The Riot

The Riot
Lady



Tapi, tetap saja mereka tidak bisa menyalahkan masa


lalu. Takdir adalah sebuah perjalanan hidup manusia yang harus dijalani dengan


lapang dada. Andai saja setiap manusia bisa menulis ulang takdir mereka,


mungkin saat ini tidak ada manusia yang hidupnya sengsara.


“Bagaimana kalau kukatakan kau memiliki saudara


tiri,” ujar Mico dengan hati-hati.


Lawan bicaranya tampak tidak langsung menanggapi


perkataan pria itu barusan. Aaron masih tetap bergeming untuk beberapa detik


awal. Semakin ke sini entah kenapa rasanya topik pembicaraan mereka semakin


terasa berat. Bukannya paham, Aaron malah sebaliknya.


“Maksudmu aku memiliki saudara lain begitu?” tanya


Aaron untuk memastikan.


“Jadi, mereka memiliki anak setelah pergi ke luar


negeri?” lanjutnya.


Kali ini Aaron membuat pertanyaannya jadi lebih spesifik


daripada yang sebelumnya. Untuk beberapa hal, ia ingin mendapatkan kebenaran


yang sejelas-jelasnya. Jangan sampai ada kesalah pahaman.


“Bahkan mereka sudah memiliki anak jauh lebih cepat


dari apa yang kau bayangkan sebelumnya,” ungkap Mico secara terang-terangan. Ia


tidak akan berusaha untuk menutupi apa pun dari pria itu.


“Anak pertama mereka bahkan sudah lahir pada saat


usiamu barusaja menginjak dua tahun,” beber Mico.


Fakta mengejutkan macam apa ini. Seseorang, siapa


saja. Tolong katakan kepada Aaron jika semua itu hanya omong kosong. Saat ini


Mico sedang membual.


“Kau sedang berusaha untuk menipuku kan?” tanya


Aaron tak percaya.


Ia masih tak bisa menerima kenyataan tersebut. Otaknya


terus menolak untuk peraya. Dan memang sangat tidak masuk akal. Menurut


pengakuan ayahnya sendiri, mereka hanya berselingkuh sekitar lima atau enam


tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan ibu Aaron.


“Tidak,” tepis Mico dengan santai.


“Justru selama ini mereka lah yang sudah menipumu,”


ujar pria itu kemudian.


Mico tahu betul jika tidak mudah bagi sahabatnya


tahu soal ini kepada pria itu. Namun setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya


Aaon harus tahu. Terserah mau ia percaya atau tidak. Sebab keputusan


selanjutnya berada di tangannya.


Tugas Mico di sini hanyalah menyampaikan apa yang


perlu ia ssampainkan. Selebihnya sudah bukan urusan pria itu lagi. Termasuk


tentang bagaimana reaksi Aaron selanjutnya.


“Ayahmu sudah menikahi wanita itu diam-diam.


Hubungan mereka sudah lumayan lama, namun belakangan ia jadi sulit untuk


menutupi perselingkuhannya karena beberapa faktor,” jelas Mico di awal.


“Kau perlu tahu satu hal yang cukup penting. Ini


adalah inti dari pembicaraan kita,” timpalnya kemudian.


“Jadi, dengarkan aku baik-baik!” titahnya.


Tanpa diminta pun, sejak tadi Aaron sudah memusatkan


perhatiannya. Tidak ada yang bisa mengusiknya untuk saat ini. Kabar soal


saudara tirinya ini berhasil menarik atensi Aaron sepenuhnya.


“Ayahmu dan keluarganya sudah kembali ke Indonesia


sejak empat tahun yang lalu. Ku dengar mereka membuka perusahaan yang bergerak


di bidang properti,” ungkap Mico secara gamblang.


“Saudara tirimu masih hidup sampai saat ini. Kalian


juga sama-sama anak tunggal di dalam keluarga itu. Tapi, bagian terburuknya


adalah wanita yang paling kau benci itu sudah meninggal akibat kecelakaan,”


bebernya dengan panjang lebar.


Aaron tercengang. Selama ini ia mengira jika


keluarga mereka masih tetap baik-baik saja. Tapi ternyata tidak sama sekali. Hukum


karma masih berlaku.


“Kapan ia meninggal?” tanya Aaron.


“Sekitar dua tahun yang lalu,” katanya.


“Dan kabarnya anak itu tinggal secara terpisah dari


ayahmu. Hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja sejak wanita itu meninggal.”


Mico kembali mengungkap fakta baru soal keluarga


ayahnya yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Karena memang Aaron tak ingin


mencari tahu.


“Dia memang tidak becus


dalam membina rumah tangga! Selalu saja gagal!” sarkas Aaron.