The Riot

The Riot
Find Out



Dengan


begitu teliti, kedua bola matanya bergulir menyapu pergelangan tangan Agatha.


Memperhatikan setiap inchinya dengan begitu seksama. Arjuna tidak akan


melewatkan hal kecil sekali pun. Karena siapa yang tahu jika ternyata hal yang


paling tidak berguna sekali pun merupakan salah satu petunjuk penting.


Setelah


memeriksa di pergelangan tangan sebelah kanan, ternyata hasilnya nihil. Ia


tidak dapat menjumpai apa pun di sana. Tidak ada yang terasa mencurigakan sama


sekali. Ia lantas segera beralih ke tangan yang sebelahnya. Kali ini tak perlu


waktu lama baginya untuk menemukan sesuatu yang sudah ia cari-cari sejak tadi.


Kurang dari lima detik, ia sudah berhasil menemukannya.


Kedua


bola mata pria itu lantas membulat dengan sempurna begitu melihat sebuah bekas


luka di pergelangan tangan Agatha. Sepertinya ini tidak terlalu parah. Hanya


tergores saja. Sehingga tak banyak darah yang keluar.


“Tidak,


ini bukan stiker,” gumam Arjuna dengan yakin.


Matanya


masih terfokus kepada bekas luka goresan tersebut. Ia menatapnya dengan


lamat-lamat. Memastikan jika praduganya benar.


Jika


diperhatikan dengan baik-baik, bekas luka goresan ini terlihat seperti huruf


“L”. Bentuknya cukup tajam dan jelas. Sehingga tidak ada keraguan lagi di dalam


hatinya. Namun, ada satu hal yang membuat pria itu bertanya-tanya. Ada tanda


tanya besar di kepalanya dan hal terburuknya adalah ia tidak bisa menemukan


jawabannya sekarang.


“Dengan


benda seperti apa ia menorehkan luka ini?” gumam Arjuna sambil mengelus-elus


dagunya.


Untuk


pertama kalinya pada hari ini ia menggunakan otaknya untuk berpikir. Memutar


otak dan mencari segala kemungkinan. Pekerjaan itu cukup impas. Berhubung sejak


tadi pagi ia hanya bersantai di ruangan Agatha sembari mengawasi kinerja gadis


Sampai


saat ini ada beberapa hal yang terlintas di dalam kepalanya. Dari begitu banyak


benda di dunia ini, hanya ada tiga yang paling utama. Arjuna merasa jika


benda-benda tersebut memiliki potensi yang cukup besar untuk melukai. Pisau


lipat, ujung ballpoint dan juga serpihan beling kaca. Namun, di antara


ketiganya hanya ada satu benda yang terasa paling mungkin juga masuk akal. Tak


lain dan tak bukan adalah pisau lipat.


Biasanya


orang-orang cukup sering membawa benda yang satu itu sebagai salah satu cara untuk


melindungi dirinya. Jika ujung ballpoint yang digunakan untuk melukai Agatha,


maka seharusnya hal tersebut cukup sulit. Bekas lukanya juga tidak akan serapih


ini. Pelakunya pasti menggunakan sesuatu yang jauh lebih tajam lagi. Selain


itu, seharusnya ada bekas tinta jika benar pelaku menggunakan ballpoint sebagai


senjata.


Menurut


Arjuna, yang paling masuk akal sejauh ini adalah pisau lipat atau sejenisnya.


Yang jelas bukan pecahan beling. Karena, pasti perlu waktu untuk mendapatkan


pecahan beling. Hal itu juga terlalu beresiko untuk memancing keramaian.


Orang-orang pasti akan langsung mencurigainya jika begitu.


“Dasar


kau!” geram Arjuna.


Dia


sudah tidak mampu lagi untuk menahan emosinya. Sudah cukup. Selama ini orang


itu selalu saja mencari gara-gara dengan orang yang salah. Sekali tertangkap,


Arjuna bisa memastikan jika orang tersebut tidak akan pernah lepas lagi.


“Aku


akan segera menemukanmu!” ucapnya dengan penuh penekanan.


Sepertinya


jika Agatha sudah sadarkan diri sekarang, ia pasti sepihak dengan Arjuna. Hidup


mereka tidak akan pernah tenang selama penjahat tersebut masih berkeliaran. Akan


jauh lebih baik jika ia enyah dari muka bumi.