The Riot

The Riot
Bawah tanah



“Jadi ini orang yang


sudah berani menolak undanganku?” gumam Hiraeth begitu sampai di ruangan bawah


tanah.


“Sial!” umpat Agatha di


dalam hati.


Gadis itu sadar betul


jika dirinya tengah terancam saat ini. Tidak ada jalan untuk melarikan diri.


Agatha hanya bisa bergantung kepada dirinya sendiri.


‘TAP! TAP! TAP!’


Terdengar dari arah


berlawanan jika suara langkah kaki tersebut semakin jelas. Hiraeth melangkah


lebih dekat ke arah Agatha. Mempertipis jarak di antara mereka berdua. Entah


sejak kapan suara derap langkah kaki menjadi begitu menakutkan baginya.


Bersamaan dengan suara


telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai, tempo detak jantungnya pun


ikut meningkat secara beraturan. Hanya ritme napasnya saja yang mulai tampak


berantakan. Agatha panik, gugup, cemas akan kehidupannya. Hiraeth bisa


melakukan apa saja. Kemungkinan terburuknya adalah terbunuh.


Bagaimana bisa Agatha


menyelamatkan dirinya sendiri, sementara kedua tangannya terikat. Bergerak saja


tidak bisa. Bahkan pada saat genting dan terdesak seperti ini pun dia tidak


bisa mengandalkan dirinya sendiri. Sungguh payah.


Ada beberapa hal yang


berada di luar kendali manusia. Mereka tidak akan pernah bisa memastikannya.


Terlalu rumit untuk ditangangi oleh seorang manusia. Pada posisi ini lah takdir


akan bertindak. Melakukan segalanya sesuai dengan apa yang tertulis di dalam


buku takdir.


Hiraeth menghentikan


langkahnya tepat di hadapan gadis itu. Sambil tersenyum miring, ia membungkukkan


sedikit tubuhnya. Sehinga kedua bola mata mereka saling bertemu pandang. Berada


pada posisi yang setara adalah hal terbaik dalam berkomunikasi. Hiraeth lebih


suka kalalu seperti ini. Sepertinya gadis itu juga sama. Anggap saja jika


mereka sudah sepakat sekarang.


Salah satu tangannya


meraih dagu gadis ini. Agatha tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya


terikat. Pergerakannya terbatas.


“Sebelumnya, aku tidak


ingin menuduhmu dengan sesuatu yang tidak benar. Jadi ada beberapa pertanyaan


yang ingin kutanyakan. Kenapa kau tidak datang ke markas utama kemarin?” tanya


Hiraeth.


“Lebih tepatnya kau


tidak datang untuk memenuhi undangan perjamuan makan malam. Padahal acara itu


dibuat sekaligus untuk menyambut kedatangan anggota baru,” perjelas pria itu


lagi.


“Bukannya Immanuel


telah menyampaikan undangan tersebut kemarin?” finalnya di akhir.


Agatha tidak langsung


menjawab. Ia bingung. Tak tahu harus berbuat apa dengan pertanyaan yang


disuguhkan. Masalahnya bukan hanya satu pertanyaan, namun lebih dari itu.


Walaupun pada intinya merujuk pada topik pembahasan yang sama saja, Agatha


harus tetap berhati-hati dalam menjawab. Salah sedikit saja, nyawanya terancam.


Sekarang saja posisinya sudah berada di ujung tanduk. Mungkin nanti bisa saja


sudah bergantung di ujung jurang.


“Benar, Immanuel sudah


menyampaikan undangannya kepadaku secara lisan,” aku Agatha.


Dia sama sekali tidak


berusaha untuk memungkiri fakta kalau Immanuel sudah melakukan segala perintah


dari pria itu. Agatha akan bicara dengan jujur. Tidak ada yang sedang berusaha


ia  tutup-tutupi.


“Tapi, aku ingin


menanyakan satu hal penting kepadamu tuan,” ujar Agatha dengan tenang.


“Apa itu?” tanya


Hiraeth.


“Tidakkah Immanuel


menyampaikan sesuatu juga kepadamu? Tentang alasan kenapa aku tidak bisa datang


Sementara itu di sisi


lain sama sekali tidak ada yang mengira kalau Agatha bisa bersikap setenang


ini. Immanuel sendiri nyaris tidak percaya. Entah kenapa otaknya terus menolak


untuk percaya, padahal bukti sudah ada di depan mata. Ia tidak terlihat gemetar


atau bahkan gugup sama sekali. Padahal, jika Immanuel yang berada di posisi


gadis itu sekarang, mungkin ia belum tentu bisa bersikap setenang itu.


