The Riot

The Riot
Briefing



Ini adalah hari yang paling berat dari semua hari


terberat yang sudah pernah ia jalani sebelumnya. Bagiamana tidak, hari ini


Agatha harus pergi untuk melaksanakan misinya. Sungguh untuk pertama kalinya


Agatha merasa keberatan untuk melaksanakan tugas. Meski ini bukan yang pertama


kalinya bagi gadis itu untuk berhadapan dengan bahaya.


Sudah beberapa kali nyawanya nyaris terancam dan


bahkan hampir dijadikan taruhan. Berhadapan dengan penjahat kelas kakap bahkan


sudah menjadi makanan sehari-harinya. Seharusnya Agatha sudah terbiasa dengan


kegiatan berbahaya seperti itu. Bagaimana cara menghadapi penjahat dan


sejenisnya, seharusnya ia tidak perlu cemas lagi soal keselamatannya. Namun,


tetap saja Agatha tak percaya dengan dirinya sendiri.


“Aku tidak akan rela jika sampai mati di tangan para


mafia itu,” gerutu Agatha sembair berjalan ke kantor Arjuna.


Pria itu memanggilnya untuk datang ke ruangannya,


tepat sebelum misi mereka dimulai. Mereka harus berdiskusi setidaknya satu kali


lagi untuk memastikan agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Berhasil


atau tidaknya, memang bukan urusan mereka. Takdir mengambil peran penting di


sin. Tapi, memangnya apa salahnya untuk berusaha. Selama itu terasa


memungkinkan untuk berhasil, kenapa harus berhenti di tengah jalan.


‘TOK! TOK! TOK!’


Agatha masih berdiri tepat di depan pintu tersebut. Ia


tetap akan berada di sini sampai Arjuna mengizinkannya untuk masuk. Satu detik,


dua detik, tiga detik setelahnya sama tidak ada jawaban sama sekali. Tidak


mungkin jika Arjuna tidak mendengarnya, kecuali jika ia memang sedang tidak


berada di dalam ruangan tersebut. Tapi, memangnya kemana ia pada jam segini.


Sekarang bahkan masih jam sepuluh pagi. Terlalu cepat untuk pergi makan siang.


“Ayo, masuk!” ajak Arjuna.


Gadis itu spontan terlonjak kaget. Bagaimana tidak


kaget, ketika sebuah suara mendadak muncul entah darimana. Padahal tadinya ia


hanya sendirian di sini. Ternyata pemiliki suara itu dalah Arjuna. Seseorang


yang sudah ia cari-cari sejak tadi. Entah darimana datangnya. Agatha bahkan


tidak tahu sudah sejak kapan Arjuna berada di sampingnya.


‘CEKLEK!’


“Tunggu apa lagi?” tanya pria itu.


Arjuna bersikap begitu santai. Seolah tidak terjadi


apa-apa. Padahal beberapa detik yang lalu, jantung gadis itu nyaris copot


karenanya. Ia bahkan tidak ada meminta maaf kepada Agatha sama sekali. Sungguh


menyebalkan.


Dengan perasaan kesal, gadis itu melangkah masuk ke


dalam. Membuntuti Arjuna dari belakang, kemudian mengambil tempat duduk tepat


di depannya. Sehingga posisi mereka saat ini sedang berhadap-hadapan.


“Ada perlu apa sampai memanggilku kemari?” tanya


gadis itu dengan nada bicara yang terkesan ketus.


“Seperti biasanya. Kita hanya perlu melakukan briefing setidaknya sekali lagi sampai


rencananya benar-benar terasa jelas,” jawab Arjuna tanpa memandang lawan


bicaranya.


Tampaknya pria itu masih sibuk untuk mencari sesuatu


di sana. Entah apa. Tapi, yang jelas Agatha juga tidak ingin membantunya sama


sekali.


“Kurasa itu tidak perlu. Semuanya sudah cukup


jelas,” kata Agatha.


Mendengar perkataan tersebut, Arjuna lantas langsung


menghentikan kegiatannya. Dia berdecak sebal sambil melemparkan pandangannya ke


arah gadis itu. Kali ini sorot matanya berubah jadi tajam. Ada sebuah makna


tersembunyi yang tidak ia ketahui artinya. Dan Agatha sepertinya memang tidak


perlu tahu. Tidak hanya sampai di situ saja. Rahangnya bahkan mulai mengeras.


