The Riot

The Riot
Are You Sure



Sepertinya kehidupannya kali ini tidak akan pernah


benar-benar tenang. Selama Liora masih hidup dan berada di sekitarnya, itu sama


saja dengan ancaman secara tidak langsung. Liora masih memiliki begitu banyak


dendam di dalam dirinya yang belum sempat terbalaskan. Wanita yang satu itu


penuh dengan dendam. Hanya ada satu jalan yang dirasa paling efektif sejauh


ini. Agatha yang pergi, atau Liora yang pergi.


Persidangan kemarin dimenangkan oleh Liora dan kuasa


hukumnya. Mereka telah memanipulasi begitu banyak data, tapi Agatha tidak bisa


melakukan apa-apa. Meski ia tahu persis soal kebusukan tersebut, tetap saja


Agatha tidak bisa berkutik. Dia tidak bisa sembarang menuduh orang lain tanpa


bukti. Terlebih itu dipengadilan. Singkat ceritanya, mereka kalah karena


kekurangan bukti. Padahal sebelumnya Agatha berpikir kalau bukti yang mereka


siapkan sudah lebih dari cukup. Ternyata tidak sama sekali. Liora dan kuasa


hukumnya berhasil mencari celah untuk menyerang balik.


Kalah dan menang memang persoalan biasa. Tapi, sebuah


kekalahan di persidangan bukan hal yang bisa diterima oleh Agatha. Terlebih


jika kasus yang diangkat lumayan penting. Itu sama saja dengan gagal menegakkan


keadilan. Padahal katanya keadilan bagi semua orang. Tapi, pada kenyataannya


kemenangan malah didapatkan dengan mudah oleh mereka yang bersalah. Lantas


apakah hal itu pantas untuk disebut sebagai adil.


Seperti biasanya, hari ini Agatha akan pergi bekerja. Gadis


itu terpaksa bangun dan berangkat lebih awal dari pada biasanya. Sebab, tempat


tinggalnya yang baru ini sedikit lebih jauh. Sehingga memakan waktu lebih


sekitar sepuluh menit dari waktu tempuh yang lama. Agatha sebenarnya sudah tahu


konsekuensi tersebut sejak awal.


Mungkin ia tidak akan bertahan lama di sini. Agatha sama


sekali tidak berencana untuk memperpanjang masa kontraknya menjadi satu tahun


penuh. Kalau bisa menyewa selama satu atau tiga bulan di sini, mungkin ia akan


mengambil masa kontrak yang paling singkat. Hanya saja, karena masa kontrak


paling singkat di sini adalah enam bulan, mau tak mau ia harus tetap bertahan


di apartment baru itu selama beberapa bulan ke depan. Atau paling tidak sampai


masa kontraknya habis.


Apartment lamanya sebenarnya jauh lebih baik. Tapi itu dulu.


Sekarang tempat itu bahkan sudah sangat berbahaya untuk ditempati oleh Agatha


lagi. Ada beberapa musuh yang sudah mengetahui keberadaannya. Dan lokasi


terakhir yang berhasil mereka temukan adalah apartment lama. Meskipun sekarang


tempat tinggal barunya sudah tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang aman


lagi. Bagaimana tidak, belum ada genap satu bulan ia tinggal di sana, sudah ada


begitu banyak kejadian mengerikan yang menerornya. Mulai dari penembakan,


hingga upaya penculikan. Benar-benar tidak aman.


“Mereka benar-benar membuatku nyaris gila,” gumam Agatha


begitu sampai di ambang pintu kantor.


‘BIP!!!’


Setelah sidik jari jempolnya terdeteksi dengan baik di mesin


pencatat kehadiran, barulah Agatha masuk ke dalam. Baru jarak beberapa langkah


dari tempatnya berdiri semula, ia sudah langsung dihadapkan dengan kehadiran


Arjuna. Pria itu tampak berjalan dari arah yang berlawanan. Saling berpapasan


di jalan selama berada di darah sekitar kantor adalah hal yang wajar. Jadi


tidak perlu merasa terkejut lagi.


Sementara itu, Agatha sama sekali tidak berencana untuk


memutar balik. Apalagi pergi menghindari pria itu. Tidak ada pilihan lain


selain menyapa. Satu hal yang perlu ia ingat baik-baik selama berada di kantor,


yaitu bersikap professional.