Sejauh ini sepertinya


masih hanya Agatha saja yang bisa menghadapi Hiraeth dengan tenang. Sungguh


menakjubkan. Immanuel mengakui keberanian gadis itu. Baik saat dirinya


menghampiri Agatha ke unit apartment miliknya, hingga berhadapan dengan


Hiraeth. Sepertinya dia sama sekali tidak mengenal apa itu rasa takut.


“Dia tidak menyayangi


sisa hidupnya lagi atau memang memiliki banyak cadangan nyawa?” batin Immanuel


di dalam hati. Pria itu menggeleng pelan karena tak habis pikir.


Untuk kali ini, biarlah


Agatha dan Hiraeth menyelesaikan urusannya sendiri. Masalah tersebut hanya


melibatkan mereka berdua saja pasalnya. Sehingga Immanuel sama sekali tidak


memiliki hak untuk ikut campur. Lagi pula kalau pun pria itu memang memiliki


hak untuk campur tangan di dalamnya, ia tidak akan mau mengambil resiko dengan


ikut campur. Berhadapan dengan orang seperti Hiraet harus ekstra berhati-hati. Dia


bisa lebih berbahaya dari apa pun.


“Kemarin aku memilki


urusan mendadak yang tidak dapat dijelaskan secara rinci karena besifat


pribadi. Jadi, kuharap kau mau memakluminya,” ungkap Agatha dengan apa adanya.


Hiraeth tampaknya tidak


terlalu percaya. Sehingga ia menatap lamat-lamat kedua bola mata gadis itu.


Orang-orang bilang, mata tak bisa berbohong. Sebab, mata adalah jendela diri.


Jadi, jika ia tidak percaya dengan orang tersebut, mungkin mata bisa menjadi


salah satu indikatornya. Hiraeth sepertinya bukan orang yang sulit untuk


membuat keputusan. Hampir setiap hari ia selalu dituntut untuk memutuskan.


Orang sekelas dirinya juga pasti tahu mana pilihan yang benar dan mana pilihan


yang salah.


Untuk kali ini Agatha


menyerahkan sisanya kepada pria itu. Soal percaya atau tidaknya, terserah


kepada Hiraeth. Ia tidak akan mencoba untuk ikut campur, apa lagi sampai


mempengaruhi pria itu. Keputusan ini murni berada di tangan Hiraeth.


“Hanya itu yang bisa kukatakan


kepadamu,” kata gadis itu secara gamblang.


Ia tidak ingin


berkomentar lebih banyak lagi. Tidak, sampai Hiraeth yang memintanya. Itu adalah


sebuah pengecualian. Jangan pernah memberikan lebih dari apa yang diminta. Kau


sudah pasti akan dirugikan pada posisi tersebut.


Sementara menunggu


Hiraeth berpikir, Agatha lantas membuang pandangannya ke arah jendela. Memanjakan


matanya dengan pemandangan yang lain, meski sebenarnya tidak ada apa-apa di


sana. Ruangan bawah tanah selain minim akan cahaya, juga minim pasokan oksigen.


Hal itu benar-benar menyiksanya. Tidak ada yang betah untuk tetap berada di


ruangan seperti ini dalam jangka waktu yang lama.


Meski pun memiliki


jendela dan satu celah untuk ventilasi, sepertinya percuma saja. Hal tersebut


sama sekali tidak berdampak banyak. Dengan atau tanpa kedua hal tersebut,


sepeertinya kondisi di ruangan ini tetap sama saja. Tidak pernah menjadi lebih


baik.


“Kenapa kau tidak mau


menceritakan alasan yang lebih spesifik?” tanya Hiraeth secara tiba-tiba.


Sontak ia kembali


mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Kemudian menghela napas dengan


kasar. Sepertinya akibat minimnya oksigen di sini, otaknya jadih tak memiliki


pasokan oksigen yang cukup. Sehingga mempengaruhi kecepatan dan ketepatan


berpikirnya.


“Bukankah


sudah kukatakan tadi kalau itu bersifat pribadi dan hanya sampai sebatas itu


saja yang bisa kukatakan kepadamu,” jelas Agatha dengan malas.