The Riot

The Riot
1st Step



Hal paling utama dalam balas dendam adalah ingatan. Kau


harus benar-benar mengingat setiap detail kekejian mereka. Dengan begitu,


pelakunya tak akan melewatkan satu hal kecil pun. banyak orang berkata kalau


hidup ini harus saling timbal balik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan,


kejahatan juga dibalas dengan kejahatan.


Ini adalah langkah pertamanya untuk mesukseskan rencana


balas dendam yang belum lama ini sudah ia susun. Meski terbilang rencana yang


cukup mendadak, tapi Agatha berani bertaruh kalau hasilnya tidak akan


mengecewakan.


Sejak awal sebenarnya ia memang tidak ingin berurusan sama


sekali dengan Narendra. Terlepas dari siapa pria itu sebetulnya. Tidak peduli


jika ia merupakan ayah kandung dari gadis ini. Agatha sudah mati rasa terhadap


Narendra sejak lama. Kalau ditanya soal apa penyebabnya, sepertinya alasannya


sudah cukup jelas.


Dulu gadis ini memang sempat beberapa kali menghinari


Narendra karena berbagai alasan, tapi buktinya sekarang ia malah harus bertemu


pria itu nyaris setiap hari. Jika bukan karena urusan perusahaan, Agatha juga


tidak akan mau melakukan hal tersebut.


Tapi, semakin kemari sepertinya Agatha mulai berubah


pikiran. Ia mulai beranggapan kalau ternyata pilihannya tidak buruk-buruk amat.


Ia masih bisa memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendam kepada ayahnya


sendiri. Dan mungkin ia juga tidak akan diam saja kalau ada seseorang yang


mencoba untuk menghalanginya.


“Senang bisa bekerja sama dengan anda, nona,” kata pria muda


bertubuh jenjang itu.


“Saya juga merasa senang bisa bekerja sama dengan anda,


tuan,” balas Agatha sambil tersenyum ramah.


Mereka berdua saling berjabat tangan untuk yang terakhir


kalinya di hari ini, tepat setelah rapat usai. Beruntung kali ini semesta


berpihak kepadanya. Agatha mendapatkan apa yang ia mau, dan pria itu pun


mendapatkan yang ia mau juga. Ini baru yang dinamakan win-win. Tidak ada satu


pun pihak yang merasa rugi.


Sementara para staffnya yang lain menbereskan ruangan bekas


rapat dan juga merangkum hasil notulensinya, Agatha pergi mengantarkan klienya


beserta timnya untuk kembali. Ia tak bisa berhenti tersenyum sejak tadi.


Bagaimana tidak? Hari ini ia benar-benar bahagia. Padahal ini masih terbilang


permulaan. Agatha bahkan sampai kehabisan kata-kata karena sangking bahagianya.


“Aku rasa kita bisa menjadwalkan rapat berikutnya untuk


membincangkan soal proyek yang satu ini,” ucap pria itu tadi.


“Baiklah tuan,” balas Agatha.


Sesaat setelahnya, pria tersebut berpamitan pergi. Dan


mungkin akan kembali lagi ke sini untuk rapat berikutnya. Tapi belum bisa


dipastikan juga. Siapa tahu mereka ingin mencari suasana baru pada saat rapat.


Begitu pintu lift tertutup, Agatha lantas memutar tubuhnya


seratus delapan puluh derajat. Lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut. Ia


harus kembali ke ruangan pribadinya dan kemudian meminta sekretarisnya untuk


membawakan hasil notulensi rapat tadi.


“Ini akan menjadi berita bagus untuk Narendra. Ia pasti akan


menyukainya,” gumam Agatha.


Ia sudah bisa membayangkan akan seperti apa raut waajah


ayahnya nanti saat ia menyampaikan berita ini. Pasti pria itu akan merasa


senang sekaligus bangga dengan putri semata wayangnya yang sempat ia tinggalkan


begitu saja. Memang tidak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk belajar dan


memahami soal bisnis. Karena ia memamgn memiliki kemampuan yang cukup baik


dalam menyerap suatu hal yang baru. Ingatannya juga terbilang bagus. Bahkan


dalam mengingat hal kecil dan tidak penting sekalipun.


“Serena!” sahut Agatha.