Sepertinya mereka sudah saling menyadari keberadaan satu


sama lain sejak berada di ujung lorong. Bahkan Arjuna sama sekali tidak


memalingkan pandangannya dari gadis itu sejak awal. Sepasang bola mata berwarna


hitam kecoklatan itu menyoroti Agatha dengan lekat. Seolah tidak membiarkan


sosoknya untuk pergi kemana-mana.


“Selamat pagi juga!” balas Arjuna.


Kemudian dengan secepat kilat keduanya langsung berlalu


begitu saja. Tidak peduli dengan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan saat


ini. Pekerjaan di kantor jauh lebih penting.


Agatha berjalan dengan terburu-buru ke dalam ruangannya.


Terlalu cepat untuk dikatakan sebagai berjalan. Lebih tepatnya berlari-lari


kecil. Entah kenapa mendadak ia menambahkan kecepatannya seperti itu. Padahal


Agatha tidak sedang terlambat. Ia juga tidak ada rapat dalam waktu dekat.


Apalagi pekerjaan yang terlalu mendesak.


Sepertinya alasannya memang hanya satu. Apa lagi kalau bukan


karena ingin menghindari Arjuna. Dia tidak suka berinteraksi terlalu lama


dengan pria itu. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mereka mungkin tidak


akan bisa sedekat ini sekarang.


‘CEKLEK!!!’


Agatha membuka pintu ruangannya dengan penuh rasa lega. Pada


akhirnya dia bisa beraktivitas seperti biasa. Rutinitasnya akan dimulai di


sini, di ruangan yang tidak terlalu besar. Namun, alih-alih memiliki semangat


kerja yang tinggi pagi-pagi begini, ia malah dibuat sebaliknya. Mendadak


suasana hatinya jadi berubah buruk karena melihat kehadiran seseorang di dalam


ruangannya.


Satu detik, dua detik, tiga detik, ia sama sekali tidak


berkata apa-apa. Agatha bahkan tidak mengerjap sedikit pun. Kedua bola matanya


lurus mengarah ke depan. Menatap Liora yang sedang duduk di mejanya dengan angkuh.


Sial! Bagaimana bisa wanita itu kemari. Bukankah tidak sopan jika kau memasuki


suatu tempat tanpa izin dari sang pemiliknya lebih dulu. Agatha bahkan tidak


tahu sudah berapa lama ia di sana dan siapa yang memberikannya izin untuk


datang kemari.


“Hai!” sapa Liora dengan ramah.


Tapi, jangan salah sangka dulu. Ia tidak benar-benar ramah.


Semua itu hanya permainan ekspresi. Dia sedang berusaha untuk memanipulasi


lawan bicaranya. Tapi, bukan Agatha namanya kalau tidak mudah terpengaruh. Gadis


itu hanya berdecak sebal sebagai respon. Agatha bahkan sama sekali tidak


kepikiran untuk membalas sapaan dari kekasih ayahnya itu.


“Ck! Siapa yang membiarkan orang ini untuk masuk ke dalam


ruanganku?” gumam Agatha lalu memutar balik badannya.


“Tunggu!” cegah Liora.


Tadinya gadis itu ingin pergi ke luar untuk memanggil


keamanan. Bisa-bisanya mereka membiarkan orang asing masuk ke dalam ruangan


Agatha. Bagaimana kalau ternyata ia sedang berusaha untuk menyabotase


berkas-berkas penting yang tersimpan di dalam ruangan gadis itu.


Namun, mendadak langkahnya terpaksa terhenti karena sahutan


Liora. Tidak, ia bukan berhenti untuk menuruti permintaan wanita itu. Melainkan


untuk menuruti kata hatinya sendiri. Tidak bisa dipungkiri jika ia memang


merasa cukup penasaran dengan sesuatu yang akan dikatakan oleh Liora


berikutnya.


“Bisakah kita bicara sebentar saja?” tanya Liora.


“Apa yang membuatmu sampai datang kemari?” tanya gadis itu


balik tanpa memalingkan pandangannya.


Dia sungguh tidak sudi untuk melihat wanita itu. Benar-benar


memuakkan. Sepertinya Liora adalah orang yang paling ia benci di seumur


hidupnya. Bahkan rasa tidak suka itu jauh lebih besar dari pada rasa tidak


sukanya kepada Narendra. Padahal mereka bertemu belum lama ini. Andai saja wanita


itu tidak bersikap buruk kepadanya, maka mungkin kesan pertama Agatha kepadanya


tidak akan seburuk ini juga.


“Kita bisa membicarakan itu


nanti.”