
Gadis itu berusaha
untuk memutar otak dan mencari jalan keluarnya. Lagipula kenapa mendadak pria
itu jadi begitu penasaran. Sekarang situasinya malah berbanding terbalik.
Seharusnya di sini Aaron yang merasa curiga, tapi diam-diam gadis itu ternyata
juga sudah mulai merasakan hal serupa.
“Memangnya apa
urusannya denganmu?” tanya Agatha secara tiba-tiba.
Dia langsung bertanya
kepada intinya. Tidak ingin berbasa-basi lagi.
“Tidak ada, aku hanya
penasaran saja,” jawab pria itu secara gamblang.
“Sekarang rasa
penasaranmu sudah terjawab kan?” tanya gadis itu.
“Jadi sebaiknya jagan
pernah tanyakan hal yang sama selama berulang kali. Aku mohon. Itu membosankan.
Padahal kau sudah tahu jawabannya,” jelasnya dengan panjang lebar.
Kemudian tanpa berkata
sepatah kata pun, Agatha langsung berlalu begitu saja. Meninggalkan Aaron tepat
di belakangnya. Terserah dengan bagaimana reaksi pria itu. Agatha sedang tidak
mempedulikannya sama sekali.
“Lihat ini! Bagaimana
bisa bisa meninggalkanku begitu saja, sementara aku sudah rela menunggunya
sejak tadi. Cih! Apa-apaan ini?!” gerutu pria itu tak terima.
Apakah seperti ini
balasan yang ia harapkan? Tentu tidak sama sekali. Tapi tidak masalah. Aaron
paham betul seperti apa situasinya sekarang. Gadis itu sedang termakan api
emosinya yang bergejolak. Saat ini ubun-ubunnya pasti sedang mendidih.
Sebagai satu-satunya
orang yang merasa masih paling waras di sini, tentu sudah menjadi tugas pria
itu untuk mengalah. Jika mereka sama-sama mengandalkan rasa egoisnya
masing-masing, maka pertikaian ini tidak akan selesai. Harus ada setidaknya
satu orang yang mengalah.
Setelah mendapatkan apa
yang mereka mau, keduanya segera pergi ke kasir unruk membayar semua
tagihannya. Tidak ada lagi lasan untuk tetap berada di tempat ini lebih lama
lagi.
“Apa kau ingin kembali
ke atas?” tanya Aaron secara tiba-tiba. Tepat setelah mereka keluar dari dalam
minimarket tersebut/
“Iya!” jawab gadis itu
dengan ketus.
Sepertinya ia masih
merasa kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu di dalam sana. Agatha
adalah tipikal orang yang tidak ingin terlalu banyak bicara ketika sedang
merasa tidak baik-baik saja. Terutama jika suasana hatinya sedang tidak baik.
Gadis itu bahkan tidak segan-segan untuk tidak bicara sama sekali selama
beberapa hari. Jangan bilang jika ia tidak akan sanggup untuk melakukannya.
Buktinya saja ia sanggup.
Sejak beberapa menit
yang lalu, Agatha mulai tidak banyak bicara. Ia jadi jauh lebih sering diam
sekarang. Bahkan gadis itu sampai hati untuk meninggalkan Aaron di belakangnya.
Membiarkan pria itu mengikuti langkahnya dari belakang. Padahal biasanya mereka
juga berjalan beriringan.
Bahkan sampai keduanya
masuk ke dalam lift pun, tidak ada yang berani buka suara. Bukan tidak berani
sebenarnya. Mereka hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Pasalnya, tidak ada
yang tahu apa yang akan terjadi jika salah satu dari mereka sampai salah
bicara. Terutama Aaron. Pria itu sadar jika sekarang bukan waktu yang tepat
untuk memulai obrolan. Suasana hati gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak
baik-baik saja. Oleh sebab itu Agatha jadi lebih sensitive sekarang.
Sepanjang perjalanan
dari lantai bawah ke atas, sungguhan sama sekali tidak ada yang buka suara.
Keheningan suasana sudah menjadi teman setiap mereka sepanjang perjalanan.
Sampai pada akhirnya suara bel dari lift ini berhasil memecah keheningan
‘TING!’
