The Riot

The Riot
Hospital 2



Begitu sampai di rumah


sakit, kedatangan Agatha langsung disambut oleh beberapa petugas medis. Ia


dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Mungkin ia terlihat biasa saja, namun


memangnya siapa yang bisa memastikan.


Tak lama kemudian


setelah Agatha dibawa masuk, beberapa mobil ambulans datang. Mereka menepikan


kendaraannya tepat di depan pintu masuk UGD. Ternyaya itu adalah orang yang


sama dengan yang ia jumpai di kantor tadi. Hiraeth dan anak buahnya dibawa


kemari. Itu berarti mereka akan dirawat pada rumah sakit yang sama.


“Jadi mereka dibawa ke


sini juga?” tanya Jeff.


“Hanya ini rumah sakit


yang paling dekat jika ditempuh dari kantor kita,” jelas Arjuna yang kemudian


ikut diangguki oleh lawan bicaranya.


Sambil menunggu Agatha


selesai mendapatkan penanganan pertama, Arjuna dan Jeff memilih untuk tidak


kemana-mana. Mereka sama sekali tidak beranjak dari posisinya sekarang. Kedua


pria itu sedang duduk termanggu di lobi.


Satu-satunya harapan


mereka saat ini adalah agar Agatha baik-baik saja. Semoga tidak terjadi hal


yang serius kepadanya. Dugaan Agatha beberapa hari lalu tentang dirinya sendiri


sepertinya benar. Ia bahkan sudah menduga kalau dirinya akan berakhir di rumah


sakit pada akhirnya. Dan semesta sedang mewujudkan asumsinya sekarang ini.


***


Beruntung tidak ada


sesuatu yang serius terjadi kepadanya. Ia hanya terlalu kelelahan saja.


Sehingga tubuhnya merasa tidak sanggup lagi. Wajar kalau Agatha mendadak


pingsang. Bukankah sejak awal ia sudah mengeluh.


Sekarang gadis yang


bernama Agatha itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia akan mendapatkan


perawatan intensif selama beberapa hari ke depan. Tidak bisa dipastikan sampai


kapan. Yang jelas sampai kondisinya jauh lebih baik dari sekarang dan dokter


yang merawatnya sudah menyatakan kalau ia bisa pulang.


“Mau minum?” tawar


Arjuna.


“Tidak,” balas Agatha


sambil menggeleng lemah.


Untuk pertama kalinya


Jeff dan Arjuna melihat Agatha jadi tak berdaya. Padahal sebelumnya selama ini


ia tampak begitu semangat. Penuh dengan energi. Tapi, Agatha juga manusia


biasa. Dia juga bisa jatuh sakit kapan saja.


Sebenarnya Agatha tidak


sepenuhnya jatuh sakit karena kelelahan saja. Ada faktor lain yang juga


mempengaruhi. Hanya saja Arjuna dan Jeff memang sudah sepakat untuk tidak


memberi tahu gadis itu. Untuk saat ini tidak ada yang jauh lebih penting dari


pada kesehatan Agatha.


***


“Seseorang mencoba


untuk meracuninya,” kata dokter.


“Kemungkinan besar jika


perantaranya adalah makanan,” imbuhnya.


“Dosis racun yang


diberikan cukup untuk membuat orang tersebut tak sadarkan diri seketikan dan


terjebak dalam kondisi kritis. Tapi teman kalian bahkan tidak mendapatkan efek


samping yang terlalu berlebihan. Sepertinya tubuhnya sedikit berbeda. Ia tetap


tampak kuat meski sedang berada dalam kondisi seperti ini,” jelas pria itu


dengan panjang lebar.


“Jadi, bagaimana


kondisinya sekarang?” tanya Arjuna.


“Dia tidak apa-apa,”


ujar sang dokter.


“Entahlah, mungkin


tubuhnya memiliki penawar racun sendiri. Sampai ia bisa tetap baik-baik saja


seperti itu,” jelasnya di akhir.


Percakapan mereka di


ruangan sang dokter tadi terasa cukup meyakinkan. Agatha akan baik-baik saja.


Tidak perlu terlalu cemas. Hal tersebut berhasil dibuktikan dengan kondisi


terbarunya sekarang. Tepat setelah dipindahkan ke ruang perawatan, tak lama


setelahnya kesadaran gadis itu sudah kembali seutuhnya.


