The Riot

The Riot
Plan Map



Arjuna membentangkan peta tersebut. Ukurannya lumayan besar,


sehingga mampu menutupi hampir separuh dari permukaan meja tersebut. Sehingga semua


orang mampu melihat setiap detail yang ada di sana dengan jelas. Wajah mereka


semua tampak begitu serius.


“Ini adalah pintu masuk utama menuju pelabuhan,” ujar Arjuna


sambil menunjuk salah satu titik pada peta.


Semua mata kini mengikuti gerak jari telunjuknya. Sepertinya


Arjuna sudah mengamati peta ini sejak lama. Atau mungkin ia sudah cukup sering berkunjung


ke sana. Sehingga merasa familiar dengan setiap sudut yang ada di tempat tersebut.


Tapi, untuk apa juga Arjuna sering berkunjung ke sana.


“Ada tiga pintu masuk menuju pelabuhan. Yang pertama adalah


pintu mausk utama di bagian depan, kemudian sisanya berada di samping kanan


kiri. Pintu yang terletak di bagian kanan ini hanya diperuntukkan bagi


karyawan. Sementara yang di bagian kiri hanya digunakan pada saat darurat


sebagai jalur evakuasi tercepat,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Arjuna benar-benar mengerti soal seluk-beluk tempat


tersebut. Tidak diragukan lagi. Sejauh ini mereka semua masih percaya dengan


Arjuna. Sebab, semua informasi yang ia berikan terasa begitu akurat.


“Tapi, untuk kali ini kita bisa menggunakan semua pintu


masuk untuk menyergap mereka,” ungkap Arjuna.


“Jadi, begini rencananya,” sambung pria itu.


“Kita akan sampai lebih dulu sebelum mereka. Minimal dua jam


sebelum jadwal kedatangan mereka,” jelasnya.


Arjuna mendadak diam sejenak untuk menarik napas, sekaligus


memberikan kesempatan bagi rekan-rekan satu timnya untuk menanggapi


pernyataannya tadi. Tapi, ternyata masih belum ada yang mau berkomentar sejauh


ini. Mereka jauh lebih memilih untuk tetap bungkam saja. Menjadi pendengar


terbaik yang pernah ada.


“Thomas, Robi dan aku akan pergi ke salah satu kapal yang


sedang bersandar. Mencoba untuk mengawasi setiap pergerakan mereka.”


“Kemudian Jeff, berpura-puralah menjadi salah satu staff


pelabuhan. Curi segala informasi yang penting.”


“Dan kau Agatha, seperti biasanya. Pergi ke mercusuar untuk


mengawasi. Kita harus saling berkoordinasi satu sama lain.”


“Jangan terlalu buru-buru dalam menembak lawan. Kita perlu


mengumpulkan informasi yang cukup lebih dulu. Jadi, tunggu perintahku lebih


dulu baru kau bisa melepaskan tembakan.”


Seperti biasanya, Agatha selalu dibebankan dengan tugas


sbagai sniper. Padahal kemampuan menembak jarak jauhnya terbilang tidak terlalu


jago. Bahkan belakangan ini ia sudah jarang berlatih. Entahlah nanti malam


tembakannya akan tepat mengenai sasaran atau tidak.


Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak ada orang lain yang bisa


diandalkan dalam hal menembak sejauh ini. Bukannya tidak ada. Tapi, lebih


tepatnya kemampuannya masih berada jauh di bawah Agatha.


“Lalu siapa yang akan berjaga di luar?” tanya Jeff yang pada


akhirnya buka suara juga.


“Tim tambahan yang rencananya akan kita bawa juga untuk


membantu mengawal misi ini,” jawab Arjuna dengan apa adanya.


Sepertinya untuk kali ini pembahasan mereka hanya sampai


sini saja. Jika masih ada yang terassa kurang jelas, mereka bisa kembali


mendiskusikannya. Arjuna biasanya selalu melakukan briefing tiga puluh menit


sebelum berangkat. Kebiasaan tersebut terbukti cukup membantu.


“Ada satu hal lagi yang harus kalian ingat baik-baik!”


celetuk pria itu.


“Hal paling penting dari sebuah tim adalah kerja sama dan


komunikasi. Jadi, jangan lupakan yang satu itu,” jelasnya  kemudian.


