The Riot

The Riot
Food



Zura bilang, kepala


pria itu hanya tidak sengaja terbentur sampai terluka. Kemungkinan terkena


ujung meja akibat di dorong. Tapi, itu masih dugaan sementara. Dia tidak ingin


menyimpulkan terlalu spesifik, karena pada saat itu Zura tidak ada di tempat


kejadian. Dugaannya belum pasti. Dan mungking mereka harus tetap menunggu


sampai pria itu sadarkan diri untuk dimintai keterangan.


Karena kondisi Arjuna


tidak terlalu parah, ia langsung dipindahkan ke ruangan rawat setelah


mendapatkan penanganan pertama dari petugas medis. Setidaknya harapan mereka


terwujud. Meski terluka, Arjuna tidak kenapa-kenapa. Luka yang didapatkannya


tidak terlalu serius.


Tidak ada siapa-siapa


di ruangan ini. Hanya Agatha dan seorang pria yang tengah tak sadarkan diri


berbaring di atas tempat tidur. Sejak tadi sorot matanya sama sekali tidak


beralih dari Arjuna. Setia menanti pria itu sampai ia kembali sadar. Andai saja


Arjuna tahu betapa sekarang ia tengah mencemaskan keadaannya.


“Dasar keras kepala!”


celetuk gadisi tu secara tiba-tiba.


Suaranya berhasil


memecah keheningan suasana. Namun, tetap saja tidak ada jawaban apa pun dari


Arjuna. Jangankan menjawab. Mendengar saja ia belum tentu bisa.


“Kau selalu memintaku


untuk berhati-hati dan jangan sampai ceroboh. Tapi lihat saja apa yang barusan


kau lakukan!” celotehnya dengan panjang lebar.


Agatha mendumal tak


jelas. Dia kesal. Kecewa lebih tepatnya. Bagaimana bisa seseorang yang selama


ini selalu memintanya untuk tetap waspada, ternyata tidak bisa menjaga dirinya


sendiri. Bagaimana bisa ia memberikan nasihat kepada orang lain, padahal belum


bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Agatha pikir pria itu sudah cukup


mahir. Tapi ternyata tidak sama sekali. Kalau urusan menjaga diri, sepertinya


Agatha masih lebih unggul ketimbang Arjuna.


‘DRRTTT!!!!’


Mendadak ponsel milik


gadisi tu bergetar pelan. Ia buru-buru merogoh saku celananya. Setelah mmendapatkan


benda tersebut, pandangannya langsung tertuju kepada sebuah nama yang tertera


dengan jelas di layar ponsel. Immanuel. Benar, ada panggilan masuk dari pria


itu. Tapi untuk sekarang Agatha sama sekali tidak ingin melayaninya. Jadi, ia


putuskan untuk tidak menjawab teleponnya dan membiarkan begitu saja. Agatha


sedang tidak berminat untuk melakukan apa pun kecuali menunggu Arjuna terbangun


dari pingsannya.


Panggilan pertama


berlalu begitu saja. Tercatat ada satu panggilan tak terjawab dari pria itu.


Agatha sama sekali tidak ambil pusing. Meski nanti mungkin akan bertambah.


Immanuel tidak akan berhenti begitu saja. Dia bukan orang yang mudah menyerah. Bisa


dipastikan jika pria itu akan tetap menelepon Agatha. Setidaknya sampai Agatha


menjawab panggilan darinya.


Sementara itu, di sisi


lain Agatha sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang akan dilakukan oleh


pria itu. Tidak peduli mau seberapa banyak Immanuel menghubunginya. Satu hal


yang pasti, ia tidak akan pernah menjawab panggilan tersebut.


Agatha menghela


napasnya dengan kasar. Pandangannya beralih ke arah jam dinding yang tergantung


di salah satu sudut ruangan. Benda itu sudah menunjukkan pukul delapan malam


sekarang. Sepertinya Agatha sudah lumayan lama berada di sini. Tapi, sama


sekali tidak ada perkembangan dari Arjuna. Tidak ada tanda-tanda jika ia akan


segera sadarkan diri. Tapi tidak masalah. Agatha akan tetap menunggunya.


Pukul delapan malam.


