
“Bagaimana dengan
sniper itu?” tanya Arjuna sekali lagi untuk memastikan.
“Sudah kubereskan,”
balas Agatha.
Tak ingin membuang-buang
waktu terlalu banyak lagi, mereka segera masuk ke dalam menyusul yang lainnya.
Tim dari kepolisian sudah masuk secara diam-diam dari berbagai titik. Mereka
berencana untuk menyergap para mafia itu dari berbagai arah juga. Sehingga
tidak ada celah untuk melarikan diri. Mereka akan terkepung nantinya.
Semua orang yang
berasal dari tim Arjuna akan menggunakan helm pelindung lagi demi keamanan.
Benda tersebut mampu menutupi seluruh wajah mereka. Sehinga tidak aka nada yang
bisa mengenali mereka sebelum penutup kepala itu dibuka.
Ketika sudah sampai di
dalam, Agatha bertemu dan memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya yang
sudah berada di sana lebih dulu.
“Tidakkah kalian merasa
jika ada yang sedang mengikuti kita saat ini?” celetuk Fadli secara tiba-tiba.
“Mana ada. Hanya kita
yang berada di tempat ini,” balas temannya yang lain.
Sontak hal tersebut
membuat orang-orang yang berada di bawah kekuasaan tim Arjuna akan merasa ciut.
Tapi, nyali mereka tidak benar-benar ciut. Mereka hanya sedikit terkejut. Takut
ketahuan sebelum waktunya tiba.
Sepertinya jiwa pria
itu jauh lebih peka daripada teman-temannya yang lain. Mereka tampak tidak
mempedulikan soal hal yang selama ini diwaspadai betul oleh Fadli.
“Apa mereka melihat
kita?” batin Agatha dalam hati.
Tidak bisa dipungkiri
jika Agatha juga merasa gugup. Sudah lama ia tidak pernah terlibat dalam aksi
penyergapan seperti ini. Belakangan gadis itu selalu disibukkan oleh setumpuk
pekerjaan di kantor. Sehingga tidak memiliki waktu untuk terjun langsung ke
lapangan.
Tempo detak jantungnya
naik secara perlahan. Namun masih dengan irama yang beraturan. Di saat
kebanyakan orang yang sudah tidak karuan lagi, namun Agatha masih tetap
berusaha untuk tetap tenang. Apa pun masalahnya, hanya ada satu hal yang perlu
ia lakukan. Tenang. Itu adalah kuncinya.
“Sudahlah, tidak perlu
dipikirkan lagi. Ayo!” ajak Zean.
Tim mereka berbeda
dengan Immanuel. Untuk pertama kalinya anak buahnya bekerja tanpa pemimpin
mereka. Tapi tidak masalah. Itu bukan hal serius. Mereka bisa mengatasinya
sendiri.
Tepat setelah suara
langkah kaki mereka dirasa semakin jauh, barulah Agatah merasa sedikit lebih
lega daripada sebelumnya. Itu berarti mereka sudah pergi dari tempat tersebut
untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, Agatha masih perlu memastikan hal
tersebut sekali lagi. Ia tidak akan pernah percaya sampai melihat dengan mata
kepalanya sendiri.
Dengan begitu hati-hati
ia bergerak maju dan menampakkan batang hidungnya secara cuma-cuma. Perlu
mengumpulkan keberanian lebih dulu untuk melakukan semua ini. Namun, alih-alih
menemukan ketenangan yang sesungguhnya, ia malah langsung ditodong oleh
senjata. Zean adalah oknum utama yang melakukan hal tersebut.
Gadis itu membeku untuk
beberapa saat. Bukan tidak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya ingin
berhati-hati dalam bergerak. Tidak ingin membuat kesalahan sedikit pun. Satu
kesalahan kecil saja bisa membuat nyawanya melayang. Jadi, Agatha harus ekstra
hati-hati.
Dengan begitu
mengejutkan, Agatha menendang tubuh pria ini ke belakangan dengan segenap sisa
tenaga yang ia punya. Sehingga Zean terpukul mundur beberapa langkah ke
belakang. Lalu terpaksa terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Hal tersebut jelas
memancing perlawanan yang jauh lebih panas lagi. Para mafia itu menodongkan
pistol mereka. Meski secara jumlah orang-orang itu telah kalah. Namun, harus
diakui jika nyalinya cukup besar.