Setelahnya rapat ditutup dengan jargon. Semua orang kembali


ke ruangannya masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat


nanti. Arjuna bilang jika mereka sudah harus sampai di sana paling tidak dua


jam sebelum para pelaku datang. Dengan begitu, perencanaannya akan jauh lebih


matang lagi.


***


Begitu sampai di dalam ruangannya, Agatha langsung berubah


jadi manusia paling sibuk di dunia. Tidak bisa diganggu sama sekali. Gadis itu


sungguh sedang berkonsentrasi. Sebab pekerjaannya kali ini menuntut daya fokus


yang kuat. Awas saja kalau sampai ada seseorang yang membuyarkan isi


pikirannya. Agatha akan langsung menghabisi orang tersebut di tempat. Apalagi Agatha


terbilang cukup sulit untuk berkonsentrasi. Jadi perlu usaha lebih baginya


untuk bisa mencapai titik tertentu. Agatha tidak akan membiarkan orang lain


untuk mengacaukannya begitu saja.


Hari ini pekerjaannya tidak terlalu banyak. Namun, juga


tidak bisa dikatakan sedikit juga. Agatha tetap harus mengerjakannya dengan


serius jika ingin selesai lebih cepat. Kalau ia terus menunda dan menganggap


sepele, maka tugasnya tidak akan pernah selesai. Yang ada, itu hanya membuatnya


kewalahan. Karena harus menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah besar. Jika terus


tertunda, maka jumlahnya jelas akan meningkat.


Sepertinya satu hari ini ia akan lebih banyak mengalihkan


tenaga ke otaknya untuk berpikir, dari pada ke ototnya. Bekerja cerdas memang


jauh lebih baik. Tapi, Agatha tidak pernah benar-benar tahu seperti apa


defenisi kerja cerdas.


‘DRTT!!!’


Ketika sedang seibuk berkutat dengan tumpukan kertas-kertas


berukutan A4 itu, tiba-tiba ponselnya bergetar pelan. Durasinya yang cukup


panjang membuat Agatha yakin kalau itu adalah panggilan masuk. Agatha menggebrak


mejanya sendiri dengan tenaga yang tidak main-main. Suara debaman yang tidak


terlalu nyaring berhasil tercipta. Beruntung hanya ada ia sendirian di dalam


ruangan ini. Kalau sampai ada orang lain, orang itu pasti sudah terkejut bukan


main.


Mendadak ia merasa kesal. Bagaimana bisa Agatha menahan


emosinya. Ubun-ubunnya pun terasa seperti akan mendidih. Tekanan darahnya naik


bersamaan dengan munculnya suara tersebut. Tidak terlau berisik, namun cukup


menganggu. Sehingga konsentrasi gadis itu terpcahkan. Bukankah sudah dikatakan


sebelumnya jika ia tidak suka jika diganggu pada saat bekerja. terutama ketika


ia sedng serius-seriusnya. Pasalnya, tidak semua orang bisa bekerja dibawah


tekanan. Apalagi jika lingkungan tempat mereka bekerja tidak lagi mendukung. Tentu


hasilnya tidak akan optimal.


Dengan emosi yang masih menggebu-gebu, Agatha meraih


ponselnya. Kemudian melihat sebuah nomer tanpa nama terpampang nyata di bagian


terdepan layarnya. Kedua kelopak mata gadis itu mengernyit tajam. Dahinya pun


turut berkerut. Pertanda jika ia sedang kebingungan. Gadis itu bertanya-tanya


kepada dirinya sendiri.


“Siapa ini?” gumam Agatha.


Ia masuh belum mau mengangkat panggilan tersebut. Sebab merupakan


panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Beberapa kali ia mendengar


peringatan untuk tidak menjawab panggilan dari nomer yang tidak dikenal. Tapi,


di sisi lain Agatha juga berpikir bagaimana kalau ternyata ini adalah panggilan


penting.


Masalahnya, sekrang ia tidak bisa menebak apakah panggilan


tersebut benar-benar penting atau tidak. Sama sekali tidak ada dasar yang bisa


menjadi acuan untuk menentukan apakah si penelepon memiliki niat baik atau


sebaliknya. Sungguh tidak bisa diprediksi.


Karena terlalu lama berpikir,


Agatha jadi melewatkan kesempatan untuk menjawab panggilan pertama. Panggilannya


sudah berakhir. Walaupun sebenarnya Agatha masih bisa untuk menghubunginya


balik.