
Setelah berusaha untuk
memutar otak, pada akhirnya gadis itu bisa menemukan hasil yang tidak nihil
seperti biasanya. Sekarang Agatha ingat jelas kalau kode itu pernah ia tuliskan
di salah satu kertas laporan. Kasus yang paling terkenal dan belum sempat usai
sampai sekarang. Ya, benar. Kasus pembunuhan berantai dengan kode petunjuk
titik koordinak kota Hongkong.
Semua orang juga tahu
kalau kasus pembunuhan berantai itu menjadi salah satu kasus tersulit yang
pernah mereka tangani. Bahkan Agatha tidak bisa mengurus semua itu sendiri.
Sesekali Arjuna bahkan ikut turun tangan.
“Jadi, pelakunya adalah
orang yang sama?” gumam Agatha tak percaya.
Kenyataan yang kali ini
memang sulit untuk dipercaya. Bagaimana bisa selama Agatha tidak berada di
kantor, si pelaku tidak berulah. Semuanya tampak begitu aman, sehingga Agata
berpikir kalau ia sudah menyerah. Tidak ada korban baru. Tapi ternyata ia
salah. Dugaan Agatha tidak selamanya benar.
Baru beberapa hari
setelah Agatha kembali, si pelaku mulai beraksi kembali. Bahkan dengan
tindakan yang jauh lebih parah daripada
sebelumnya.
“Apa dia mengawasiku
selama ini?” batin gadis itu dalam hati.
Meski belum tentu
benar, tapi hal tersebut mungkin saja terjadi. Jika diperhatikan baik-baik,
waktu itu Agatha pernah menjadi sasaran. Kemudian setelah Agatha pergi dari
kantor untuk menjalankan misi rahasia, tidak pernah ada korban yang jatuh lagi.
Dan setelahnya terjadi penembakan oleh orang misterius di apartment barunya.
Bukan hanya itu saja. Bahkan kejadian tersebut terjadi tepat di depan Agatha.
Ia menyaksikan semuanya dengan cukup jelas.
“Agatha!” sahut lawan
bicaranya.
“Apa yang sedang kau
pikirkan?” tanya Jeff.
“Tidak apa-apa,” balas
Agatha sambil menggeleng pelan.
Sejak tadi Jeff melihat
kalau gadis itu hanya diam seribu bahasa tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Pandangannya juga tampak kosong. Sepertinya Agatha sedang sibuk dengan isi
pikirannya sendiri. Sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja tidak lucu kalau
tiba-tiba jiwa gadis itu kerasukan roh jahat atau sejenisnya. Jeff bukan orang
yang bisa mengatasi permasalahan seperti itu.
“Jadi, menurutmu apakah
ini adalah korban terakhir?” tanya Jeff sambil mengerutkan dahinya.
“Pelakunya tidak lagi
menunjukkan bagian-bagian dari kodenya secara satu-persatu. Melainkan langsung
mengungkap keseluruhan kode secara utuh,” jelasnya kemudian.
Agatha mengangguk
setuju dengan pernyataan pria itu yang kedua. Sepertinya pelakunya mulai tidak
sabar. Sehingga ia langsung mengungkapnya.
“Bisa jadi ini adalah
korban terakhir,” ujar Agatha.
“Titik Koordinat
Hongkong seharusnya sudah berakhir sampai di sini. Tidak ada apa pun lagi yang
perlu ditambahkan,” ungkapnya.
Seharusnya memang
begitu. Sudah berakhir dan ini adalah petunjuk yang terakhir. Semoga saja
dugaan mereka kali ini memang benar adanya. Agatha tidak mau kalau sampai ada
lebih banyak korban lagi yang berjatuhan.
Sebenarnya ada apa
dengan Hongkong. Kenapa si pelaku terus berusaha untuk memberi tahu Agatha
kalau tempat yang ia maksud selama ini adalah Hongkong. Tapi, percuma saja jika
dicari tahu sekarang. Kalau pada akhirnya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya
tengah terjadi di sini. Lagi pula Hongkong tidak bisa dikatakan sebagai wilayah
yang kecil dengan luas wilayahnya yang mencapai 1.114 km. Tidak hanya sampai di
situ saja.
