The Riot

The Riot
Hacker



Agatha bisa saja


beralasan kalau ada kesalahan sistem yang terjadi secara serentak. Sehingga


terjadi kerusakan besar yang membuat hampir dari semua fasilitas tidak bisa


diakses. Beruntung gadis ini tahu setidaknya dasar-dasar teknologi. Sehingga


pada saat seperti ini ia bisa melakukan segalanya sendiri.


“Baiklah, pertama-tama


aku harus mulai dari mana lebih dulu?” gumam gadis itu sambil mengusap-usap


telapak tangannya.


“Gudang senjata!”


ucapnya lalu menjetikkan jari.


Tak berlama-lama lagi,


ia bergegas menujut tempat yang dimaksud. Agatha tak mau membuang-buang waktu.


Dia harus melakukannya dengan cepat. Orang-orang tak boleh tahu kalau sistem


mereka mendadak tidak berfungsi seperti ini. Semakin sedikit orang yang tahu


soal kerusakan sistem hari ini, maka akan ssemakin aman pula dirinya.


“Itu dia!” seru Agatha.


Begitu sampai di ambang


pintu masuk, ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Mencari satu benda yang tidak terlalu mahal memang, tapi ada informasi mahal di


dalamnya. Tidak bisa dibeli dengan cara apa pun, kecuali satu. Mencurinya.


Sebenarnya Agatha bukan


tipikal orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Ia begitu


menghormati privasi. Sama seperti orang lain menghormati diriya. Tapi, untuk


saat ini semua itu tak berlaku. Sebab sejak awal menginjakkan kakinya di sini,


ia tidak lagi hidup sebagai Agatha. Melainkan Rienna.


Begitu mendapatkan


bukunya, Agatha langsung mengambil gambar dari seluruh halaman. Mulai dari yang


terbaru sampai paling lama. Tidak ada satu halaman pun yang ia lewatkan begitu


saja.


“Selesai!” ucapnya lalu


mengembalikan buku tersebut.


Sesuai dengan dugaannya


yang sebelumnya. Agatha dapat menyelesaikan hal tersebut dalam waktu kurang


dari sepuluh menit. Sekarang waktunya pergi ke ruangan Hiraeth. Seharusnya


sedang tidak ada siapa pun di sana sekarang. Bukankah semuanya sedang berada di


atas untuk melakukan rapat. Bahkan termasuk Hiraeth. Ini adalah waktu yang


paling tepat untuk melancarkan aksinya tanpa perlu ketahuan oleh siapa pun.


Jika Agatha berhasil


mencuri beberapa informasi penting dari komputer di yang berada di ruangan pria


itu, maka semuanya akan jadi lebih mudah. 80% dari misinya pasti akan terbantu.


Informasi yang dimiliki Hiraeth belum tentu akan diketahui oleh semua orang


juga.


Beruntunglah pria itu


tidak menetapkan kata sandi di komputernya. Jadi, gadis itu bisa langsung masuk


dan mengakses setiap filenya tanpa perlu pusing-pusing memikirkan kat sandinya.


“Sepertinya Hiraeth


sudah percaya dengan semua orang yang berada di sini,” kata Agatha yang sudah


duduk di kursi Hiraeth.


“Buktinya saja, tidak


ada pintu khusu menuju ruangannya. Tidak ada kata sandi pada komputernya. Dan


satu lagi, beberapa berkas dibiarkan begitu saja,” celoteh gadis itu sendirian.


“Kalau aku jadi


dirinya, pasti tidak akan kubiarkan seperti ini. Paling tidak aku harus


mengunci nakasnya. Atau bahkan membeli satu brankas,” lanjutnya.


Mendadak gadis itu


teringat akan sesuatu. Ia lantas menghentikan kegiatannya dan melihat ke


sekitar. Brankas. Jangan-jangan memang ada benda itu di sini. Hiraeth tidak


mungkin membiarkan berkas penting berceceran begitu saja. Dia bukan orang yang


bodoh.


“Ah, nanti saja!”


serunya.


Pertama-tama ia perlu


menyelesaikan pekerjaannya yang satu ini lebih dulu. Perhatiannya hampir saja


teralihkan. Tidak. Ia harus fokus. Agatha perlu mencuri informasi terpenting yang


berada di dalam komputer ini. Jika ada urusan lain, gadis itu masih bisa


melakukannya nanti setelah ini. Lagi pula itu belum pasti. Dia hanya akan


melakukan hal-hal yang pasti lebih dulu.


