The Riot

The Riot
Lock



Sudah lebih dari dua


minggu ia menjadi mata-mata. Namun, sampai saat ini sama sekali tidak ada titik


terang. Harus diakui cukup sulit untuk menembus pertahanan mereka. Semuanya telah


dilengkapi oleh teknologi tercanggih pada masanya. Yang bahkan tim investigasi


sekelas Agatha saja belum memilikinya. Padahal sepertinya mereka harus.


Sepertinya tidak akan


lama lagi. Agatha akan segera mengakhiri tugasnya sebagai mata-mata dan kembali


ke kantor. Sejauh ini pergerakannya masih cukup mulus. Perlahan namun pasti,


satup-persatu hal penting mulai ia bereskan. Sekarang hanya tinggal satu


langkah lagi saja untuk mencapai garis final.


Beruntung Arjuna segera


kembali ke kantor. Dua hari setelah kejadian, ia dinyatakan bisa kembali ke


rumah dan beraktivitas seperti biasa. Tapi, Agatha masih bertanya-tanya kemana


ia dipindahkan. Kenapa Zura tidak ada memberi tahu apa pun kepadanya. Terakhir


kali gadis itu mengunjungi Arjuna adalah tepat pada hari kejadian. Setelah itu


tidak pernah lagi. Selain karena tidak ingin dicurigai oleh banyak orang, ia


juga memang tak sempat. Mereka harus mengurus Hato dan anak buahnya setelah


malam itu.


Agatha masih tidak bisa


percaya jika sekarang ini ia sedang menjalani kehidupan sebagai mafia. Sniper


andalan bagi sekelompok mafia itu lebih tepatnya. Ia sama sekali tidka pernah


membayangkan tentang sesi kehidupan yang satu ini. Menjadi mafia adalah salah


satu rencana terbesar semesta kepadanya, sekaligus menjadi rencana yang tidak


masuk akal.


07.20


Sekarang ia perlu


bersiap lebih awal. Hari ini adal jadwal kedatangan barang dari pelabuhan


menuju markas utama. Transaksi barang tidak selalu dilakukan malam hari. Terkadang


juga pagi atau siang. Selama situasinya masih memungkinkan.


Berbeda dengan yang


sebelumnya, kali ini barang-barang tersebut akan diangkut menggunakan


helicopter menuju gedung markas. Lagi pula jumlahnya tidak terlalu banyak. Jadi,


bisa selesai dalam satu kali angkut saja. Mereka tidak perlu bekerja


bolak-balik. Sebab helicopter pasti bisa memuat sedikit lebih banyak dari pada


mobil van biasa.


Ini adalah kesempatan


yang bagus bagi Agatha untuk mencuri daftar nama-nama penerima senjata illegal itu.


Atau mungkin lebih tepatnya disebut sebagai rekan bisnis. Setelah ia berhasil


mendapatkannya, informasi tersebut akan langsung diteruskan ke Arjuna. Tim mereka


yang lainnya akan berusaha untuk mencari tahu keberadaan tersangka.


Agatha dan Arjuna sudah


beberapa kali berbincang tentang rencana penyerangan. Bahkan sejak awal sekali,


sebelum misi ini belum dimulai sekali pun, sudah ada beberapa rencana yang


dirasa cocok. Mulai dari rencana utama hhingga rencana cadangan yang memang


sengaja disiapkan sebagai antisipasi. Kalau saja mendadak ada hal buruk di luar


dugaan yang terjadi dan malah merusak rencana utama, setidaknya mereka tidak


akan langsung kalah begitu saja.


Hiraeth dan anak


buahnya sudah lama menjadi buronan. Kalau pada misi kali ini mereka berhasil di


tangkap, Arjuna dan Agatha pasti akan mendapatkan penghargaan besar atas kerja


kerasnya selama ini. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, rencana ini akan


tetap dirahasiakan. Setidaknya sampai mereka akan menyergap.


Agatha mengambil jaket


kulit miliknya di dalam kamar. Kemudian, saat hendak keluar langkahnya terhenti


begitu saja tepat di ambang pintu. Kedua bola matanya mengarah ke kalender. Menyisir


setiap angka yang tertera di sana. Agatha mengambil bolpoin yang berada di atas


nakas. Membuka ppenutupnya dengan menggunakan mulut.


