
Semakin kemari masalah kian bertambah saja. Bahkan semesta
seolah tidak memberikan kesempatan bagi Agatha untuk menyelesaikannya secara
satu-persatu. Tidak semudah yang ia bayangkan. Agatha berencana untuk
melepaskan status pekerjaannya saat ini sebagai salah satu petugas keamanan.
Kantor tidak lagi menjadi tempat yang nyaman baginya. Sudah tidak seperti dulu.
Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Agatha berpikiran
seperti itu. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia berencana untuk pindah
tempat kerja. Tapi, sampai sekarang ia bahkan belum menemukan pekerjaan yang
sesuai dengannya. Ternyata keluhan orang-orang benar adanya. Memang sulit untuk
mencari pekerjaan di zaman sekarang ini. Satu-satunya ketakutan terbesar gadis
ini adalah kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran.
“Kalau aku melepas pekerjaanku yang sekarang sebelum
mendapatkan pekerjaan baru, itu sama saja dengan mempertaruhkan seluruh
hidupku,” gumamnya sambil menyatukan kedua telapak tangan.
Agatha sedang berpikir keras. Memutar otak mencari jalan
keluar. Gadis itu ingin mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman, namun di sisi
lain juga tidak semudah itu untuk mencari hal yang ia inginkan.
Saat ini pikirannya sedang kacau. Ia tidak tahu apakah harus
bertahan atau malah pergi meninggalkan semuanya. Lebih tepatnya, ia tidak
pernah bisa memutuskan dengan cepat untuk hal-hal penting seperti ini.
Semakin dewasa, entah kenapa kehidupan terasa semakin berat.
Kau harus terus memikirkan tentang cara bertahan hidup. Cara bersaing dengan
manusia lainnya, agar tetap bisa mendapatkan tempat di dunia ini. Ya, orang
dewasa harus memikirkan semua itu demi kelangsungan hidup mereka. Mulai dari
bagaimana cara mencari uang, hingga yang lainnya.
Pada faktanya, hidup tidak sesederhana itu. Semesta terus
menuntut para manusia dewasa untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri.
Sepertinya setelah dipikir-pikir memiliki perintah untuk selalu tidur siang
pada saat masih kecil tidak terlalu buruk juga. Setidaknya hal tersebut jauh
lebih baik dari pada harus memikirkan jalan keluar dari semua masalah yang
datang di waktu dewasa.
“Apa sebaiknya aku mengambil tawaran untuk bergabung dengan
perusahan itu saja?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu Narendra kembali mempertanyakan
soal keputusan Agatha. Tentunya tentang ajakan untuk bergabung bersama
perusahaannya. Sudah bisa diprediksi akan seperti apa permainannya. Singkat
cerita, Agatha akan menjadi penerus perusahaan. Setelah Narendra tidak bisa
meluangkan lebih banyak waktunya lagi untuk bisnis ini, maka Agatha akan
memegang kendali untuk semua itu.
Tapi, ada resiko terbesar dan terburruk yang harus ia hadapi
jika Agatha memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Memangnya apa lagi jika
bukan Liora. Ya, mau tak mau ia harus selalu sedia untuk menghadapi segala
ancaman dari wanita itu. Seperti yang semua orang tahu kalau Liora tidak pernah
main-main dengan ancamannya. Ia bahkan tidak peduli jika dirinya nyaris berubah
menjadi seorang pembunuh hanya karena rasa egosi yang dimilikinya.
Jika diingat-ingat lagi, Agatha masih tidak habis pikir
dengan perbuatan Liora pada waktu itu. Ia mengakui kalau wanita itu memiliki tekad
serta keberanian yang cukup. Sangking beraninya, Agatha sampai hampir mengira
kalau wanita itu memiliki gangguan jiwa.
Kemarin saja Liora langsung
menyerangnya secara tiba-tiba tanpa peringatan lebih dulu. Padahal Agatha sama
sekali tidak berminat untuk mengambil kesempatan untuk menjadi pimpinan
perusahaan tersebut. Agatha masih tidak bisa membayangkan apa yang akan
dilakukan oleh wanita itu jika sampai dirinya menerima tawaran kemarin.
