The Riot

The Riot
Who Are You?



Setidaknya kali ini dia


tidak sendirian bersama pria itu. Kalau pun terjadi sesuatu yang tidak


diinginkan, tidak akan terlalu fatal. Tepat setelah pintu lift terbuka, Agatha


langsung melangkah keluar. Ini adalah lantai tujuannya. Hanya Agatha dan pria


itu saja yang turun. Sementara sisanya kembali melanjutkan perjalanan dengan


menggunakan lift.


Gadis itu berjalan


lebih dulu. Meninggalkan si pria aneh itu di belakangnya. Agatha terus


melangkah maju dan mempercepat langkahnya. Pada saat yang bersamaan pula pria


itu mempercepat langkahnya juga. Bisa dipastikan jika ia sedang membuntuti


gadis ini. Ternyata rasa curiga Agatha selama ini benar.


Tanpa pikit panjang


lagi, gadis itu segera berlari. Dan yang benar saja, pria itu juga ikut


berlari. Suara langkah kaki mereka tampak saling beradu di sini. Terdengar


nyaring di sepanjang koridor. Namun, mendadak Agatha menghentikan langkah


kakinya. Sehingga tubuh pria itu menabrak badang Agatha.


Refleks gadis itu


membalikkan badannya dan mendapati seorang pria yang terjatuh ke lantai karena


kehilangan keseimbangan. Agatha mengulurkan salah satu tangannya. Tidak, dia


sama sekali tidak bermaksud untuk menolong pria itu. Melainkan Agatha menarik


kerah baju pria itu sampai ia berdiri. Kurang lebih sama saja dengan menolong


tapi secara kasar.


“Apa yang kau


lakukan?!” bentak Agatha.


Jangan pikir jika gadis


itu akan merasa takut karena tubuhnya jauh lebih besar daripada dia. Percuma


jika kau memiliki banyak tenaga, tapi tidak memiliki otak. Bekerja dengan otak


jauh lebih berpengaruh daripada bekerja dengan otot.


Pandangan gadis itu


tertuju kepada earphone yang berada di salah satu sisi telinga pria itu. Pasti


ia menggunakannya sebagai alat komunikasi dengan rekan kerjanya. Ia pikir


Agatha tak tahu soal itu. Padahal hampir setiap hari ia melakukan hal serupa.


Mereka kurang lebih sama.


“Siapa yang menyuruhmu


memata-mataiku?” tanya Agatha dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih


santai daripada sebelumnya.


“Jadi kau sudah tahu


ya?” tanya pria itu balik.


Sebaiknya pria itu


tidak bermain-main dengannya sekarang. Mereka belum tahu saja seperti apa


seorang wanita jika sedang emosi.


Tanpa pikir panjang


lagi, Agatha segera menarik earphone tersebut dari lubang telinganya. Kemudian


berkata, “Aku tahu kalau kau di sana Immanuel. Jadi sebenarnya yang bertindak


sebagai mata-mata di sini siapa?”


Tanpa menunggu balasan


dari pria itu, Agatha langsung melempar benda mungil tersebut ke lantai. Tidak


hanya sampai di situ saja. Ia bahkan menginjak-injak earphone tersebut sampai hancur


dan tak berbentuk lagi. Ada satu hal yang perlu mereka ingat. Jangan pernah


membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Kecuali jika kau memang tidak


peduli lagi dengan dirimu sendiri.


Immanuel sudah beres.


Sekarang waktunya untuk menyelesaikan sampah yang berada di hadapannya. Mungkin


pria itu adalah manusia, tapi kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan


bagaimana seharusnya manusia bersikap. Hal tersebut membuat Agatha merasa ragu


apakah ia sungguh manusia atau bukan.


‘BUGH!’


Tanpa peringatan sama


sekali, Agatha langsung melayangkan pukulan di wajahnya. Sehingga tepat


menghantam rahang pria itu. Entah patah atau hanya sekedar retak, atau malah


tidak terjadi apa-apa. Agatha sama sekali tidak peduli. Yang jelas ia sudah


menyalurkan emosinya dengan cara yang paling tepat menurutnya.


