
Tidak semua hal yang berada di dunia ini perlu untuk
diketahui banyak orang. Terkadang, menjadi tidak tahu malah menjadi jauh lebih
baik. Sama seperti rahasia semesta yang
tidak semestinya diungkap dengan begitu saja.
Pagi tadi beberapa polisi dari kantor cabang lain mendadak
datang ke kantornya. Kunjungan kali ini bukan tanpa alasan. Mereka menuduh
kalau Agatha terlibat dalam aksi pencurian di sebuah mall. Sontak hal tersebut
berhasil mengejutkan seisi kantor. Bahkan Agatha sendiri dibuat tidak habis
pikir dengan hal tersebut.
Bagaimana bisa mereka menuduhnya melakukan pencurian barang
berharga di sebuah mall. Padahal kemarin jelas-jelas gadis itu mengabiskan
waktunya semalaman di dalam kamar apartmentnya setelah pulang kerja. Dan yang
terpenting, Agatha kemarin tidak menyempatkan diri sama sekali untuk pergi ke
mall.
Agatha duduk di ruangan interogasi bersama beberapa polisi
lain yang mencurigainya. Saat ini statusnya masih sebagai tersangka. Dengan
begitu santai, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Sesekali
menghela napas dengan kasar.
“Ada masalah apa lagi kali ini,” batin gadis itu di dalam
hati.
Beberapa orang yang duduk di depannya tampak berdiskusi
sebentar. Mereka sama sekali tidak ingin melibatkan Agatha dalam diskusi khusus
kali ini.
“Apa masih lama lagi?!” celetuk gadis itu secara tiba-tiba.
“Kami sudah sudah selesai,” jawab salah satunya.
Kedua polisi yang mencurigainya itu mengambil tempat duduk
tepat di hadapannya. Menatap Agatha dengan penuh arti. Tidak bisa dijelaskan
apa maknanya. Terlalu banyak untk dideskripsikan secara satu-persatu. Tapi yang
jelas, mereka pasti sedang kebingungan. Bingung bagaimana bisa seorang yang
berstatus polisi dan masuk ke dalam tim khusus di kantornya melakukan tindak
kriminal seperti itu. Perbuatannya itu sama sekali tidak mencerminkan bagaimana
seharusnya seorang penegak keadilan dan keamanan bertindak. Tapi, bukan itu
poin utamanya. Masih ada satu hal lagi yang benar-benar membuat orang-orang di
sekitarnya tidak habis pikir. Bagaimana bisa Agatha bersikap tenang dan seolah
tidak sabar untuk segera diinterogasi. Kalau para penjahat pada umumnya merasa
gugup dan berusaha untuk menghindari hal tersebut, maka yang sebaliknya terjadi
pada Agatha. Entahlah, sepertinya ia terlalu bersemangat untuk membuktikan
kalau dirinya tak bersalah.
Saat ini ada dua orang yang akan menginterogasinya di dalam
ruangan tersebut. Ada seorang pria paruh baya dengan kumis yang tidak terlalu
lebat. Sementara di sampingnya ada seseorang yang tampak jaduh lebih muda.
Sepertinya pria itu masih sepantaran dengan Agatha. Sisanya mengamati bagaimana
jalannya proses interogasi di ruangan khusus. Karena terbilang sudah cukup lama
bekerja di sini, ia tahu persis bagaimana denah lokasi setiap ruangan yang ada
di tempat ini.
Baru pertama kalinya Agatha duduk di ruangan interogasi
bukan sebagai penanya. Namun, sebagai tersangka. Sungguh konyol sekaligus
memalukan di saat yang bersamaan. Agatha sama sekali tidak pernah membayangkan
kalau hal seperti ini akan terjadi kepada dirinya.
“Baiklah, kalau begitu langsung kita mulai saja!” ucap si
pria berkumis.
“Kuharap anda mau menjawab semua pertanyaan di sini dengan
sejujur-jujurnya. Tolong bersikap kooperatif,” jelas si pemuda itu.
Agatha mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan mereka
sambil berkata, “Dengan senang hati.”
Padahal mereka tidak perlu memberikan penjelasan sampai
sedetail itu. Agatha juga tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini ia selalu
memberikan instruksi kepada orang lain pada saat akan diinterogasi. Jadi, bisa
dikatakan jika ia sudah cukup hapal dengan semua itu.
