
Hal paling utama dalam balas dendam adalah ingatan. Kau
harus benar-benar mengingat setiap detail kekejian mereka. Dengan begitu,
pelakunya tak akan melewatkan satu hal kecil pun. banyak orang berkata kalau
hidup ini harus saling timbal balik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan,
kejahatan juga dibalas dengan kejahatan.
Ini adalah langkah pertamanya untuk mesukseskan rencana
balas dendam yang belum lama ini sudah ia susun. Meski terbilang rencana yang
cukup mendadak, tapi Agatha berani bertaruh kalau hasilnya tidak akan
mengecewakan.
Sejak awal sebenarnya ia memang tidak ingin berurusan sama
sekali dengan Narendra. Terlepas dari siapa pria itu sebetulnya. Tidak peduli
jika ia merupakan ayah kandung dari gadis ini. Agatha sudah mati rasa terhadap
Narendra sejak lama. Kalau ditanya soal apa penyebabnya, sepertinya alasannya
sudah cukup jelas.
Dulu gadis ini memang sempat beberapa kali menghinari
Narendra karena berbagai alasan, tapi buktinya sekarang ia malah harus bertemu
pria itu nyaris setiap hari. Jika bukan karena urusan perusahaan, Agatha juga
tidak akan mau melakukan hal tersebut.
Tapi, semakin kemari sepertinya Agatha mulai berubah
pikiran. Ia mulai beranggapan kalau ternyata pilihannya tidak buruk-buruk amat.
Ia masih bisa memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendam kepada ayahnya
sendiri. Dan mungkin ia juga tidak akan diam saja kalau ada seseorang yang
mencoba untuk menghalanginya.
“Senang bisa bekerja sama dengan anda, nona,” kata pria muda
bertubuh jenjang itu.
“Saya juga merasa senang bisa bekerja sama dengan anda,
tuan,” balas Agatha sambil tersenyum ramah.
Mereka berdua saling berjabat tangan untuk yang terakhir
kalinya di hari ini, tepat setelah rapat usai. Beruntung kali ini semesta
berpihak kepadanya. Agatha mendapatkan apa yang ia mau, dan pria itu pun
mendapatkan yang ia mau juga. Ini baru yang dinamakan win-win. Tidak ada satu
pun pihak yang merasa rugi.
Sementara para staffnya yang lain menbereskan ruangan bekas
rapat dan juga merangkum hasil notulensinya, Agatha pergi mengantarkan klienya
beserta timnya untuk kembali. Ia tak bisa berhenti tersenyum sejak tadi.
Bagaimana tidak? Hari ini ia benar-benar bahagia. Padahal ini masih terbilang
permulaan. Agatha bahkan sampai kehabisan kata-kata karena sangking bahagianya.
“Aku rasa kita bisa menjadwalkan rapat berikutnya untuk
membincangkan soal proyek yang satu ini,” ucap pria itu tadi.
“Baiklah tuan,” balas Agatha.
Sesaat setelahnya, pria tersebut berpamitan pergi. Dan
mungkin akan kembali lagi ke sini untuk rapat berikutnya. Tapi belum bisa
dipastikan juga. Siapa tahu mereka ingin mencari suasana baru pada saat rapat.
Begitu pintu lift tertutup, Agatha lantas memutar tubuhnya
seratus delapan puluh derajat. Lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut. Ia
harus kembali ke ruangan pribadinya dan kemudian meminta sekretarisnya untuk
membawakan hasil notulensi rapat tadi.
“Ini akan menjadi berita bagus untuk Narendra. Ia pasti akan
menyukainya,” gumam Agatha.
Ia sudah bisa membayangkan akan seperti apa raut waajah
ayahnya nanti saat ia menyampaikan berita ini. Pasti pria itu akan merasa
senang sekaligus bangga dengan putri semata wayangnya yang sempat ia tinggalkan
begitu saja. Memang tidak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk belajar dan
memahami soal bisnis. Karena ia memamgn memiliki kemampuan yang cukup baik
dalam menyerap suatu hal yang baru. Ingatannya juga terbilang bagus. Bahkan
dalam mengingat hal kecil dan tidak penting sekalipun.
“Serena!” sahut Agatha.
