
08.12
“Kemana mereka? Apa
kembali ke rumahnya masing-masing?” gumam Agatha.
Sudah satu jam lebih ia
terbaring di atas tempat tidur dan tidak melakukan apa pun. Dan sekarang ia
bosan. Kedua temannya yang sebelumnya berada di sini sekarang sudah menghilang.
Entahlah, mungkin mereka pergi makan atau malah kembali ke rumahnya. Lagi pula
Agatha tidak ada hak untuk melarang mereka.
“Ternyata begini
rasanya saat kau harus mengurus dirimu sendiri bahkan pada kondisi yang tidak
prima,” pungkasnya.
Padahal ini bukan
pertama kalinya bagi gadis itu untuk merasakan hal serupa. Sejak masih duduk di
bangku kuliah pun ia sudah sering keluar masuk rumah sakit. Dan yang
terpenting, Agatha sama sekali tidak merepotkan siapa pun kecuali dirinya
sendiri. Lantas kenapa ia masih mengeluh.
Agatha berusaha untuk
memutar otak dan mencari ide bagus. Apa yang harus ia lakukan untuk mengurangi
rasa bosannya saat ini. Yang jelas bukan dengan ponsel. Ia sudah merasa muak
dengan benda yang satu itu. Tidak peduli seberapa lama Agatha menatap layar
ponselnya sendiri. Sudah sejak tadi ia berkutat dengan layar ponselnya. Tapi
tetap tidak ada satu pun hal menyenangkan yang bisa ia temukan di sana.
Meski sudah bermain
ponsel sejak setengah jam yang lalu, ia sama sekali tidak berniat untuk
menghubungi Arjuna atau bahkan Jeff. Tidak ada alasan lain selain takut
mengganggu waktu mereka. Itu adalah alasan kuno yang banyak digunakan oleh
orang-orang.
Pada akhirnya gadis itu
memutuskan untuk pergi keluar. Mencari udara segar. Meski udara di malam hari
lebih cenderung dingin. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya kondisi kesehatan Agatha
tidak akan langsung memburuk hanya karena hal tersebut.
Agatha pergi ke taman.
Kebetulan tidak hanya ada dirinya saja di sana. Beberapa pasien juga tampak
berlalu lalang di sekitar sana. Mereka pasti memiliki alasan yang tidak jauh
berbeda dengan Agatha. Rasa jenuh karena terlalu lama berada di ruangan. Itulah
yang membawa mereka sampai kemari.
Petugas media sama
sekali tidak ada yang melarang mereka. Sekarang masih pukul delapan malam.
Masih ada sisa kurang dari satu jam lagi sebelum pada akhirnya mereka disuruh
untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Tapi, selama jarum jam belum menyentuh
angka sembilan, maka mereka masih bisa berkeliaran dengan bebas. Begitulah
aturannya.
Ada yang ditemani
bersama keluarganya, namun tidak sedikit juga yang datang sendirian kemari.
Salah satunya adalah Agatha.
Angin malam sepoi-sepoi
mengusap rambutnya yang terurai dengan lembut. Kalau langit malam tampak
berkilau karena bongkahan berlian menyala di angkasa yang selama ini kita sebut
sebagai bintang, maka rambut hitam gadis ini juga tidak kalah indah. Malah
terlihat jauh lebih berkilau di bawah sinar rembulan.
Gadis itu menghela
napasnya kasar. Pandangannya tertuju kepada langit legam malam itu. Ia tak
henti-hentinya merasa kagum melihat keindahan ruang angkasa yang bertabur
jutaan bintang dan bulan sebagai pusatnya. Agatha hampir lupa kapan terakhir
kali ia duduk di luar sambil menikmati pemandangan langit malam seperti ini.
Yang jelas itu sudah lama sekali. Waktu Agatha masih kecil, bahkan umurnya
kurang dari sepuluh tahun.
“Ibu melihatku kan
sekarang dari angkasa?” ucap Agatha dengan suara bergetar.
“Ya, ibu pasti
melihatku. Ibu selalu mengawasiku, aku tahu itu,” gumamnya sambil tersenyum
tipis.
