The Riot

The Riot
Lobby



Gadis itu berusaha


untuk memutar otak dan mencari jalan keluarnya. Lagipula kenapa mendadak pria


itu jadi begitu penasaran. Sekarang situasinya malah berbanding terbalik.


Seharusnya di sini Aaron yang merasa curiga, tapi diam-diam gadis itu ternyata


juga sudah mulai merasakan hal serupa.


“Memangnya apa


urusannya denganmu?” tanya Agatha secara tiba-tiba.


Dia langsung bertanya


kepada intinya. Tidak ingin berbasa-basi lagi.


“Tidak ada, aku hanya


penasaran saja,” jawab pria itu secara gamblang.


“Sekarang rasa


penasaranmu sudah terjawab kan?” tanya gadis itu.


“Jadi sebaiknya jagan


pernah tanyakan hal yang sama selama berulang kali. Aku mohon. Itu membosankan.


Padahal kau sudah tahu jawabannya,” jelasnya dengan panjang lebar.


Kemudian tanpa berkata


sepatah kata pun, Agatha langsung berlalu begitu saja. Meninggalkan Aaron tepat


di belakangnya. Terserah dengan bagaimana reaksi pria itu. Agatha sedang tidak


mempedulikannya sama sekali.


“Lihat ini! Bagaimana


bisa bisa meninggalkanku begitu saja, sementara aku sudah rela menunggunya


sejak tadi. Cih! Apa-apaan ini?!” gerutu pria itu tak terima.


Apakah seperti ini


balasan yang ia harapkan? Tentu tidak sama sekali. Tapi tidak masalah. Aaron


paham betul seperti apa situasinya sekarang. Gadis itu sedang termakan api


emosinya yang bergejolak. Saat ini ubun-ubunnya pasti sedang mendidih.


Sebagai satu-satunya


orang yang merasa masih paling waras di sini, tentu sudah menjadi tugas pria


itu untuk mengalah. Jika mereka sama-sama mengandalkan rasa egoisnya


masing-masing, maka pertikaian ini tidak akan selesai. Harus ada setidaknya


satu orang yang mengalah.


Setelah mendapatkan apa


yang mereka mau, keduanya segera pergi ke kasir unruk membayar semua


tagihannya. Tidak ada lagi lasan untuk tetap berada di tempat ini lebih lama


lagi.


“Apa kau ingin kembali


ke atas?” tanya Aaron secara tiba-tiba. Tepat setelah mereka keluar dari dalam


minimarket tersebut/


“Iya!” jawab gadis itu


dengan ketus.


Sepertinya ia masih


merasa kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu di dalam sana. Agatha


adalah tipikal orang yang tidak ingin terlalu banyak bicara ketika sedang


merasa tidak baik-baik saja. Terutama jika suasana hatinya sedang tidak baik.


Gadis itu bahkan tidak segan-segan untuk tidak bicara sama sekali selama


beberapa hari. Jangan bilang jika ia tidak akan sanggup untuk melakukannya.


Buktinya saja ia sanggup.


Sejak beberapa menit


yang lalu, Agatha mulai tidak banyak bicara. Ia jadi jauh lebih sering diam


sekarang. Bahkan gadis itu sampai hati untuk meninggalkan Aaron di belakangnya.


Membiarkan pria itu mengikuti langkahnya dari belakang. Padahal biasanya mereka


juga berjalan beriringan.


Bahkan sampai keduanya


masuk ke dalam lift pun, tidak ada yang berani buka suara. Bukan tidak berani


sebenarnya. Mereka hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Pasalnya, tidak ada


yang tahu apa yang akan terjadi jika salah satu dari mereka sampai salah


bicara. Terutama Aaron. Pria itu sadar jika sekarang bukan waktu yang tepat


untuk memulai obrolan. Suasana hati gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak


baik-baik saja. Oleh sebab itu Agatha jadi lebih sensitive sekarang.


Sepanjang perjalanan


dari lantai bawah ke atas, sungguhan sama sekali tidak ada yang buka suara.


Keheningan suasana sudah menjadi teman setiap mereka sepanjang perjalanan.


Sampai pada akhirnya suara bel dari lift ini berhasil memecah keheningan


‘TING!’