Tidak perlu waktu lama, mereka langsung saja memasuki
“Kemarin, pada pukul 14.45 apa yang kau lakukan?” tanya di
pria berkumis.
“Seperti biasanya, aku sibuk menganalisa setiap bukti yang
baru saja dikumpulkan dari kasus terbaru yang sedang kutangani saat ini,” jawab
gadis itu dengan apa adanya.
“Jangan berbohong!” tergas si pemuda.
“Aku tidak memaksa kalian untuk percaya atau tidak. Tapi,
yang kukatakan saat ini adalah kebenarannya,” jelas Agatha dengan begitu tenang.
Tapi, sepertinya penjelasan itu tidak berarti apa-apa.
Karena tampaknya kedua pria yang duduk di hadapannya ini sama sekali tidak
percaya. Padahal apa yang dikatakan olehnya tadi benar.
“Biar kutanya sekali lagi,” ucap si pemuda.
“Kemana dan apa yang kau lakukan kemarin pada pukul 14.45?”
tanyanya.
Agatha tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia menghela
napas dengan kasar. Kemudian melempar pandangannya ke langit-langit.
“Begini, ada sebuah kamera pengawas yang diletakkan di ujung
koridor menuju ruanganku. Seharusnya kamera itu bisa menangkap segala aktivitas
yang terjadi di sana. Aku masuk ke dalam ruanganku kembali setelah jam makan
siang, yaitu pada pukul 13.30,” jelas Agatha dengan panjang lebar.
“Tapi, kalau hal itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan
kalian yang barusan, aku sarankan untuk melihat rekaman kamera pengawas di
ruanganku pada waktu tersebut,” sambungnya.
Sepertinya Agatha bersikap tenang karena ia tahu kalau
dirinya tidak bersalah sama sekali. Dan yang terpenting, gadis itu memiliki
cukup bukti. Ia tahu persis bagaimana cara untuk membela dirinya sendiri.
Setelah menerima jawaban dari Agatha, kedua pria di
hadapannya saling melempar pandangan satu sama lain. Lalu tak lama setelahnya
Thomas masuk dengan membawa sebuah laptop di tangannya. Seluruh rekaman dair
kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru ruangan terhubung ke sini
selain rekaman yang berada di pusat kontrol. Jadi, mereka bisa mengawasi nya
dari berbagai tempat.
Rekaman yang dimaksud pun dimainkan. Perkataan Agatha benar.
Dia sungguh berada di ruangannya sendiri pada jam tersebut. Yang berada di
dalam rekaman tersebut sungguh dirinya. Bukan boneka atau pun orang lain. Cukup
membingungkan. Bagaimana bisa Agatha berada di dua tempat yang berbeda dalam
satu waktu bersamaan.
“Jadi, bagaimana?” tanya Agatha.
“Apa jawabanku bisa diterima?” tanyanya lagi.
Namun, sama sekal itidak ada jawaban dari orang-orang yang
berada di sana. Sekarang jumlahnya bertambah. Thomas diminta untuk tetap berada
di dalam ruangan.
“Kalau memang benar kau sedang melakukan pekerjaanmu di
kantor, bagaimana bisa kau berada di mall ini?” tanya si pria berkumis sambil
menyodorkan sebuah foto.
Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna, saat
melihat seseorang yang mirip dengan dirinya berada di tengah kerumunan mall.
Wajahnya benar-benar mirip.
“Ini bukan aku,” ungkap Agatha secara terang-terangan.
“Lalu, kalau bukan kau siapa? Apa kau memiliki kembaran?”
tanya si pemuda.
“Tidak, aku tidak terlahir dengan orang lain yang memiliki
wajah sama denganku,” jawab Agatha.
“Bisa jadi kebetulan kami memang dua orang asing yang tidak
sengaja memiliki beberapa kemiripan,” jelasnya.
“Coba perhatikan lagi baik-baik!” perintah gadis itu.
Sebenarnya apa yang dikatakan
oleh Agatha tidak ada saalahnya untuk dipertimbangkan sekali lagi. Siapa tahu
memang benar hanya mirip. Yang jelas itu bukan Agatha.