Agatha menurunkan pandangannya. Menatap kedua telapak kakinya sambil meremas
jari tangannya yang lain. Sial! Kedua bola matanya terasa memanas. Bahkan
pandangannya ikut buram. Ia tidak bisa melihat apa pun dengan jelas sekarang.
Air mata yang tersisa sudah terkumpul di pelupuk matanya sekarang. Tinggal
menunggu sedikit lagi saja sampai tangisnya pecah.
Dadanya terasa begitu
sesak. Seolah ada benda tak terlihat yang sedang berusaha untuk menekannya dari
berbagai arah. Agatha nyaris tidak bisa bernapas. Padahal saat ini ia tengah
berada di ruang terbuka.
“Arghh!!!” gerutunya
sebal.
“Tidak aku tidak akan
menangis hanya karena hal sepele seperti itu,” katanya.
Agatha berusaha untuk
tetap terlihat tegar. Padahal keadaannya justru berbanding terbalik dengan kata
baik-baik saja. Semesta juga tahu kalau ia tidak baik. Tidak perlu berbohong. Gadis
itu sudah terlalu keras kepada dirinya sendiri. Terlalu memaksa untuk jadi apa
yang ia mau. Padahal manusia tidak bisa selalu mendapatkan keinginannya. Tuhan
tahu mana yang terbaik.
Sebagai manusia biasa,
Agatha juga berhak untuk merasa sedih, kecewa, marah, takut dan yang lainnya. Tidak
harus selalu berada dalam fase bahagia. Semua itu wajar. Pada umumnya kau akan
dianggap sebagai manusia normal jika telah merasakan itu semua. Setidaknya sekali
seumur hidup.
“Mereka yang berada di
sekitarkku, apakah sungguh menganggap jika kehadiranku itu penting atau malah
sebaliknya?”
Mendadak pertanyaan aneh
seperti itu muncul dengan begitu saja. Entahlah, dia tidak memiliki alasan yang
jelas. Semuanya terjadi begitu saja. Ini bukan yang pertama kalinya gadis itu
menanyakan hal serupa kepada dirinya sendiri. Padahal Agatha tahu dengan jelas
kalau ia tidak akan pernah menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut pada
dirinya sendiri. Tidak sama sekali.
“Aku tidak tahu harus
bertanya ke siapa,” ungkapnya.
“Mereka pasti tidak
akan mau menjawab dengan jujur,” pungkasnya.
Pada kenyataannya
memang begitu. Beberapa manusia sengaja menyembunyikan kebenaran dari manusia lain
hanya karena takut saling menyakiti. Orang-orang bilang jika kebenaran adalah
hal paling menyakitkan untuk beberapa hal tertentu. Namun, tidak sedikit juga
yang memang sengaja menyembunyikan kebenaran dengan niat tidak baik.
“Ibu, kemarin aku
bertemu dengan ayah lagi untuk yang kedua kalinya setelah kejadian di pusat
olahraga itu,” beber Agatha kepada semesta.
Untuk saat ini tidak
ada orang lain yang bisa menjadi pendengar terbaik selain semesta.
“Dia memberiku tawaran
untuk bergabung ke dalam perusahaan yang dipimpinnya. Aku tidak tahu pasti apa
rencananya untuk ke depan. Tapi, yang jelas aku tidak bisa percaya sepenuhnya
dengan pria itu. Meski dia adalah ayahku dan kalian pernah saling mencintai
sebelumnya. Ibu saja bisa dibuat hilang kepercayaan kepada ayah,” celoteh gadis
itu dengan panjang lebar.
Lebih tepatnya sekarang
ia sedang berkeluh kesah. Anggap saja jika ibunya yang konon berada di surga
mendengar semua curahan hati anak semata wayangnya ini. Hanya dengan cara itu
Agatha bisa merasa jauh lebih baik.
“Lucu
sekali. Mereka saling mencintai pada awalnya, kemudian berubah jadi saling
membenci satu sama lain,” gumam gadis itu sambil terkekeh.