
Setidaknya kali ini dia
tidak sendirian bersama pria itu. Kalau pun terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan, tidak akan terlalu fatal. Tepat setelah pintu lift terbuka, Agatha
langsung melangkah keluar. Ini adalah lantai tujuannya. Hanya Agatha dan pria
itu saja yang turun. Sementara sisanya kembali melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan lift.
Gadis itu berjalan
lebih dulu. Meninggalkan si pria aneh itu di belakangnya. Agatha terus
melangkah maju dan mempercepat langkahnya. Pada saat yang bersamaan pula pria
itu mempercepat langkahnya juga. Bisa dipastikan jika ia sedang membuntuti
gadis ini. Ternyata rasa curiga Agatha selama ini benar.
Tanpa pikit panjang
lagi, gadis itu segera berlari. Dan yang benar saja, pria itu juga ikut
berlari. Suara langkah kaki mereka tampak saling beradu di sini. Terdengar
nyaring di sepanjang koridor. Namun, mendadak Agatha menghentikan langkah
kakinya. Sehingga tubuh pria itu menabrak badang Agatha.
Refleks gadis itu
membalikkan badannya dan mendapati seorang pria yang terjatuh ke lantai karena
kehilangan keseimbangan. Agatha mengulurkan salah satu tangannya. Tidak, dia
sama sekali tidak bermaksud untuk menolong pria itu. Melainkan Agatha menarik
kerah baju pria itu sampai ia berdiri. Kurang lebih sama saja dengan menolong
tapi secara kasar.
“Apa yang kau
lakukan?!” bentak Agatha.
Jangan pikir jika gadis
itu akan merasa takut karena tubuhnya jauh lebih besar daripada dia. Percuma
jika kau memiliki banyak tenaga, tapi tidak memiliki otak. Bekerja dengan otak
jauh lebih berpengaruh daripada bekerja dengan otot.
Pandangan gadis itu
tertuju kepada earphone yang berada di salah satu sisi telinga pria itu. Pasti
ia menggunakannya sebagai alat komunikasi dengan rekan kerjanya. Ia pikir
Agatha tak tahu soal itu. Padahal hampir setiap hari ia melakukan hal serupa.
Mereka kurang lebih sama.
“Siapa yang menyuruhmu
memata-mataiku?” tanya Agatha dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih
santai daripada sebelumnya.
“Jadi kau sudah tahu
ya?” tanya pria itu balik.
Sebaiknya pria itu
tidak bermain-main dengannya sekarang. Mereka belum tahu saja seperti apa
seorang wanita jika sedang emosi.
Tanpa pikir panjang
lagi, Agatha segera menarik earphone tersebut dari lubang telinganya. Kemudian
berkata, “Aku tahu kalau kau di sana Immanuel. Jadi sebenarnya yang bertindak
sebagai mata-mata di sini siapa?”
Tanpa menunggu balasan
dari pria itu, Agatha langsung melempar benda mungil tersebut ke lantai. Tidak
hanya sampai di situ saja. Ia bahkan menginjak-injak earphone tersebut sampai hancur
dan tak berbentuk lagi. Ada satu hal yang perlu mereka ingat. Jangan pernah
membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Kecuali jika kau memang tidak
peduli lagi dengan dirimu sendiri.
Immanuel sudah beres.
Sekarang waktunya untuk menyelesaikan sampah yang berada di hadapannya. Mungkin
pria itu adalah manusia, tapi kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan
bagaimana seharusnya manusia bersikap. Hal tersebut membuat Agatha merasa ragu
apakah ia sungguh manusia atau bukan.
‘BUGH!’
Tanpa peringatan sama
sekali, Agatha langsung melayangkan pukulan di wajahnya. Sehingga tepat
menghantam rahang pria itu. Entah patah atau hanya sekedar retak, atau malah
tidak terjadi apa-apa. Agatha sama sekali tidak peduli. Yang jelas ia sudah
menyalurkan emosinya dengan cara yang paling tepat menurutnya.
Untuk yang kedua
koridor ini. Kalau pun rekaman kamera pengawasnya berhasil menangkap mereka,
tidak perlu cemas. Karena mau bagaimanapun juga, Agatha adalah korbannya di sini.