Suara nyaring tersebut


biasanya menjadi pertanda bagi penumpang lift, jika mereka sudah sampai di


lantai tujuan mereka. Tak lama setelahnya akan disusul dengan terbukanya pintu


lift.


Lagi-lagi, tanpa


memikirkan apa lagi menunggu Aaron, gadis itu langsung melangkah keluar begitu


saja tepat setelah pintu lift terbuka. Jika berjalan lurus dari lift ke arah


kiri, maka unit apartment Aaron lebih dulu lah yang akan ditemukan. Sehingga,


rasanya tidak mungkin jika pria itu berjalan lebih jauh untuk sekedar mengikuti


Agatha.


“Tolong buka pintumu


nanti untukku!” seru pria itu dari ambang pintu apartmentnya.


Agatha yang menjadi


objek sasaran dari ucapannya tersebut lantas segera menghentikan langkahnya.


Gadis itu juga tidak mengerti kenapa otaknya memberikan perintah mendadak


seperti ini. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak berniat untuk berhenti.


Kalau bisa berjalan terus saja sampai ia juga menemukan pintu apartmentnya.


Sekarang Aaron pasti mengira kalau gadis itu tidak benar-benar marah kepadanya.


Mau tidak mau Agatha


harus mendengarkan kalimat pria itu sampai akhir. Kakinya sudah terlanjur


berhenti di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi. Tidak sopan jika


mendadak ia pergi begitu saja. Meskipun gadis itu bisa saja melakukannya.


“Mau apa lagi?” tanya


gadis itu.


“Aku akan mengantarkan


makan malam untukmu sebagai permintaan maaf,” jawab Aaron dengan apa adanya.


Entahlah, mendadak ia


hanya merasa bersalah saja terhadap gadis itu. Padahal tadi sebelumnya Agatha


tampak baik-baik saja dan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. Tapi, kalian


bisa lihat saja sekarang seperti apa keadaannya. Bahkan ia tidak ingin tersenyum


sedikit pun sejak tadi.


Bukannya tidak


menghargai usaha pria itu untuk minta maaf. Tapi, Agatha terpaksa menolaknya


begitu saja. Sebab sudah memiliki janji untuk pergi dengan orang lain.


Sepertinya perbincangannya dengan Arjuna nanti tidak akan memakan waktu yang


sedikit. Itu sebabnya, Agatha berencana untuk makan malam di sana juga.


Sekalian saja. Lagipula gadis itu memang sedang malas untuk memasak. Terlalu merepotkan.


Walaupun ia bisa menghemat sebagian besar pengeluarannya dari sana.


“Aku mungkin sedang


tidak berada di rumah nanti ketika kau datang,” ungkap gadis itu lalu


membalikkan tubuhnya.


Sekarang kedua bola


mata mereka saling bertemu pandang. Jika seperti ini terasa jauh lebih baik


dari pada yang sebelumnya. Agatha tidak pernah belajar bagaimana tata krama


yang tepat ketika sedang berbicara dengan orang asing. Namun, ada satu hal


dasar yang ia tahu. Yaitu, jangan sampai kau tidak menatap mata lawan bicaramu


ketika mereka mencoba untuk mengatakan sesuatu. Karena itu sama saja dengan kau


tidak menghargai mereka.


Di dunia ini ada satu


prinsip yang semua orang pakai. Yaitu, hukum timbal balik. Kau akan menuai


hasil dari apa yang sudah pernah kau tanam sebelumnya. Sederhananya begini,


jika kau ingin dihargai oleh orang lain, sebaiknya hargai mereka juga. Jangan hanya


memuaskan rasa egoismu sendiri. Bukan seperti itu seharusnya manusia bertindak.


“Kalau kau memang tetap


ingin memberikannya kepadaku, kau bisa datang kembali sekitar pukup sebelas


malam. Tapi, saranku sebaiknya simpan saja dulu makanannya. Besok pagi akan


kuambil. Aku pasti akan memakannya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


Meski


sedang merasa kesal, Agatha sama sekali tidak ingin untuk menyakiti perasaan


orang lain. Cukup dirinya saja yang merasa buruk untuk hari ini. Jangan sampai


orang lain juga. Karena, belum tentu mereka sudah terbiasa untuk menghadapi


hal-hal seperti ini.