The Riot

The Riot
On Top



Gadis yang bernama


Agatha itu berlingsung di balik dinding pembatas rooftop. Setidaknya ia tidak


akan langsung tertembak jika berada di sini. Masih ada yang melindunginya. Tanpa


pikir panjang, Agatha langsung menyiapkan senjatanya. Membidik seseorang yang


tengah berada tepat di seberang sana. Tampaknya Gabriel juga melakukan hal


serupa.


Setelah targetnya


terkunci, salah satu tangan Agatha sudah siap untuk menarik pelatuknya. Ia


harus melakukannya dengan tenang agar tidak meleset. Selain itu, Agatha juga


perlu bergerak lebih cepat daripada Gabriel. Hanya itu satu-satunya cara.


‘DOR!’


“Yess!!”


Agatha bersorak untuk


dirinya sendiri. Bidikannya tepat. Untuk yang kesekian kalinya pada akhirnya


gadis itu bisa mengandalkan dirinya pada saat genting seperti ini. Agatha


memang sengaja untuk tidak menembak orangnya langsung. Selain tidak tega, ia


juga tidak mau membuat masalah. Kalau sampai dia meregang nyawa karenanya, maka


habisklah reputasi Agatha. Cara paling aman adalah dengan menembak senjatanya. Akibat


terkejut, ia jadi kehilangan keseimbangan. Sehingga senjata tersebut terpaksa


harus lepas dari genggamannya begitu saja.


Senjata bermodelkan


sniper rifle mosin nagant itu jatuh dari ketinggian puluhan meter. Begitu sampai


di permukaan tanah, benda tersebut sudah tidak berbentuk lagi karena hancur.


Hantamannya pasti cukup kuat hingga mampu menyebabkan kerusakan fatal padanya.


Dengan percaya diri


Agatha berdiri menghadap gadis itu. Salah satu sudut bibirnya terangkat. Ia menyeringai


tajam ke arah Gabriel di seberang sana. Selama tidak memiliki senjata, Gabriel


tidak akan bisa melakukan apa-apa.


“Sial! Aku tidak punya


cadangan senjata lagi!” umpat Gabriel kesal.


Ia sama sekali tidak


menduga jika akan seperti ini jadinya. Tahu begitu tadi ia membawa persediaan


set senjata lebih dari satu. Sekarang apa yang bisa ia lakukan. Menunggu dan


hanya berdiam diri sembari menyaksikan kehancuran yang akan terjadi sebentar


lagi. Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Gabriel harus memutar otak dan


mencari cara baru untuk keluar dari masalah ini.


Tapi pada saat seperti


ini memangnya hal macam apa yang bisa ia lakukan. Tidak ada. Sudah terlambat


untuk pergi ke gedung markas dan mengambil senjata baru. Pasti di dalam sana


sudah banyak orang asing. Sudah terlalu kacau. Ia tidak akan bisa pergi ke sana


tanpa persediaan apa-apa. Paling tidak untuk mempertahankan atau melindungi


dirinya sendiri.


Sementara itu, di sisi


lain tampaknya keadaan di gedung seberang sudah cukup kacau. Alexa dan Immanuel


berhasil merusak bagian fital dari kendaraan tersebut. Yang membuatnya tidak


bisa bergerak kemana-mana lagi.


Semua orang menyadari


kalau ada snipe di sekitar sini. Pasti Hiraeth yang menaruhnya. Memangnya siapa


lagi. Hanya pihak Hato dan Hiraeth saja yang saling berselisih di sini. Andai


hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya, mungkin malam ini tak perlu terjadi


kekacauan besar.


Tidak ada yang


mengetahui posisi sniper jelasnya dimana. Sebab orang-orang tersebut sudah


mencari tempat paling strategis untuk bersembunyi. Mereka hanya bisa menembak


ke segala arah tanpa kejalasan. Tidak ada satu pun peluru yang berhasil


mengenai sasaran.


“Mereka benar-benar


bodoh,” gumam Alexa.


“Kalau aku berada di


posisi mereka, aku tidak akan membuang-buang peluru seperti itu,” imbuhnya


kemudian.


Sekarang sudah selesai.


Tidak perlu menembak lagi. Mereka telah melakukan apa yang perlu dilakukan. Jangan


pernah menembak lagi tanpa perintah.