Suara nyaring tersebut
biasanya menjadi pertanda bagi penumpang lift, jika mereka sudah sampai di
lantai tujuan mereka. Tak lama setelahnya akan disusul dengan terbukanya pintu
lift.
Lagi-lagi, tanpa
memikirkan apa lagi menunggu Aaron, gadis itu langsung melangkah keluar begitu
saja tepat setelah pintu lift terbuka. Jika berjalan lurus dari lift ke arah
kiri, maka unit apartment Aaron lebih dulu lah yang akan ditemukan. Sehingga,
rasanya tidak mungkin jika pria itu berjalan lebih jauh untuk sekedar mengikuti
Agatha.
“Tolong buka pintumu
nanti untukku!” seru pria itu dari ambang pintu apartmentnya.
Agatha yang menjadi
objek sasaran dari ucapannya tersebut lantas segera menghentikan langkahnya.
Gadis itu juga tidak mengerti kenapa otaknya memberikan perintah mendadak
seperti ini. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak berniat untuk berhenti.
Kalau bisa berjalan terus saja sampai ia juga menemukan pintu apartmentnya.
Sekarang Aaron pasti mengira kalau gadis itu tidak benar-benar marah kepadanya.
Mau tidak mau Agatha
harus mendengarkan kalimat pria itu sampai akhir. Kakinya sudah terlanjur
berhenti di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi. Tidak sopan jika
mendadak ia pergi begitu saja. Meskipun gadis itu bisa saja melakukannya.
“Mau apa lagi?” tanya
gadis itu.
“Aku akan mengantarkan
makan malam untukmu sebagai permintaan maaf,” jawab Aaron dengan apa adanya.
Entahlah, mendadak ia
hanya merasa bersalah saja terhadap gadis itu. Padahal tadi sebelumnya Agatha
tampak baik-baik saja dan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. Tapi, kalian
bisa lihat saja sekarang seperti apa keadaannya. Bahkan ia tidak ingin tersenyum
sedikit pun sejak tadi.
Bukannya tidak
menghargai usaha pria itu untuk minta maaf. Tapi, Agatha terpaksa menolaknya
begitu saja. Sebab sudah memiliki janji untuk pergi dengan orang lain.
Sepertinya perbincangannya dengan Arjuna nanti tidak akan memakan waktu yang
sedikit. Itu sebabnya, Agatha berencana untuk makan malam di sana juga.
Sekalian saja. Lagipula gadis itu memang sedang malas untuk memasak. Terlalu merepotkan.
Walaupun ia bisa menghemat sebagian besar pengeluarannya dari sana.
“Aku mungkin sedang
tidak berada di rumah nanti ketika kau datang,” ungkap gadis itu lalu
membalikkan tubuhnya.
Sekarang kedua bola
mata mereka saling bertemu pandang. Jika seperti ini terasa jauh lebih baik
dari pada yang sebelumnya. Agatha tidak pernah belajar bagaimana tata krama
yang tepat ketika sedang berbicara dengan orang asing. Namun, ada satu hal
dasar yang ia tahu. Yaitu, jangan sampai kau tidak menatap mata lawan bicaramu
ketika mereka mencoba untuk mengatakan sesuatu. Karena itu sama saja dengan kau
tidak menghargai mereka.
Di dunia ini ada satu
prinsip yang semua orang pakai. Yaitu, hukum timbal balik. Kau akan menuai
hasil dari apa yang sudah pernah kau tanam sebelumnya. Sederhananya begini,
jika kau ingin dihargai oleh orang lain, sebaiknya hargai mereka juga. Jangan hanya
memuaskan rasa egoismu sendiri. Bukan seperti itu seharusnya manusia bertindak.
“Kalau kau memang tetap
ingin memberikannya kepadaku, kau bisa datang kembali sekitar pukup sebelas
malam. Tapi, saranku sebaiknya simpan saja dulu makanannya. Besok pagi akan
kuambil. Aku pasti akan memakannya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
Meski
sedang merasa kesal, Agatha sama sekali tidak ingin untuk menyakiti perasaan
orang lain. Cukup dirinya saja yang merasa buruk untuk hari ini. Jangan sampai
orang lain juga. Karena, belum tentu mereka sudah terbiasa untuk menghadapi
hal-hal seperti ini.