The Riot

The Riot
Guide



Keadaan di dalam cukup ramai. Tidak jauh berbeda


dengan kelab malam pada umumnya. Entah hal macam apa yang menjadikan tempat ini


jadi begitu menari bagi orang-orang. Arjuna bersama dua temannya yang lain


sedang berjalan menuju hall utama. Perlahan namun pasti, pergerakan mereka


nyaris tak terbaca.


Mereka akan segera mengepung pasukan mafia itu dari


berbagai arah. Meski terbilang kalah jauh jika dilihat dari segi jumlah, maka


jelas Arjuna dan teman-temannya kalah. Tapi, coba lihat dari sudut pandang


lain. Siapa tahu ini  adalah malam


keberuntungan mereka.


“Beri tahu aku jika kalian sudah sampai di titik


yang sudah kita tetapkan tadi,” ujar Arjuna.


“Baiklah,” balas salah satu dari mereka.


Sebelumnya, tim yang berada di dalam kelab sudah


membuat kesepakatan. Jika mereka akan berkumpul di tiga titik yang berbeda.


Kemudian barulah serangannya akan langsung di lancarkan. Pertama-tama mereka


perlu melumpuhkan kedua rival itu. lalu setelahnya anak buahnya akan diurus.


Menurut perkiraan mereka, total anggota kelompok


mafia yang terlibat dalam keributan kali ini  ada sekitar tiga puluh orang. Jumlah yang tidak terlalu banyak. Ini


bukan apa-apa. Arjuna dan tim andalannya pernah terlibat dalam proses


menertibkan massa pada saat demo di pusat kora beberapa waktu lalu.


Dengan percaya diri pria itu yakin kalau kali ini


dia dan timnya juga akan berhasil. Jika sesuatu yang jauh lebih berat saja


sudah pernah dialami. Memangnya ada masalah apa dengan yang satu ini. Seharusnya


mudah.


‘DOR!!!’


“Aaaa!!!!!”


Orang-orang yang berada di dalam sana lantas


berteriak histeris satu detik setelah mendengar suara tembakan. Arjuna


memperkirakan jika suaranya berasal dari hall utama. Tanpa pikir panjang, pria


itu segera memberi tahu rekannya yang lain untuk segera mendekat ke tempat


kejadian.


Sementara Arjuna melangkah maju, tampak dari awah


yang berlawanan orang-orang mulai berhamburan keluar. Berlari meninggalkan


tempat ini. Situasinya sudah tidak lagi kondusif. Ada kekacauan dimana-mana.


“Suara apa itu?” gumam Agatha sembari mengalihkan


pandangannya.


Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk utama ia


melihat puluhan orang berlari keluar. Bahkan sebagian di antaranya sudah dalam


keadaan mabuk berat. Tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, pria itu


lantas segera menendang Agatha secara brutal. Gadis itu sama sekali tidak


menyadari jika bahaya sudah berada tepat di depannya. Karena ia terlalu fokus


untuk memperhatikan keramaian di seberang sana. Sehingga serangannya sukses


untuk membuat gadis itu terpental ke sembarang arah.


Sementara di sisi lain, gadis itu tampak terbaring


di atas jalanan. Meringkuk memegangi perutnya. Sesekali meringis kesakitan


akibat tendangan dari pria itu. Sungguh tidak punya rasa prikemanusiaan. Bagaimana


bisa ia menyerang seorang gadis dengan membabi-buta seperit itu.


Ini adalah akibatnya jika ia lengah sekali saja.


Serangan tanpa peringatan bisa datang dari mana saja. Bahkan tanpa pernah ia


sadari sama sekali.


“Bagaimana?” tanya pria itu sembari berjalan


mendekat.


Suara telapak sepatunya yang beradu dengan permukaan


jalanan sukses menambah kesan mengerikan. Tidak. Agatha tidak takut dengan pria


itu hanya karena penampilannya. Melainkan ia merasa takut akibat tidak memiliki


kekuatan untuk menyerang. Tidak ada sedikit pun energi yang tersisa di dalam


dirinya. Semakin ke sini nyalinya semakin menciut.


Bagaimana jika Agatha benar-benar dihabisi dan tidak


ada seorang pun yang bisa membantu. Atau bahkan hanya sekedar tahu. Posisinya


sudah tidak sekuat tadi. Pria itu berhasil mendesaknya hingga ia merasa


terancam.