27 Juni 2022


Tanggal tersebut


berhasil menarik perhatiannya karena suatu alasan yang tidak bisa dipublikasi


sekarang. Yang jelas, untuk saat ini ia hanya akan menandai tanggal tersebut di


dalam kalendernya. Sepertinya hari itu adalah hari yang cukup penting. Sampai-sampai


ia tidak ingin melewatkannya dan membuat pertanda dari jauh-jauh hari


sebelumnya.


tersebut, Agatha langsung buru-buru berkemas. Ia langsung mengambil kunci


sepeda motornya dan pergi ke parkiran. Tidak boleh terlambat. Kalau bisa, ia


harus datang lebih awal untuk mencuri beberapa data yang memang diperlukan.


“Sepertinya jam segini


belum terlalu ramai orang,” gumam gadis itu kepada dirinya sendiri.


***


Karena sudah memiliki


kartu akses, pergerakannya di markas utama jadi lebih mudah. Ia bisa mengakses


semua fasilitas tanpa terkecuali lagi. Yang paling penting sejauh ini adalah


lift. Benda tersebut paling sering ia gunakan. Dan mungkin sejauh ini hanya


lift lah satu-satunya akses menuju markas utama. Mungkin bisa melalui tangga


darurat juga. Cuma, Agatha masih belum benar-benar yakin. Dia perlu


memastikannya lagi.


‘CEKLEK!!!’


Pintu utama markas


langsung terbuka begitu Agatha menempelkan kartu aksesnya pada tempat yang


sudah tersedia.


“Tumben sekali tidak


ada siapa-siapa di sini,” kata gadis itu.


Ia merasa sedikit


terkejut, karena tidak ada orang sama sekali di ruang tengah. Padahal mereka


biasanya berkumpul di sini sambil menunggu agenda selanjutnya. Paling tidak ada


satu atau dua orang. Ruang tengah tidak pernah dibiarkan kosong begitu saja


sebelumnya. Sebab, pintu utama akan langsung menghadap ke ruangan ini.


Setelah diingat-ingat


kembali, sepertinya Agatha tahu kenapa ruang tengah mendadak jadi sepi seperti


ini. Beberapa hari yang lalu Hiraeth pernah menjadwalkan rapat untuk seluruh


anak buahnya yang selama ini selalu berada di markas utama. Dia tidak tahu apa


yang akan mereka bahas.


“Bagus sekali kalau


begitu. Aku bisa bergerak bebas tanpa perlu takut ketahuan,” gumam Agatha


sambil tersenyum miring.


Bisa-bisanya ia hampir


lupa soal rapat tersebut. Agatha kembali mengecek jam tangannya. Untuk memastikan


apakah mereka masih di sana atau sudah kembali.


08.00


“Sepertinya semua orang


baru saja naik ke atas,” ucap gadis itu kepada dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang


lagi, ia buru-buru masuk menuju gudang di sudut ruangan. Di sanalah terdapat


buku daftar nama-nama pelanggan mereka. Agatha akan melakukan pekerjaan yang


satu ini dengan cepat. Meskipun rapatnya masih akan selesai sekitar satu jam


lagi, Agatha tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Tapi, sebelumnya dia


perlu mematikan akses kamera pengawas dari ruangan pemantau lebih dulu. Dengan begitu


aksinya tidak akan dicurigai. Mereka juga tentu tidak bisa menuduh tanpa bukti


yang jelas.


“Apakah semuanya sudah


mati?” tanya Agatha untuk memastikan.


Tidak hanya sampai di


situ saja. Ia juga akan memblokir akses pintu utama dan pintu di dekat tangga


yang menghubungkan antara lantai ini dengan lantai yang ada di atasnya. Satu


lagi. Agatha jga memblokir akses lift kepada semua orang. Sehingga tidak ada


yang bisa menggunakan semua fasilitas tersebut. Terlepas dari mereka memiliki


kartu akses atau tidak. Untuk beberapa menit ke depan semua fasilitas itu tidak


akan bisa digunakan.


“Maaf kalau aku telah


mengganggu kenyamanan kalian,” ucap Agatha.


“Tapi tenang saja, ini


tidak akan berlangsung lama. Aku janji,” lanjutnya.


Setelah


memastikan kalau semuanya sudah beres, gadis itu mulai bergerak. Kali ini tidak


akan ada yang bisa menghalanginya.