
Ini adalah hari yang paling berat dari semua hari
terberat yang sudah pernah ia jalani sebelumnya. Bagiamana tidak, hari ini
Agatha harus pergi untuk melaksanakan misinya. Sungguh untuk pertama kalinya
Agatha merasa keberatan untuk melaksanakan tugas. Meski ini bukan yang pertama
kalinya bagi gadis itu untuk berhadapan dengan bahaya.
Sudah beberapa kali nyawanya nyaris terancam dan
bahkan hampir dijadikan taruhan. Berhadapan dengan penjahat kelas kakap bahkan
sudah menjadi makanan sehari-harinya. Seharusnya Agatha sudah terbiasa dengan
kegiatan berbahaya seperti itu. Bagaimana cara menghadapi penjahat dan
sejenisnya, seharusnya ia tidak perlu cemas lagi soal keselamatannya. Namun,
tetap saja Agatha tak percaya dengan dirinya sendiri.
“Aku tidak akan rela jika sampai mati di tangan para
mafia itu,” gerutu Agatha sembair berjalan ke kantor Arjuna.
Pria itu memanggilnya untuk datang ke ruangannya,
tepat sebelum misi mereka dimulai. Mereka harus berdiskusi setidaknya satu kali
lagi untuk memastikan agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Berhasil
atau tidaknya, memang bukan urusan mereka. Takdir mengambil peran penting di
sin. Tapi, memangnya apa salahnya untuk berusaha. Selama itu terasa
memungkinkan untuk berhasil, kenapa harus berhenti di tengah jalan.
‘TOK! TOK! TOK!’
Agatha masih berdiri tepat di depan pintu tersebut. Ia
tetap akan berada di sini sampai Arjuna mengizinkannya untuk masuk. Satu detik,
dua detik, tiga detik setelahnya sama tidak ada jawaban sama sekali. Tidak
mungkin jika Arjuna tidak mendengarnya, kecuali jika ia memang sedang tidak
berada di dalam ruangan tersebut. Tapi, memangnya kemana ia pada jam segini.
Sekarang bahkan masih jam sepuluh pagi. Terlalu cepat untuk pergi makan siang.
“Ayo, masuk!” ajak Arjuna.
Gadis itu spontan terlonjak kaget. Bagaimana tidak
kaget, ketika sebuah suara mendadak muncul entah darimana. Padahal tadinya ia
hanya sendirian di sini. Ternyata pemiliki suara itu dalah Arjuna. Seseorang
yang sudah ia cari-cari sejak tadi. Entah darimana datangnya. Agatha bahkan
tidak tahu sudah sejak kapan Arjuna berada di sampingnya.
‘CEKLEK!’
“Tunggu apa lagi?” tanya pria itu.
Arjuna bersikap begitu santai. Seolah tidak terjadi
apa-apa. Padahal beberapa detik yang lalu, jantung gadis itu nyaris copot
karenanya. Ia bahkan tidak ada meminta maaf kepada Agatha sama sekali. Sungguh
menyebalkan.
Dengan perasaan kesal, gadis itu melangkah masuk ke
dalam. Membuntuti Arjuna dari belakang, kemudian mengambil tempat duduk tepat
di depannya. Sehingga posisi mereka saat ini sedang berhadap-hadapan.
“Ada perlu apa sampai memanggilku kemari?” tanya
gadis itu dengan nada bicara yang terkesan ketus.
“Seperti biasanya. Kita hanya perlu melakukan briefing setidaknya sekali lagi sampai
rencananya benar-benar terasa jelas,” jawab Arjuna tanpa memandang lawan
bicaranya.
Tampaknya pria itu masih sibuk untuk mencari sesuatu
di sana. Entah apa. Tapi, yang jelas Agatha juga tidak ingin membantunya sama
sekali.
“Kurasa itu tidak perlu. Semuanya sudah cukup
jelas,” kata Agatha.
Mendengar perkataan tersebut, Arjuna lantas langsung
menghentikan kegiatannya. Dia berdecak sebal sambil melemparkan pandangannya ke
arah gadis itu. Kali ini sorot matanya berubah jadi tajam. Ada sebuah makna
tersembunyi yang tidak ia ketahui artinya. Dan Agatha sepertinya memang tidak
perlu tahu. Tidak hanya sampai di situ saja. Rahangnya bahkan mulai mengeras.