Sontak gadis yang bernama Serena itu lantas menoleh kea rah sumber


suara.


“Nanti tolong bawakan hasil rapat tadi ke ruanganku!”


perintah Agatha yang kemudian langsung diangguki oleh gadis itu.


Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Agatha langsung


beranjak pergi meninggalkan Serena sendirian di sana. Lagi pula setelah ini


mereka sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. Jadi nyaris tidak punya


banyak waktu untuk bicara terlalu lama. Terkecuali pada saat rapat atau sedang


di jam makan siang.


Agatha tidak pergi kemana-mana lagi setelah ini. Ia langsung


menuju ruangan pribadinya untuk melakukan pekerjaan lain yang sempat tertunda


kemarin. Meski sudah menjadi pimpinan perusahaan, bukan berarti ia bisa bebas


dari beban pekerjaan begitu saja. Justru, beban kerjamu akan semakin meningkat


jika posisimu juga semakin tinggi. Pada dasarnya, itu adalah prinsip alamiah


yang sudah pasti terjadi di lingkungan kerja. Agatha tidak bisa anggap entang


dengan posisinya sekarang. Ia telah berhasil menempati kursi tertinggi di


perusahaan ini. Hal itu berarti jika tanggung jawabnya juga lah yang paling


besar di sini. Jika setiap orang hanya memikul tanggung jawab mereka


masing-masing secara individual, maka berbeda dengan Agatha yang harus memikul


beban tanggung jawab seluruh staff yang berada di kantor ini. Tidak mudah


memang untuk berada di posisi yang sekarang. Tapi, jauh lebih sulit lagi untuk


mempertahankannya.


“Huh!”


Begitu sampai di ruang kerja pribadinya, gadis itu langsung


merubuhkan tubuhnya di kursi meja kerja. Tidak terlalu empuk memang. Tapi,


cukup nyaman untuk bersandar dikala dirinya sedang lelah dan tak ada tenaga


seperti ini.


Kedua netranya yang semula terpejam, kini beralih ke arah


jam dinding yang terletak di seberang. Kemudian berakhir pada pemandangan


gedung pencakar langit yang berjejer di luar sana. Sekarang sudah jam sebelas


lewat. Hampir tengah hari. Matahari pun rasanya seperti sudah berada tepat di


atas kepala. Hari ini panasnya lumayan menyelekit, membuat kulitmu akan


merasakan sensasi terbakar dalam waktu singkat. Kalau saja hari ini matahari


tidak seterik itu, Agatha pasti tidak akan mengurungkan niatnya untuk makan


siang ke luar.


“Sepertinya aku akan mempertimbangkan niatku untuk pergi


makan di luar,” gumam gadis itu sambil memutar balik bola matanya malas.


Menjadi pekerja kantoran seperti ini ternyata tidak seseru


menjadi petugas kepolisian. Itu menurutnya. Tapi, meski merasa pekerjaan


barunya ini tidak semenarik itu, Agatha masih tetap melanjutkannya. Satu-satunya


hal yang membuat gadis itu masih tetap bertahan hingga detik ini hanya satu.


Memangnya apa lagi kalau bukan karena dorongan untuk balas dendamnya yang


baru-baru ini muncul.


‘TOK! TOK! TOK!’


Mendadak suara nyaring itu menggema di seluruh penjuru


ruangan, membuat Agatha terkesiap dan langsung mengumpulkan kembali fokusnya.


“Silahkan masuk!” sahut gadis itu lalu memperbaiki posisi


duduk. Sebab ia tahu kalau ada seseorang yang sedang menunggu di balik pintu


itu.


Dugaannya benar. Tak lama Serena muncul dengan beberapa


lembar kertas berukuran A4 di tangan kanannya.


“Permisi bu, ini hasil rapat yang anda minta tadi,” kata


Serena.


“Aku sudah membuatnya dalam bentuk cetak, sehingga kau bisa


dengan mudah melihatnya,” sambung gadis itu.


“Baiklah, terima kasih banyak!” balas Agatha kemudian meraih


kertas yang Serena sodorkan.


“Tapi, jika kau membutuhkan filenya, kau bisa memintanya


kapan saja,” tutup Serena sebelum berpamitan keluar.