Sambil menunggu


transfer filenya selesai, Agatha meyempatkan diri untuk berkeliling ruangan


tersebut. Memastikan apakah ada hal lain yang tampak mencurigakan di sini atau


tidak. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Agatha buru-buru merogoh saku


celananya.


“Halo!” sapa Agatha


lebih dulu.


“Halo! Apakah kau sudah


berada di markas utama?” tanya Immanuel.


“Kenapa memangnya?”


tanya gadis itu balik.


sedang mengalami kerusakan. Kalau kau sudah berada di sana, itu berarti kau


akan terjebak untuk beberapa saat,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Sebenarnya tanpa


dijelaskan pun Agatha sudah tahu. Tidak perlu diberi tahu lagi. Karena ia


adalah dalang dari semua kejadian ini.


“Sungguh?!” ucap


Agatha.


Bohong kalau ia berkata


sungguhan terkejut. Gadis itu hanya berpura-pura. Bersikap seolah tidak tahu


apa-apa.


“Iya, aku sedang berada


di depan lift. Kartu aksesku sama sekali tidak berfungsi,” ungkap Immanuel.


“Ternyata pekerjaanku


tidak sia-sia,” batin gadis itu di dalam hati.


Agatha membisu untuk


beberapa saat. Sampai pada akhirnya, salah satu dari mereka mulai buka suara


untuk memecah keheningan suasana yang terjadi.


“Hei!” sahut Immanuel.


Di saat yang bersamaan


pula fokus Agatha kembali terkumpul seperti sedia kala.


“Ada apa?” tanya gadis


itu.


“Sekarang kau sedang


berada di mana?” tanya Immanuel serius.


“Di markas utama,” jawab


gadis itu dengan apa adanya.


Agatha sudah bisa


menebak, Immanuel pasti akan memerintahkannya beberapa hal. Mengingat hanya ada


dirinya seorang saja di lantai itu. Ruang kontrol hanya bisa dijangkau oleh


Agatha. Kecuali memang ada orang lain di lantai yang sama.


“Baguslah kalau begitu!”


ujar pria itu.


“Sekarang aku mau kau


pergi ke ruang kontrol!” perintahnya.


“Kau tahu dimana


ruangan itu, bukan? Terakhir kali aku mengajakmu berkeliling markas belum


sampai sebulan yang lalu. Jadi aku yakin kalau kau pasti masih mengingatnya,”


ujar pria itu.


Immanuel perlu


memastikan sekali lagi, sebelum mulai memberikan perintah.


Sementara itu, di sisi


lain Agatha melirik sekilas kea rah layar komputer. Beruntung komputer ini bisa


memindahkan file berukuran besar dengan cepat. Kalau tidak, dia pasti harus


menunggu lama. Sekarang sudah lebih dari setengahnya yang salin ke dalam


flashdisk milik gadis itu. Ia hanya perlu menunggu sisanya. Agatha yakin kalau


itu tak akan lama.


“Hei! Apa kau masih di


sana?” tanya pria itu lagi karena Agatha tak menjawab pertanyaan terakhir yang


ia berikan.


“Ya, tentu saja!” balas


gadis itu dengan cepat.


“Kalau begitu pergi ke


ruang kontrol sekarang!” perintahnya sekali lagi. Masih perintah yang sama


seperti sebelumnya.


“Untuk apa?” tanya


Agatha.


“Kau yang akan


memperbaiki kerusakan sistem ini di sana,” jawab pria itu dengan apa adanya.


“Tapi, mana bisa! Aku


tidak tahu apa-apa,” kata gadis itu.


Agatha akan tetap


seperti ini. Berpura-pura tidak tahu agar tidak dicurigai. Selama ia melakukan


segalanya dengan tenang, maka tidak perlu khawatir kalau identitasnya akan


terbongkar.


“Apa kau mau terjebak


di sana selamanya?”


“Apa maksudmu? Jelas


tidak!”


“Kalau begitu pergilah


ke ruang kontrol sekarang! Akan kuberi tahu langkah selanjutnya begitu kau


sampai di sana.”


“Baiklah kalau begitu. Aku


akan segera ke sana.”


Setelah


proses penyalinan filenya selesai, Agatha buru-buru mencabut flashdisk


miliknya. Kemudian mematikan komputer tersebut. Mengembalikan keadaaan seperti


sedia kala. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.