
Begitu mereka masuk,
kedua bola mata Agatha langsung menyisir setiap sisi yang bisa ia capai. Bahkan
sampai sudut terkecil sekali pun. Kenapa tidak. Ini adalah sebuah kesempatan
emas baginya. Agatha harus mengingat begitu banyak informasi penting hari ini.
Mulai dari ciri-ciri Hiraeth, alamat tempat latihan menembak ini dan beberapa
karyawan yang dianggap sudah memiliki hubungan dekat dengan mereka. Bukan
hubungan yang seperti kalian bayangkan. Melainkan rekan kerja. Mereka pasti
sering melakukan kesepakatan di tempat ini. Baik itu secara langsung mau pun
tidak.
Agatha bukan orang yang
mahir dalam mengingat banyak hal dalam sekaligus. Tapi, ia akan memaksakannya
untuk kali ini. Seperti yang sudah pernah dikatakan pada bagian sebelumnya.
Beberapa orang mungkin tidak sadar jika mereka telah bekerja melampaui batas
yang ia bisa. Ini adalah sebuah hal baik. Jika Agatha bisa melakukan hal yang
selama ini tidak biasa ia lakukan, bukankah itu termasuk salah satu hal bagus.
Mungkin Arjuna akan merasa bangga kepadanya. Anggap saja begitu.
Ketika sampai,
teman-temannya yang lain langsung memisahkan diri dari Immanuel. Mereka akan
berjalan lebih dulu ke ruangan latihan. Sementara, Immanuel masih ada urusan
sebentar. Ia harus meminta kunci ruangan yang biasa mereka pakai kepada
penjaga. Selain itu, sepertinya Immanuel tidak hanya mengerjakan urusan yang
satu itu.
Sementara itu, di sisi
lain Agatha merasa bingung. Ia tidak tahu harus mengikuti yang mana. Rombongan
para mafia itu atau malah Immanuel saja. Sungguh, gadis itu sama sekali tidak
habis pikir. Bagaimana bisa semesta selalu memilihnya untuk ditempatkan pada situasi
yang serba salah dan sulit untuk memilih. Sungguh, ia sama sekali tidak habis
pikir. Sekejam itukah dunia kepadanya. Memangnya ia membuat kesalahan sebesar
apa sampai-sampai ia harus diperlakukan seperti ini.
Tunggu dulu. Sepertinya
dalam kasus kali ini tidak murni kesalahannya saja. Melainkan kesalahan kedua
orang tuanya. Agatha tahu betul kalau mereka berdua telah membuat suatu
kesalahan besar. Tapi sungguh tidak adil jika hanya gadis itu saja yang harus
membayar semua dosa orang tuanya. Jika bisa menuntut, mungkin ia sudah
melakukannya sejak awal.
“Hei! Apa yang kau
lakukan?!” sahut Immanuel.
Lagi-lagi ia melamun.
Namun, begitu mendengar suara pria itu, semuanya langsung kembali lagi ke mode
semula.
“Jangan berdiri di
tengah jalan seperti itu! Kalu menghalangi jalanan semua orang,” peringati pria
itu.
Agatha langsung menepi
setelah menyadari hal tersebut. Ternyata sejak tadi ia sudah berdiri di tengah
jalan. Bagaimana bisa gadis itu melakukannya tanpa sadar. Beruntung sedang
tidak ada orang yang melintas di sekitar situ ketika ia berdiri. Kalau tidak,
pasti sudah dimarahi.
“Kemana yang lain?”
tanya Immanuel lagi. Pria itu baru saja selesai dengan urusannya.
“Entahlah, mereka naik
ke atas tangga itu tadi,” jawab Agatha dengan apa adanya. Jari telunjuknya
mengarah ke sebuah tangga di sudut ruangan. Tampaknya orang-orang jauh lebih
suka menggunakan lift dari pada fasilitas tangga. Lagi pula sepertinya itu
bukan tangga yang biasa di lalui jika dilihat dari letaknya. Mungkin tangga
darurat.
Tanpa sepatah kata pun,
Immanuel langsung beranjak dari tempatnya semula berdiri. Meninggalkan gadis
itu begitu saja di belakangnya. Jangan bilang kalau ia sungguh bermaksud untuk
meninggalkan Agahta. Tak ingin buang-buang waktu, Agatha buru-buru pergi juga
dari sana. Membuntuti pria itu dari belakang. Sebaiknya ia bergerak lebih cepat
sebelum tertinggal lebih jauh.