Di saat yang bersamaan
pula para anak buah Arjuna mengeluarkan senjata mereka sebagai bentuk
semua orang di sini. Mereka menyebarkan informasi dengan begitu cepat. Sehingga
beberapa kali Agatha mendengar peringatan yang kerap muncul di in ear
monitornya. Tapi ia tidak tahu pasti dari mana datangnya. Suara semua orang
tedengar sama saja di alat itu. sehingga Agatha merasa kesulitan untuk
membedakannya.
“Semuanya
berhati-hati!”
“Tim dari kepolisian
sudah mengetahu keberadaan kita!”
“Formasi berjaga-jaga.”
“Rienna! Alexa! Apa
kalian masih di sana?!”
“Jawab aku jika kalian
selamat!”
“Sial! Para polisi ini
pasti sudah menghabisi mereka berdua lebih dulu.”
Beberapa kali ia mendengar
suara-suara tersebut di dalam in ear monitornya.
“Its show time!”
celetuk Agatha lalu melepaskan satu tembakan ke udara.
Dia tidak sedang
menjadikan seseorang sebagai targetnya. Gadis itu hanya ingin memberikan
pertanda kalau pertarungan yang sesungguhnya akan segera dimulai. Suara itu
cukup besar untuk didenar hingga ke ujung ruangan sekali pun.
Sepertinya malam ini
akan menjadi malam yang tidak pernah bisa ia lupakan begitu saja. Agatha
sungguh tidak menyangka jika jadinya akan sehebat ini. Beberapa kali ia
mengerjap tidak percaya. Apakah ia sungguhan telah menyelesaikan misi besar
ini? Rasanya masih sulit diterima oleh akal sehat.
Belum sempat Zean dan
teman-temannya menyerang balik, mereka sudah jatuh lebih dulu sebab mendapatkan
serangan kedua dari tim lain yang berada di belakangnya. Tenang saja, tidak ada
yang akan sekarat di sini. Arjuna bisa menjamin semua itu. Mereka sama sekali
tidak bermaksud untuk membuat orang-orang itu meninggal. Paling parah terluka
ringan. Karena Arjuna ingin membawa mereka semua ke kantor dalmakondisi
hidup-hidup.
Kalau saja salah satu
dari mereka mati, maka itu tidak setimpal. Meski di akhirat ia akan tetap
dihukum atas semua kekejamannya selama di dunia, tapi Arjuna sama sekali tidak
rela kalau mereka tidak melewati hukuman duniawi lebih dulu. Terutama Hiraeth.
Apa yang mereka tanam,
itu pula yang seharusnya mereka tuai. Setiap manusia harusnya membayar harga
yang setimpal dengan perbuatan mereka. Karena memang itu prinsip umat manusia
dan prinsip semesta sejak dulu.
‘BUGH!’
Tubuh mereka semua
langsung roboh begitu saja di atas lantai. Tidak ada perlawanan sama sekali,
karena mereka sudah hilang kesadaran lebih dulu.
“Kerja bagus!” ucap
Agatha sambil tersenyum tipis.
“Sebaiknya kalian
langsung masuk saja. Untuk yang ini biar kami selesaikan,” jelas salah satu
anggota.
Agatha dan Arjuna
mengangguk secara bersamaan untuk mengiyakan perkataan pria itu. Lagi-lagi
Agatha adalah satu-satunya personil wanita yang terlibat dalam aksi. Dari awal
jumlah personil wanita di kantor mereka memang termasuk sedikit. Dan salah satu
yang paling sering terlibat aksi atau misi penting adalah Agatha. Orang-orang
tahu kalau dia bisa diandalkan.
“Tim yang lain akan
mengurus tugas mereka masing-masing,” ujar Arjuna.
“Kita hanya perlu fokus
pada Hiraeth dan juga tim yang ia bawa bersamanya,” imbuh pria itu kemudian.
“Baiklah!” balas gadis
itu.
Tanpa
buang-buang waktu lagi, mereka segera menuju ke tempat dimana tim Hiraeth
berada. Tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi dan mengendap-endap. Lagi pula
mereka sudah ketahuan. Sekarang waktunya pertunjukan.