Untuk yang kedua


koridor ini. Kalau pun rekaman kamera pengawasnya berhasil menangkap mereka,


tidak perlu cemas. Karena mau bagaimanapun juga, Agatha adalah korbannya di sini.


“Jangan pernah


menguntitku lagi! Mengerti?!” seru gadis itu kemudian menendang kaki pria itu.


Tendangannya tepat


mengenai tulang kering. Sehingga berhasil membuat pria itu meringis kesakitan


karenanya.


“Kalau begitu tunggu


apa lagi?! Kau masih tetap ingin di sini dan mendapatkan pelajaran tambahan


dariku?” tanya Agatha.


Spontan pria itu


menggeleng cepat. Lalu dengan langkah yang terburu-buru, ia berjalan menuju


lift. Tepat setelah pintu lift terbuka, sosoknya menghilang bersamaan dengan


bergeraknya benda tersebut.


“Dasar orang aneh!”


celetuk gadis itu.


Agatha sebenarnya tidak


tahu pasti yan tadi itu benar Immanuel atau bukan. Tapi, memangnya siapa lagi


orang yang mau melakukan semua itu kalau bukan Immanuel. Hanya dia satu-satunya


orang yang begitu yakin dan terobsesi kalau Agatha adalah mata-mata. Jadi


sekarang ini yang mata-mata itu sebenarnya Immanuel atau Agatha.


Gadis itu memijat


pelipisnya pelan. Cukup untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Sepertinya


ia harus melakukan ritual mandi air hangat lagi kali ini. Orang-orang bilang,


mandi air hangat akan membuat tubuhmu jadi jauh lebih rileks.


Sebelum masuk ke dalam


apartmentnya, Agatha mengedarkan pandangan ke sekitar. Bahkan sampai menjangkau


ke sudut terkecil sekali pun. Bukannya apa-apa. Tapi, Agatha hanya ingin


memastikan kalau tidak ada orang lain di sekitar sini. Terutama orang yang


memiliki niat tidak baik kepadanya. Setelah dirasa benar-benar aman dan tidak


ada yang mencurigakan, barulah ia masuk.


***


Entah besok ia harus


pergi ke markas lagi atau tidak. Setelah kejadian tadi, hubungan mereka pasti


jadi tidak baik-baik saja. Namun, jika Agatha tidak pergi ke sana maka itu


berarti jika ia tidak akan mendapatkan informasi apa pun. Sebenarnya kalau


boleh memilih, lebih baik dia tidak perlu pergi ke sana. Lagi pula gadis itu


sudah menaruh kamera pengawas di beberapa tempat. Baik itu di markas utama,


markas unit dan juga mobil van satu-satunya yang biasa mereka gunakan. Seharusnya


semua itu cukup untuk mengawasi pergerakan mereka selama dua puluh empat jam.


Sekarang teknologi yang canggih memang sengaja diciptakan untuk mempermudah


kehidupan manusia. Lantas kenapa harus repot-repot turun tangan lagi. Teknologi


akan mengerjakan semuanya untuk mereka.


Beruntung tadi tidak


ada Hiraeth di markas utama. Mereka  bilang pria itu sedang ada urusan keluar. Jadi


hanya rekan-rekan satu timnya beserta beberapa anggota yang memang sejak awal


bertempat di markas utama. Cepat atau lambat, Agatha yakin kalau berita ini


akan sampai di telinga pria itu. Terserah mau ia perccaya atau tidak. Tapi,


yang jelas Agatha akan melakukan apa pun untuk membela dirinya.


Hiraeth adalah orang


yang bijak. Ia pasti tahu mana  yang


benar ada dan mana yang tidak ada. Mana yang perlu ia percayai dan mana yang


tidak. Memang benar, orang-orang hanya ingin percaya kepada apa yang mau mereka


perccayai. Tapi, sepertinya prinsip yang satu itu adalah sebuah pengecualian


bagi Hiraeth.


“Selama aku masih bisa


menaklukkan pemimpin mereka, tidak perlu khawatir,” gumam gadis itu dalam hati.


Bagaimanapun


juga, anak buah pasti akan mengikuti setiap arahan pemimpinnya. Dari yang


Agatha lihat, mereka belum cukup berani untuk melawan pria itu, sama seperti


dirinya melawan kemarin.