“Hei! Kita mau kemana?!”
Jarak mereka tidak
terlalu jauh memang. Namun, untuk memastikan agar pria itu benar-benar
mendengar perkataannya tidak salah jika ia bicara lebih kuat. Dengan menaikkan
nada bicaranya seperti itu, tampaknya semua orang yang berada di lantai bawah
akan mendengarnya.
Alih-alih menjawab,
pria itu malah berpura-pura tidak dengar. Terus berjalan lurus tanpa menghiraukan keberadaan Agatha
yang tertinggal di belakangnya. Jangankan menjawab, menoleh ke belakang saja
tidak. Agatha menyesal sudah melontarkan pertanyaan seperti itu. Harusnya sejak
awal dia tahu kalau Immanuel tidak akanmenjawab pertanyaan yang sama sekali
tidak penting. Bukankah mereka memiliki kepribadian yang tidak jauh berbeda.
Harusnya Agatha sudah paham soal itu.
Karena masih merasa
kecewa, ia memilih untuk tidak buka suara lagi selama perjalanan. Sampai pada
akhirnya mereka tiba di lantai dua. Immanuel menuntunnya untuk berjalan di
sebuah koridor sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Tapi tenang saja. Mereka
berdua bahkan tidak merasa takut.
Suara langkah kaki
keduanya jadi terasa begitu nyaring di tempat sepi seperti ini. Bahkan Agatha
bisa mendengar deru napasnya sendiri. Kedua terus berjalan sampai melewati
beberapa pintu ruangan dan pada akhirnya berhenti tepat di depan ruangan yang
terletak di tengah-tengah koridor. Agatha bertanya-tanya apakah benar ini
tempat tujuan mereka. Ruangan latihan yang dimaksud adalah ruangan berlatih
menembak bukan? Kenapa sepanjang lantai dua terasa begitu sunyi. Ah, pasti
setiap ruangannya sudah dilengkapi dengan alat peredam suara. Sehingga tidak
mengganggu penduduk sekitar.
‘CEKLEK!!!’
Perhatian Agatha
langsung tertuju kepada satu-satunya sumber suara yang berada di tempat sunyi
ini. Sepertinya mereka tadi tidak pergi ke ruangan latihan. Sebab, kuncinya
masih berada di tangan Immanuel. Pria itu bahkan baru membukanya sekarang. Seharusnya
jika mereka memang ingin ke tempat yang sama juga, maka mereka menunggu di
koridor. Tapi, bahkan sejak awal kedatangannya di lantai dua sama sekali tidak
ada orang di tempat ini.
Aneh, semua orang
seolah menghilang setelah memasuki lantai dua. Tempat ini seperti tidak ada
kehidupan sama sekali.
“Cepat, ambil
senjatamu!” perintah Immanuel yang kemudian segera dituruti oleh Agatha tanpa
basa-basi lagi.
Ada beberapa pistol
yang tergeletak begitu saja di atas meja. Sepertinya ini bukan hanya milik
Immanuel saja. Tapi teman-temannya juga.
Setelah Agatha
mengambil miliknya, kini giliran Immanuel yang mengambil perlengkapan miliknya.
Lalu yang terakhir ia mengemasi semua itu untuk dibawa ke suatu tempat, Kalau
boleh menebak, Agatha yakin jika Immanuel akan memberikan pistol tersebut
kepada teman-temannya yang lain. Mereka pasti sudah menunggu. Meski Agatha
tetap tidak tahu dimana itu.
“Ayo!” ajak pria itu
setelah selesai dengan urusannya.
Seperti biasanya, tidak
ada repon lain selain mengangguk. Gerakan refleks yang satu itu sepertinya
sudah berubah menjadi kebiasaannya kini. Agatha akan mengangguk-anggukkan
kepalanya bila merasa setuju terhadap suatu hal. Namun, jika merasa sebaliknya
ia akan menggeleng tegas. Tidak perlu menjelaskan dengan susah payah. Hanya
dengan satu gerakan singkat, semuanya sudah selesai.
Setelah
Immanuel menutup pintu ruangan tersebut, mereka beralih menuju lift. Agatha tak
sengaja melihat sekilas kalau pria itu menekan angka tujuh. Itu berarti tujuan
mereka sekarang adalah lantai tersebut.