The Riot

The Riot
Secret Mission



Tepat di hari yang sama dengan patrol malam mereka


beberapa hari yang lalu, ternyata ada laporan baru soal kasus penyeludupan


senjata dari Hongkong de dalam negeri. Ada seorang wanita yang ingin


dirahasiakan identitasnya itu telah membuat laporan tersebut dua hari lalu. Ia


rela datang ke kantor polisi tengah malam. Padahal hal tersebut sangat


berpotensi untuk mencelakai dirinya sendiri. Bepergian di atas jam sepuluh


malam sendirian sungguh berbahaya. Apalagi bagi seorang wanita. Terutama bagi


mereka yang tinggal di kota-kota besar harus jadi ekstra waspada.


“Kami menerima laporan soal penyeludupan senjata api


ke dalam negeri melalui pelabuhan,” ujar Arjuna di awal.


“Ah, jadi telah terjadi transaksi illegal?” gumam


gadis itu dalam hati.


“Omong-omong, memangnya untuk apa senjata tersebut?”


tanya Agatha.


“Menurut laporannya, pemasok senjata tersebut


sengaja mengirimkan persediaannya untuk mendukung sekelompok geng mafia


terbesar di kota ini,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Demi menghindari kesalah pahaman yang mungkin akan


terjadi, Arjuna lantas berusaha untuk menjelaskan setiap halnya dengan begitu


detail. Bahkan sampai hal paling tidak penting sekali pun.


“Memangnya siapa mereka?” tanya Agatha penasaran.


“Noir,” jawab pria itu.


“Nama kelompok mereka Noir,” sambungnya kemudian.


Agatha lantas mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Pertanda


jika ia sudah cukup paham sejauh ini.


“Mereka sudah cukup lama menjadi incaran kami,”


ungkap Arjuna secara terang-terangan.


“Tim khusus kita hampir saja berhasil mendapatkan


mereka waktu itu di markasnya. Namun, ternyata orang-orang yang ada di dalamnya


jauh lebih pintar. Mereka sudah bergerak lebih dulu. Bahkan sebelum kami sempat


melakukan serangan,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Itu artinya mereka sudah menjaid buronan sejak


dulu?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Ya, benar!” balas pria itu.


Ternyata ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui


di sini. Meskipun tidak bisa dikatakan baru bekerja di sini, tetap saja Agatha


tidak mengetahui beberapa hal. Dan memang sepertinya mereka tidak ingin mengungkapkannya


kepada sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa


mengetahuinya.


Wajar saja jika Arjuna tahu lebih banyak dari pada


gadis itu. Ia berhak. Sebab jika dipikir-pikir lumayan masuk akal juga. Bagaimana


bisa mereka Arjuna tidak tahu segalanya. Sementara ia sendiri sudah bekerja


jauh lebih lama jika dibandingkan dengan Agatha.


“Sepertinya tim paling hebat yang kita miliki sekali


pun tidak akan bisa menaklukkan mereka,” ujar Arjuna sambil menyandarkan


tubuhnya pada sandaran kursi.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Agatha


dengan polos.


“Jika kita tidak bisa menyerang mereka dalam skala


besar, maka mari kita lakukan yang sebaliknya!” celetuk pria itu.


Agatha yang mendengar kalimat tersebut dai lawan


bicaranya lantas mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa


yang barusaja dikatakan oleh pria itu. Entah karena penjelasannya yang terlalu


berbelit-belit, atau memang otak gadis ini saja yang kesulitan untuk


mencernanya.


“Maksudnya?”


Tak ingin kebingungan sendiri, gadis itu lantas


bertanya. Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan jika kau akan tersesat kalau


malu bertanya. Begitulah kira-kira kalimat yang dapat mengungkapkan situasinya


sekarang. Agatha tentu tak mau sampai tersesat.


“Mereka tentu akan curiga jika kita bergerak dalam


jumlah banyak seperti akan melakukan penyergapan seperti biasanya,” ungkap pria


itu di awal.


“Bukankah selama ini kita selalu menggunakan cara


yang tadi?” sambungnya kemudian.


