
Agatha sengaja
berkeliling markas kali ini. Barang kali ada hal baru yang bisa ia dapatkan. Yang
mungkin selama ini mereka sembunyikan. Sepertinya orang-orang itu memang
menyembunyikan segala sesuatunya dari Agatha. Tahu sendiri bagaimana Agatha
mengakses semua informasi itu.
“Benar-benar sepi,”
gumamnya.
Bahkan sangking sepinya
suara Agatha yang pada dasarnya tidak terlalu besar, kini jadi terdengar
sedikit lebih kuat. Tidak hanya itu. Suara langkah kakinya pun terdengar
nyaring. Menggema di seluruh penjuru ruangan.
Sekarang gadis itu akan
pergi ke ruangan Hiraeth untuk memeriksa beberapa brankas bersis dokumen
penting. Waktu itu ia belum sempat membukanya. Jangankan untuk memeriksa,
menyentuh saja tidak bisa. Agatha tengah diburu oleh waktu pada saat itu. Andai
saja kemarin Immanuel tidak meneleponnya lebih awal. Maka ia pasti masih
memiliki sisa waktu yang cukup.
‘DRRTTTT!!!!’
Baru saja ia akan
melangkah menuju ruangan yang dimaksud. Namun, mendadak ponselnya bergetar
pelan. Sepertinya ada panggilan masuk. Dugaannya benar. Arjuna memanggilnya
sekarang. Tanpa buang-buang waktu lagi, ia segera mengangkat panggilan masuk
tersebut.
“Kau dimana sekarang?!”
interupsi pria itu begitu panggilannya tersambung.
“Di markas utama.
Memangnya kenapa?” balas Agatha yang kemudian diakhiri dengan sebuah
pertanyaan.
“Kembali ke kantor
sekarang juga!” perintah pria itu.
“Hiraeth dan anak
buahnya berhasil melarikan diri,” jelas Arjuna kemudian menutup teleponnya.
Untuk beberapa saat
gadis itu tercengang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Padahal tadi sudah
jelas jika Arjuna menyuruhnya untuk cepat datang kemari. Tunggu sebentar. Otaknya
masih perlu waktu untuk memproses segala informasi itu.
“Tidak mungkin,”
gumamnya.
Tanpa pikir panjang
lagi, Agatha buru-buru pergi menuju lift. Dengan langkah yang tergesa-gesa
gadis itu keluar dari sana kemudian segera menuju ke mobil. Sekarang sudah
tidak ada waktu lagi untuk bersantai.
“Kenapa mereka tidak
langsung pergi mencarinya?!” gerutu gadis itu sambil tetap mengemudi.
Takut, marah, cemas dan
kesal bercampur jadi satu di dalam hatinya. Perasaan yang sulit untuk
didefenisikan dengan kata-kata.
Agatha masih tidak
menyangka. Bagaimana bisa kemungkinan buruk itu harus terjadi sekarang. Hari ini.
Padahal mereka baru saja selesai merayakan kemenangan. Sekarang dirinya sudah
harus terancam lagi. Di satu sisi Agatha masih belum mengurus kepindahannya. Padahal
sebellumnya ia berencana untuk pindah tempat tinggal. Hal tersebut untuk
mengurangi resiko buruk.
Hiraet dan anak buahnya
yang lain itu sungguh menjadi beban tersendiri bagi Agatha. Mereka tidak pernah
bisa membiarkan gadis itu hidup dengan tenang. Lebih tepatnya Agatha lah yang
telah mengusik ketenangan mereka. Dengan datang sebagai mata-mata dan
mengacaukan segala rencana. Itu sama saja dengan mencari masalah kepada orang
yang tidak tepat.
Semua orang mengatakan
kalau Agatha adalah sosok seorang gadis yang pemberani. Waktu masih kecil, ayah
dan ibunya berkata kalau ia akan tumbuh menjadi anak yang pemberani. Sekarang,
orang-orang di sekitarnya mengatakan hal serupa. Immanuel dan teman-temannya
bilang, jika ia berani karena sudah menghadapi Hiraeth sendirian dengan tangan
kosong. Arjuna dan rekan-rekan satu timnya mengatakan kalau ia berani karena
sudah pergi ke kandang para singa itu sendirian. Namun, dirinya sendiri
mengatakan hal sebaliknya. Ia adalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik
kata-kata berani itu.
apakah ia masih akan tetap menjadi Agatha yang sama begitu sampai di kantor
atau tidak. Sosok jiwa yang pemberan itu entah masih ada di dalam dirinya atau
sudah lama pergi. Atau mungkin memang tidak pernah ada sama sekali.