Sampai sekarang Agatha masih
kebingungan setengah mati dibuat oleh permainan takdir. Ia sungguh tidka tahu
harus memilih jalan yang mana satu. Sepertinya untuk sementara waktu ini gadis
itu akan tetap bertahan pada pekerjaannya yang sekarang. Setidaknya sampai ia
Sebelum mengambil sebuah
keputusan penting, ada begitu banyak hal yang harus ia pikirkan untuk
kelangsungan hidupnya. Pasalnya, ini bukan pekara yang main-main. Cukup serius.
Agatha tidak akan bisa bergantung kepada orang lain untuk saat ini. Sekarang ia
hidup sendirian. Tidak ada satu pun keluarga yang merasa peduli kepadanya sejak
dulu.
“Entahlah, sepertinya aku harus
tetap bertahan di sana,” simpul Agatha.
“Tidak ada pilihan lain lagi
untuk sekarang,” sambungnya.
Agatha terlalu takut dengan masa
depannya sendiri. Dia selalu bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan di masa
depan nanti. Apakah ia akan menikah dan memiliki keluarga kecil yang harmonis
seperti kebanyakan orang pada umumnya, atau malah kondisi keluarga yang tidka
jauh berbeda dengan memori masa kecilnya dulu.
Agatha terlalu takut untuk
memulai sesuatu yang baru. Meski pada kenyataannya dia tidak bisa terus-terusan
bersikap seperti ini. Berada di zona nyaman membuat adrenalinnya sama sekali
tidak merasa tertantang.
“Akankah aku menjalani hidupku
dengan benar?”
“Apakah aku akan hidup dengan
baik?”
Terlalu banyak harapan yang
ingin ia gantungkan terhadap dirinya sendiri untuk sekarang. Memangnya siapa
yang tidak menginginkan sesuatu yang terbaik. Sama seperti Agatha. Gadis itu
amat berharap jika banyak hal baik yang akan terjadi ke depannya.
19.20
Sudah sejak lima belas menit
yang lalu ia mengasihani dirinya sendiri. Gadis itu terududuk di ujung kasur
sambil memeluk kedua kakinya. Posisi seperti ini cukup untuk membuatnya merasa
aman dan nyaman. Terlebih Agatha selama ini selalu hidup sendirian. Tidak ada
yang bisa memberikannya ketenangan. Hanya dirinya sendirilah yang benar-benar
tahu bagaimana caranya agar tenang.
Tidak ingin berlarut-larut
terlalu lama dengan seluruh asumsi yang ia ciptakan sendiri, gadis itu beranjak
dari tempat tidurnya. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Mungkin
dengan begitu, segala pikiran buruk yang bersarang di dalam kepalanya bisa pergi
untuk sejenak. Dengan wajah yang masih basah, ia melemparkan pandangannya ke
arah cermin. Menatap pantulan bayangan dirinya sendiri dari sana.
“Kau tidak boleh bersikap lemah
seperti ini!” tegas gadis itu sekali lagi kepada dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun hidup
sebagai manusia, hanya ada satu prinsip yang masih ia pegang sampai saat ini.
Yaitu, sama persis seperti apa yang ia katakan sebelumnya. Agatha sungguh tidak
suka untuk terlihat lemah di depan orang lain. Terlebih jika orang tersebut
adalah musuhmu. Kemungkinan besar kau pasti akan dimanfaatkan. Orang-orang
hanya akan terus mencari kesempatan dalam kesempitan. Entah kenapa pandangan
mereka begitu tajam. Sampai bisa melihat celah kecil sekali pun.
“Semua manusia sama liciknya. Termasuk
aku,” gumam gadis itu.
Setelah dipikir-pikir kembali,
dunai memang benar-benar kejam. Melakukan seleksi alam secara rutin untuk
menyaring para manusia. Hanya mereka yang kuatlah yang bisa bertahan sampai
detik ini. Salah satunya adalah Agatha. Bayangkan saja kalau dia tidak kuat,
pasti sekarang sudah tidak berdiri lagi di tempat ini. Menatap dirinya sendiri
dari pantulan kaca.