Seharusnya sekarang adalah jadwal perjamuan makan malam bersama seluruh anggota


geng mafia itu. Tapi, sejak tadi siang Agatha sama sekali tidak menunjukkan


batang hidungnya di hadapan orang-orang. Immanuel pasti meneleponnya untuk


menanyakan keberadaan gadis itu.


‘TOK! TOK! TOK!’


“Huh! Apa lagi kali


ini?!” gerutu Agatha sebal.


Setelah tadi menerima


panggilan masuk dari Immanuel, kini ia menganggap jika semua hal yang akan


terjadi setelahnya adalah sebuah bentuk gangguan. Dia tidak suka diusik ketika


‘KRIETT!’


“Permisi!”


Tak lama setelah suara


pintu terbuka, muncullah suara seorang wanita muda yang diyakini sebagai salah


satu perawat di rumah sakit ini. Kemudian disusul dengan suara langkah kaki.


“Permisi, apa anda


keluarga pasien?” tanya wanita tersebut.


“Aku teman sekantornya.


Dia tinggal di sini tanpa keluarga,” jawab Agatha dengan apa adanya.


“Baiklah, kalau begitu


sebaiknya anda segera mengurus proses administrasinya,” jelas si perawat.


“Akan kulakukan nanti,”


kata Agatha datar.


“Oh, ya! Selain itu


saya juga kemari untuk mengantarkan makanan dari Ibu Zura. Dia memintaku untuk


memberikan ini kepada anda. Katanya, pasti sejak tadi siang anda belum ada


makan sama sekali,” jelas wanita itu dengan panjang lebar.


“Ini!” ucapnya sembari


menyodorkan sebungkus makanan yang tidak diketahui dengan pasti apa isinya.


“Baiklah, terima kasih!”


balas Agatha.


“Kalau begitu saya


permisi dulu,” pamitnya.


Agatha sama sekali


tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengangguk untuk mengiyakan


perkataan wanita itu tadi. Tepat setelah kepergiannya, Agatha mulai memeriksa


makanan apa yang dibawa Zura untuknya. Ternyata itu nasi kotak.


“Aku akan makan nanti


saja setelah Arjuna bangun,” gumamnya lalu segera menutup kota makanan itu


lagi.


“Seharusnya mereka


membawakan makanan untuk pasien. Kenapa malah aku yang diberi makanan?”


lanjutnya.


Agatha kembali menaruh


kotak makanan tersebut di atas meja. Dia belum berminat untuk memakannya


sekarang. Tidak makan satu hari pun bukan masalah yang serius baginya. Agatha


pernah tidak makan selama tiga hari karena masalah internal. Hatinya


bergejolak. Saat itu kondisi kesehatan mentalnya memang sedang tidak baik-baik


saja.


Jadwal makan Agatha pun


terbilang tidak teratur. Ini bukan kebiasaan yang baik, tapi dia tetap


melakukannya. Sepertinya Agatha juga tahu kalau seharusnya ia tidak boleh


melakukan yang seperti itu.


***


“Apa kau sudah


memberikan makanannya kepada orang yang kumaksud?” tanya Zura.


“Sudah dok!” balas perawat


tersebut.


“Baguslah kalau begitu.


Kau bisa kembali bekerja!” kata Zura.


Ia bahkan tidak


mengucapkan terima kasih. Padahal perawat tadi telah membantu aksinya secara


suka rela. Siapa bilang jika Zura benar-benar berniat untuk memberi makan gadis


itu. Dia hanya sedang berusaha untuk memanfaatkan kesempatan.


Diam-diam Zura telah


memasukkan racikan obat tidur ke dalam makanannya. Setidaknya, setelah


mengonsumsi makanan itu Agatha akan tertidur pulas selama beberapa jam ke


depan. Zura tahu kalau selama ini gadis itu menginginkan ketenangan, sekarang


Zura sedang membantunya untuk mendapatkan hal tersebut secara percuma.


Seharusnya dalam suapan ke tiga obatnya sudah mulai bekerja. Pada saat itu lah


Zura baru bisa beraksi.


Sejak


Arjuna dipindahkan ke ruang perawatan, Agatha selalu berada di sampingnya. Hal itu


pula yang membuat Zura tidak bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Gadis itu


cukup cerdas. Atau mungkin licik lebih tepatnya. Dia telah mengatur rencana


dengan sedemikian rupa agar bisa menemui Arjuna ketika sudah siuman.