Jadi, pada intinya
mereka tidak bisa pergi ke sana. Tidak sebelum semuanya terasa jauh lebih
jelas. Agatha saja tidak tahu apa iinti dari permasalahannya sekarang.
“Kau tidak ingin
kembali? Sekarang sudah hampir pukul sembilam malam,” ujar Agatha.
“Kau benar! Kalau
begitu aku pulang dulu!” pamit Jeff kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Hati-hatilah selama
berada di jalan,” balas Agatha.
Gadis itu sama sekali
tidak berniat untuk mengusir pria tersebut. Tapi, apa yang dia katakan barusan
benar. Ini sudah pukul sembilan malam. Kalau Jeff tidak segera pergi, bisa-bisa
ia sampai di rumahnya terlalu malam. Tapi, bukan itu inti dari permasalahannya.
Di luar sana akan semakin berbahaya jika hari semakin gelap. Tidak baik jika
kau masih berkeliaran di jalanan pada jam segini.
***
Setelah Jeff pergi dari
sana, Agatha kembali ke ruang tengah. Membereskan semua kekacauan yang ada. Ia
sudah memutuskan untuk tidak memikirkan masalah ini terlalu dalam sekarang.
Besok masih ada banyak waktu yang bisa ia gunakan. Agatha tidak boleh tidur
terlalu larut malam, dengan alasan kesehatan. Mengingat ia baru saja keluar
dari rumah sakit. Bahkan ketika kau dalam kondisi yang cukup sehat pun, sangat
tidak disarankan untuk begadang.
“Kalau benar orang itu
sedang mengawasi diriku selama ini, itu berarti hidupku berada dalam puncak
bahaya,” batin gadis itu di dalam hati.
Padahal sekarang ia
Tapi, ia tidak benar-benar tidur. Kepalanya masih begitu berisik. Agatha tidak
bisa menyingkirkan hal-hal tidak penting seperti itu dari dalam pikirannya.
Secara mendadak,
bayangan pada saat kejadian penembakan itu kembali terlintas di dalam
kepalanya. Sontak hal tersebut membuat Agatha terkesiap dan bangun dari
tidurnya. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Ia nyaris tidak bisa
percaya jika hal tersebut kembali terulang. Padahal ia tidak pernah
memikirkannya akhir-akhir inni. Dan yang terpenting Agahta sudah berusaha untuk
mencoba melupakan semuanya.
Sepertinya aksi-aksi
pembunuh itu berhasil menghantuinya sekarang. Setelah sebelumnya Agahta
berusaha untuk tidak mempedulikan hal tersebut sama sekali. Tapi yang kemarin,
ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia hanya berjarak sekitar satu meter
labih saja dari si korban. Bagaimana bisa ia tenang. Bergerak sedikit lagi
saja, mungkin Agatha yang akan menjadi korbannya.
“Sial! Aku tidak bisa
tidur!” umpatnya kesal.
Agatha memutuskan untuk
bangkit dari posisinya sekarang. Bisa-bisanya ia tidak mengantuk. Padahal
sekarang sudah hampir pukul sebelas malam. Satu jam lagi tengah malam. Tidakkah
rasa kantuk itu akan menghampirinya untuk malam ini.
Gadis itu duduk di tepi
kasur sambil melamun. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa malam-malam
begini. Sebenarnya Agatha ingin keluar untuk mencari udara segar. Siapa tahu
hal tersebut bisa membantunya untuk tidur dengan nyenyak. Tapi, setelah
dipikir-pikir lagi ia tidak akan keluar. Agatha tinggal sendirian untuk saat
ini. Tidak ada seorang pun yang ia kenal di gedung baru apartmentnya. Bahaya
bisa saja terjadi ketika ia dalam perjalanan keluar. Memang benar jika
orang-orang yang bekerja di sini akan mengamankan tempat tersebut selama dua
puluh empat jam penuh. Tapi, itu hanya terkonsentrasi di lantai bawah.
Bagaimana jika
sewaktu-waktu pelaku pembunuhan berantai itu kembali beraksi lagi. Melakukan
sesuatu yang lebih gila daripada sebelumnya. Atau kemungkinan terburuknya adalah
Agatha akan menjadi target berikutnya. Selama ini orang tersebut selalu
memastikan korbannya sampai tidak bernyawa lagi. Sementara itu sejauh ini
Agatha adalah satu-satunya korban yang selamat. Dan bahkan sekarang ia tengah
berusaha untuk mengungkap segalanya.