Seolah siap untuk menghabisi siapa saja yang berada di depannya saat ini dengan


membabi-buta.


“Kau akan menghadapi seorang penjahat yang nyaris


tidak memiliki hati nurani sama sekali, dan bisa-bisanya kau berkata kalau itu


tidak penting sama sekali?” ucap pria itu yang kemudian diakhiri dengan sebuah


“Memangnya kenapa?” tanya Agatha balik.


“Selama ini aku juga sudah cukup sering menghadapi


berbagai jenis bahaya dan bertemu dengan beberapa penjahat kelas kakap dalam


waktu yang bersamaan,” jelasnya dengan panjang lebar kemudian.


‘BRAK!!!’


Spontan Arjuna langsung menggebrak mejanya. Sehingga


terdengar suara debaman yang cukup besar menggema di seluruh penjuru ruangan


pada saat itu. Tapi, anehnya Agatha tetap tenang. Ia bahkan tidak merasa


terkejut sama sekali. Sungguh aneh, tapi nyata.


“Kau tidak bisa membandingkan mereka dengan para


penjahat yang pernah kau temui sebelumnya!” teriak Arjuna.


“Mereka itu berbeda! Jauh lebih berbahaya dari apa


yang pernah kau bayangkan!” bentaknya.


Jika pria itu berharap agar Agatha merasa


terguncang, maka ia salah besar. Tindakannya salah. Karena pada akhirnya hal


itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Agatha masih tetap tenang.


“Lalu, apa selama ini kau sadar jika dirimu


sendirilah yang sudah melemparku ke dalam bahaya besar itu?” tanya Agatha


dengan nada datar.


“Kurasa tidak,” gumamnya.


“Memangnya pria mana yang mau membuat wanita yang ia


cintai terjebak dalam bahaya besar secara sengaja?  Sepertinya hanya kau,” ungkap gadis itu


kemudian.


“Tapi, terserahlah!” pasrahnya.


“Mungkin, memang begitu caramu untuk mencintai orang


lain!” tukas Agatha.


Beberapa detik setelahnya, keheningan suasana


kembali mencekik. Tidak ada yang mau buka suara sama sekali. Bahkan sangking


sepinya, Agatha sampai bisa mendengar deru napasnya sendiri. Mungkin jika ada


jarum jatuh pun, ia pasti masih bisa mendengarnya. Gendang telinga mereka akan


jadi lebih peka pada situasi seperti ini.


“Aku tidak mau tahu, pokoknya misi kita kali ini


harus berjalan dengan lancar!” celetuk pria itu secara tiba-tiba.


Tampaknya Agatha sama sekali tidak ingin menanggapi


perkataan pria di depannya barusan. Suasana hatinya sudah terlanjut buruk. Tidak


ada yang benar-benar balik di sini. Ia hanya menggidikkan bahu, pertanda


pasrah. Semua keputusan dan perintah berada di tangan Arjuna.


“Kau hanya peduli soal reputasimu di kantor,


terlepas dari itu membahayakan orang lain atau tidak,”  batinnya di dalam hati.


Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi memang. Mereka


sudah saling mengenal sejak beberapa tahun belakangan ini. Dan yang lebih


membuat keduanya bisa saling akrab adalah dengan bekerja pada tim yang sama


pula. Jadi, wajar saja jika Agatha tahu setidaknya satu atau dua dari sikap


pria ini.


Arogan dan keras kepala sejak dulu sudah menjadi


ciri khas Arjuna. Kedua sifat itu tidak pernah lepas dari dirinya. Mau


bagaimana lagi. Tidak mudah untuk mengubah sifat bawaan kita sejak kecil.


“Aku bisa memakluminya,” gumam Agatha di dalam


hatinya.


Sementara itu, di sisi lain Arjuna tampak memijat


pilipisnya pelan. Tampaknya ia jadi pusing karena terlalu banyak beban pikiran.


Salah satunya adalah tentang misi Agatha. Jelas misi berbahaya seperti ini akan


menyita begitu banyak perhatian.


“Nanti selesai makan siang, aku akan mengantarmu ke


markas mereka. Tetap pakai alat yang sudah kuberikan itu untuk tetap terhubung


denganku,” jelasnya sambil menghela napas.


“Satu lagi jangan sampai lupa!” tegasnya.


“Bersikaplah senatural


mungkin agar mereka tidak curiga,” pesan pria itu untuk yang terakhir kalinya.