
Zura bilang, kepala
pria itu hanya tidak sengaja terbentur sampai terluka. Kemungkinan terkena
ujung meja akibat di dorong. Tapi, itu masih dugaan sementara. Dia tidak ingin
menyimpulkan terlalu spesifik, karena pada saat itu Zura tidak ada di tempat
kejadian. Dugaannya belum pasti. Dan mungking mereka harus tetap menunggu
sampai pria itu sadarkan diri untuk dimintai keterangan.
Karena kondisi Arjuna
tidak terlalu parah, ia langsung dipindahkan ke ruangan rawat setelah
mendapatkan penanganan pertama dari petugas medis. Setidaknya harapan mereka
terwujud. Meski terluka, Arjuna tidak kenapa-kenapa. Luka yang didapatkannya
tidak terlalu serius.
Tidak ada siapa-siapa
di ruangan ini. Hanya Agatha dan seorang pria yang tengah tak sadarkan diri
berbaring di atas tempat tidur. Sejak tadi sorot matanya sama sekali tidak
beralih dari Arjuna. Setia menanti pria itu sampai ia kembali sadar. Andai saja
Arjuna tahu betapa sekarang ia tengah mencemaskan keadaannya.
“Dasar keras kepala!”
celetuk gadisi tu secara tiba-tiba.
Suaranya berhasil
memecah keheningan suasana. Namun, tetap saja tidak ada jawaban apa pun dari
Arjuna. Jangankan menjawab. Mendengar saja ia belum tentu bisa.
“Kau selalu memintaku
untuk berhati-hati dan jangan sampai ceroboh. Tapi lihat saja apa yang barusan
kau lakukan!” celotehnya dengan panjang lebar.
Agatha mendumal tak
jelas. Dia kesal. Kecewa lebih tepatnya. Bagaimana bisa seseorang yang selama
ini selalu memintanya untuk tetap waspada, ternyata tidak bisa menjaga dirinya
sendiri. Bagaimana bisa ia memberikan nasihat kepada orang lain, padahal belum
bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Agatha pikir pria itu sudah cukup
mahir. Tapi ternyata tidak sama sekali. Kalau urusan menjaga diri, sepertinya
Agatha masih lebih unggul ketimbang Arjuna.
‘DRRTTT!!!!’
Mendadak ponsel milik
gadisi tu bergetar pelan. Ia buru-buru merogoh saku celananya. Setelah mmendapatkan
benda tersebut, pandangannya langsung tertuju kepada sebuah nama yang tertera
dengan jelas di layar ponsel. Immanuel. Benar, ada panggilan masuk dari pria
itu. Tapi untuk sekarang Agatha sama sekali tidak ingin melayaninya. Jadi, ia
putuskan untuk tidak menjawab teleponnya dan membiarkan begitu saja. Agatha
sedang tidak berminat untuk melakukan apa pun kecuali menunggu Arjuna terbangun
dari pingsannya.
Panggilan pertama
berlalu begitu saja. Tercatat ada satu panggilan tak terjawab dari pria itu.
Agatha sama sekali tidak ambil pusing. Meski nanti mungkin akan bertambah.
Immanuel tidak akan berhenti begitu saja. Dia bukan orang yang mudah menyerah. Bisa
dipastikan jika pria itu akan tetap menelepon Agatha. Setidaknya sampai Agatha
menjawab panggilan darinya.
Sementara itu, di sisi
lain Agatha sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang akan dilakukan oleh
pria itu. Tidak peduli mau seberapa banyak Immanuel menghubunginya. Satu hal
yang pasti, ia tidak akan pernah menjawab panggilan tersebut.
Agatha menghela
napasnya dengan kasar. Pandangannya beralih ke arah jam dinding yang tergantung
di salah satu sudut ruangan. Benda itu sudah menunjukkan pukul delapan malam
sekarang. Sepertinya Agatha sudah lumayan lama berada di sini. Tapi, sama
sekali tidak ada perkembangan dari Arjuna. Tidak ada tanda-tanda jika ia akan
segera sadarkan diri. Tapi tidak masalah. Agatha akan tetap menunggunya.
Pukul delapan malam.
