The Riot

The Riot
Dokter Viona



Belum terlalu jauh


Agatha berlari dari tempat ia berdiri yang terakhir kali, tiba-tiba saja sebuah


mobil sport putih mengerem secara mendadak tepat di hadapannya. Kemudian di


pengemudi menurunkan kaca jendelanya. Tidak bisa dipungkiri jika gadis itu cukup


merasa terkejut mendapati sang dokter yang pernah merawatnya dulu tiba-tiba


muncul. Terlebih dalam situasi seperti ini. Mustahil, bagaimana bisa ia mengetahui


posisi Agatha sekarang.


“Cepat masuk!” perintah


wanita itu.


Namun, bukannya menuruti


perkataannya, Agatha malah melakukan hal yang sebaliknya. Ia tidak bergeming


untuk beberapa saat. Agatha tidak tahu harus berbuat apa. Lebih tepatnya apakah


dokter ini bisa dipercaya. Bagaimana jika ternyata ia tidak jauh berbeda dengan


mereka yang sudah Agatha jumpai selama ini.


“Hei! Jangan pergi!”


seru seseorang dari arah berlawanan.


Ya, itu adalah di kurir


palsu tadi. Ternyata ia tidak langsung pingsan. Dengan langkah yang


terhuyung-huyung, pria itu tidak menyerah sama sekali. Ia masih terus berusaha


untuk mengerjar gadis itu. Sudah susah payah ia membawa Agatha kemari. Tidak mungkin


jika dilepaskan begitu saja. Sungguh tidak adil. Paling tidak biarkan ia


mendapatkan bayaran dari Liora lebih dulu. Baru setelahnya terserah gadis itu


mau pergi kemana. Ia tidak akan mempedulikannya sama sekali. Sebab tugasnya


sudah selesai.


“Cepat masuk! Tunggu


apa lagi?!” celetuk wanita tersebut dengan geram.


Tanpa pikir panjang,


Agatha langsung mengiyakan perkataannya. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam


mobil dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Semoga ini adalah jalan


keluarnya. Sejauh ini wanita tersebut cukup baik kepadanya. Tidak ada


tanda-tanda jika ia akan berkhianat. Meski begitu, Agatha tetap harus waspada.


Setelah kendaraan


tersebut melaju meninggalkan tempat tadi, Agatha sudah mulai bernapas lega.


Setidaknya sekarang ia tidak perlu merasa cemas lagi. Untuk sementara posisinya


aman. Semesta telah mengirimkannya orang baik.


“Terima kasih banyak


telah membantuku lagi,” kata Agatha yang tiba-tiba buka suara.


“Tidak masalah,” balas


wanita tersebut.


“Lagi pula memangnya


kapan  aku pernah membantumu sebelum ini?”


tanya wanita itu lagi.


“Waktu di rumah sakit


kau banyak membantuku. Mana mungkin aku melupakan hal tersebut,” ungkap Agatha.


“Itu sudah tanggung


jawabku jadi tidak perlu merasa berhutang budi seperti itu,” balasnya tanpa


mengalihkan pandangan sama sekali.


Agatha hanya tersenyum


tipis sebagai bentuk respon atas kalimat wanita itu barusan. Entah kenapa ia


selalu merasa aman tiap kali berada di sisinya. Padahal mereka tidak memiliki


hubuga darah sama sekali. Tidak hanya itu. Agatha juga baru akhir-akhir ini


saja bertemu dengannya. Kalau Agatha tidak terpaksa masuk rumah sakit karena


keracunan, mungkin ia tidak akan mengenal wanita itu sekarang. Dan tidak


menutup kemungkinan kalau sekarang dirinya masih berada di sana, jika wanita


ini tidak datang untuk menyelamatkannya.


Semesta sungguh


menciptakan skenario terbaik yang pernah ada. Agatha bahkan tidak pernah


menyangka hal tersebut sama sekali. Setiap haris elalu ada saja kejutan yang


semesta siapkan untuknya. Mulai dari hal baik yang membuatnya tak henti-henti


untuk bersyukur, hingga hal buruk yang menguji kesabarannya.


“Ooh, ya! Sepertinya


kita belum pernah berkenalan sejak di rumah sakit,” ucap wanita itu secara


tiba-tiba.


“Namaku Viona!” katanya


dengan antusias.


“Nama yang bagus,” puji


Agatha.


“Namaku Agatha,”


timpalnya kemudian.