Ia sudah menempuh lebih
dari setengah perjalanan. Hampir sampai di kantor lebih tepatnya. Namun, ia
sama sekali tidak memiliki rencana apa pun di dalam kepalanya. Agatha sungguh
sudah kehabisan akal. Padahal orang-orang bilang jika kau akan menemukan ide
brilian pada saat terdesak seperti ini. Namun, tampaknya hal itu sama sekali
tidak berlaku baginya. Insting bertahan hidupnya sedang tidak muncul sekarang
meski ia ingin. Agatha tak tahu harus berbuat apa.
Dari kejauhan Agatha
sudah bisa melihat kantornya sendiri. Tapi mendadak ia menginjak pedal rem. Padahal
jaraknya hanya tinggal sekitar sepuluh meter lagi. Pasti ada sesuatu yang salah
sampai ia bersikap demikian. Tidak mungkin kalau Agatha mendadak mengurungkan
niatnya untuk pergi ke kantor, padahal tempat tujuannya sudah berada di depan
mata.
“Tunggu dulu!” gumamnya
sambil memicingkan mata.
“Apa yang mereka
lakukan dengan….”
“Sial!” umpat gadis
itu.
Agatha memukul setir
mobilnya dengan sekuat tenaga karena kesal. Beruntung mesinnya sudah dimatikan.
Jadi klaksonnya tidak berbunyi meski sudah ditekan sekali pun.
Bagaimana gadis itu
bisa bersabar saat melihat rekan-rekan kerjanya diikat menjadi satu di
pelataran utama. Dan para mafia itu menodongi mereka satu persatu dengan
pistol. Senjata itu pasti mereka dapatkan dari para polisi. Mereka merebutnya.
Sekarang ia tahu kalau
Arjuna pasti tidak mungkin menghubunginya sendiri untuk meminta bantuan. Kedua tangannya
saja terikat. Sudah tidak diragukan lagi. Ini pasti pekerjaan mereka. Hiraeth
dan anak buahnya hanya ingin memancing Agatha untuk datang kemari. Tapi,
sayangnya Agatha tidak sebodoh itu. Dia sudah terbiasa untuk bekerja dengan
menggunakan otaknya. Berbeda dengan mereka.
Agatha menghela napas,
kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia butuh beberapa menit
untuk memikirkan sebuah rencana. Tentu saja harus tenang lebih dulu.
“Sepertinya aku masih
membawa beberapa senjata,” ujar gadis itu.
Tanpa pikir panjang, ia
buru-buru mengecek bagasinya. Ternyata benar. Masih ada satu set peralatan
untuk menembak dalam jarak jauh. Ada satu pistol yang memang biasa ia gunakan.
Dan yang terpenting, Agatha masih memiliki persediaan peluru yang cukup. Bahkan
mungkin lebih dari cukup.
Sekarang ia sudah tahu
harus melakukan apa lagi. Agatha mengeluarkan semua itu dari dalam bagasinya,
kemudian membawanya ke atap rumah kosong yang berada di seberang. Dia tidak
peduli dengan hantu atau semacamnya. Lagi pula ini siang bolong. Ia jauh lebih
takut kalau Hiraeth menghabisi mereka semua.
Dengan cepat namun
tetap teratur, Agatha mulai merakit senjatanya. Kali ini ia sama sekali tidak
berencana untuk menghabisi mereka. Seperti kesepakatannya dengan Arjuna di
awal, jika mereka tidak akan membunuh orang-orang itu. Bagaimanapun juga mereka
tetap harus mendapatkan hukuman di sisa hidupnya.
“Mungkin kalian akan
terluka sedikit saja hari ini,” ucap Agatha kepada dirinya sendiri.
“Tapi, aku tidak bisa
berjanji kalau kalian akan tetap hidup setelahnya,” imbuhnya sambil tersenyum
miring.
Memang
benar, Agatha sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti mereka. Tapi, di sisi
lain Agatha juga tidak punya cara lain. Mungkin Hiraeth dan sebagian besar anak
buahnya akan terluka ringan saja. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan jika
mereka akan meninggal saat itu juga. Bukankah tidak ada satu pun manusia yang
bisa memastikan masa depan.