Sontak gadis yang bernama Serena itu lantas menoleh kea rah sumber
suara.
“Nanti tolong bawakan hasil rapat tadi ke ruanganku!”
perintah Agatha yang kemudian langsung diangguki oleh gadis itu.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Agatha langsung
beranjak pergi meninggalkan Serena sendirian di sana. Lagi pula setelah ini
mereka sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. Jadi nyaris tidak punya
banyak waktu untuk bicara terlalu lama. Terkecuali pada saat rapat atau sedang
di jam makan siang.
Agatha tidak pergi kemana-mana lagi setelah ini. Ia langsung
menuju ruangan pribadinya untuk melakukan pekerjaan lain yang sempat tertunda
kemarin. Meski sudah menjadi pimpinan perusahaan, bukan berarti ia bisa bebas
dari beban pekerjaan begitu saja. Justru, beban kerjamu akan semakin meningkat
jika posisimu juga semakin tinggi. Pada dasarnya, itu adalah prinsip alamiah
yang sudah pasti terjadi di lingkungan kerja. Agatha tidak bisa anggap entang
dengan posisinya sekarang. Ia telah berhasil menempati kursi tertinggi di
perusahaan ini. Hal itu berarti jika tanggung jawabnya juga lah yang paling
besar di sini. Jika setiap orang hanya memikul tanggung jawab mereka
masing-masing secara individual, maka berbeda dengan Agatha yang harus memikul
beban tanggung jawab seluruh staff yang berada di kantor ini. Tidak mudah
memang untuk berada di posisi yang sekarang. Tapi, jauh lebih sulit lagi untuk
mempertahankannya.
“Huh!”
Begitu sampai di ruang kerja pribadinya, gadis itu langsung
merubuhkan tubuhnya di kursi meja kerja. Tidak terlalu empuk memang. Tapi,
cukup nyaman untuk bersandar dikala dirinya sedang lelah dan tak ada tenaga
seperti ini.
Kedua netranya yang semula terpejam, kini beralih ke arah
jam dinding yang terletak di seberang. Kemudian berakhir pada pemandangan
gedung pencakar langit yang berjejer di luar sana. Sekarang sudah jam sebelas
lewat. Hampir tengah hari. Matahari pun rasanya seperti sudah berada tepat di
atas kepala. Hari ini panasnya lumayan menyelekit, membuat kulitmu akan
merasakan sensasi terbakar dalam waktu singkat. Kalau saja hari ini matahari
tidak seterik itu, Agatha pasti tidak akan mengurungkan niatnya untuk makan
siang ke luar.
“Sepertinya aku akan mempertimbangkan niatku untuk pergi
makan di luar,” gumam gadis itu sambil memutar balik bola matanya malas.
Menjadi pekerja kantoran seperti ini ternyata tidak seseru
menjadi petugas kepolisian. Itu menurutnya. Tapi, meski merasa pekerjaan
barunya ini tidak semenarik itu, Agatha masih tetap melanjutkannya. Satu-satunya
hal yang membuat gadis itu masih tetap bertahan hingga detik ini hanya satu.
Memangnya apa lagi kalau bukan karena dorongan untuk balas dendamnya yang
baru-baru ini muncul.
‘TOK! TOK! TOK!’
Mendadak suara nyaring itu menggema di seluruh penjuru
ruangan, membuat Agatha terkesiap dan langsung mengumpulkan kembali fokusnya.
“Silahkan masuk!” sahut gadis itu lalu memperbaiki posisi
duduk. Sebab ia tahu kalau ada seseorang yang sedang menunggu di balik pintu
itu.
Dugaannya benar. Tak lama Serena muncul dengan beberapa
lembar kertas berukuran A4 di tangan kanannya.
“Permisi bu, ini hasil rapat yang anda minta tadi,” kata
Serena.
“Aku sudah membuatnya dalam bentuk cetak, sehingga kau bisa
dengan mudah melihatnya,” sambung gadis itu.
“Baiklah, terima kasih banyak!” balas Agatha kemudian meraih
kertas yang Serena sodorkan.
“Tapi, jika kau membutuhkan filenya, kau bisa memintanya
kapan saja,” tutup Serena sebelum berpamitan keluar.