“Jangan pernah
menguntitku lagi! Mengerti?!” seru gadis itu kemudian menendang kaki pria itu.
Tendangannya tepat
mengenai tulang kering. Sehingga berhasil membuat pria itu meringis kesakitan
karenanya.
“Kalau begitu tunggu
apa lagi?! Kau masih tetap ingin di sini dan mendapatkan pelajaran tambahan
dariku?” tanya Agatha.
Spontan pria itu
menggeleng cepat. Lalu dengan langkah yang terburu-buru, ia berjalan menuju
lift. Tepat setelah pintu lift terbuka, sosoknya menghilang bersamaan dengan
bergeraknya benda tersebut.
“Dasar orang aneh!”
celetuk gadis itu.
Agatha sebenarnya tidak
tahu pasti yan tadi itu benar Immanuel atau bukan. Tapi, memangnya siapa lagi
orang yang mau melakukan semua itu kalau bukan Immanuel. Hanya dia satu-satunya
orang yang begitu yakin dan terobsesi kalau Agatha adalah mata-mata. Jadi
sekarang ini yang mata-mata itu sebenarnya Immanuel atau Agatha.
Gadis itu memijat
pelipisnya pelan. Cukup untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Sepertinya
ia harus melakukan ritual mandi air hangat lagi kali ini. Orang-orang bilang,
mandi air hangat akan membuat tubuhmu jadi jauh lebih rileks.
Sebelum masuk ke dalam
apartmentnya, Agatha mengedarkan pandangan ke sekitar. Bahkan sampai menjangkau
ke sudut terkecil sekali pun. Bukannya apa-apa. Tapi, Agatha hanya ingin
memastikan kalau tidak ada orang lain di sekitar sini. Terutama orang yang
memiliki niat tidak baik kepadanya. Setelah dirasa benar-benar aman dan tidak
ada yang mencurigakan, barulah ia masuk.
***
Entah besok ia harus
pergi ke markas lagi atau tidak. Setelah kejadian tadi, hubungan mereka pasti
jadi tidak baik-baik saja. Namun, jika Agatha tidak pergi ke sana maka itu
berarti jika ia tidak akan mendapatkan informasi apa pun. Sebenarnya kalau
boleh memilih, lebih baik dia tidak perlu pergi ke sana. Lagi pula gadis itu
sudah menaruh kamera pengawas di beberapa tempat. Baik itu di markas utama,
markas unit dan juga mobil van satu-satunya yang biasa mereka gunakan. Seharusnya
semua itu cukup untuk mengawasi pergerakan mereka selama dua puluh empat jam.
Sekarang teknologi yang canggih memang sengaja diciptakan untuk mempermudah
kehidupan manusia. Lantas kenapa harus repot-repot turun tangan lagi. Teknologi
akan mengerjakan semuanya untuk mereka.
Beruntung tadi tidak
ada Hiraeth di markas utama. Mereka bilang pria itu sedang ada urusan keluar. Jadi
hanya rekan-rekan satu timnya beserta beberapa anggota yang memang sejak awal
bertempat di markas utama. Cepat atau lambat, Agatha yakin kalau berita ini
akan sampai di telinga pria itu. Terserah mau ia perccaya atau tidak. Tapi,
yang jelas Agatha akan melakukan apa pun untuk membela dirinya.
Hiraeth adalah orang
yang bijak. Ia pasti tahu mana yang
benar ada dan mana yang tidak ada. Mana yang perlu ia percayai dan mana yang
tidak. Memang benar, orang-orang hanya ingin percaya kepada apa yang mau mereka
perccayai. Tapi, sepertinya prinsip yang satu itu adalah sebuah pengecualian
bagi Hiraeth.
“Selama aku masih bisa
menaklukkan pemimpin mereka, tidak perlu khawatir,” gumam gadis itu dalam hati.
Bagaimanapun
juga, anak buah pasti akan mengikuti setiap arahan pemimpinnya. Dari yang
Agatha lihat, mereka belum cukup berani untuk melawan pria itu, sama seperti
dirinya melawan kemarin.