Seolah siap untuk menghabisi siapa saja yang berada di depannya saat ini dengan
membabi-buta.
“Kau akan menghadapi seorang penjahat yang nyaris
tidak memiliki hati nurani sama sekali, dan bisa-bisanya kau berkata kalau itu
tidak penting sama sekali?” ucap pria itu yang kemudian diakhiri dengan sebuah
“Memangnya kenapa?” tanya Agatha balik.
“Selama ini aku juga sudah cukup sering menghadapi
berbagai jenis bahaya dan bertemu dengan beberapa penjahat kelas kakap dalam
waktu yang bersamaan,” jelasnya dengan panjang lebar kemudian.
‘BRAK!!!’
Spontan Arjuna langsung menggebrak mejanya. Sehingga
terdengar suara debaman yang cukup besar menggema di seluruh penjuru ruangan
pada saat itu. Tapi, anehnya Agatha tetap tenang. Ia bahkan tidak merasa
terkejut sama sekali. Sungguh aneh, tapi nyata.
“Kau tidak bisa membandingkan mereka dengan para
penjahat yang pernah kau temui sebelumnya!” teriak Arjuna.
“Mereka itu berbeda! Jauh lebih berbahaya dari apa
yang pernah kau bayangkan!” bentaknya.
Jika pria itu berharap agar Agatha merasa
terguncang, maka ia salah besar. Tindakannya salah. Karena pada akhirnya hal
itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Agatha masih tetap tenang.
“Lalu, apa selama ini kau sadar jika dirimu
sendirilah yang sudah melemparku ke dalam bahaya besar itu?” tanya Agatha
dengan nada datar.
“Kurasa tidak,” gumamnya.
“Memangnya pria mana yang mau membuat wanita yang ia
cintai terjebak dalam bahaya besar secara sengaja? Sepertinya hanya kau,” ungkap gadis itu
kemudian.
“Tapi, terserahlah!” pasrahnya.
“Mungkin, memang begitu caramu untuk mencintai orang
lain!” tukas Agatha.
Beberapa detik setelahnya, keheningan suasana
kembali mencekik. Tidak ada yang mau buka suara sama sekali. Bahkan sangking
sepinya, Agatha sampai bisa mendengar deru napasnya sendiri. Mungkin jika ada
jarum jatuh pun, ia pasti masih bisa mendengarnya. Gendang telinga mereka akan
jadi lebih peka pada situasi seperti ini.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya misi kita kali ini
harus berjalan dengan lancar!” celetuk pria itu secara tiba-tiba.
Tampaknya Agatha sama sekali tidak ingin menanggapi
perkataan pria di depannya barusan. Suasana hatinya sudah terlanjut buruk. Tidak
ada yang benar-benar balik di sini. Ia hanya menggidikkan bahu, pertanda
pasrah. Semua keputusan dan perintah berada di tangan Arjuna.
“Kau hanya peduli soal reputasimu di kantor,
terlepas dari itu membahayakan orang lain atau tidak,” batinnya di dalam hati.
Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi memang. Mereka
sudah saling mengenal sejak beberapa tahun belakangan ini. Dan yang lebih
membuat keduanya bisa saling akrab adalah dengan bekerja pada tim yang sama
pula. Jadi, wajar saja jika Agatha tahu setidaknya satu atau dua dari sikap
pria ini.
Arogan dan keras kepala sejak dulu sudah menjadi
ciri khas Arjuna. Kedua sifat itu tidak pernah lepas dari dirinya. Mau
bagaimana lagi. Tidak mudah untuk mengubah sifat bawaan kita sejak kecil.
“Aku bisa memakluminya,” gumam Agatha di dalam
hatinya.
Sementara itu, di sisi lain Arjuna tampak memijat
pilipisnya pelan. Tampaknya ia jadi pusing karena terlalu banyak beban pikiran.
Salah satunya adalah tentang misi Agatha. Jelas misi berbahaya seperti ini akan
menyita begitu banyak perhatian.
“Nanti selesai makan siang, aku akan mengantarmu ke
markas mereka. Tetap pakai alat yang sudah kuberikan itu untuk tetap terhubung
denganku,” jelasnya sambil menghela napas.
“Satu lagi jangan sampai lupa!” tegasnya.
“Bersikaplah senatural
mungkin agar mereka tidak curiga,” pesan pria itu untuk yang terakhir kalinya.