“Apa yang harus
kulakukan tengah malam seperti ini?” tanya Agatha kepada dirinya sendiri.
Lagi-lagi ia kembali ke
dalam lamunannya. Sampai pada akhirnya muncul sebuah ide cemerlang. Kenapa
tidak mencoba untuk berolahraga ringan saja. Ada banyak ragam olahraga yang
bisa dilakukan di rumah.
“Siapa tahu aku akan
mengantuk kalau kelelahan,” gumamnya sambil menggidikkan bahu.
Lagi pula tidak ada
salahnya untuk mencoba hal tersebut. Olahraga bukan sesuatu yang berbahaya
untuk saat ini. Meski Agatha baru saja keluar dari rumah sakit, tubuhnya tetap
perlu bergerak.
Keputusannya kali ini
sudah bulat. Tidak ada yang bisa menghentikannya dengan alasan apa pun. Agatha
tidak akan memaksa dirinya hingga terlalu kelelahan kali ini. Setidaknya cukup
untuk membuatnya berkeringat dan bergerak. Itu saja sudah cukup.
Tidak ada yang
menyangka jika ternyata cara yang satu itu lumayan manjur juga. Dia langsung
tertidur di atas matras olahraga sampai keesokan paginya. Agatha hanya
melakukan olahraga ringan selama satu jam. Tidak terlalu lama. Tepat pada
tengah malam ia kembali tidur. Lebih tepatnya ketiduran.
“Hoamm!!!!”
Agatha membuka kedua
kelopak matanya dengan perlahan. Ia baru saja bangun, jadi nyawanya belum
terkumpul sepenuhnya. Salah satu tangannya berusaha meraba sekeliling. Tadinya
Agatha ingin mencari ponselnya yang biasanya selalu ia letakkan di atas nakas
tiap kali akan tidur. Tapi, sepertinya ia baru saja sadar akan sesuatu. Dirinya
sedang tidak berada di atas tempat tidur saat ini, melainkan di lantai.
“Aish! Kenapa aku bisa
berada di sini?” gumam Agatha sambil merangkak naik.
Awalnya gadis itu
sempat mengira jika dirinya jatuh dari atas tempat tidur kemarin malam. Karena sangking
nyenyaknya, ia jadi tidak sadar sama sekali meski badannya sudah menghantam
lantai. Tapi, setelah melihat matras olahraga itu ia baru mengingat sesuatu.
Bukankah kemarin malam Agatha memutuskan untuk berolahraga. Ia pasti ketiduran
karena merasa lelah.
Gadis itu menepuk
dahinya sendiri karena merasa bodoh. Bagaimana bisa ia melupakan hal tersebut.
Tapi, sebenarnya Agatha memang pelupa.
Tak ingin
bermalas-malasan lagi, Agatha lantas beranjak dari tempat duduknya. Kemudian
bergegas untuk membereskan semua kekacauan yang ia buat. Sekarang bukan
waktunya untuk bersantai. Matahari sudah naik sepenuhnya. Agatha harus segera
pergi ke kantor jika masih ingin hidup setidaknya sampai besok.
Hidup menjadi manusia
dewasa tidak mudah, namun juga tidak selamanya tentang kesulitan. Terkadang
beberapa di antara orang dewasa ingin kembali ke masa anak-anaknya. Terjebak di
waktu tersebut adalah sesuatu yang paling mereka idamkan untuk saat ini. Memang
benar apa kata orang-orang. Manusia tidak pernah merasa puas. Mereka selalu
saja kekurangan dan mengeluh atas semua pencapaiannya.
Tidak
bisa dipungkiri jika Agatha juga merasa demikian. Tidak pernah cukup. Padahal sejauh
ini kehidupannya tampak aman dan terjamin karena pekerjaannya. Tapi tetap saja
ia merasa khawatir. Kemungkinan terburuk yang selama ini ia pikirkan bisa
datang kapan saja. Semesta bisa berbalik menyerangnya kapan pun itu.