
“Jadi ini orang yang
sudah berani menolak undanganku?” gumam Hiraeth begitu sampai di ruangan bawah
tanah.
“Sial!” umpat Agatha di
dalam hati.
Gadis itu sadar betul
jika dirinya tengah terancam saat ini. Tidak ada jalan untuk melarikan diri.
Agatha hanya bisa bergantung kepada dirinya sendiri.
‘TAP! TAP! TAP!’
Terdengar dari arah
berlawanan jika suara langkah kaki tersebut semakin jelas. Hiraeth melangkah
lebih dekat ke arah Agatha. Mempertipis jarak di antara mereka berdua. Entah
sejak kapan suara derap langkah kaki menjadi begitu menakutkan baginya.
Bersamaan dengan suara
telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai, tempo detak jantungnya pun
ikut meningkat secara beraturan. Hanya ritme napasnya saja yang mulai tampak
berantakan. Agatha panik, gugup, cemas akan kehidupannya. Hiraeth bisa
melakukan apa saja. Kemungkinan terburuknya adalah terbunuh.
Bagaimana bisa Agatha
menyelamatkan dirinya sendiri, sementara kedua tangannya terikat. Bergerak saja
tidak bisa. Bahkan pada saat genting dan terdesak seperti ini pun dia tidak
bisa mengandalkan dirinya sendiri. Sungguh payah.
Ada beberapa hal yang
berada di luar kendali manusia. Mereka tidak akan pernah bisa memastikannya.
Terlalu rumit untuk ditangangi oleh seorang manusia. Pada posisi ini lah takdir
akan bertindak. Melakukan segalanya sesuai dengan apa yang tertulis di dalam
buku takdir.
Hiraeth menghentikan
langkahnya tepat di hadapan gadis itu. Sambil tersenyum miring, ia membungkukkan
sedikit tubuhnya. Sehinga kedua bola mata mereka saling bertemu pandang. Berada
pada posisi yang setara adalah hal terbaik dalam berkomunikasi. Hiraeth lebih
suka kalalu seperti ini. Sepertinya gadis itu juga sama. Anggap saja jika
mereka sudah sepakat sekarang.
Salah satu tangannya
meraih dagu gadis ini. Agatha tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya
terikat. Pergerakannya terbatas.
“Sebelumnya, aku tidak
ingin menuduhmu dengan sesuatu yang tidak benar. Jadi ada beberapa pertanyaan
yang ingin kutanyakan. Kenapa kau tidak datang ke markas utama kemarin?” tanya
Hiraeth.
“Lebih tepatnya kau
tidak datang untuk memenuhi undangan perjamuan makan malam. Padahal acara itu
dibuat sekaligus untuk menyambut kedatangan anggota baru,” perjelas pria itu
lagi.
“Bukannya Immanuel
telah menyampaikan undangan tersebut kemarin?” finalnya di akhir.
Agatha tidak langsung
menjawab. Ia bingung. Tak tahu harus berbuat apa dengan pertanyaan yang
disuguhkan. Masalahnya bukan hanya satu pertanyaan, namun lebih dari itu.
Walaupun pada intinya merujuk pada topik pembahasan yang sama saja, Agatha
harus tetap berhati-hati dalam menjawab. Salah sedikit saja, nyawanya terancam.
Sekarang saja posisinya sudah berada di ujung tanduk. Mungkin nanti bisa saja
sudah bergantung di ujung jurang.
“Benar, Immanuel sudah
menyampaikan undangannya kepadaku secara lisan,” aku Agatha.
Dia sama sekali tidak
berusaha untuk memungkiri fakta kalau Immanuel sudah melakukan segala perintah
dari pria itu. Agatha akan bicara dengan jujur. Tidak ada yang sedang berusaha
ia tutup-tutupi.
“Tapi, aku ingin
menanyakan satu hal penting kepadamu tuan,” ujar Agatha dengan tenang.
“Apa itu?” tanya
Hiraeth.
“Tidakkah Immanuel
menyampaikan sesuatu juga kepadamu? Tentang alasan kenapa aku tidak bisa datang
Sementara itu di sisi
lain sama sekali tidak ada yang mengira kalau Agatha bisa bersikap setenang
ini. Immanuel sendiri nyaris tidak percaya. Entah kenapa otaknya terus menolak
untuk percaya, padahal bukti sudah ada di depan mata. Ia tidak terlihat gemetar
atau bahkan gugup sama sekali. Padahal, jika Immanuel yang berada di posisi
gadis itu sekarang, mungkin ia belum tentu bisa bersikap setenang itu.
