itu,” jelasnya di akhir.
Percakapan mereka di
ruangan sang dokter tadi terasa cukup meyakinkan. Agatha akan baik-baik saja.
Tidak perlu terlalu cemas. Hal tersebut berhasil dibuktikan dengan kondisi
terbarunya sekarang. Tepat setelah dipindahkan ke ruang perawatan, tak lama
setelahnya kesadaran gadis itu sudah kembali seutuhnya.
Tapi, masih ada satu
hal lagi yang membuat Arjuna tidak habis pikir. Siapa yang berani-beraninya meracuni
gadis itu. Baik Arjuna maupun Jeff sama sekali tidak memiliki satu orang yang
otaknya.
“Apa kau sungguh sekuat
itu?” gumam Arjuna di dalam hatinya.
Semua orang benar-benar
merasa kagum dengannya. Tidak ada yang menyangka jika ia akan bertahan. Kalau Arjuna
berada di posisinya saat ini, belum tentu ia akan selamat.
“Agatha!” sahut Arjuna
yang kembali membuka topik lebih dulu.
Sosok yang dimaksud
sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke
arah pria itu.
“Apa yang kau rasakan
sebelum pingsan tadi?” tanya Arjuna dengan hati-hati.
“Hanya pusing saja.
Lalu mendadak pandanganku jadi menghitam dan setelahnya semua itu terjadi,”
jelas Agatha.
“Saat sedang membidik
Hiraeth dan anak buahnya apa kau sungguh tidak merasakan apa pun?” tanya pria
itu lagi untuk memastikan.
“Tidak sama sekali,”
jawab Agatha dengan apa adanya.
“Memangnya kenapa?”
tanya gadis itu balik.
“Tidak apa-apa,” balas
Arjuna.
Sungguh tidak masuk
akal. Padahal setelah selesai makan mereka tidak langsung pulang. Melainkan duduk
sebentar di sana sambil melanjutkan obrolan yang berlum sempat di selesaikan
tadi. Setelahnya Agatha juga pergi ke markas utama dan berkeliling sebentar. Kegiatan
terakhir yang ia lakukan adalah menjadi sniper sukarela demi menyelamatkan
rekan-rekan kerjanya.
Jika ditotalkan, maka
semua kegiatan itu telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Menurut
penuturan dokter, seharusnya racun itu akan langsung bekerja sesaat setelah
masuk ke dalam tubuh. Baik dengan cara dikonsumsi atau disuntik. Tapi, Agatha
bahkan kelihatan baik-baik saja. Dia tidak merasakan reaksi spontan. Dan yang
terpenting, racun tersebut seperti tidak berarti apa-apa baginya. Sepertinya benar
apa kata dokter itu tadi, jika Agatha memiliki penawar racun sendiri di dalam
tubuhnya.
“Setelah in kalau kau
merasa ada sesuatu yang aneh segera katakan saja,” pesan Jeff.
“Baiklah, aku tahu itu,”
balasnya sambil mengangguk pelan.
Agatha terlalu sering
bersikap tenang. Sampai-sampai pada saat genting seperti ini pun ia masih tetap
tenang. Padahal di dalam hati semua orang sudah was-was. Takut sampai terjadi
hal yang tidak diinginkan kepada gadis ini.
Meskipun sekarang ini
ia tinggal sendirian tanpa satu pun anggota keluarga yang bersamanya, tapi
Agatha cukup beruntung. Ia dikelilingi oleh orang-orang baik yang peduli
dengannya. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Beberapa di
antaranya memang berniat baik. Namun tidak sedikit juga yang hanya berpura-pura
baik.
Sekarang ini semuanya
memang belum terungkap dengan jelas. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu
pasti akan terlihat. Bukankah pada akhirnya hanya mereka yang benar yang menang.
Kebenaran selelu menempati posisi tertinggi di dunia ini. Walaupun beberapa
mencoba untuk mengubah takdir.
“Kalau begitu sekarang
kau istirahat saja!” perintah Arjuna.
“Tidak perlu memikirkan
apa pun,” imbuhnya.
Sekarang adalah saatnya
bagi Arjuna untuk membalas budi. Beberapa waktu lalu pada saat dirinya
mengalami musibah, memangnya siapa lagi yang menjaganya sampai larut malam di
rumah sakit kalau bukan Agatha.
Tidak
ada salahnya kalau Arjuna melakukan hal serupa sekarang. Lagi pula itu temannya
sendiri. Mana mungkin pria itu perhitungan terhadap temannya sendiri. Ya,
teman. Arjuna memang hanya menganggap gadis itu sebagai teman baiknya saja.