Dengan segenap sisa tenaga yang ada, Agatha perlahan


merangkak. Meraih apa pun yang ada di sekitarnya. Akibat serangan tadi, untuk


saja.


Melihat kegigihan Agatha, pria itu bertepuk tangan.


Sungguh ia salut. Pria itu mengakui semangat Agatha yang tidak ingin menyerah


sampai akhir. Patut untuk diacungi jempol.


“Ternyata masih belum menyerah juga ya?” tanya pria


itu sekali lagi.


Alih-alih bertanya, kalimat tersebut lebih terdengar


seperti sebuah ejekan bagi Agatha. Secara tidak langsung ia sedang meremehkan


gadis itu. Tidak bsia dipungkiri jika gadis itu semakin merasa geram


diperlakukan seperti ini. Ingin sekali rasanya dia menghabisi pria itu sekarang


juga.


Dan yang benar saja, tanpa kenal ampun sama sekali


Agatha langsung memukul tulang kering pria itu dengan kepalan tangannya. Segenap


sisa tenaga yang tersisa ia kerahkan. Kali ini rencana balas dendamnya sukses.


Pria itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Kini setidaknya posisi mereka


sudah sama. Tidak ada yang lebih tinggi dan sebaliknya.


Melihat pemandangan tersebut, Agatha hanya bisa


tersenyum miring. Ia puas dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Orang sepertinya


memang pantas untuk mendapatkan pelajaran. Selagi ia sibuk memegangi bagian


kakinya yang terasa sakit, dengan cepat Agatha mengunci pergerakan pria itu.


Membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali. Tidak sampai lima detik, gadis itu


berhasil memborgol kedua tangannya. Misinya kali ini sukses.


Sepertinya ia butuh seutas tali untuk mengamankan


bagian kakinya. Rasa sakit itu tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi juga


akan segera mereda. Pria tersebut kemungkinan bisa saja melarikan diri


setelahnya jika kakinya tidak dalam posisi terikat. Tapi sayangnya tidak ada


sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melakukan hal tersebut.


“Sekarang, siapa yang lebih unggul?” tanya Agatha


kepada pria itu sambil tersenyum tipis.


“Tetaplah diam di sini sampai mobil untuk


menjemputmu datang,” jelasnya kemudian.


Tidak ada pilihan lain selain menelepon ke kantor.


Sebentar lagi mereka akan sampai dengan mobil dinas untuk mengangkut pria itu


ke sel tahanan. Mungkin Agatha akan meminta beberapa mobil lagi untuk datang


kemari. Ia yakin jika mereka akan menangkap lebih dari sepuluh orang malam ini.


“Setidaknya orang-orang jahat seperti kalian mulai berkurang


populasinya di sini,” kata Agatha.


Semakin sedikit orang jahat, maka akan semakin damai


dan tentram hidup mereka. Jika saja setiap manusia saling melindungi seperti


ini, maka mungkin Agatha tidak perlu bersusah payah menangani laporan yang


masuk setiap harinya.


‘DOR!!!’


Gadis itu refleks menutup kedua telinganya.


Bisa-bisa ia tuli karena mendengar suara sekeras itu. Sejauh ini sudah dua


suara tembakan yang terdengar. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana.


Sampai-sampai harus muncul suara tembakan lainnya lagi. Jangan bilang jika tim


mereka gagal untuk mengendalikan situasi tersebut. Mustahil. Setiap tim yang


dipimpin oleh Arjuna pasti selalu berhasil.


Agatha memperhatikan pintu masuk kelab malam


tersebut dan seorang pria yang sedang ia tahan di sampingnya secara bergantian.


Ia mulai bimbang ketika dihadapkan pada dua pilihan sulit. Antara masuk ke


dalam dan ikut membantu teman-temannya yang lain, atau malah tetap berada di


sini. Berjaga-jaga di depan pintu masuk utama sesuai dengan perintah Arjuna


sebelumnya.


Intuisi Agatha kali ini berkata jika mereka tidak


akan sanggup membereskan semuanya sendirian. Pasti akan kewalahan. Tiga orang


melawan massa sebanyak itu, sama sekali bukan sebuah perbandingan yang sehat.


Sampai saat ini ia


masih belum bisa memutuskan. Antara harus mengikuti kata hatinya, atau malah


tetap setia dengan perintah yang diberikan. Tidak bisakah ia diberikan pilihan


lain yang jauh lebih ringan. Rasanya ia ngin melakukan kedua opsi tadi secara


bersamaan.