Tapi, masih ada satu


hal lagi yang membuat Arjuna tidak habis pikir. Siapa yang berani-beraninya meracuni


gadis itu. Baik Arjuna maupun Jeff sama sekali tidak memiliki satu orang yang


otaknya.


“Apa kau sungguh sekuat


itu?” gumam Arjuna di dalam hatinya.


Semua orang benar-benar


merasa kagum dengannya. Tidak ada yang menyangka jika ia akan bertahan. Kalau Arjuna


berada di posisinya saat ini, belum tentu ia akan selamat.


“Agatha!” sahut Arjuna


yang kembali membuka topik lebih dulu.


Sosok yang dimaksud


sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke


arah pria itu.


“Apa yang kau rasakan


sebelum pingsan tadi?” tanya Arjuna dengan hati-hati.


“Hanya pusing saja.


Lalu mendadak pandanganku jadi menghitam dan setelahnya semua itu terjadi,”


jelas Agatha.


“Saat sedang membidik


Hiraeth dan anak buahnya apa kau sungguh tidak merasakan apa pun?” tanya pria


itu lagi untuk memastikan.


“Tidak sama sekali,”


jawab Agatha dengan apa adanya.


“Memangnya kenapa?”


tanya gadis itu balik.


“Tidak apa-apa,” balas


Arjuna.


Sungguh tidak masuk


akal. Padahal setelah selesai makan mereka tidak langsung pulang. Melainkan duduk


sebentar di sana sambil melanjutkan obrolan yang berlum sempat di selesaikan


tadi. Setelahnya Agatha juga pergi ke markas utama dan berkeliling sebentar. Kegiatan


terakhir yang ia lakukan adalah menjadi sniper sukarela demi menyelamatkan


rekan-rekan kerjanya.


Jika ditotalkan, maka


semua kegiatan itu telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Menurut


penuturan dokter, seharusnya racun itu akan langsung bekerja sesaat setelah


masuk ke dalam tubuh. Baik dengan cara dikonsumsi atau disuntik. Tapi, Agatha


bahkan kelihatan baik-baik saja. Dia tidak merasakan reaksi spontan. Dan yang


terpenting, racun tersebut seperti tidak berarti apa-apa baginya. Sepertinya benar


apa kata dokter itu tadi, jika Agatha memiliki penawar racun sendiri di dalam


tubuhnya.


“Setelah in kalau kau


merasa ada sesuatu yang aneh segera katakan saja,” pesan Jeff.


“Baiklah, aku tahu itu,”


balasnya sambil mengangguk pelan.


Agatha terlalu sering


bersikap tenang. Sampai-sampai pada saat genting seperti ini pun ia masih tetap


tenang. Padahal di dalam hati semua orang sudah was-was. Takut sampai terjadi


hal yang tidak diinginkan kepada gadis ini.


Meskipun sekarang ini


ia tinggal sendirian tanpa satu pun anggota keluarga yang bersamanya, tapi


Agatha cukup beruntung. Ia dikelilingi oleh orang-orang baik yang peduli


dengannya. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Beberapa di


antaranya memang berniat baik. Namun tidak sedikit juga yang hanya berpura-pura


baik.


Sekarang ini semuanya


memang belum terungkap dengan jelas. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu


pasti akan terlihat. Bukankah pada akhirnya hanya mereka yang benar yang menang.


Kebenaran selelu menempati posisi tertinggi di dunia ini. Walaupun beberapa


mencoba untuk mengubah takdir.


“Kalau begitu sekarang


kau istirahat saja!” perintah Arjuna.


“Tidak perlu memikirkan


apa pun,” imbuhnya.


Sekarang adalah saatnya


bagi Arjuna untuk membalas budi. Beberapa waktu lalu pada saat dirinya


mengalami musibah, memangnya siapa lagi yang menjaganya sampai larut malam di


rumah sakit kalau bukan Agatha.


Tidak


ada salahnya kalau Arjuna melakukan hal serupa sekarang. Lagi pula itu temannya


sendiri. Mana mungkin pria itu perhitungan terhadap temannya sendiri. Ya,


teman. Arjuna memang hanya menganggap gadis itu sebagai teman baiknya saja.