
“Ayo!” Ajar Arjuna yang
baru saja kembali.
Gadis itu lantas
mengangguk paham, kemudian bergegas beranjak dari tempat duduknya. Mereka
berjalan beriringan ke arah pintu keluar. Tepat sebelum menginjakkan kaki di
ambang pintu, Agatha baru teringat akan sesuatu.
“Benar! Itu adalah
kartu akses menuju markas utama,” batinnya dalam hati.
Kedua bola matanya
lantas membulat dengan sempurna. Seperti ada sesuatu yang meledak di otaknya.
Sulit dipercaya. Tapi, itu benar-benar nyata dan sedang terjadi kepadanya.
Sekarang organ tubuh paling terpenting yang menyimpan berjuta memori itu baru
bekerja kini.
Ia mematung di tempat
untuk beberapa saat. Seluruh tubuhnya seperti membeku. Tidak bisa dan tidak
ingin bergerak sama sekali. Agatha masih terlalu sibuk dengan isi pikirannya
sendiri.
“Kau pulang naik apa?”
tanya Arjuna peduli.
Memangnya sejak kapan
dia tak mempedulikan gadis ini lagi. Bahkan sejak dulu Agatha selalu menjadi
yang utama dalam skala prioritasnya.
“Apa?” tanya gadis itu
balik. Dia barusaja tersadar dari lamunnannya.
“Pulang naik apa?”
Arjuna kembali mengulang pertanyaan yang sama.
“Oh, itu. Aku membawa
mobil tadi kemari,” kata gadis itu sambil menunjuk ke arah pelataran parkir.
“Kalua begitu
hati-hati,” ucap Arjuna yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.
Sekarang belum terlalu
larut malam. Masih sekitar pukul sembilan malam. Meski begitu, tetap saja ia
harus berhati-hati. Waspada akan membuatmu tetap aman. Jalanan yang ramai sama
sekali tidak menjamin jika semuanya akan baik-baik saja. Justru terkadang dari
situlah semuanya bermula.
Mereka kembali
melanjutkan perjalanannya menuju parkiran. Kemudian mengarah ke kendaraannya
gerbang utama. Sebab, Agatha dan Arjuna memiliki rute jalan yang tak sama. Tapi,
itu tak jadi masalah sama sekali. Mereka masih bisa menjaga dirinya
masing-masing tentunya.
‘TIN!’
‘TIN!’
Suara klakson dari
masing-masing mobil saling tampak saling bersahutan di ambang pintu gerbang.
Sebelum pada akhirnya, keduanya saling meninggalkan satu sama lain.
Agatha berencana untuk
langsung pulang tadinya. Tapi, sepertinya ia tidak akan bisa fokus berkendara
kalau masih kepikiran soal yang satu itu.
“Jika wanita itu
memiliki kartu akses, apakah jangan-jangan dia adalah mafia yang mereka maksud
tadi siang?” gumam Agatha sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat.
Sementara otaknya sibuk
memikirkan tentang hal yang sama sejak tadi, pandangannya harus tetap fokus ke
depan. Memperhatikan jalanan di depannya. Terlebih ini malam hari. Berkendara di
malam hari memiliki resiko dan tantangan tersendiri.
“Sepertinya aku tidak
salah lagi kali ini,” tukasnya di akhir.
Kalau itu benar,
berarti Agatha telah bertemu dengan wanita tersebut secara tidak langsung.
Mendadak ia teringat akan sesuatu dan di saat yang bersamaan pula kakinay
berhasil menginak pedal rem. Agatha menepuk dahinya pelan. Merutuki dirinya
sendiri untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini.
“Dimana dia duduk tadi?”
“Apa wanita itu duduk
di sekitarku juga?”
“Lalu, bagaimana jika
ia mendengar semua percakapanku dengan Arjuna?”
“Habislah aku,” final
Agatha kemudian menyandarkan kepalanya di atas kemudi.
Kemungkinan
besar, wanita itu tadi sengaja mengikuti Agatha ke dalam kamar mandi untuk
mencuri beberapa informasi. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus bagaimana
kalau sampai rahasianya terbongkar. Pasalnya, ini bukan hal biasa. Rahasia besar.