
Beberapa orang mungkin merasa hidupnya terlalu tak adil. Ada
begitu banyak hal sepele yang mereka
permasalahkan. Terlalu banyak. Lebih tepatnya mereka terlalu memusingkan hal
yang blum tentu terjadi. Tidak bisa dipungkiri jika ternyata Agatha juga
mengalami hal serupa. Ternyata dunianya tidak pernah benar-benar damai. Rasa damai
hanya singgah sementara, tidak selamanya. Karena pada faktanya roda kehidupan
selalu berputar. Tidak ada yang bersifat statis di dunia ini.
“Jadi, kapan kau akan menikah?” tanya Narendra.
“Entahlah!” jawab gadis itu acuh tak acuh.
Hari ini lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya Narendra
mengajak anak semata wayangnya yang satu itu untuk pergi makan malam di luar.
Anggap saja sebagai hadiah. Mengingat selama beberapa tahun belakangan ini pria
itu tidak pernah memberikan apa-apa kepada Agatha. Pria itu tidak pernah
menunaikan kewajibannya untuk menafkahi anaknya.
“Kenapa hanya mencariku?” tanya Agatha secara spontan.
“Lalu bagaimana dengan anak laki-laki itu? Bukankah dia juga
darah dagingmu?” tanyanya lagi.
Narendra tidak langsung menjawab. Melainkan ia termenung
sebentar untuk beberapa saat. Sepertinya sedang kehabisan kata-kata.
“Sebenarnya ayah juga sedang mencarinya. Tapi, sejauh ini
belum ada jejak sama sekali,” ungkap pria itu secara gamblang.
“Nanti setelah bertemu dengannya, jangan pernah menemuiku
lagi seperti sekarang ini,” peringati Agatha.
“Kenapa?” tanya Narendra singkat.
“Dia tidak akan pernah menerima kenyataan ini sampai kapan pun,”
jawab Agatha dengan apa adanya.
Meski tidak berada persis di posisi anak laki-laki yang
mereka maksud ini, Agatha tahu jelas bagaimana perasaannya saat bertemu dengan
Agatha secara langsung. Lebih tepatnya bertemu dengan anak dari wanita yang
dulu sempat menjadi selingkuhannya. Agatha saja tidak bisa menerima kenyataan
jauh lebih berat dari apa yang sedang Agatha rasakan sekarang.
Kejadian di masa lalu itu bukan murni kesalahannya. Agatha
bahkan tidak tahu menahu sama sekali soal hal tersebut. Bahkan kalau bisa
memutar ulang waktu, ia tidak ingin terlahir dari kedua orang tua yang seperti
itu. Bukan karena status ekonomi mereka atau hal lainnya. Tapi, kejadian di
masa lalu benar-benar membuatnya malu sampai sekarang.
Sebenarnya ini kesalahan ibunya dan juga pria itu. Namun, di
sisi lain ibunya pernah mengaku kalau ia sama sekali tidak tahu jika Narendra
sudah menikah dan memiliki seorang anak. Entah siapa yang salah di sini. Yang
jelas bukan Agatha. Tapi, ia selalu merasa jika dirinya terpaksa harus
menanggung balasan atas perbuatan orang tuanya di masa lalu.
Dunia ini sama sekali tidak adil. Mereka melemparkan masalah
kepada orang yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang berinisiatif
untuk bertanggung jawab. Mereka hanya sedang berusaha untuk menjalani hidup
dengan cara yang paling adil menurut semesta. Tidak ada pilihan lain untuk saat
ini.
“Anggap saja jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya,”
ujar Agatha.
“Ayah tidak akan bisa melakukannya. Kau anak ayah,” balas
pria itu.
“Tapi dia juga anakmu!” tegas Agatha sekali lagi.
“Bersikaplah adil selayaknya seorang ayah. Dan perlu kau
ketahui jika saat ini hingga seterusnya aku tidak akan menganggapmu sebagai
ayahku lagi,” sarkas gadis itu.
“Jadi, apa itu sebabnya kenapa kau belum menikah sampai saat
ini?” tanya Narendra.
“Pikirkan sendiri jawabannya!” jawab Agatha.
***