“Senang bertemu


Sekarang mereka sudah


saling mengenalantara satu sama lain. Agatha mengira kalau sebelumnya Dokter


Viona sudah tahu siapa namanya. Tapi, ia pasti sudah lupa. Ada begitu banyak


pasien yang harus ia tangani setiap harinya. Tidak mungkin Dokter Viona bisa


mengingat nama pasiennya dalam jangka waktu lama. Meskipun sebenarnya hal


tersebut mungkin saja untuk terjadi.


Dokter Viona pasti


hanya mengingat wajah Agatha yang kelihatan familiar baginya. Tidak dengan


namanya. Orang-orang memang begitu. Mereka jauh lebih mudah untuk mengingat


wajah orang lain dari pada namanya. Ia yakin jika tidak hanya Dokter Viona yang


mengalami hal tersebut. Pasalnya, terkadang Agatha juga seperti itu.


“Kalau boleh aku


bertanya, bagaimana kau tahu soal keberadaanku tadi?” tanya Agatha dengan


hati-hati.


Setelah memikirkannya


berulang kali, pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk bertanya saja.


Jawabannya tidak akan pernah ditemukan jika ia hanya bertanya kepada dirinya


sendiri. Tidak ada hal yang pasti. Semua yang muncul dari dalam dirinya


hanyalah asumsi yang belum terbukti benar adanya.


“Aku tidak sengaja


lewat jalanan itu tadi untuk pergi ke café. Jalan tikus tercepat yang pernah


kulewati sebelumnya. Dan yang terpenting terbebas dari macet. Tapi, tadi aku


tidak sengaja melihatmu dibawa keluar dari dalam mobil tersebut. Kecurigaanku


ternyata terbukti benar saat kau memberontak dan berusaha untuk melarikan diri.


Pada saat itulah aku sadar kalau kau memerlukan bantuan. Aku akan sangat merasa


bersalah kalau gagal membantumu tadi,” jelas Dokter Viona dengan panjang lebar.


“Apa kau memiliki janji


dengan seseorang di café tersebut?” tanya Agatha.


“Kalau begitu kau harus


pergi sekarang. Kau tidak bisa membuatnya menunggu terlalu lama hanya karena


membantuku,” sambung gadis itu kemudian.


“Ah, tidak perlu sama


sekali,” balas Dokter Viona secara gamblang. Seolah ia tidak mempermasalahkan


hal tersebut sama sekali.


“Aku hanya ingin


bersantai sambil menghabiskan waktu sendirian saja tadi,” jelasnya.


“Maaf karena telah


merusak rencanamu,” ungkap Agatha dengan wajah tertunduk.


“Tidak masalah sama


sekali. Keselamatanmu jauh lebih penting dari pada urusan pribadiku,” balas


wanita tersebut.


“Kita adalah penyedia


layanan jasa kepada masyarakat. Harus selalu memprioritaskan kebutuhan mereka


lebih dulu dari pada diri sendiri. Bukankah begitu?” celotehnya yang kemudian


diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


“Benar juga,” balas


Agatha.


Kali ini ia merasa


setuju dengan perkataan wanita itu. Mereka sudah sependapat. Daftar prioritas


setiap orang pada dasarnya bisa berubah kapan saja. Sesuai dengan situasi dan


kondisi.


“Maaf karena aku gagal


melindungimu dari orang-orang seperti mereka,” batin Dokter Viona di dalam


hati.


Ini bukan yang pertama


kalinya ia merasakan hal serupa. Beberapa kali Agatha selalu terjebak dalam


masalah. Ia bahkan nyaris meregang nyawa karena masalah itu. Namun, Viona tidak


pernah bisa menyelesaikan masalahnya. Ia hanya bisa membuatnya terasa sedikit


lebih ringan. Paling tidak agar gadis itu bisa mengambil napas lebih dulu.


“Liora sungguh sudah


kelewatan batas!” geramnya di dalam hati.


Ia


tidak ingin sampai Agatha tahu kalau diam-diam ia juga menyimpan dendam pribadi


kepada Liora. Entah kenapa wanita itu selalu saja ingin berbuat jahat kepada


Agatha. Padahal ia sama sekali tidak berniat untuk merebut harta ayahnya dari


gadis itu. Kalau pun Agatha benar-benar akan melakukan hal tersebut, ia pasti


sudah berkuasa sekarang. Agatha bisa melakukannya kapan saja yang ia mau. Lagi


pula kabarnya beberapa aset perusahaan Narendra sudah atas nama Agatha.