The Riot

The Riot
Key



Begitu mereka masuk,


kedua bola mata Agatha langsung menyisir setiap sisi yang bisa ia capai. Bahkan


sampai sudut terkecil sekali pun. Kenapa tidak. Ini adalah sebuah kesempatan


emas baginya. Agatha harus mengingat begitu banyak informasi penting hari ini.


Mulai dari ciri-ciri Hiraeth, alamat tempat latihan menembak ini dan beberapa


karyawan yang dianggap sudah memiliki hubungan dekat dengan mereka. Bukan


hubungan yang seperti kalian bayangkan. Melainkan rekan kerja. Mereka pasti


sering melakukan kesepakatan di tempat ini. Baik itu secara langsung mau pun


tidak.


Agatha bukan orang yang


mahir dalam mengingat banyak hal dalam sekaligus. Tapi, ia akan memaksakannya


untuk kali ini. Seperti yang sudah pernah dikatakan pada bagian sebelumnya.


Beberapa orang mungkin tidak sadar jika mereka telah bekerja melampaui batas


yang ia bisa. Ini adalah sebuah hal baik. Jika Agatha bisa melakukan hal yang


selama ini tidak biasa ia lakukan, bukankah itu termasuk salah satu hal bagus.


Mungkin Arjuna akan merasa bangga kepadanya. Anggap saja begitu.


Ketika sampai,


teman-temannya yang lain langsung memisahkan diri dari Immanuel. Mereka akan


berjalan lebih dulu ke ruangan latihan. Sementara, Immanuel masih ada urusan


sebentar. Ia harus meminta kunci ruangan yang biasa mereka pakai kepada


penjaga. Selain itu, sepertinya Immanuel tidak hanya mengerjakan urusan yang


satu itu.


Sementara itu, di sisi


lain Agatha merasa bingung. Ia tidak tahu harus mengikuti yang mana. Rombongan


para mafia itu atau malah Immanuel saja. Sungguh, gadis itu sama sekali tidak


habis pikir. Bagaimana bisa semesta selalu memilihnya untuk ditempatkan pada situasi


yang serba salah dan sulit untuk memilih. Sungguh, ia sama sekali tidak habis


pikir. Sekejam itukah dunia kepadanya. Memangnya ia membuat kesalahan sebesar


apa sampai-sampai ia harus diperlakukan seperti ini.


Tunggu dulu. Sepertinya


dalam kasus kali ini tidak murni kesalahannya saja. Melainkan kesalahan kedua


orang tuanya. Agatha tahu betul kalau mereka berdua telah membuat suatu


kesalahan besar. Tapi sungguh tidak adil jika hanya gadis itu saja yang harus


membayar semua dosa orang tuanya. Jika bisa menuntut, mungkin ia sudah


melakukannya sejak awal.


“Hei! Apa yang kau


lakukan?!” sahut Immanuel.


Lagi-lagi ia melamun.


Namun, begitu mendengar suara pria itu, semuanya langsung kembali lagi ke mode


semula.


“Jangan berdiri di


tengah jalan seperti itu! Kalu menghalangi jalanan semua orang,” peringati pria


itu.


Agatha langsung menepi


setelah menyadari hal tersebut. Ternyata sejak tadi ia sudah berdiri di tengah


jalan. Bagaimana bisa gadis itu melakukannya tanpa sadar. Beruntung sedang


tidak ada orang yang melintas di sekitar situ ketika ia berdiri. Kalau tidak,


pasti sudah dimarahi.


“Kemana yang lain?”


tanya Immanuel lagi. Pria itu baru saja selesai dengan urusannya.


“Entahlah, mereka naik


ke atas tangga itu tadi,” jawab Agatha dengan apa adanya. Jari telunjuknya


mengarah ke sebuah tangga di sudut ruangan. Tampaknya orang-orang jauh lebih


suka menggunakan lift dari pada fasilitas tangga. Lagi pula sepertinya itu


bukan tangga yang biasa di lalui jika dilihat dari letaknya. Mungkin tangga


darurat.


Tanpa sepatah kata pun,


Immanuel langsung beranjak dari tempatnya semula berdiri. Meninggalkan gadis


itu begitu saja di belakangnya. Jangan bilang kalau ia sungguh bermaksud untuk


meninggalkan Agahta. Tak ingin buang-buang waktu, Agatha buru-buru pergi juga


dari sana. Membuntuti pria itu dari belakang. Sebaiknya ia bergerak lebih cepat


sebelum tertinggal lebih jauh.