Sejauh ini sepertinya
masih hanya Agatha saja yang bisa menghadapi Hiraeth dengan tenang. Sungguh
menakjubkan. Immanuel mengakui keberanian gadis itu. Baik saat dirinya
menghampiri Agatha ke unit apartment miliknya, hingga berhadapan dengan
Hiraeth. Sepertinya dia sama sekali tidak mengenal apa itu rasa takut.
“Dia tidak menyayangi
sisa hidupnya lagi atau memang memiliki banyak cadangan nyawa?” batin Immanuel
di dalam hati. Pria itu menggeleng pelan karena tak habis pikir.
Untuk kali ini, biarlah
Agatha dan Hiraeth menyelesaikan urusannya sendiri. Masalah tersebut hanya
melibatkan mereka berdua saja pasalnya. Sehingga Immanuel sama sekali tidak
memiliki hak untuk ikut campur. Lagi pula kalau pun pria itu memang memiliki
hak untuk campur tangan di dalamnya, ia tidak akan mau mengambil resiko dengan
ikut campur. Berhadapan dengan orang seperti Hiraet harus ekstra berhati-hati. Dia
bisa lebih berbahaya dari apa pun.
“Kemarin aku memilki
urusan mendadak yang tidak dapat dijelaskan secara rinci karena besifat
pribadi. Jadi, kuharap kau mau memakluminya,” ungkap Agatha dengan apa adanya.
Hiraeth tampaknya tidak
terlalu percaya. Sehingga ia menatap lamat-lamat kedua bola mata gadis itu.
Orang-orang bilang, mata tak bisa berbohong. Sebab, mata adalah jendela diri.
Jadi, jika ia tidak percaya dengan orang tersebut, mungkin mata bisa menjadi
salah satu indikatornya. Hiraeth sepertinya bukan orang yang sulit untuk
membuat keputusan. Hampir setiap hari ia selalu dituntut untuk memutuskan.
Orang sekelas dirinya juga pasti tahu mana pilihan yang benar dan mana pilihan
yang salah.
Untuk kali ini Agatha
menyerahkan sisanya kepada pria itu. Soal percaya atau tidaknya, terserah
kepada Hiraeth. Ia tidak akan mencoba untuk ikut campur, apa lagi sampai
mempengaruhi pria itu. Keputusan ini murni berada di tangan Hiraeth.
“Hanya itu yang bisa kukatakan
kepadamu,” kata gadis itu secara gamblang.
Ia tidak ingin
berkomentar lebih banyak lagi. Tidak, sampai Hiraeth yang memintanya. Itu adalah
sebuah pengecualian. Jangan pernah memberikan lebih dari apa yang diminta. Kau
sudah pasti akan dirugikan pada posisi tersebut.
Sementara menunggu
Hiraeth berpikir, Agatha lantas membuang pandangannya ke arah jendela. Memanjakan
matanya dengan pemandangan yang lain, meski sebenarnya tidak ada apa-apa di
sana. Ruangan bawah tanah selain minim akan cahaya, juga minim pasokan oksigen.
Hal itu benar-benar menyiksanya. Tidak ada yang betah untuk tetap berada di
ruangan seperti ini dalam jangka waktu yang lama.
Meski pun memiliki
jendela dan satu celah untuk ventilasi, sepertinya percuma saja. Hal tersebut
sama sekali tidak berdampak banyak. Dengan atau tanpa kedua hal tersebut,
sepeertinya kondisi di ruangan ini tetap sama saja. Tidak pernah menjadi lebih
baik.
“Kenapa kau tidak mau
menceritakan alasan yang lebih spesifik?” tanya Hiraeth secara tiba-tiba.
Sontak ia kembali
mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Kemudian menghela napas dengan
kasar. Sepertinya akibat minimnya oksigen di sini, otaknya jadih tak memiliki
pasokan oksigen yang cukup. Sehingga mempengaruhi kecepatan dan ketepatan
berpikirnya.
“Bukankah
sudah kukatakan tadi kalau itu bersifat pribadi dan hanya sampai sebatas itu
saja yang bisa kukatakan kepadamu,” jelas Agatha dengan malas.