Agatha berada di jarak


yang berjauhan dengan Alexa dan Immanuel. Tapi tenang saja. Mereka masih bisa


saling berkomunikasi satu sama lain.


lain di sini?” tanya Immanuel.


Sosok yang diajak


bicara kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Lalu ia berkata, “Arah


jam tiga,” kata Agatha.


Saat mereka melihat ke


sana, sama sekali tidak ada apa-apa. Pasti dia sedang bersembunyi. Memangnya sniper


mana yang mau menunjukkan aksinya secara terang-terangan.


“Tapi tenang saja, aku


sudah menghancurkan senjatanya. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi,”


jelas Agatha.


Setidaknya sekarang


mereka bisa bernapas dengan sedikit lebih lega. Tidak ada sniper lain.


Sebenarnya ada, tapi dia sedang tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan mungkin adalah mengigit jari sambil


menyaksikan film aksi di gedung seberang. Sensasi saat melihatnya secara


langsung pasti berbeda.


Dari kejauhan mereka


mengamati setiap peristiwa yang terjadi di seberang sana. Sebentar lagi


kemenangan akan berada di tangan mereka. Pasukan yang Hiraeth bawa berhasil mengepung


semua orang dari berbagai sisi. Tidak ada yang bsia melarikan diri sekarang.


***


Misi hari ini berjalan


dengan lancar. Sesuai dengan ekspektasi mereka. Beruntung semesta sedang


mendukung mereka. Sehingga semuanya berjalan baik-baik saja sampai akhir.


“Ayo pulang!” ajak


Immanuel.


“Dengan apa?” Kita


bahkan tidak membawa kendaraan apa pun kemari,” kata Agatha.


Sekarang sudah hampir


pukul lima pagi. Sebentar lagi matahari akan keluar dari sarangnya. Hari baru


akan segera dimulai, tapi mereka bahkan baru akan berangkat tidur. Alexa sama


sekali tidak ada waktu untuk tidur sejak kemarin. Hiraeth menugaskannya untuk


berjaga di sini. Ia bahkan berangkat lebih awal dari pada yang lainnya.


Agatha masih jauh lebih


baik. Ia sempat tertidur meski  tidak


sampai dua jam penuh. Setidaknya masih memiliki cadangan energi. Tapi, itu


kembali lagi ke masing-masing orang.


“Kita bisa menggunakan


mobil Hiraeth yang ditinggalkan di parkiran gedung ini,” kata Immanuel.


“Kau bagaimana?” tanya


pria itu kepada Alexa.


“Tenang saja, aku membawa


sepeda motor. Kemarin malam aku sampai lebih dulu untuk mengobservasi tempat,”


jelas Alexa yang kemudian diangguki oleh pria itu.


Setelah semuanya


selesai, tim sniper jadi tim terakhir yang kembali dari lokasi. Immanuel


langsung mengantar Agatha kembali ke apartmentnya untuk beristirahat. Kali ini


dia tidak naik dan mengantar gadis itu sampai ke depan pintu unit. Immanuel juga


perlu istirahat dengan segera untuk memulihkan tenaganya.


‘BRUK!!!’


Begitu sampai, Agatha


langsung menghempaskan dirinya begitu saja. Ia ambruk di atas sofa ruang


tengah. Sudahlah, rasanya ia tak sanggup lagi untuk berjalan lebih jauh ke


kamar. Di sini saja sudah cukup. Lagi pula sama saja. Agatha bisa tidur dimana


pun itu. Bahkan jika itu di lantai sekali pun.


Agatha bahkan tidak


melepas alas kakinya lebih dulu saat berada di depan pintu masuk tadi. Ia sama


sekali sudah tidak memikirkan apa pun. Satu-satunya hal yang berada di dalam


pikirannya saat ini adalah tidur. Tidak ada yang lain.


“Ah, sepertinya


lingkarang hitam di bawah mataku akan bertambah parah setelah ini,” gumam gadis


itu dengan mata tertutup.


Sangking


mengantuknya, ia bahkan sampai tak sanggup untuk membuka kelopak matanya


sendiri. Sungguh, ia sudah tak memiliki sisa tenaga lagi.