“Hei! Kita mau kemana?!”


Jarak mereka tidak


terlalu jauh memang. Namun, untuk memastikan agar pria itu benar-benar


mendengar perkataannya tidak salah jika ia bicara lebih kuat. Dengan menaikkan


nada bicaranya seperti itu, tampaknya semua orang yang berada di lantai bawah


akan mendengarnya.


Alih-alih menjawab,


pria itu malah berpura-pura tidak dengar. Terus berjalan  lurus tanpa menghiraukan keberadaan Agatha


yang tertinggal di belakangnya. Jangankan menjawab, menoleh ke belakang saja


tidak. Agatha menyesal sudah melontarkan pertanyaan seperti itu. Harusnya sejak


awal dia tahu kalau Immanuel tidak akanmenjawab pertanyaan yang sama sekali


tidak penting. Bukankah mereka memiliki kepribadian yang tidak jauh berbeda.


Harusnya Agatha sudah paham soal itu.


Karena masih merasa


kecewa, ia memilih untuk tidak buka suara lagi selama perjalanan. Sampai pada


akhirnya mereka tiba di lantai dua. Immanuel menuntunnya untuk berjalan di


sebuah koridor sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Tapi tenang saja. Mereka


berdua bahkan tidak merasa takut.


Suara langkah kaki


keduanya jadi terasa begitu nyaring di tempat sepi seperti ini. Bahkan Agatha


bisa mendengar deru napasnya sendiri. Kedua terus berjalan sampai melewati


beberapa pintu ruangan dan pada akhirnya berhenti tepat di depan ruangan yang


terletak di tengah-tengah koridor. Agatha bertanya-tanya apakah benar ini


tempat tujuan mereka. Ruangan latihan yang dimaksud adalah ruangan berlatih


menembak bukan? Kenapa sepanjang lantai dua terasa begitu sunyi. Ah, pasti


setiap ruangannya sudah dilengkapi dengan alat peredam suara. Sehingga tidak


mengganggu penduduk sekitar.


‘CEKLEK!!!’


Perhatian Agatha


langsung tertuju kepada satu-satunya sumber suara yang berada di tempat sunyi


ini. Sepertinya mereka tadi tidak pergi ke ruangan latihan. Sebab, kuncinya


masih berada di tangan Immanuel. Pria itu bahkan baru membukanya sekarang. Seharusnya


jika mereka memang ingin ke tempat yang sama juga, maka mereka menunggu di


koridor. Tapi, bahkan sejak awal kedatangannya di lantai dua sama sekali tidak


ada orang di tempat ini.


Aneh, semua orang


seolah menghilang setelah memasuki lantai dua. Tempat ini seperti tidak ada


kehidupan sama sekali.


“Cepat, ambil


senjatamu!” perintah Immanuel yang kemudian segera dituruti oleh Agatha tanpa


basa-basi lagi.


Ada beberapa pistol


yang tergeletak begitu saja di atas meja. Sepertinya ini bukan hanya milik


Immanuel saja. Tapi teman-temannya juga.


Setelah Agatha


mengambil miliknya, kini giliran Immanuel yang mengambil perlengkapan miliknya.


Lalu yang terakhir ia mengemasi semua itu untuk dibawa ke suatu tempat, Kalau


boleh menebak, Agatha yakin jika Immanuel akan memberikan pistol tersebut


kepada teman-temannya yang lain. Mereka pasti sudah menunggu. Meski Agatha


tetap tidak tahu dimana itu.


“Ayo!” ajak pria itu


setelah selesai dengan urusannya.


Seperti biasanya, tidak


ada repon lain selain mengangguk. Gerakan refleks yang satu itu sepertinya


sudah berubah menjadi kebiasaannya kini. Agatha akan mengangguk-anggukkan


kepalanya bila merasa setuju terhadap suatu hal. Namun, jika merasa sebaliknya


ia akan menggeleng tegas. Tidak perlu menjelaskan dengan susah payah. Hanya


dengan satu gerakan singkat, semuanya sudah selesai.


Setelah


Immanuel menutup pintu ruangan tersebut, mereka beralih menuju lift. Agatha tak


sengaja melihat sekilas kalau pria itu menekan angka tujuh. Itu berarti tujuan


mereka sekarang adalah lantai tersebut.