The Riot

The Riot
Krusial



“Ayo!” Ajar Arjuna yang


baru saja kembali.


Gadis itu lantas


mengangguk paham, kemudian bergegas beranjak dari tempat duduknya. Mereka


berjalan beriringan ke arah pintu keluar. Tepat sebelum menginjakkan kaki di


ambang pintu, Agatha baru teringat akan sesuatu.


“Benar! Itu adalah


kartu akses menuju markas utama,” batinnya dalam hati.


Kedua bola matanya


lantas membulat dengan sempurna. Seperti ada sesuatu yang meledak di otaknya.


Sulit dipercaya. Tapi, itu benar-benar nyata dan sedang terjadi kepadanya.


Sekarang organ tubuh paling terpenting yang menyimpan berjuta memori itu baru


bekerja kini.


Ia mematung di tempat


untuk beberapa saat. Seluruh tubuhnya seperti membeku. Tidak bisa dan tidak


ingin bergerak sama sekali. Agatha masih terlalu sibuk dengan isi pikirannya


sendiri.


“Kau pulang naik apa?”


tanya Arjuna peduli.


Memangnya sejak kapan


dia tak mempedulikan gadis ini lagi. Bahkan sejak dulu Agatha selalu menjadi


yang utama dalam skala prioritasnya.


“Apa?” tanya gadis itu


balik. Dia barusaja tersadar dari lamunnannya.


“Pulang naik apa?”


Arjuna kembali mengulang pertanyaan yang sama.


“Oh, itu. Aku membawa


mobil tadi kemari,” kata gadis itu sambil menunjuk ke arah pelataran parkir.


“Kalua begitu


hati-hati,” ucap Arjuna yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.


Sekarang belum terlalu


larut malam. Masih sekitar pukul sembilan malam. Meski begitu, tetap saja ia


harus berhati-hati. Waspada akan membuatmu tetap aman. Jalanan yang ramai sama


sekali tidak menjamin jika semuanya akan baik-baik saja. Justru terkadang dari


situlah semuanya bermula.


Mereka kembali


melanjutkan perjalanannya menuju parkiran. Kemudian mengarah ke kendaraannya


gerbang utama. Sebab, Agatha dan Arjuna memiliki rute jalan yang tak sama. Tapi,


itu tak jadi masalah sama sekali. Mereka masih bisa menjaga dirinya


masing-masing tentunya.


‘TIN!’


‘TIN!’


Suara klakson dari


masing-masing mobil saling tampak saling bersahutan di ambang pintu gerbang.


Sebelum pada akhirnya, keduanya saling meninggalkan satu sama lain.


Agatha berencana untuk


langsung pulang tadinya. Tapi, sepertinya ia tidak akan bisa fokus berkendara


kalau masih kepikiran soal yang satu itu.


“Jika wanita itu


memiliki kartu akses, apakah jangan-jangan dia adalah mafia yang mereka maksud


tadi siang?” gumam Agatha sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat.


Sementara otaknya sibuk


memikirkan tentang hal yang sama sejak tadi, pandangannya harus tetap fokus ke


depan. Memperhatikan jalanan di depannya. Terlebih ini malam hari. Berkendara di


malam hari memiliki resiko dan tantangan tersendiri.


“Sepertinya aku tidak


salah lagi kali ini,” tukasnya di akhir.


Kalau itu benar,


berarti Agatha telah bertemu dengan wanita tersebut secara tidak langsung.


Mendadak ia teringat akan sesuatu dan di saat yang bersamaan pula kakinay


berhasil menginak pedal rem. Agatha menepuk dahinya pelan. Merutuki dirinya


sendiri untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini.


“Dimana dia duduk tadi?”


“Apa wanita itu duduk


di sekitarku juga?”


“Lalu, bagaimana jika


ia mendengar semua percakapanku dengan Arjuna?”


“Habislah aku,” final


Agatha kemudian menyandarkan kepalanya di atas kemudi.


Kemungkinan


besar, wanita itu tadi sengaja mengikuti Agatha ke dalam kamar mandi untuk


mencuri beberapa informasi. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus bagaimana


kalau sampai rahasianya terbongkar. Pasalnya, ini bukan hal biasa. Rahasia besar.