“Kita tetap akan melakukan penyergapan untuk


menangkap mereka semua. Tapi, tidak sekarang. Rencana itu akan kita lakukan di


akhir misi,” jelas Arjuna. Berharap agar gadis itu lekas mengerti dengan maksud


dan tujuannya.


“Kita akan bergerak seperti penyusup untuk pertama


kalinya agar tidak ada satu pun dari mereka yang merasa curiga,” jelas Arjuna.


Kali ini ia mendekatkan dirinya ke arah gadis itu.


Bermaksud agar tidak ada orang lain yang berusaha menguping pembicaraan mereka.


Meski pintunya sudah ditutup rapat-rapat, hal itu sama sekali tidak menjamin


apa pun. Sebagai proteksi tambahan, Arjuna dengan sengaja merendahkan volume


suaranya. Sehingga hanya seorang gadis yang tengah duduk di hadapanya yang


dapat mendengarkan hal tersebut.


“Ini misi rahasia,” ucap Arjuna dengan penuh


penekanan. Ia kembali menegaskan hal yang sama sekali lagi.


Di sisi  lain


Agatha sepertinya tidak ingin memberikan tanggapan apa pun sejauh ini. Ia masih


memerlukan penjelasan yang jauh lebih detail lagi.


“Jadi, aku berencana untuk mengirimkan salah satu


dari tim kita untuk pergi ke sana. Berpura-pura menjadi anggota baru. Dia akan


bergabung dengan kelompok mafia itu.Memata-matai setiap pergerakan mereka dan


tak lupa untuk selalu mengabarkannya ke kantor,” papar pria itu dengan sejelas-jelasnya.


“Orang yang akan pergi ke sana dan menjalankan misi


rahasia ini adalah kau!” tukasnya di akhir kalimat.


“Aku?” tanya Agatha dengan jari telunjuk yang


mengacung ke arah dirinya sendiri.


Arjuna mengangguk yakin dengan keputusannya sendiri.


“Apa kau sudah gila?!” seru gadis itu kemudian


beranjak berdiri dari tempat duduknya.


“Tidak, aku tidak gila. Aku masih waras,” bela


Arjuna.


Kedua bola mata Agatha membulat dengan sempurna. Otaknya


menolak untuk percaya. Ia masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa pria itu


memberikannya tugas yang tidak masuk akal. Bukankah itu terlalu berbahaya untuk


ukuran seorang gadis sepertinya. Agatha bahkan belm genap berumur 25 tahun.


Pergi menghampiri orang-orang jahat itu dan


berpura-pura ingin menjadi salah satu bagian dari mereka dengan niat yang


sebaliknya adalah sebuah kesalahan besar. Itu sama saja dengan bunuh diri. Ia menyerahkan


nyawanya sendiri dengan cara masuk ke kandang harimau. Dia tidak mau mati


konyol seperti itu. Terlebih usianya masih cukup muda. Walaupun tetap saja


takdir dan kematian tidak ada yang bisa menolaknya. Jangankan menolak,


menghindar saja tidak bisa. Sebab itu sudah merupakan satu kepastian dalam


hidup setiap manusia.


“Aku tidak mau ditugaskan untuk misi yang satu ini!”


tegas Agatha sekali lagi.


“Itu berarti kau menolak untuk mengabdi pada negara?


Padahal kau telah disumpah untuk itu,” balas Arjuna dengan tenang.


Sambil menunggu balasan dari gadis itu, ia tampak


memainkan kuku jarinya yang masih pendek.


“Jika benar, maka kau tidak pantas untuk tetap


berada di sini. Hanya mereka yang memegang kata-katanya sendiri yang akan tetap


bertahan,” ujar pria itu kemudian.


“Tapi-“


Satu detik setelahnya, Agatha kembali bungkam. Ia tidak


tahu harus berbuat apa. Kenapa hidup tidak pernah terasa mudah baginya. Selalu


ada saja hari dimana ia dihadapkan pada pilihan yang bahkan tidak bisa ia pilih


sama sekali. Jika diizinkan, maka Agatha tidak akan mau melewati fase itu lagi


untuk yang kesekian kalinya.


“Aku akan memberimu


waktu sampai besok. Jadi, buatlah keputusan yang terbaik untuk hidupmu sendiri,”


final Arjuna.