Seharusnya sekarang adalah jadwal perjamuan makan malam bersama seluruh anggota
geng mafia itu. Tapi, sejak tadi siang Agatha sama sekali tidak menunjukkan
batang hidungnya di hadapan orang-orang. Immanuel pasti meneleponnya untuk
menanyakan keberadaan gadis itu.
‘TOK! TOK! TOK!’
“Huh! Apa lagi kali
ini?!” gerutu Agatha sebal.
Setelah tadi menerima
panggilan masuk dari Immanuel, kini ia menganggap jika semua hal yang akan
terjadi setelahnya adalah sebuah bentuk gangguan. Dia tidak suka diusik ketika
‘KRIETT!’
“Permisi!”
Tak lama setelah suara
pintu terbuka, muncullah suara seorang wanita muda yang diyakini sebagai salah
satu perawat di rumah sakit ini. Kemudian disusul dengan suara langkah kaki.
“Permisi, apa anda
keluarga pasien?” tanya wanita tersebut.
“Aku teman sekantornya.
Dia tinggal di sini tanpa keluarga,” jawab Agatha dengan apa adanya.
“Baiklah, kalau begitu
sebaiknya anda segera mengurus proses administrasinya,” jelas si perawat.
“Akan kulakukan nanti,”
kata Agatha datar.
“Oh, ya! Selain itu
saya juga kemari untuk mengantarkan makanan dari Ibu Zura. Dia memintaku untuk
memberikan ini kepada anda. Katanya, pasti sejak tadi siang anda belum ada
makan sama sekali,” jelas wanita itu dengan panjang lebar.
“Ini!” ucapnya sembari
menyodorkan sebungkus makanan yang tidak diketahui dengan pasti apa isinya.
“Baiklah, terima kasih!”
balas Agatha.
“Kalau begitu saya
permisi dulu,” pamitnya.
Agatha sama sekali
tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengangguk untuk mengiyakan
perkataan wanita itu tadi. Tepat setelah kepergiannya, Agatha mulai memeriksa
makanan apa yang dibawa Zura untuknya. Ternyata itu nasi kotak.
“Aku akan makan nanti
saja setelah Arjuna bangun,” gumamnya lalu segera menutup kota makanan itu
lagi.
“Seharusnya mereka
membawakan makanan untuk pasien. Kenapa malah aku yang diberi makanan?”
lanjutnya.
Agatha kembali menaruh
kotak makanan tersebut di atas meja. Dia belum berminat untuk memakannya
sekarang. Tidak makan satu hari pun bukan masalah yang serius baginya. Agatha
pernah tidak makan selama tiga hari karena masalah internal. Hatinya
bergejolak. Saat itu kondisi kesehatan mentalnya memang sedang tidak baik-baik
saja.
Jadwal makan Agatha pun
terbilang tidak teratur. Ini bukan kebiasaan yang baik, tapi dia tetap
melakukannya. Sepertinya Agatha juga tahu kalau seharusnya ia tidak boleh
melakukan yang seperti itu.
***
“Apa kau sudah
memberikan makanannya kepada orang yang kumaksud?” tanya Zura.
“Sudah dok!” balas perawat
tersebut.
“Baguslah kalau begitu.
Kau bisa kembali bekerja!” kata Zura.
Ia bahkan tidak
mengucapkan terima kasih. Padahal perawat tadi telah membantu aksinya secara
suka rela. Siapa bilang jika Zura benar-benar berniat untuk memberi makan gadis
itu. Dia hanya sedang berusaha untuk memanfaatkan kesempatan.
Diam-diam Zura telah
memasukkan racikan obat tidur ke dalam makanannya. Setidaknya, setelah
mengonsumsi makanan itu Agatha akan tertidur pulas selama beberapa jam ke
depan. Zura tahu kalau selama ini gadis itu menginginkan ketenangan, sekarang
Zura sedang membantunya untuk mendapatkan hal tersebut secara percuma.
Seharusnya dalam suapan ke tiga obatnya sudah mulai bekerja. Pada saat itu lah
Zura baru bisa beraksi.
Sejak
Arjuna dipindahkan ke ruang perawatan, Agatha selalu berada di sampingnya. Hal itu
pula yang membuat Zura tidak bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Gadis itu
cukup cerdas. Atau mungkin licik lebih tepatnya. Dia telah mengatur rencana
dengan sedemikian rupa agar bisa menemui Arjuna ketika sudah siuman.